Tahapan rehabilitasi pada penderita skizofrenia

280-dd-supported%20employment_6467Pekerjaan merupakan salah satu terapi bagi penderita gangguan jiwa.

Di Tirto Jiwo, tahapan yang perlu dilalui dalam rehabilitasi terhadap penderita skizofrenia adalah sebagai berikut:

  1. Tahap psikotik. Tirto Jiwo hanya akan menerima penderita gangguan jiwa yang telah bisa keluar dari rumah sakit jiwa. Tahap psikotik penderita masih perlu dirawat di rumah sakit jiwa.
  2. Tahap konseling. Penderita sudah bisa keluar dari rsj. Penderita mulai bisa diajak untuk mempersiapkan langkah langkah menuju pemulihan dan persiapan kerja.
  3. Tahap penggunaan kemampuan sederhana. Pasien perlu mulai diberi kepercayaan untuk melakukan pekerjaan pekerjaan yang mudah yang melibatkan penggunaan kemampuan yang sangat sederhana dan hanya memerlukan kemampuan mekanik dan fungsi hafalan. Pekerjaan tangan seperti menyapu, mengepel, membersihkan debu, melakukan bordir dan  jahitan sederhana. Kerja yang memerlukan penghitungan sederhana atau pekerjaan tugas ringan seperti penjaga kemananan, penolong atau petugas yang ditugaskan menjaga pasien. Pada fase ini pada umumnya pekerjaan yang dilakukan tidak  memerlukan kemampuan intelektual atau keputusan-keputusan kompleks atau kemampuan mengingat yang kuat, meskipun sebelum sakit si penderita mempunyai kemampuan intelektualitas yang tinggi.
  4. Bekerja paruh waktu berfungsi dengan dukungan yang ketat. Pasien mulai bisa bekerja dalam pola kerja yang terjadwal secara paruh waktu. Penderita mulai bekerja 2-3 jam per hari sesuai dengan tingkat kenyamanan pasien. Penderita bisa bekerja pada shift pagi atau shift sore. Dalam fase ini pasien perlu memperoleh banyak dukungan dan  pujian. Pemberian gaji/honor  atau imbalan lain yang sesuai diberikan kepada penderita secara sering, bila perlu bahkan diberikan setiap hari. Seringkali hadiah (honor) atau penguatan mungkin perlu diberikan jauh melampaui kualitas kerja yang sebenarnya atau jumlah hasil kerja dicapai, dengan tujuan untuk  penguatan yang meningkatkan kepercayaan diri pasien dan menanamkan dalam dirinya / keinginan nya untuk tetap berkarya.
  5. Tahap kerja penuh waktu berfungsi tetapi masih melakukan pekerjaan yang mudah. Fase ini melibatkan upaya peningkatan kualitas hasil kerja. Penderita mungkin melakukan pekerjaan yang sama tetapi pemberian honor/ gaji diberikan secara mingguan atau bulanan. Dukungan konseling tetap diperlukan. Pada tahap ini para pasien dan anggota keluarganya secara bertahap diberi pemahaman agar penderita dapat mendapatkan pekerjaan yang selaras dengan kemampuan pasien   yang sebenarnya dan potensi sesungguhnya.
  6. Tahap pekerjaan intelektual. Dalam fase ini pasien mulai diberi penugasan untuk bekerja yang sesuai dengan kemampuan intelektualnya, misalnya tutor, akuntan, asisten dalam profesional khusus. Jika pasien sendiri adalah seorang dokter atau pengacara atau akuntan, maka tahap ini mungkin penderita diberikan program  magang di bawah bimbingan profesional lainnya dengan kualifikasi yang sama. Pada fase ini penderita masih harus berada dalam lingkungan yang terlindungi.
  7. Tahap bekerja secara penuh. Dalam fase ini pasien melakukan apa yang ingin ia lakukan dalam bidang pilihannya, sesuatu yang ia akan lakukan dengan cara baik jika dia tidak menderita penyakit. Lama  setiap tahap rehabilitasi tergantung pada kasus individu, yang didasarkan pada seberapa stabil pasien dalam setiap fase. Pada umumnya, setiap fase dapat berlangsung selama antara 1 sampai 6 bulan. Obat dapat ditambahkan, atau disesuaikan tergantung pada: kemajuan gejala klinis, ada tidaknya gejala psikotik, ada tidaknya faktor yang  menghambat kerja yang disebabkan oleh efek samping dari obat-obatan misalnya tremor atau mengantuk, serta ada tidaknya kebutuhan untuk melindungi dan menjaga pasien dari stres.

