Gangguan jiwa bisa pulih

Selamat datang di website Tirto Jiwo

Dengan semakin berkembangnya pengetahuan, kini gangguan jiwa bisa dipulihkan. Penderita gangguan jiwa bisa kembali hidup produktif di masyarakat. Syaratnya ada dua:  (a) rajin minum obat sesuai petunjuk dokter dan (b) mendapat dukungan psikososial dari keluarga/ saudara/ teman dekat. Perkara obat itu kita serahkan kepada dokter. Tugas kita sebagai orang tua/ saudara/ teman adalah mempelajari dan memberikan dukungan psikososial. Untungnya, sekarang ada terapi psikososial yang dikenal sebagai terapi kognisi perilaku yang bisa dipelajari dan diterapkan oleh orang awam. Kita tidak perlu jadi dokter atau psikolog untuk bisa mempelajari dan menerapkan ilmu terapi kognisi perilaku tersebut.

Mari kita pelajari dan terapkan ilmu terapi kognisi perilaku untuk membantu saudara dan teman yang terkena gangguan jiwa agar mereka bisa kembali hidup produktif di masyarakat. Saudara juga saya ajak untuk bersama membangun Tirto Jiwo menjadi Pusat Pemulihan dan Pelatihan Bagi Gangguan Jiwa bagi masyarakat kurang mampu.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Salam

Pengelola Tirto Jiwo

Rahasia rezeki (3): kaya bukan berarti mulia, miskin tidak berarti hina

Saat ini sebagian besar manusia mengukur keberhasilannya dengan seberapa banyak materi yang bisa mereka kumpulkan. Semakin banyak materi dan kemewahan yang dikumpulkan, semakin terhormat pula kedudukannya dimata sebagian besar manusia. Kebalikannya, semakin miskin, semakin rendah pula kedudukan sosialnya.

Sebagai dampaknya, orang berlomba-lomba mengumpulkan materi meskipun dengan cara tidak halal, seperti korupsi. Karena masyarakatnya sudah menjadi materialistis, maka meskipun sudah ketahuan kekayaannya berasal dari korupsi, masyarakat tidak memandang rendah kepada koruptor tersebut. Tidak ada hukuman sosial dari masyarakat terhadap para koruptor.

Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang, namun Allah tidak memandang bahwa bila rezekinya dilapangkan berarti orang tersebut sedang dimuliakan kedudukannya.  Sebaliknya bila sedang disempitkan rezekinya tidak berarti mereka sedang di hinakan. Kita simak ayat Al quran Surat Al-Fajr 89:15-16 sebagai berikut:

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku“.

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

Tuhan melapangkan atau menyempitkan rezeki seorang hambanya sebagai alat untuk menguji ketakwaannya. Dimata Allah, orang kaya tidak berarti lebih mulia dibandingkan dengan orang miskin. Dimata Allah, hanya ketakwaanlah yang menjadi tolok ukurnya.

Diantara para nabi, kita mengenal nabi Ibrahim, nabi Sulaiman dan nabi Yusuf yang kaya raya. Namun kita juga mengenal nabi yang hidup sederhana seperti nabi Muhammad, nabi Ayub dan nabi Isa.

Rahasia rezeki (2): Allah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki.

Rezeki itu misterius. Tidak ada rumus yang pasti tentang rezeki. Banyak ahli yang mencoba menganalisa karakteristik orang kaya dan membandingkannya dengan orang miskin. Mereka menemukan setidaknya ada 17 cara berpikir dan bertindak orang kaya yang tidak dipunyai orang miskin. Namun menurut saya, karakteristik atau cara berpikir tersebut tidak menjamin akan membuat seorang miskin menjadi kaya. Selain itu, banyak orang kaya yang hanya memiliki beberapa karakteristik orang kaya saja namun mereka tetap kaya. Dilain pihak, banyak juga orang miskin yang memiliki karakteristik atau pola pikir yang sama banyaknya, namun tetap miskin.

