Laporan Keuangan Periode Januari 2014

Semoga Allah SWT berkenan membalas amal jariyah dari para dermawan dengan berlipat ganda, diampuni segala dosanya, diterima segala amalannya, dimudahkan segala urusannya, dilapangkan rezekinya, ditinggikan derajadnya, disehatkan jiwa dan raganya, dan dirahmati dengan kebaikan yang mengalir sampai ke anak cucu. Amin.

12 Tahapan dalam pemulihan dari gangguan jiwa

Penderita gangguan jiwa, seberat apapun sakitnya, akan bisa pulih (bekerja, berkeluarga dan hidup bermasyarakat) asalkan mereka mendapatkan dukungan medis dan psikososial yang dibutuhkannya. Hanya saja, hampir tidak ada  penderita yang pulih hanya karena minum obat secara teratur sesuai perintah dokter. Mereka juga harus mau berupaya agar dirinya bisa pulih.

Bagi penderita kecanduan minuman keras atau obat bius, ada 12 langkah menuju pemulihan. Ke 12 langkah tersebut dapat diubah dan disesuaikan sehingga cocok bagi penderita gangguan jiwa.

Berikut ini 12 langkah (step) dalam pemulihan gangguan jiwa.

  1. Langkah pertama adalah mau menerima kenyataan bahwa mereka kadang tidak mampu mengendalikan perasaan, pemikiran dan perilakunya yang sering menyimpang dari kebanyakan orang.
  2. Langkah kedua adalah percaya/ yakin bahwa ada Tuhan yang Maha Kuasa yang bisa dan mampu menolong mereka.
  3. Langkah ketiga adalah menetapkan niat dan berupaya membangun kembali kehidupannya agar lebih sesuai dengan tuntunan dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  4. Langkah keempat adalah menggali dan mengenali berbagai kekuatan dan kelemahan serta kesalahan yang dipunyainya.
  5. Langkah kelima adalah mengadu kepada Allah Yang Maha Pengampun atas segala kelemahan dan kesalahan yang dilakukannya.
  6. Langkah keenam adalah bersiap menerima segala tuntunan dan pertolongan Allah dalam memperbaiki kelemahan dan mengampuni kesalahan masa lalu.
  7. Langkah ketujuh adalah memohon kepada Allah dengan segala kerendahan hati agar berkenan menghapus segala dosa dan memperbaiki segala kelemahannya.
  8. Langkah kedelapan adalah membuat daftar kesalahan dan dosa besar
  9. Langkah kesembilan adalah memohon ampun kepada Tuhan dan kepada orang atas segala kesalahannya.
  10. Langkah kesepuluh adalah melakukan mawas diri secara terus menerus atas segala dosa dan kesalahan dan melakukan perbaikan serta meohon ampunan.
  11. Langkah kesebelas adalah melakukan kegiatan kegiatan (sholat, dzikir, amal shaleh, puasa) untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan
  12. Langkah keduabelas adalah membantu orang lain yang menderita gangguan jiwa agar bisa pulih seperti dirinya.

Cara mencegah mania

Suasana hati (mood) bisa berada dalam posisi rendah (depresi), bisa berada dalam posisi normal, posisi diatas normal (hipomania) dan posisi tinggi (mania).  Seseorang yang dalam kondisi mania mempunyai beberapa gejala sebagai berikut :

  • Gembira
  • Percaya diri berlebihan
  • Bicara cepat
  • Tidak bisa menilai sesuatu dengan baik (poor judgement)
  • Pikiran berpacu (racing thought)
  • Perilaku agresif
  • Mudah tersinggung, mudah terhasut
  • Melakukan kegiatan yang berresiko tinggi
  • Banyak melakukan kegiatan fisik
  • Boros, memakai uang tanpa perhitungan
  • Meningkatnya dorongan untuk mencapai sesuatu tujuan atau sasaran
  • Berkurangnya kebutuhan untuk tidur
  • Menaiknya dorongan seksual
  • Perhatiannya gampang beralih
  • Sering bolos dari kerja atau sekolah
  • Minum minuman keras atau obat terlarang secara berlebihan
  • Tidak bisa membedakan antara khayalan dengan kenyataan
  • Kinerja di sekolah atau dikantor buruk.