sumber: http://www.aarogya.com/support-groups/schizophrenia/4674-schizophrenia-rehabilitation.html

Mengembalikan kemampuan kognitif pada penderita skizofrenia

kognitif-490x220Penderita skizofrenia sering mengalami penurunan pada kemampuan kognitif, yaitu kemampuan seseorang dalam mengolah informasi dan menerapkan ilmu pengetahuan. Penurunan kemampuan kognitif tersebut sering menyebabkan masalah pada kemampuan penderita skizofrenia dalam mengelola kegiatan fungsional dalam kehidupan sehari-harinya dan dalam pekerjaan sehingga menurunkan kualitas hidupnya. Sayangnya, meskipun gejala skizofrenia telah berkurang, sering kemampuan kognitif tersebut sulit kembali seperti sedia kala. Obat gangguan jiwa belum mampu mengembalikan kemampuan kognitif tersebut.

Pada penderita skizofrenia, penurunan kognitif tersebut sering muncul beberapa tahun sebelum gejala gangguan jiwanya muncul.

Pada penderita skizofrenia, penurunan kemampuan kognitif tersebut terutama muncul dalam bentuk menurunnya kemampuan mengingat warna dan bahasa lisan (verbal), kemampuan eksekusi (mengerjakan sesuatu) dan penurunan dalam kecepatan memproses sesuatu. Penurunan kemampuan kognitif tersebut sering menyebabkan penderita skizofrenia berat susah untuk hidup mandiri dan susah dapat kerja.

Mengingat hingga saat ini belum ada obat yang bisa mengembalikan kemampuan kognitif, penderita skizofrenia perlu dilatih dan dibangkitkan lagi kemampuan kognitifnya. Ada dua strategi utamanya: pertama dengan melatih penderita skizofrenia melakukan suatu tuga secara berulang ulang hingga hafal (seperti orang naik sepeda, bisa jalan secara otomatis, tidak banyak berpikir). Strategi kedua dengan mengatur lingkungan agar memudahkan hidup penderita skizofrenia. Misalnya: dilatih untuk menempatkan baju kotor di ember warna/ bentuk tertentu dan ember bentuk/ warna tertentu untuk baju bersih.

Pelatihan tersebut tidak bisa diberikan oleh dokter ahli jiwa melalui pengobatan rawat jalan. Tirto Jiwo nantinya akan memberikan pelatihan kognitif sehingga penderita skizofrenia bisa hidup mandiri dan bisa mempunyai penghasilan minimal untuk menopang hidupnya.

Referensi: http://www.psychiatrictimes.com/schizophrenia/content/article/10168/1822689

Mencegah timbulnya gangguan jiwa pada remaja

1-alcohol-finalBerikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya gangguan jiwa:

    1. Hindari alkohol dan narkoba. Alkohol dan narkoba mengandung zat zat kimia yang bisa berakibat buruk pada otak dan mendorong timbulnya gangguan jiwa. Dampak alkohol dan narkoba lebih berbahay bila sudah riwayat gangguan jiwa atau ada riwayat gangguan jiwa pada keluarga.
    2. Kembangkan ketrampilan sosial. Latihlah kemampuan bergaul dan hidup bermasyarakat. Bila anda seorang pemalu, lakukan latihan latihan untuk mengurangi rasa malu dan pelajari ketrampilan bergaul di masyarakat. Saat ini cukup banyak buku dan artikel di internet yang membahas tentang bagaimana mengembangkan pertemanan. Perlu sekali dipelajari ketrampilan sosial seperti cara menolak yang baik, bagaimana menyampaikan pendapat, bagaimana berteman yang baik, dan lain lain.Tentunya jangan asal bergaul. Berteman dengan anak anak nakal hanya akan membuat anda ketularan nakal. Begitu pula, jangan bergaul dengan anak anak pecandu narkoba.
    3. Jangan hidup menyendiri. Jangan terlalu banyak mengurung diri di kamar. Lakukan kegiatan di luar rumah bersama teman setidak 2-3 kali seminggunya. Orang yang senang menyendiri lebih mudah terkena gangguan jiwa.
    4. Berlatih berpikir positif. Salah satu karakteristik dari penderita gangguan jiwa adalah mereka sering mempunyai pola pikir yang salah. Salah satu pola pikir yang salah itu misalnya: merasa dirinya tidak berharga sehingga tidak mau sekolah karena diejek teman. Pola pikir yang benar (positif) bisa dilatih dengan mengenal tauhid secara benar, pola pikir positif, dan lain lain.
    5. Berlatih cara mengatasi kegalauan dan tekanan hidup. Dalam hidup akan selalu ada masalah, tekanan hidup dan kecemasan. Untuk itu, setiap orang, khususnya ketika masih muda, berlatih cara menghadapi tekanan hidup, kecemasan atau kegalauan. Belajar teknik pemecahan masalah juga akan dapat membuat seseorang terhindar dari stress.
    6. Kunjungi psikolog atau psikiater bila anda tidak bisa mengatasi masalah kejiwaan yang anda hadapi. Bila menghadapi masalah psikologis atau kejiwaan yang dirasa berat, sebaiknya datangi psikolog atau psikiater agar bisa dibantu dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

