Harapan adalah kunci pemulihan gangguan jiwa (2)

Pernah memperhatikan sebidang tanah tanpa tumbuh-tumbuhan dimusim kemarau yang panjang, kemudian tiba tiba muncul tanaman muda ketika hujan mulai menyirami tanah tersebut? Benih benih yang ada ditanah kering tersebut menunggu saat (lingkungan) yang tepat dan mendukung untuk tumbuh menjadi pohon.

Apa yang terjadi bila ada benih  tumbuh dimusim kemarau yang kering? Benih tersebut akan mati.

Penderita gangguan jiwa yang bersikap apatis, tidak peduli dan menarik diri dari lingkungan sosialnya bisa dianalogkan/ disamakan dengan benih tersebut. Para penderita gangguan jiwa telah “hancur hatinya” ketika mengalami diskriminasi, tidak diterima lingkungannya, tidak mendapatkan pekerjaan, dan mendapatkan pengalaman buruk lainnya. Untuk mempertahankan hidupnya dan menjaga hatinya yang telah hancur tersebut tidak semakin hancur, maka penderita gangguan jiwa kronis mulai “mengeras hatinya”, menarik diri dari lingkungannya, menjadi tidak perduli terhadap keadaan diri dan lingkungannya.

Penderita gangguan jiwa akan bangun pagi setiap harinya dengan kegiatan yang rutin: bangun pagi, sarapan pagi, duduk dan merokok sepanjang hari, menonton TV, melamun, makan siang, makan malam dan kembali tidur di malam hari. Tidak ada kegiatan berarti yang dilakukan. Yang ada adalah kegiatan rutin yang monoton setiap harinya, 7 hari seminggu, selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Sayangnya, menghadapi pasien yang bersikap apatis, tidak perduli dan menarik diri (hidup dalam alamnya sendiri) tersebut, maka petugas kesehatan (dokter, perawat, dll) juga ikut-ikutan menjadi apatis. Para petugas kesehatan mencap para penderita gangguan jiwa sebagai malas, tidak mempunyai motivasi/ keinginan, tidak berfungsi (low functioning), tidak bisa diharapkan lagi, dll. Sebagai akibatnya, para penderita gangguan jiwa semakin menarik diri, semakin apatis dan tidak peduli lagi dengan diri dan lingkungannya.

Menurut Prof. Patricia Deegan, (foto diatas) psikolog yang pernah menderita skizofrenia, para tenaga kesehatan harusnya memandang penderita gangguan jiwa seperti benih yang menunggu saat yang tepat untuk tumbuh. Adanyaperubahan lingkungan yang mendukung akan membuat para penderita gangguan jiwa, sedikit demi sedikit, merespon lingkungannya dan aktif mengupayakan pemulihan bagi kesehatan jiwanya.

Ketika berumur belasan tahun dan dirawat di rumah jiwa, Patricia Deegan juga bersikap apatis, tidak peduli dengan lingkungan dan keadaan dirinya. Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan duduk, merokok dan melamun. Untungnya, tenaga kesehatan yang merawatnya tidak berputus-asa, tidak ikut-ikutan menjadi apatis. Mereka tetap berusaha dan mengajaknya untuk terlibat dalam kegiatan yang produktif. Perubahan yang menjadi titik balik terjadi ketika pada suatu hari Patricia Deegan setuju untuk ikut pergi ke toko (supermarket). Tugasnya hanya mendorong troley. tugas yang sangat sederhana, namun merupakan langkah kecil dan awal menuju ke proses pemulihan dari gangguan jiwa. Sejak saat itu, Patricia Deegan mulai berpartisipasi secara aktif dan mengupayakan pemulihan kesehatan dirinya.

 

“Harapan” adalah kunci pemulihan gangguan jiwa (1)

Berikut ini saya sarikan riwayat 2 orang yang telah kehilangan “harapan”. Kisah ini saya sarikan dari artikel karya Dr Patricia Deegan yang berjudul “recovery as journey of the heart”.

