Memulihkan diri sendiri dari gangguan jiwa dengan membantu pemulihan orang lain

Dalam ilmu psikologi telah lama dikenal apa yang disebut sebagai ” helper therapy”. Seseorang yang membantu orang lain untuk sembuh akan mendapatkan manfaat dari upaya membantu orang lain tersebut bagi kesembuhan dirinya.. Seseorang yang menderita depresi akan cepat sembuh dari depresinya dengan membantu orang lain mengatasi depresi yang diderita orang lain.  Pemahaman ini secara formal pertama kali dikemukakan oleh Frank Riesseman di tahun 1965.

Di Amerika Serikat, prinsip helper therapy secara berhasil diterapkan dalam pemulihan dari kecanduan alkohol melalui alcohol anonymous, dimana sesama pecandu alkohol saling bertukar pengalaman dan saling membantu agar terlepas dari kecanduan minuman keras.

Dalam pemulihan gangguan jiwa, prinsip helper therapy diterapkan dalam “club house”. Di dalam club house, yang dikelola oleh para bekas penderita gangguan jiwa, penderita yang datang saling membantu bagi kesembuhan temannya. Salah satu club house yang terkenal adalah Magnolia Clubhouse (http://www.magnoliaclubhouse.org/).

Di dalam Club House, penderita datang (tidak menginap) dan akan melalukan kegiatan dan mengelola club house tersebut. Penderita yang datang akan mengerjakan kegiatan memasak, berkebun, kegiatan kantor, dll sesuai dengan minat dan kemampuan masing masing penderita. Penderita juga akan dibantu oleh Club House untuk mendapatkan pekerjaan di luar Club House.

Dengan prinsip saling membantu kesembuhan sesama penderita gangguan jiwa, maka para penderita gangguan jiwa yang datang secara rutin ke Club House bisa lebih cepat pulih.

Prinsip helper therapy ini akan diterapkan juga di Tirto Jiwo. Penderita gangguan jiwa yang datang akan diminta untuk mengerjakan kegiatan kegiatan secara bersama-sama seperti memasak, berkebun, berternak, kerajinan tangan, dll yang hasilnya dimanfaatkan oleh semua anggota/ penderita yang datang ke Tirto Jiwo. Selama melakukan kegiatan tersebut, sesama penderita gangguan jiwa bisa saling berbagi pengalaman dan saling membantu.

Tabungan Kebaikan

Hukum Kekekalan Energi mengatakan “Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya”. Hukum ini diciptakan oleh James Prescott Joule, seorang ahli fisika Inggris yang namanya diabadikan menjadi satuan energi.

Hukum ini juga berlaku dalam kehidupan manusia.

Aktivitas yang kita lakukan setiap hari merupakan perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Contohnya, saat kita makan, kita mengubah energi kimia dari makanan menjadi energi yang kita gunakan untuk bergerak dan berpikir. Energi yang kita berikan untuk perusahaan saat kita bekerja akan ditukar menjadi energi potensial yang kita dapatkan dari perusahaan (income atau gaji).

Energi tersebut bisa ditabung untuk dipergunakan bila diperlukan nantinya. Sebagai contoh: bila kita makan berlebihan, maka kelebihan energi tersebut akan disimpan di dalam tubuh dalam bentuk lemak. Lemak tersebut Begitu pula, bila kita telah bekerja keras dan cerdas, sehingga “nilai” dari hasil kerja kita tersebut lebih besar dari gaji kita, maka energi tersebut akan ditabung. Tabungan tersebut akan dicairkan dalam bentuk kenaikan gaji (karena gaji naik atau mendapat promosi jabatan atau karena pindah kerja ke tempat kerja dengan gaji yang lebih baik). Dilain pihak, bila kita banyak melakukan kejelekan (tabungan negatif), maka suatu saat kita juga harus membayarnya. Sebagai ilustrasi: bila kita bekerja malas-malasan sehingga hasil kerja kita lebih rendah dibandingkan dengan gaji, maka dalam jangka panjang kita akan dipecat/ di PHK. Bila kita mencuri atau menipu, suatu saat kita akan dihukum (baik hukuman di dunia atau di akhirat).