sumber: http://www.schizophrenia.com/prev2.htm#drugs

Randy: Cerita pulih dari gangguan jiwa (schizophrenia)

Saya ingat pertama kali secara bertahap terkena gangguan jiwa dimulai ketika saya masih berumur 13 tahun. Saya mulai menarik diri di kamar dan bermain video game selama berjam-jam. Saya bermain  begitu banyak games sehingga saya butuh kacamata setelah terlalu lama  menatap layar komputer.

Saya menjadi tertekan dan lebih menarik diri dari pergaulan sosial. Nilai rapor saya tetap tinggi sampai SMU  kelas 2. Sebelum itu saya bahkan juara di kelas. Kemudian di kelas 2 SMU saya mulai menarik diri dari pergaulan  sosial dan kecemasan sampai ke titik rendah sehingga saya tidak lagi pergi ke sekolah. Saya bolos sekolah dan nilai rapor saya mulai jatuh . Konselor sekolah mulai melihat saya. Mereka tidak bisa cukup mengerti atas apa yang terjadi. Saya pikir para guru berpikir bahwa saya hanya mengalami masa pemberontakan remaja. Namun, sebenarnya bahwa saya mulai menderita gangguan jiwa.

Saya mulai merokok ganja sekitar usia 17 tahun. Hanya 10 kali, tapi ketika saya merokok ganja tersebut saya menjadi sangat paranoid. Iman saya juga menderita. Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen, tetapi hidup saya tidak mencerminkan hal itu dan saya belum menerima Kristus. Saya kemudian kesasar ke Buddhisme dan meditasi. Meditasi menjadi obsesi, dan selama berjam-jam saya akan duduk di sana di dunia kecil saya sendiri. Lalu saya mulai mengalami waham kebesaran (delusi keagungan/kebesaran), dan mulai berpikir awan di udara adalah tanda-tanda dari Tuhan berbicara kepada saya. Saya mulai melihat wajah-wajah yang tampak terdistorsi jahat dan jahat. Saya mulai mendengar suara-suara aneh marah bergumam. Orang-orang memiliki taring dan mata hitam berongga. Saya tidak  makan makanan, minuman, dan saya tidak tidur. Saya lari dari rumah untuk mendapatkan bantuan dari gereja dan orang tua saya menelepon polisi.

Tak lama setelah saya dibawa ke unit Krisis kesehatan mental di Binghamton, New York (CPEP) dan didiagnosis dengan Schizophrenia. Kemudian berubah menjadi schizo-afektif. Saya akan menjadi gembira dan manik, kemudian tertekan dan ingin bunuh diri.  Pada satu titik saya hampir mencoba bunuh diri untuk mengakhiri penderitaan, tetapi dengan kasih karunia Allah hal tersebut tidak terjadi.

Para dokter memberikan lebih dari 20 obat yang berbeda selama kira-kira selama 7 tahun dan saya tampaknya akan mendapatkan semua efek samping . Saya terkena tumor otak pada kelenjar pituitari saya akibat efek samping obat Risperdal yang meningkatkan kadar prolaktin saya sampai 6 kali jumlah normal pada sekitar 60 poin. Payudara mulai membesar, yang untuk laki-laki adalah memalukan. Saya mulai  berkedut tardive dyskinesia dan masalah otot dystonic. Fungsi kognitif saya telah sangat rusak sangat.