Hipomania mempunyai gejala yang sama dengan gejala mania, hanya tingkatannya yang lebih rendah. Gejala hipomania tidak sampai mengganggu kehidupan atau pergaulan sehari-hari penderitanya dan tidak sampai perlu perawatan di rumah sakit. Selain itu, penderita dengan hipomanis masih bisa membedakan antara khayalan dengan kenyataan. Sering orang dengan hipomania tidak mengeluarkan keluhan.

Cara paling baik dalam mengatasi mania adalah dengan mencegahnya. Mania tidak muncul tiba tiba. Biasanya mania didahului dengan kondisi hipomania. Bila keadaan hipomania tersebut dibiarkan terus berlangsung, dalam waktu singkat bisa berubah kedalam kondisi mania. Oleh karena itu, pengenalan terhadap tanda tanda awal kalau akan kambuh menjadi sangat penting. Setiap ada tanda awal muncul, maka perlu segera dilakukan tindakan untuk mengembalikan kondisi suasan hati kembali ke keadaan normal. Selain tanda tanda awal, perlu pula dikenali pemicu dari kekambuhan. Pengenalan terhadap pemicu diperlukan agar seseorang dengan kecenderungan mania bisa menghindari atau mempersiapkan diri tehrhadap timbulnya pemicu.

Penjelasan cara mencegah mania bisa di download disini. Uraian tentang cara mencegah mania tersebut merupakan salah satu bab dari buku Pemulihan Gangguan Jiwa: Pedoman bagi penderita, keluarga dan relawan jiwa yang bisa didownnload dengan mengunjungi page ini.

Cara mengatasi depresi

Dalam kehidupan manusia adalah wajar bila sesekali kita merasa sedih dan putus asa. Meskipun demikian, bila perasaan tersebut berlangsung setiap hari selama 2 minggu atau lebih dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka perasaan itu sudah tidak wajar. kita sudah terjatuh kedalam sakit depresi.

Seseorang yang cenderung terkena depresi sering memakai cara yang salah dalam mengatasi perasaan sedihnya sehingga mereka malahan kemudian terjebak ke dalam depresi. Beberapa cara kurang sehat dalam mengatasi depresi, antara lain: mengurung diri di kamar, tidak mau ketemu orang, minum-minuman keras atau obat terlarang, bolos kerja.

Seseorang dengan kecenderungan depresi juga sering mempunyai pola pikir yang kurang sehat, seperti: cepat lompat ke kesimpulan, berpikir hitam putih, berpikir pesimis, menentukan standar yang tinggi bagi dirinya.

Bagaimana cara mengatasi depresi tanpa minum obat? 

  1. Cara pertama mengatasi depresi adalah dengan melakukan kegiatan positif yang disenanginya dan yg sesuai dengan prinsip hidupnya. Misalnya: jalan ke luar rumah untuk mendapatkan udara segar, menelpon teman.
  2. Cara kedua adalah dengan mengamati pola pikir yang kurang sehat dan mengubahnya dengan pola pikir yang lebih sehat.

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikelnya dengan meng-klik link ini.

Bila anda ingin belajar tentang pemulihan gangguan jiwa, silahkan download buku Pemulihan Gangguan Jiwa: Pedoman bagi penderita, keluarga dan relawan jiwa dengan mengunjungi page ini.

 

Cara mengatasi gejala negatif skizofrenia

Salah satu keluhan yang sering disampaikan oleh keluarga penderita skizofrenia adalah bahwa mereka malas, seharian hanya duduk menonton TV atau main games di komputer. Mereka tidak memikirkan masa depannya.

Ada beberapa gejala negatif skizofrenia, yaitu: anhedonia (tidak mendapat kesenangan dari melakukan kegiatan yang dulu disenanginya, bisa berupa tidak mau melakukan kegiatan fisik maupun kegiatan sosial), alogia (sedikit bicara dan hanya pendek pendek), wajah tanpa ekspresi, dan kurang peduli dengan lingkungan.

Hingga sekarang belum ada obat yang manjur untuk mengatasi gejala negatif tersebut. banyak ahli juga melaporkan bahwa psikoterapi tidak membawa perubahan yang berarti. Meskipun demikian, pasien dan keluarganya melaporkan beberapa teknik yang cukup efektif dalam mengatasi gejala negatif tersebut, yaitu dengan mengajaknya terlibat dalam kegiatan dan berinteraksi dalam keluarga.