Apa implikasinya bagi kita? Mari kita melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya agar kita punya banyak tabungan positif. Tabungan kebaikan tersebut bisa kita cairkan nanti bila kita membutuhkannya, baik ketika kita masih hidup didunia atau untuk nanti di akhirat. Tabungan kebaikan tersebut bisa juga kita hadiahkan kepada orang lain. Sahabat saya Mas Elok Heru Wibowo menghadiahkan tabungan tersebut untuk adiknya ketika adiknya mengalami kecelakaan dan tidak sadar. Mas Elok berdoa meminta kesembuhan bagi adiknya dengan mencairkan tabungan kebaikan yang banyak dia punyai. Tabungan kebaikan tersebut banyak dihadiahkan oleh para orang tua kepada anak anaknya. Oleh karena itu, agama mengajarkan agar kita berbuat banyak kebaikan (wakaf atau sedekah atas nama orang tua, dll) untuk membalas kebaikan orang tua kita.

Penderita skizofrenia juga bisa sukses

Successful and Schizophrenic oleh Elyn R. Saks. Dipublikasikan di Koran New York Times 25 januari 2013, http://www.nytimes.com/2013/01/27/opinion/sunday/schizophrenic-not-stupid.html?_r=0

Tga puluh tahun lalu, aku didiagnosis menderita skizofrenia. Prognosis (perkiraan kondisi masa depan) penyakit saya adalah “jelek”: Saya tidak akan pernah hidup mandiri, tidak akan bisa bekerja, tidak akan menemukan pasangan yang penuh kasih, dan tidak akan menikah. Saya akan tinggal di panti rehabilitasi, hari-hariku akan dihabiskan dengan menonton TV di siang hari dengan orang lain yang lemah oleh gangguan jiwa. Saya akan bekerja sebagai pekerja kasar bila gejala saya sedang tenang.

Setelah rawat inap psikiatri terakhir saya di usia 28, saya didorong oleh seorang dokter untuk bekerja sebagai kasir agar hidup saya berubah. Jika saya bisa mengatasinya, saya diberitahu, mereka akan menilai kembali kemampuan saya untuk memegang posisi yang lebih tinggi/sulit, bahkan mungkin sesuatu pekerjaan tetap/ penuh waktu.

Lalu aku membuat keputusan. Saya akan menulis cerita hidup saya. Hari ini aku seorang profesor dan ketuai di University of Southern California Gould School of Law. Saya memiliki pekerjaan tambahan di departemen psikiatri di sekolah kedokteran dari University of California, San Diego, dan saya juga bekerja di fakultas dari Pusat untuk Psikoanalisis. Yayasan MacArthur memberiku hibah jenius (genius grant).

Meskipun saya berjuang mengatasi skizofrenia selama bertahun-tahun, saya bisa menerima bahwa saya memiliki skizofrenia dan akan harus tetap mium obat selama sisa hidup saya. Memang, terapi psikoanalitik sangat baik dan obat-obatan telah membantu  keberhasilan saya. Apa yang saya tolak dan saya tidak mau terima adalah prognosis saya.

Teori gangguan jiwa konvensional dan kategori diagnostik mengatakan bahwa orang seperti saya itu tidak ada. Tidak ada penderita skizofrenia yang bisa sukses. Mereka bilang bahwa saya tidak memiliki skizofrenia , atau saya tidak bisa mencapai apa yang saya telah saya capai. Namun ternyata, saya menderita skizofrenia dan saya bisa menjadi profesor.  Dan saya telah melakukan penelitian dengan rekan-rekannya di University of Southern California dan University of California at Los  Angeles. Untuk menunjukkan bahwa saya tidak sendirian. Ada orang lain dengan skizofrenia dan gejala aktif seperti delusi dan halusinasi yang juga memiliki prestasi akademik dan profesional yang signifikan.

Selama beberapa tahun terakhir, rekan-rekan saya, termasuk Stephen Marder, Alison Hamilton dan Amy Cohen, dan saya telah mengumpulkan 20 orang subyek penelitian dengan high-functioning skizofrenia di Los Angeles. Mereka menderita gejala seperti delusi ringan atau perilaku halusinasi. Rata-rata usia mereka adalah 40. Setengah adalah laki-laki, perempuan setengah, dan lebih dari separuhnya adalah minoritas (bukan kulit putih). Semua memiliki ijazah SMA, dan mayoritas memiliki atau sedang belajar menuju perguruan tinggi atau gelar sarjana. Mereka adalah mahasiswa pascasarjana, manajer, teknisi dan profesional, termasuk, pengacara psikolog dokter, dan chief executive dari sebuah kelompok nirlaba.

Pada saat yang sama, sebagian besar belum menikah dan punya anak, yang konsisten dengan diagnosis mereka. (Rekan-rekan saya dan saya berniat untuk melakukan studi lain pada orang-orang dengan skizofrenia yang berfungsi tinggi dalam hal hubungan antar manusia, saya menikah di  pertengahan 40-an -. Hal terbaik yang pernah terjadi kepada saya – adalah melawan segala rintangan, lebih dari tiga perempat telah dirawat di rumah sakit antara dua hingga lima kali karena penyakit mereka, sementara tiga orang tidak pernah masuk rumah sakit jiwa lagi.