Saya ambilkan beberapa contoh diantaranya:

  • Orang kaya memberi nilai tambah (added value). Kebanyakan orang kaya memang mempunyai usaha yang memberi nilai tambah (misalnya bikin mobil, pesawat, air minum, dll). Namun dilain pihak, banyak orang kaya yang hanya sedikit memberi nilai tambah. Hal ini terutama banyak dijumpai diantara para penghibur: penyanyi, bintang film, pemain bola. Dilain pihak, guru atau profesor yang menghasilkan murid yang hebat, relawan yang membantu korban bencana, mereka tidak menjadi kaya meskipun memberi nilai tambah yang tidak sedikit.
  • Orang kaya mengagumi orang kaya lainnya, sedang orang miskin iri atau dengki dengan orang. Kalau ingin kaya kita harus mengagumi orang kaya dan tidak boleh iri. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali orang miskin yang mengagumi orang kaya, namun tetap miskin. Dilain pihak banyak orang kaya yang mengagumi orang miskin (atau setidaknya tidak kaya), namun mereka tetap saja kaya. Contohnya: Banyak orang kaya yang mengagumi orang miskin (yang hebat) dan tidak suka dengan orang kaya yang pelit, si kaya tetap saja kaya dan tidak menjadi miskin.
  • Orang kaya selalu Penuh Daya Upaya, Orang kaya tidak mudah menyerah. Menurut para ahli tersebut, orang kaya percaya bahwa visi dan mimpi mereka akan terwujud sehingga berani menghadapi segala rintangan mencapai apa yang mereka impikan. Sedang orang miskin cenderung selalu mencari alasan bila menghadi sebuah rintangan. Padahal dalam kenyataannya, di dunia ini banyak sekali kita jumpai orang miskin yang bekerja keras dan pantang menyerah, namun tetap saja miskin. Perhatikan saja bagaimana pengusaha kecil di Jakarta yang harus berangkat kerja sehabis subuh dan pulang malam, namun tetap miskin.Banyak orang yang sudah membuat visi misi, proposal hidup yang hebat hebat, namun tetap saja hal tersebut  tidak membuat mereka kaya.

Yang benar adalah Allah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki. .

Coba kita simak ayat berikut:

” Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS Al Ankabut 29:62)

Selain itu, seseorang menjadi kaya bukan karena usahanya atau kehebatannya semata. Kita bisa belajar dari kisah Karun didalam Al Quran Surat Al Qasas 28: 76-82.

“Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar“.

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”.

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

“Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)”.

Rahasia rezeki (1):

Mengapa admin website Klinik Umiyah dan Tirto Jiwo perlu menulis tentang rahasia rezeki segala?

Di klinik Umiyah (www.klinik-umiyah.com) dan Tirto Jiwo (www.tirtojiwo.org) pasien membayar biaya obat dan pelayanan dengan memasukkan kedalam kotak amal yang tertutup. Tidak ada tarif. Bisa dimaklumi bila jumlah infak dari pasien tersebut tidak pernah mencukupi semua biaya pengobatan (obat, gaji, biaya operasional, dll). Alah yang menutup kekurangannya melalui tangan tangan para dermawan. Lihat laporan keuangan Klinik Umiyah disini. Tanpa adanya keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah, maka kita tidak akan berani membuka Klinik dengan model pembayaran seperti itu.

Diharapkan, dengan semakin baiknya pemahaman masyarakat tentang rahasia rezeki, semakin sejahteralah hidup umat Islam, semakin banyak pula dermawan yang bersedekah mendukung Klinik Umiyah. Selain itu, ketidak tahuan dan kesalahan dalam pengelolaan uang bisa membuat seseorang menjadi stress. Stress bisa memicu munculnya gangguan jiwa.

Oleh karena itu, sambil belajar tentang masalah rezeki, harta dll, saya coba tuliskan hasil belajar tersebut. Daripada ilmu hanya disimpan sendiri, insya Allah dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, saya juga akan dapat pahala. Saya akan mencoba membuat  tulisan bersambung dengan tema yang berkaitan dengan rezeki (termasuk harta, infak, hidup hemat, dll) yang disusun dengan mengambil referensi dari Al Quran dan hadis.