Silajkan baca artikelnya dengan meng-klik link berikut ini.

 

Respite House: pilihan selain RSJ

Penderita gangguan jiwa yang sudah membaik dan pulih bisa kambuh. Hal ini tidak berbeda dengan seseorang yang menderita tekanan darah tinggi (hipertensi) atau diabetes (penyakit gula darah) yang juga bisa kambuh.

Sebagian penderita gangguan jiwa yang sedang mengalami krisis (kambuh) tidak ingin dirawat di rumah sakit jiwa. Mereka menolak dirawat di RSJ karena berbagai alasan, seperti: tidak mau minum obat, tidak ingin diikat atau mendapat ECT, dan pelayanan yang tidak menyenangkan lainnya.

Di Amerika Serikat, bagi penderita seperti itu ada alternatif pelayanan selain RSJ, namanya Respite House (rumah singgah). Respite House adalah sebuah rumah perawatan kesehatan jiwa jangka pendek (1-14 hari), dimana penderita gangguan jiwa yang sedang mengalami krisis ditemani dan dirawat oleh bekas penderita gangguan jiwa yang sudah pulih. Penderita gangguan jiwa harus datang ke Respite House atas kemauan sendiri (tanpa paksaan). Respite House tidak menyediakan tenaga dokter atau perawat, namun mereka bisa menghubungkan penderita dengan dokter/ perawat bila pasien menghendaki atau setuju.

Penderita gangguan jiwa yang telah pulih tahu bagaimana rasanya ketika berada dalam krisis (kambuh), mereka tahu apa yang dibutuhkan oleh penderita dan tahu cara membantu mereka melewati krisis tersebut. Menurut berbagai penelitian, perawatan model Respite House mampu memberikan hasil yang sama atau bahkan lebih baik dibandingkan pelayanan yang dihasilkan oleh RSJ.

Sayangnya, hingga saat ini, belum ada sejenis Respite House di Indonesia.

Halusinasi dan cara mengatasinya

Penderita gangguan jiwa kadang tertawa, menangis  atau berbicara sendiri karena mereka mendengar suara suara yang membuatnya berperilaku seperti itu. Berbagai riset menunjukkan bahwa halusinasi tidak bisa disembuhkan dengan minum obat, karena halusinasi akan muncul kembali bila mereka berhenti minum obat. Hasil terbaik dalam mengatasi halusinasi adalah dengan mengkombinasikan obat dengan terapi psikososial.

Saya mencoba menulis artikel, yang merupakan salah satu bab dari buku Pemulihan Gangguan Jiwa: Pedoman bagi penderita, keluarga dan relawan jiwa. Dalam artikel ini dibahas berbagai pendekatan psikologis untuk mengatasi halsinasi.

Silahkan download dengan meng-klik disini

Bagian I Buku Pemulihan Gangguan Jiwa: Pedoman bagi penderita, keluarga dan relawan jiwa bisa di download disini

Buku Pedoman Pemulihan Gangguan Jiwa

Hingga saat ini telah ribuan pengunjung website ini yang  mendownload berbagai artikel tentang gangguan jiwa. Artikel tersebut sebagian besar berupa terjemahan dari tulisan berbahasa Inggris sehingga sering bahasanya tidak enak dibaca dan agak sulit dimengerti.

Saya mencoba membuat buku berjudul Pemulihan Gangguan Jiwa: Pedoman bagi penderita, keluarga dan relawan jiwa. Buku tersebut akan membahas pemulihan gangguan jiwa secara menyeluruh sehingga bisa dipakai oleh penderita, keluarga maupun relawan jiwa. Meskipun buku tersebut masih dalam proses penulisan, saya sengaja mengunggah bab yang sudah selesai agar bisa dibaca dan dimanfaatkan untuk membantu pemulihan seseorang yang menderita gangguan jiwa. Buku tersebut bisa didownload per bab.

Silahkan kunjungi page tentang buku gratis dengan meng-klik disini atau pergi ke laman buku eBook Gratis

Semoga bermanfaat.

Penyebab gangguan jiwa

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab dari suatu gangguan jiwa. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh 3 faktor yang saling berinteraksi, yaitu faktor biologis (seperti: keturunan, keadaan otak ketika didalam kandungan atau bayi), faktor psikologis (pengalaman hidup yang menekan), dan faktor sosial (seperti kemiskinan).