Bagaimana orang-orang dengan skizofrenia bisa berhasil dalam studi mereka dan pada pekerjaan tingkat tinggi? Kami belajar bahwa, di samping pengobatan dan terapi, semua peserta telah mengembangkan teknik untuk menjaga mengendalikan skizofrenianya. Bagi sebagian orang, teknik ini kognitif. Pendidik dengan gelar master mengatakan ia telah belajar untuk menghadapi halusinasi dan bertanya, “Apa bukti untuk itu? Atau itu hanya masalah persepsi? “Peserta lain berkata,” Saya mendengar suara-suara menghina sepanjang waktu. … Anda hanya harus mengusir mereka pergi. ”

Mereka selalu waspada terhadap gejala-gejala awal serta “mengidentifikasi faktor pemicu” terjadi kambuhnya skizofrenia” kata seorang peserta yang bekerja sebagai koordinator di sebuah kelompok nirlaba. Misalnya, jika berada dengan orang-orang dalam jarak dekat terlalu lama dapat memicu gejala, mereka kemudian akan menyendiri selama beberapa lama untuk mencegah terjadinya gejala ketika mereka bepergian dengan teman-teman.

Teknik lain yang dikutip peserta kami termasuk mengendalikan masukan sensorik. Bagi beberapa orang, ini berarti menjaga ruang hidup mereka sederhana (dinding kosong, tidak ada TV, hanya musik yang tenang), sedangkan untuk orang lain, itu berarti mendengarkan musik. “Saya akan mendengarkan musik keras jika saya tidak ingin mendengar sesuatu karena halusinasi,” kata seorang peserta yang merupakan asisten perawat bersertifikat. Yang lain melakukan olahraga, diet sehat, menghindari alkohol dan cukup tidur. Sebuah keyakinan pada Tuhan dan doa juga memainkan peran pada beberapa orang.

Salah satu teknik yang paling sering disebutkan oleh peserta penelitian kami adalah bahwa pekerjaan sangat membantu mengatasi gejala skizofrenua. “Pekerjaan telah menjadi bagian penting dari siapa saya,” kata seorang pendidik dalam kelompok kami. “Ketika Anda menjadi berguna untuk organisasi dan merasa dihormati dalam organisasi itu, ada nilai tertentu karena anda merasa berguna dan menjadi bagian dari organisasi tersebut.” Orang ini bekerja pada akhir pekan juga karena “faktor gangguan.” Dengan kata lain, dengan terlibat dalam pekerjaan, gangguan jiwal sering surut .

Secara pribadi, saya menemui dokter saya, teman-teman dan keluarga setiap kali saya mulai tergelincir (ada gejala akan kambuhnya gangguan jiwa), dan saya mendapatkan dukungan yang besar dari mereka. Saya makan makanan kesukaan (untuk saya, berupa sereal) dan mendengarkan musik yang tenang. Saya meminimalkan semua stimulasi. Biasanya teknik ini, dikombinasikan dengan obat dan terapi yang lebih, akan membuat gejala hilang. Tapi otak – menggunakan pikiran saya – adalah pertahanan terbaik saya. Menggunakan pikiran membuat saya terfokus, itu membuat gangguan jiwa menjauh.

Oleha karena itu, bagi saya adalah sangat menyedihkan ketika dokter mengatakan kepada pasien mereka untuk tidak mengharapkan atau mengejar karier. Terlalu sering, pendekatan kejiwaan konvensional untuk penyakit gangguan jiwa adalah hanya melihat pada kelompok gejala yang ada pada seorang penderita. Oleh karena itu, banyak psikiater memegang pandangan bahwa mengobati gejala dengan obat-obatan yang mengobati penyakit mental. Tapi pendekatan ini gagal dalam memperhitungkan kekuatan  individu dan kemampuan seseorang. Para profesional kesehatan jiwa meremehkan apa yang bisa dicapai oleh pasien mereka di dunia.

Ini bukan hanya terjadi pada skizofrenia: awal bulan ini, Sebuah Jurnal  Psikologi Anak dan Psikiatri menerbitkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa sekelompok kecil orang yang diberi diagnosa autisme, gangguan perkembangan, kemudian bisa berhenti menunjukkan gejala. Mereka tampaknya telah pulih –  setelah bertahun-tahun mendapat terapi perilaku dan pengobatan. Sebuah artikel di New York  Times Magazine menggambarkan sebuah perusahaan baru yang mempekerjakan orang dewasa dengan autisme dalam posisi tinggi, mengambil keuntungan dari keahlian mereka yang tidak biasa dalam hal kemampuan memori dan perhatian terhadap detail.