Prinsip 1. Rezeki dari Allah

Rezeki itu dari Allah dan hanya dari Allah. Coba kita simak ayat ayat berikut:

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS Al ankabut : 60)

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun)” (Quran 16:73)

Apa implikasinya bagi kita? Pertama, pekerjaan atau jabatan hanyalah sebagai sarana atau saluran/ jalan dari Allah agar rezeki tersebut sampai kepada kita. Bukan pekerjaan atau jabatan yang menentukan rezeki tapi rezeki kita yang menentukan pekerjaan atau jabatan kita. Bila Allah berkehendak melapangkan rezeki kita, maka berbagai hal bisa terjadi, misalnya: naik gaji, naik jabatan/ pangkat, dapat lembur, pindah kerja dengan gaji lebih besar, punya usaha baru. Dilain pihak, bila Allah akan menyempitkan rezeki kita, maka bisa terjadi, misalnya: kita dipecat/ PHK, sakit yang memerlukan biaya banyak, usaha merugi, panen gagal, kebanjiran.

Kedua, mintalah rezeki hanya kepada Allah. Jangan meminta-minta kepada manusia, namun mintalah rezeki hanya kepada Allah. Biar Allah yang menentukan dengan cara apa rezeki tersebut akan sampai kepada kita. Bila Allah sudah berkenan untuk memberikan rezeki kepada kita, maka akan terbuka jalannya.

Membantu mengatasi depresi (3): merawat diri sendiri

Untuk mengatasi depresi, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah merawat diri sendiri dan mengikuti pola hidup yang sehat. Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi depresi:

  • Tidur awal dan cukup. Begadang atau tidur terlalu malam kurang baik bagi kesehatan (fisik dan jiwa). Upayakan untuk selalu tidur awal dan dalam jumlah yang cukup.
  • Keluar rumah, setidaknya sekali sehari selama minimal 15 menit. Mengurung diri di kamar bisa memperberat depresi. Cobalah dengan upaya yang keras untuk keluar rumah dan nikmati suasana di luar rumah setidaknya selama 15 menit. Suasana segar di luar rumah akan dapat mengurangi perasaan murung.
  • Kendalikan stress. Masalah selalu ada, tapi cara yang salah dalam memandang masalah akan dapat menimbulkan stress. Cobalah kendalikan stress dengan mengurangi beban kerja yang berlebihan, belajar teknik pemecahan masalah, mengelola waktu dan pekerjaan secara lebih baik.
  • Latihan relaksasi. Kendalikan stress dengan berlatih relaksasi, seperti latihan bernapas panjang, latihan melemaskan otot.
  • Memelihara hewan peliharaan. Memelihara dan merawat hewan piaraan seperti kucing, anjing, burung, atau hewan peliharaan lain akan dapat meningkatkan suasana hati.
  • Membantu orang lain. Membantu orang lain akan dapat membuat orang yang memberikan bantuan menjadi lebih bahagia, mengurangi depresi. Kegiatan membantu orang lain tersebut bisa berupa pemberian sedekah, memberi makan, membantu membersihkan rumah, dll.

Cobalah buat daftar tentang kegiatan yang selama ini telah memberikan dampak positif (mengurangi suasana murung). Daftar tersebut bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Dengan membuat daftar tersebut, maka bila anda mulai merasa murung, segera lakukan kegiatan kegiatan sesuai daftar yang akan dapat mencegah dari berkembangnya depresi.

Beberapa kegiatan yang sering dapat memperbaiki suasana hati, antara lain:

  • luangkan waktu menikmati keindahan alam (berada diluar rumah)
  • membaca buku yang bagus
  • membuat daftar tentang kelebihan/ kekuatan anda.
  • menonton acara TV atau film yang lucu
  • berendam dan mandi air hangat
  • bermain dengan hewan peliharaan
  • mendengarkan musik
  • menuliskan catatan harian
  • melakukan kegiatan kegiatan kecil yang bermanfaat (berkebun, mengerjakan pekerjaan rumah, dll)

Membantu mengatasi depresi (2): menuju pemikiran yang seimbang.

Penderita depresi sering mempunyai pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan orang lainnya. Pola pikir yang tidak sehat tersebut menyebabkan mereka terjatuh kedalam depresi. Penderita depresi cenderung memandang dirinya rendah atau tidak berharga, selalu gagal dan hal hal jelek atau lemah lainnya.