Sekarang saya akan ceritakan kisah pemulihan dan kabar baik. Setelah 6 tahun di neraka yang saya berhasil mendapatkan obat yang tepat untuk saya. Obat ini disebut Trilofan dan saya hanya perlu 8 mg bersama dengan Klonopin 1 mg sekali sehari di malam hari. Ini dosis rendah mengubah hidup saya. Saya tidak memiliki gangguan gerakan sehingga dokter bisa menghilangkan obat artane / Cogentin. Ini menguntungkan memori saya dan keadaan saya meningkat drastis. Saya menjadi stabil dan saya sekarang menjadi editor sebuah jurnal di sebuah klub kesehatan mental dan ditawari pekerjaan sebagai advokat rekan untuk klub kesehatan mental. Saya tidak bisa  menerimanya saat itu karena saya tidak punya SIM, tapi saya berencana untuk mendapatkan itu selama musim panas.

Saya berencana jalan untuk mengejar gelar doktor atau master di bidang psikologi atau psikiatri dan bekerja di bidang kesehatan mental. Saya merasa saya memiliki pengalaman dan pengetahuan yang mendalam untuk lebih membantu orang sakit mental yang masih membutuhkan pemulihan berdasarkan pengalaman yang saya rasakan. Saya ingin membantu orang seperti halnya Tuhan membantu saya pada saat saya punya masalah (yang banyak). Iman saya di dalam Kristus membuat saya melalui tahun-tahun bunuh diri dan membuat saya hidup untuk keberadaan saya saat ini. Ini tidak akan tepat untuk tidak berterima kasih padanya secara pribadi untuk pemulihan saya.

Secara keseluruhan saya ingin membantu orang dan menghibur mereka yang membutuhkan dan memberikan kembali kepada masyarakat. Saya ingin mengatakan kepada siapapun yang sakit gangguan jiwa bahwa ada harapan. Anda bisa mendapatkan yang lebih baik. Berani bermimpi besar karena Anda dapat memulihkan dan mencapai impian tersebut. Jangan pernah menyerah. Semoga Tuhan memberkati Anda semua.

diterjemahkan dari: http://www.experienceproject.com/stories/Have-Schizophrenia/1437960

Pengobatan Gangguan Obsesif Kompulsif

Obsesif-kompulsif (OCD) adalah gangguan kecemasan yang ditandai dengan adanya dorongan yang tak terkendali, pikiran yang tidak diinginkan dan berulang, serta dorongan untuk melakukan perilaku ritual. Jika Anda memiliki OCD, Anda mungkin menyadari bahwa pikiran obsesif dan perilaku kompulsif tersebut tidak rasional – tetapi meskipun demikian, Anda merasa tidak mampu melawan dorongan tersebut.

Obsesif-kompulsif (OCD) menyebabkanpikiran terjebak pada pemikiran atau dorongan tertentu. Misalnya, Anda dapat memeriksa kompor dua puluh kali untuk memastikan bahwa kompor benar-benar telah dimatikan, cuci tangan sampai dengan digosok sikat, atau berkeliling selama berjam-jam untuk memastikan bahwa suara benturan yang Anda dengar saat mengemudi bukanlah karena anda telah menabrak seseorang.

Kebanyakan orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) jatuh gangguan ke dalam salah satu kategori berikut:

  • Takut kontaminasi atau terkena kuman penyakit. Mereka biasanya memiliki dorongan untuk cuci tangan atau membersihkan diri secara berlebihan.
  • Berulang kali memeriksa hal-hal  seperti apakah kompor sudah dimatikan, pintu terkunci, dll yang mereka kaitkan dengan kerugian atau bahaya.
  • Ragu dan takut berdosa jika semuanya tidak sempurna
  • Terobsesi dengan keteraturan dan simetri.
  • Takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi jika mereka membuang apa pun sehingga mereka  menimbun hal-hal yang tidak perlu.

Hanya karena Anda memiliki pikiran obsesif atau melakukan perilaku kompulsif TIDAK berarti bahwa Anda memiliki gangguan obsesif-kompulsif. Dengan OCD, pikiran-pikiran dan perilaku menyebabkan penderitaan yang luar biasa, memakanbanyak waktu, dan mengganggu kehidupan sehari-hari dan hubungan antar manusia.