Pada perang Vietnam, Mayor F. Harold Kushner tertangkap Viet Cong dan antara  tahun1968-1973 ditawan oleh mereka. Didalam penjara Mayor Kushner bertemu dengan seorang tentara AS yang juga tertangkap dan ditawan Viet Cong bernama Robert. Ketika Mayor Kushner pertama kali bertemu dengan Robert di penjara, Robert telah berada dipenjara selama 2 tahun. Robert terlihat tetap sehat meskipun telah 2 tahun dipenjara. Robert saat itu percaya bahwa bila dia berperilaku baik, maka suatu saat dia akan dilepas oleh Viet Cong dan bisa bebas pulang ketemu dengan keluarganya.

Ternyata tidak lama setelah ketemu Mayor Kushner, Robert mulai menyadari adanya perubahan perilaku pada para penjaga tawanan. Robert mulai menyadari bahwa meskipun dia berperilaku baik dan mau bekerja sama, pihak Viet Cong tidak akan melepaskannya dari penjara. Sejak saat itu, Robert mulai terjatuh kedalam depresi, kondisi kesehatannya menurun. Pada saat saat terakhir Robert sudah tidak peduli dengan dirinya. Robert buang air besar ditempat tidur. Tidak lama kemudian Robert meninggal dunia.

Hilangnya harapan juga menimpa seorang penderita skizofrenia khronis, sebut saja namanya Bob. Selama bertahun-tahun Bob dirawat dibangsal pasien menahun yang menurut penilaian para dokter tidak ada harapan untuk hidup diluar rumah sakit jiwa. Suatu saat, bangsal untuk penderita skizofrenia khronis tersebut harus direhabilitasi. Para penghuni bangsal tersebut perlu dipindahkan ke bangsal lain. Kebetulan Bob  dipindah ke bangsal untuk para penderita yang akan dipulangkan kepada keluarganya. Ketika berada dibangsal tersebut, Bob mengira bahwa dirinya akan segera dipulangkan ke keluarganya. Perilaku Bob dan kondisi kesehatannya mulai membaik. Tidak lama kemudian, ketika rehabilitasi bangsal bagi penderita skizofrenia khronis telah selesai, Bob dikembalikan ke bangsal tersebut. Merasa ‘harapannya’ untuk hidup diluar telah hilang, tidak berapa lama kondisi Bob mulai menurun. Tidak lama kemudian Bob meninggal dunia.

Adanya “harapan” bahwa hidup dimasa depan akan bisa lebih baik merupakan salah satu kunci pemulihan gangguan jiwa. Tanpa adanya harapan, tidak akan ada dorongan dari dalam penderita gangguan jiwa untuk memulihkan dirinya dari gangguan jiwa. Tanpa adanya harapan, maka penderita gangguan jiwa hanya akan bersifat pasif dan apatis. Tanpa adanya harapan, maka penderita gangguan jiwa akan tidak peduli kepada dirinya dan lingkungannya. Penderita akan malas mandi, tidak peduli kepada penampilan dirinya dan tidak peduli atas lingkungan sekitarnya.

Bagaimana kita menolong penderita gangguan jiwa yang sudah apatis? silahkan baca ditulisan berikutnya

Laporan Keuangan September 2013

Alhamdulillah selama bulan September 2013, pembangunan terus berjalan. Pembangunan tidak bisa berjalan dengan cepat karena keterbatasan air untuk mencampur semen. Di Kalinongko, selama bulan September kesulitan air sehingga air harus diambil dari tempat yang agak jauh. Hal ini membuat pembangunan berjalan lambat dan menjadi tidak efisien.

Kepada para dermawan yang telah memberikan sedekah ke Tirto Jiwo , pengelola yayasan menyampaikan terima kasih. Semoga Allah Swt berkenan membalas amal jariyah tersebut dengan berlipat ganda, mengampuni segala dosanya, melapangkan rezekinya, memudahkan segala urusannya, dan merahmati dengan kebaikan yang mengalir sampai ke anak cucu. Aamiin.