Sebagai ilustrasi dari pola pikir yang tidak sehat tersebut adalah sebagai berikut: Tadi pagi Sri tidak disapa kakaknya. Sri kemudian merasa sedih karena kini kakaknya sudah tidak meyayanginya lagi, tidak mau mengacuhkannya lagi. Sri merasa bahwa kini sudah tidak ada lagi orang yang peduli dengannya.

Ada beberapa pola pikir tidak sehat yang sering dijumpai pada penderita depresi:

  • Berpikir hitam putih (all or nothing). Pola pikir yang mengejar kesempurnaan atau tidak sama sekali. Misalnya: Tidak mau ikut perlombaan lagi karena hanya mendapat juara ketiga, merasa sangat bersalah karena melakukan dosa kecil.
  • Overgeneralization (bahasa jawa-gebyah uyah). Mengambil kesimpulan berdasar satu peristiwa negatif. Misalnya: ketika ulangan matematika minggu lalu mendapat nilai jelek, maka Santi berkesimpulan bahwa dirinya memang tidak berbakat matematika. Farida berkesimpulan bahwa teman temannya sudah tidak suka lagi kepadanya karena kemarin ketika ketemu di pasar, teman sekelasnya tidak menegurnya.
  • Mental filter (saringan mental). Penderita depresi sering tidak mau menerima (dengan menyaring)  bukti atau informasi yang positive dan hanya mau menerima informasi yang negatif saja. Misalnya: meskipun beberapa kali bisa mendapat nilai baik dalam ulangan matematika, ketika sekali jatuh dalam ulangan, maka Sri berpendapat bahwa dirinya memang tidak mampu mengikuti pelajaran matematika.
  • Diminishing the positive (mengurangi atau mengecilkan sesuatu yang positif). Misalnya: Ketika bermain badminton dan bisa mengalahkan lawannya, Ida berpendapat bahwa lawan mainnya hanya mengalah untuk menyenangkan dirinya.
  • Jumping to conclusions (loncat ke kesimpulan). Pola pikir dimana seseorang telah mengambil kesimpulan tanpa melihat kepada bukti atau kejadian yang mendukung kesimpulannya tersebut. Disini ada dua jenis, yaitu seolah bisa membaca pikiran orang. Misalnya: Ketika bertemu dengan seseorang, Susan kemudian berpendapat bahwa orang tersebut pasti menilainya sebagai seorang yang gagal. Jenis yang kedua adalah seolah bisa meramalkan bahwa sesuatu yang jelek pasti akan terjadi. Misalnya: siang ini aku akan tertabrak mobil, aku pasti tidak lulus wawancara/ ujian yang akan dilakukan minggu depan.
  • Emotional reasoning. Berpikir bahwa perasaan yang dialaminya merupakan suatu kenyataan. Misalnya: Ika merasa sedih dan dia berpendapat bahwa dirinya adalah seorang anak yang gagal.
  • Men-Cap (labelling). Mencap dirinya sebagai orang yang gagal, orang yang bodoh, orang yang tidak bisa apa apa.
  • Should or should not. Berpikir secara ketat menerapkan harus dan tidak boleh. Misalnya: meskipun sedang sakit Ida tetap harus puasa Senin-Kamis, meskipun dalam perjalanan tetap harus sholat tepat waktu di masjid dan berjamaah.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengubah pola pikir kurang sehat tersebut:

  • Kurangi dalam mencap dirinya dengan hal hal yang negatif. Sedikit demi sedikit kurangi sikap yang mencap dirinya sebagai orang yang gagal, orang yang tidak berguna, dan hal hal negatif lainnya.
  • Terima bahwa tidak ada orang yang sempurna. Jangan menetapkan standar terlalu tinggi bagi diri sendiri. Misalnya: jangan bersedih atau terlalu menyalahkan diri sendiri bila kemarin ulangan ilmu alam hanya mendapat nilai 6.
  • Bergaulah denga orang orang yang optimis dan selalu berpikir positif. Pola pikir positif bisa menular. Dengan banyak bergaul dengan orang orang yang optimis, pola pikir yang selalu menyalahkan diri sendiri atau memandang diri jelek/ lemah akan bisa berkurang.
  • Buat catatan harian. Buatlah catatan setiap kali timbul perasaan sedih, malas atau letih. Catat bagaimana perasaan yang ada, apa pemicunya dan apa perilaku anda (misalnya: tidak ingin bangun dari tempat tidur, tidak mau makan). Buka dan baca catatan tersebut ketika tidak sedang depresi. Upayakan untuk bisa mencari alternatif lain. Misalnya: ketika sedih terus tidak mau sekolah karena kemarin diejek teman, maka buat alternatif dengan pikiran lain. “Kemarin Ina hanya bergurau, dia tidak benar benar memandang aku sebagai orang bodoh. Memang aku kemarin hanya mendapat nilai 5, namun aku biasanya selalu mendapat nilai 8”.

Upaya Untuk Membantu Mengatasi Depresi (1) : mencari dukungan

Depresi menyebabkan seseorang kehilangan tenaga, harapan dan semangat, sehingga penderita depresi biasanya mengalami kesulitan untuk melakukan hal hal yang akan dapat mengurangi depresinya atau membuatnya merasa lebih baik. Penderita depresi akan bisa jadi lebih baik bila yang bersangkutan mau melakukan kegiatan kegiatan seperti: jalan jalan di taman, ngobrol dengan saudara atau teman, melakukan kegiatan yang menjadi hobinya, dan lainnya. Sayangnya, penderita depresi biasanya merasa sangat letih, tidak bertenaga, malas atau tidak ada dorongan. Inginnya hanya tinggal di kamar. Keadaan ini yang membuat penderita depresi sulit sembuhnya.

Meskipun bukan sesuatu yang gampang, mengatasi depresi juga bukan sesuatu yang tidak mungkin. Kunci dalam mengatasi depresi adalah dengan melakukan sesuatu yang kecil dan mudah yang kemudian dikembangkan dan ditingkatkan lebih lanjut. Mengatasi depresi memang memerlukan waktu. Dengan membuat keputusan yang tepat setiap hari, depresi akan bisa diatasi.

Saran pertama untuk mengatasi depresi adalah dengan mencari bantuan atau dukungan.  

Depresi sering sulit diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. Penderita depresi biasanya memerlukan bantuan dan dukungan orang lain untuk menghilangkan depresinya tersebut. Adanya dukungan dan bantuan orang orang dekatnya merupakan salah satu kunci dalam pemulihan penderita depresi. Bahkan, perasaan terisolasi dan kesepian akan bisa memperburuk depresi tersebut.

Hanya sayangnya, biasanya penderita depresi tidak bisa melakukan hal tersebut (mencari bantuan atau dukungan). Penyakit depresinya menyebabkan si penderita malas, malu, atau tidak punya tenaga untuk melakukan hal hal tersebut. Oleh karena itu, penderita depresi perlu menyadari bahwa penyakit depresi menyebabkan dirinya malas, letih, dll dan dirinya perlu memaksakan diri untuk bergerak mencari dukungan atau bantuan.

 Langkah langkah yang perlu dilakukan adalah:

  • Bicara dengan saudara atau teman dekat yang bisa dipercaya. Cobalah lakukan curhat, ceritakanlah perasaan dan permasalahan anda. hal ini akan dapat meringankan depresi anda.
  • Tetap lakukan kegiatan sosial, meskipun rasanya sangat malas atau tidak ingin. Biasanya penderita depresi inginnya mengurung diri dikamar. Padahal, mengurung diri dikamar dapat membuat depresi menjadi buruk. Cobalah upayakan untuk melakukan kegiatan sosial (ngobrol, ketemu teman, telpon, dll) meskipun anda malas melakukannya.
  • Ketemu dengan depression support group (kelompok sesama penderita depresi yang saling mendukung dan bertukar pengalaman dalam mengatasi depresi).