Terapi kognitif-perilaku untuk obsesif-kompulsif (OCD)

Terapi kognitif-perilaku untuk obsesif-kompulsif (OCD) melibatkan dua komponen:

Komponen pertama adalah secara sengaja memaparkan diri anda ke sumber obsesi.  Kemudian Anda akan diminta untuk menahan diri dari perilaku kompulsif yang biasanya Anda akan lakukan untuk mengurangi kecemasan. Misalnya, jika Anda seorang kompulsif cuci tangan, Anda  akan diminta untuk menyentuh pegangan pintu di toilet umum dan kemudian tidak boleh (dicegah) mencuci tangan. Anda akan mengalami kecemasan dan timbul dorongan untuk cuci tangan. Bila dikendalikan, dorongan untuk mencuci tangan Anda secara bertahap akan mulai hilang sendiri. Dengan cara ini, Anda belajar bahwa Anda tidak perlu melakukan ritual untuk menyingkirkan kecemasan Anda. Anda memiliki kontrol atas pikiran obsesif dan perilaku kompulsif.

Komponen kedua adalah terapi kognitif yatitu dengan melatih diri mengatasi pikiran obsesif  dan belajar merespon pikiran tersebut bukan dengan melakukan tindakan kompulsif.

Empat Langkah untuk Gejala Penakluk dari Obsesif-Compulsive Disorder (OCD)

Psikiater Jeffrey Schwartz, penulis Lock Brain: Bebaskan Diri dari Perilaku Obsesif Kompulsif, menawarkan empat langkah berikut untuk berurusan dengan OCD:

  • Kenali bahwa pikiran obsesif yang mengganggu dan mendesak tersebut adalah hasil dari OCD. Misalnya, melatih diri untuk mengatakan, “Saya tidak berpikir atau merasa bahwa tangan saya kotor. Saya memiliki obsesi bahwa tangan saya kotor.” Atau, “Saya tidak merasa bahwa saya memiliki kebutuhan untuk mencuci tangan saya, saya memiliki dorongan kompulsif untuk melakukan keharusan mencuci tangan saya..”
  • Sadarilah bahwa intensitas dan campur tangan dari pikiran atau dorongan disebabkan oleh OCD. Sadarilah bahwa dorongan atau ikiran  itu terkait dengan ketidakseimbangan biokimia di otak. Katakan pada diri sendiri, “Ini bukan pikiran aku yang sebenarnya-itu saya yang sedang terkena OCD,” untuk mengingatkan Anda bahwa pikiran dan desakan OCD tersebut adalah tidak bermakna, tetapi pesan palsu dari otak.
  • Fokuskan pada hal hal lain – Fokuskan perhatian Anda pada sesuatu yang lain, setidaknya untuk beberapa menit dan lakukan perilaku yang lain. Katakan pada diri Anda, “Saya mengalami gejala OCD. Saya perlu melakukan perilaku lain.” Misalnya ketika ada dorongan untuk cuci tangan, anda ergi ke kamar dan mendengarkan musik.
  • Melakukan evaluasi.  – sadari bahwa pikiran obsesif itu tidak penting. Meskipun pikiran itu sulit dihilangkan tapi anda bisa untuk tidak terlalu memperhatikan pikiran pikiran obsesif tersebut.  Katakan pada diri sendiri, “Itu hanya obsesi bodoh saya.  Itu hanya otak saya. Tidak perlu memperhatikan hal itu.” Ingat: Anda tidak dapat membuat pikiran obsesif itu untuk pergi, tapi anda bisa tidak memperhatikan hal itu.

Hal hal lain yang bisa dilakukan untuk mengurangi OCD:

  1. Fokuskan perhatian anda pada hal hal lainnya, misalnya dengan melakukan olah raga, jalan kaki, menilpon teman, dll. Dengan latihan ini lama kelamaan dorongan perilaku kompulsif akan berkurang.
  2. Tuliskan pikiran obsesif atau kecemasan anda. Bila pikiran obsesif datang dan anda merasa cemas serta ada dorongan perilaku kompulsif, maka tuliskan semua (pikiran dan kecemasan anda) kedalam kerta atau melalui komputer. Dengan menuliskan hal tersebut berkali-kali, setiap kali pikiran obsesif muncul, lama kelamaan maka pikiran obsesif dan dorongan kompulsif akan mulai berkurang.
  3. Antisipasi munculnya OCD. Misalnya bila perilaku kompulsif tersebut adalah mengecek apakah pintu sudah terkunci, maka sebelum tidur lakukan penguncian pintu pintu tersebut dengan penuh konsentrasi dan perhatian. Katakan pada diri sendiri bahwa sekrang pintu telah terkunci dengan baik.

Upayakan untuk punya gaya hidup sehat:

  • lakukan olah raga secara teratur
  • hindari alkohol, rokok dan obat terlarang.
  • makan makanan yang sehat.

semoga bermanfaat.