Saya tidak ingin terdengar seperti Pollyanna tentang skizofrenia, penyakit mental memaksakan keterbatasan yang nyata, dan itu penting untuk tidak melamun itu. Kita tidak bisa semua akan menjadi peraih Nobel seperti John Nash dari film Tapi “A Beautiful Mind.” Benih-benih pemikiran kreatif kadang-kadang dapat ditemukan dalam penyakit mental, dan orang-orang meremehkan kekuatan otak manusia untuk beradaptasi dan menciptakan.

Sebuah pendekatan yang mencari kekuatan individu, di samping  mempertimbangkan, gejala bisa membantu menghilangkan pesimisme sekitarnya penyakit mental. Menemukan “kesehatan dalam penyakit,” sebagai salah satu orang dengan skizofrenia mengatakan, harus menjadi tujuan terapeutik. Dokter harus mendukung pasien mereka untuk mengembangkan hubungan dan terlibat dalam pekerjaan yang berarti. Mereka harus mendorong pasien untuk menemukan perbendaharaan mereka sendiri teknik untuk mengelola gejala mereka dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Dan mereka harus menyediakan sumber daya kepada pasien – terapi, pengobatan dan dukungan – untuk membuat hal ini terjadi.

“Setiap orang memiliki bakat yang unik atau diri yang unik yang dibawa ke dunia,” kata salah satu peserta studi kami. Dia mengungkapkan kenyataan bahwa sebagian dari kita yang memiliki skizofrenia dan penyakit mental lainnya menginginkan apa yang semua orang ingin: dalam kata-kata Sigmund Freud, untuk bekerja dan mencintai.

Tulisan ini ditulis oleh seorang profesor hukum di University of Southern California dan penulis memoar “The Center cannot hold: My Journey through Madness.”

Laporan Keuangan Tirto Jiwo November-Desember 2012

Pembangunan Tirto Jiwo masih terus berjalan. Tidak bisa cepat karena adanya keterbatasan dana.

Selama bulan November-Desember, berbagai kegiatan kecil seperti pembuatan WC dan kamar mandi telah diselesaikan.

Terima kasih kepada para dermawan yang memberikan sumbangannya. Semoga Allah SWT berkenan membalasnya dengan berlipat ganda. amin.

Terapi kognisi dan perilaku untuk mencegah mania atau hipomania

Penderita dengan gangguan hipomania atau mania akan terlihat dengan kondisi dimana mood atau perasaan yang menaik/ bergairah, gembira, banyak ide dan disertai dengan kegiatan yang juga meningkat. Pada saat yang bersamaan, penderita mulai berkurang tidurnya atau merasa tidak memerlukan tidur. Keadaan tersebut biasanya berkembang atau meningkat secara perlahan. Bila tidak ada tindakan atau penanganan, maka penderita akan bisa jatuh kedalam kondisi hipomania atau mania.

Ada dua pendekatan yang perlu dilakukan untuk mencegah berkembangnya mania atau hipomania tersebut, yaitu dengan terapi kognisi dan terapi perilaku. Secara singkat, gambaran kedua terapi tersebut akan dijelaskan secara singkat.

Terapi perilaku. Dalam terapi perilaku, penderita diminta untuk membuat rencana kegiatan harian selama seminggu kedepan. Dalam jadwal kegiatan tersebut perlu dialokasikan cukup waktu untuk istirahat/ tidur, tidur awal (jangan tidur terlalu malam). Perlu dialokasikan juga cukup waktu untuk bersantai.

Terapi kognisi. Dalam terapi kognisi, penderita diminta untuk menilai apakah ide idenya tersebut layak atau bisa diterapkan. Penderita hipomania atau mania akan mempunyai banyak ide dan inspirasi. Kadang, ide tersebut kurang realistis sehingga bila tidak hati hati, penderita bisa terjatuh dalam masalah keuangan. Penderita diminta untuk menilai apa untung rugi dari ide idenya, resiko apa yang akan terjadi bila ide tersebut diterapkan. Selain itu, bila ada beberapa ide, penderita perlu diminta membuat prioritasnya dan menjadwalkan kapan kegiatan kegiatan tersebut akan dilaksanakan.

Pembaca yang ingin mendalami lebih lanjut terapi kognisi dan perilaku bagi penderita gangguan jiwa, silahkan kunjungi website http://www.cci.health.wa.gov.au/docs/KYB-7-Behavioural%20Strategies%20for%20Mania.pdf