Berikut ini 9 tip/ saran untuk menjangkau dan mendapatkan dukungan:

  • Bicara kepada seseorang orang tentang perasaan Anda.
  • Membantu orang lain dengan sukarela.
  • Makan siang atau minum kopi dengan seorang teman.
  • Mintalah orang yang cintai untuk mengontak anda secara berkala.
  • Menemani seseorang ke bioskop, menonton konser musik, atau kumpul-kumpul.
  • Kontak lewat email atau telpon teman lama.
  • Berjalan-jalan dengan teman atau melakukan latihan olah raga.
  • Temui orang-orang baru dengan mengambil kelas atau bergabung dengan klub.
  • Curhat seorang konselor, terapis, atau ustadz.

  Referensi: http://www.helpguide.org/mental/depression_tips.htm

Laporan Keuangan Periode Februari 2013

Pembangunan sarana Tirto Jiwo berhenti sementara selama bulan Februari 2013. Ada beberapa hambatan non-teknis sehingga pembangunan sarana harus berhenti sementara.

Di bulan Februari, Tirto Jiwo membayar biaya langganan internet (domain dan webhosting) selama setahun.

Alhamdulillah, dalam bulan Maret 2013 ini, pembangunan sarana fisik mulai dikerjakan lagi meskipun dengan pelan pelan.

Pengurus berdoa semoga Allah SWT berkenan membalas sedekah para dermawan dengan berlipat ganda sesuai dengan firman-Nya dalam Surat Al baqarah ayat 261. Amin

 

Balasan dari suatu pengorbanan

Segala sesuatu memerlukan pengorbanan. Ketika kita sekolah, misalnya, kita tidak hanya harus bayar uang sekolah, namun kita juga masih harus mau belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Untungnya, semua pengorbanan itu ada balasannya. Dengan ilmu dan gelar yang didapat, kita bisa bekerja dan mendapat penghasilan yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak bersekolah.

Indonesia juga tidak akan merdeka tanpa pengorbanan dari Soekarno dan Muhammad Hatta. Pada tahun 1940an, sebagian besar rakyat Indonesia masih buta huruf. Soekarno lulusan ITB dan  Muhammad Hatta sarjana ekonomi lulusan Belanda. Bila Soekarno dan Hatta hanya mencari kesenangan diri sendiri, mereka bisa bekerja dengan Belanda dan hidup sejahtera. Tapi mereka berdua memilih menjadi pejuang. Pengorbanan mereka berdua tidak sia-sia. Indonesia menjadi merdeka dan Soekarno dan Hatta menjadi presiden dan wakil presiden pertama Republik Indonesia.

Kebanyakan orang tidak mau berkorban, atau hanya berkorban sedikit. Bila bersedekah mereka hanya memberikan uang ribuan, pakaian bekas yang mereka sendiri sudah tidak mau memakainya. Apa yang mereka terima? Mereka juga hanya jadi orang biasa, hidupnya biasa biasa saja, Masih ingat dengan cerita Mak Yati, pemulung yang berkorban 2 ekor kambing? Mereka mendapat hadiah rumah dari Menteri Sosial.

Merawat dan memulihkan seorang anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa juga memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Pengorbanan perasaan, dana, tenaga dan pikiran dari orang orang terdekat sangat diperlukan untuk mendukung pemulihan penderita gangguan jiwa. Tentunya, setiap pengorbanan akan ada balasannya sendiri. Percayalah, pengorbanan yang dilakukan tidak hanya akan berdampak positif pada penderita gangguan jiwa, namun juga ada dampak positif atau balasan pada orang orang yang membantu saudaranya untuk pulih dari gangguan jiwa.

Berbagai penelitian ilmiah di Amerika menunjukkan bahwa orang orang yang menjadi sukarelawan dan menolong orang lain, hidupnya lebih bahagia, lebih sehat dan berumur lebih panjang. Orang yang menolong (dengan tenaga dan pikiran) serta memberi sedekah, sering merasa lebih berbahagia dibandingkan dengan orang yang ditolong atau diberi bantuan.

Nah, bila ada saudara atau tetangga yang menderita gangguan jiwa, jadikan hal tersebut sebagai ladang amal. Mari kita bantu mereka agar bisa pulih dan kembali hidup produktif di masyarakat. Bagaimana caranya? silahkan pelajari dari berbagai artikel yang ada di website ini.