Teori penyebab gangguan jiwa yang banyak dianut hingga sekarang adalah teori stress vulnerability theory. Menurut teori tersebut seseorang menderita gangguan jiwa karena adanya kerentanan dalam dirinya dan adanya stress (tekanan jiwa). Kerentanan terhadap gangguan jiwa terbentuk oleh berbagai keadaan, seperti: keturunan, pengalaman hidup waktu kecil yang menekan, keadaan otak ketika masih menjadi janin atau bayi. Hal hal atau keadaan yang bisa menimbulkan stress antara lain: ditinggal mati, kesulitan keuangan (hutang), tekanan pekerjaan atau sekolah, konflik dalam rumah tangga atau dengan teman. Menurut stress vulnerability (kerentanan) theory, seseorang terkena gangguan jiwa karena yang bersangkutan mempunyai kerentanan dan adanya tekanan jiwa. Seseorang yang punya kerentanan tinggi namun tidak ada stress, maka yang bersangkutan tidak akan menderita gangguan jiwa. Hanya saja, seseorang yang punya kerentanan tinggi, akan mudah terkena gangguan jiwa meskipun hanya dipicu oleh stress yang kecil. Padahal, stress kecil tersebut tidak akan bisa menimbulkan gangguan jiwa bila menyerang pada seseorang yang punya kerentanan rendah. Seseorang dengan kerentanan yang rendah baru akan menderita gangguan jiwa bila mendapat stress yang berat.

Akhir akhir ini, sebagian psikiater di Amerika dan National Institute of Mental Health, Amerika cenderung menyatakan bahwa gangguan jiwa adalah suatu penyakit otak. Mereka menyatakan bahwa gangguan jiwa terjadi akibat gangguan struktur otak atau ketidak seimbangan kimia otak seperti ketidak seimbangan kadar dopamine. Namun hingga sekarang, belum ada bukti yang kuat yang mendukung pernyataan tersebut. Hingga sekarang belum ada tes laboratorium, foto otak atau pemeriksaan fisik yang bisa menunjukkan bahwa seseorang menderita gangguan jiwa seperti skizofrenia atau depresi.

Dokter menegakkan diagnosa gangguan jiwa hanya berdasar perilaku  yang terlihat ataupun pernyataan yang disampaikan oleh pasien. Meskipun demikian, dokter spesialis jiwa akan bisa membedakan orang awam yang berpura-pura gila dengan orang yang benar benar menderita gangguan jiwa. Orang awam yang berpura-pura gila akan berperilaku aneh tetapi tanpa pola tertentu. Padahal, perilaku atau pikiran aneh pada penderita gangguan jiwa biasanya mengikuti pola tertentu sesuai dengan jenis penyakitnya.

Karena belum diketahui secara pasti penyebab gangguan jiwa, maka obat yang diberikan oleh dokter juga hanya bertujuan mengurangi gejalanya saja, bukan mengobati atau memperbaiki penyebab dari timbulnya gangguan jiwa. Hingga sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan gangguan jiwa.  Bahkan beberapa ahli menyatakan bahwa manfaat obat anti gangguan jiwa dalam jangka panjang lebih banyak mudharatnya atau bahanya, dibandingkan dengan manfaatnya.

Dalam jangka panjang, obat anti gangguan jiwa yang baru, yang biasa disebut sebagai atypical antipsychotic drug (obat anti gangguan jiwa atipikal), seperti Risperdal, Zyprexa, Seroquel, Geodon dan Abilify ternyata tidak lebih efektif dibanding obat anti gangguan jiwa yang lama. Obat gangguan jiwa baru juga lebih banyak mempunyai efek samping seperti meningkatnya lemak di darah, cholesterol, meningkatnya gula darah dan meningktakan berat badan, serta gangguan gerak anggota tubuh (dyskinesia).

Oleh karena itu, sebaiknya obat gangguan jiwa dipakai bersamaan dengan pemberian terapi psikososial sehingga dosis obat tersebut bisa minimal. Dalam jangka panjangnya, sebaiknya dukungan psikososial yang menjadi andalam utama dalam pemulihan gangguan jiwa sehingga bisa terhindar dari ketergantungan pada obat dan terbebas dari efek sampingnya.