Belajar ikhlas

Kita sering mendengar pernyataan ” Sedekah itu tidak harus besar, yang penting ikhlas”. Saya kira pernyataan tersebut tidak salah, cuman sering dapat menyesatkan. Kenapa? Karena pernyataan tersebut membuat orang sudah puas dengan memberi sedekah uang recehan. Tentu saja memberi sedekah uang receh dengan niat karena Allah semata lebih baik dibandingkan dengan sedekah uang banyak tetapi dengan motivasi politik (sebagai bagian kampanye) atau karena ingin terkenal, dll. Namun dilain pihak, dengan keikhlasan yang sama, sedekah dalam jumlah yang besar akan lebih baik dibandingkan dengan sedekah dalam jumlah sedikit.

Kita bisa ikhlas memberi Rp 1,000 kepada pengemis dijalanan, tapi sering belum bisa ikhlas memberi sedekah sebesar Rp 1000,000 kepada kenalan atau saudara yang membutuhkan.

Kelihatannya, ikhlas itu tidak beda jauh dengan khusyu. Kita perlu latihan agar bisa sholat khusyu. Kita perlu latihan juga agar bisa sedekah dalam jumlah besar dengan ikhlas. Menurut hemat saya, berikut ini tahapan yang perlu dilalui agar kita bisa memberi dalam jumlah besar dengan ikhlas:

Tahap 1, penuhi kewajiban zakat, khususnya zakat mal. Saat ini belum semua muslim yang telah mencapai kewajiban membayar zakat mal telah menunaikan kewajiban tersebut. Banyak muslim yang masih hanya membayar zakat fitrah. Kita akan sulit bersedekah dalam jumlah besar bila kita belum tergerak untuk membayar zakat harta benda kita. Oleh karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memenuhi kewajiban membayar zakat mal.

Tahap 2,bersedekah dengan mengharap balasan dari Allah dengan balasan dunia. Contohnya adalah bersedekah dengan mengharapkan kesembuhan dari sakitnya. Rasulullah n bersabda :  دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi)
 
Tentunya, bila kita sakit yang cukup serius, kita akan bersedia bersedekah lebih dari jumlah sedekah yang kita masukkan ke kotak amal setiap Jumat. Kita akan bersedia bersedekah dalam jumlah besar dengan harapan bahwa Allah akan mengabulkan doa kita ketika berdoa agar anak kita segera dapat jodoh, agar kita bisa dapat anak keturunan, dan lain lain.
 
Tahap 3, bersedekah dengan harapan agar Allah berkenan menghindarkan kita dari bencana dan ujian. Nabi Muhammad bersabda:  بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ 

Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar makruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bila kita sudah bisa bersedekah dengan jumlah besar dengan mengharap balasan dari Allah berupa balasan yang tidak segera sifatnya, maka kita sudah naik lebih tinggi tingkat keikhlasan kita.
 
Tahap 4, bersedekah dengan mengharapkan balasan surga bagi kita. Selama ini kita menganggap enteng masalah surga. Kita menganggap bahwa masuk surga itu mudah dan tidak perlu pengorbanan. Pada tahap ini kita sudah berani mewakafkan rumah atau tanah kita untuk rumah tahfidz, misalnya.
 
Allah SWT berfirman: ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al Hujuraat : 15)
 
Tahap 5, bila kita sudah bisa bersedekah dalam jumlah besar agar orang tua kita bisa masuk surga. 
 
Tahap 6, bila kita sudah bisa bersedekah dalam jumlah besar dengan menyerahkan sepenuhnya balasan yang akan Allah berikan. Selama ini sebagian besar dari kita telah bersedekah tanpa mengharapkan balasan apapun dari Allah karena jumlah yang kita sedekahkan hanya berupa uang ribuan rupiah. Bila kita sudah menyedekahkan harta yang kita cintai (misalnya: rumah, mobil terbaru yang kita punyai, dll), maka kita sudah mencapai tingkat keikhlasan yang tinggi.
 
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya“.(Al Quran Surat Ali Imran ayat 92)