Indonesia Bebas Pasung: RSJ saja tidak cukup

Ada seorang penderita gangguan jiwa yang dipasung di desa Ganggeng, Kabupaten Purworejo.

Penderita tersebut dulu pernah dipasung. Pemerintah Daerah kabupaten Purworejo kemudian mencoba membebaskannya dengan membawanya berobat ke RSJ Magelang. Setelah membaik, penderita dipulangkan ke rumah. Sayangnya, kalangan keluarga tidak mendukung. Tidak ada yang mengingatkannya untuk teratur minum obat dan kontrol ke dokter. Akibatnya, penderita kambuh lagi. Karena menganggu masyarakat sekitar, akhirnya penderita dipasung lagi.

Dari kasus tadi sangat jelas bahwa untuk bisa mencapai Indonesia Bebas Pasung, pelayanan dari rumah sakit jiwa saja tidak cukup. Dukungan keluarga dan masyarakat sangat diperlukan. Kebanyakan penderita gangguan jiwa berasal dari keluarga tidak mampu. Membebankan penderita gangguan jiwa hanya kepada keluarganya dirasa kurang bijaksana. Masyarakat perlu melihat ini sebagai salah satu kesempatan untuk beramal sholeh.

Hanya dengan bantuan masyarakat sekitar, yang memandang bantuan tersebut sebagai amal sholeh, maka permasalahan gangguan jiwa di masyarakat akan bisa dipecahkan. Bila kemauan masyarakat tersebut telah muncul, maka akan mudah bagi pihak kesehatan untuk bersama memecahkan masalah gangguan jiwa.

 

Hana Alfikin, Lili Suwardi, Dwi Putro: Pulih dari gangguan jiwa

Masyarakat mencap mereka orang gila. Tapi, sadarkah kita bahwa stigma itu akan memperparah kondisi kejiwaan mereka ? Lalu apa yang harus dilakukan keluarga jika salah satu anggotanya mengidap penyakit ini ?

Nah, kali ini Kick Andy akan mengajak Anda untuk mengenal dan memahami kondisi kejiwaan orang-orang yang menderita skizofrenia.

Salah satunya adalah Hana Alfikih. Hana yang kini berusia 19 tahun itu mengaku sudah menunjukkan gejala kelainan jiwa sejak ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Ia hidup dengan pengakit bipolar dan skizofrenia. Hana yang kini berrkuliah di Universitas Al Azhar Jakarta itu kerap kali mendengar suara-suara halusinasi. ”Suara-suara itu kadang sangat menganggu.  Bahkan saya  pernah mau bunuh diri,” ujar Hana sambil berurai air mata. Namun masa itu sudah berlalu. Berkat pengobatan yang intensif Hana kini sudah jarang ”diganggu” oleh suara-suara itu. Bahkan Hana saat ini berprofesi sebagai ”freelance designer”.

Ternyata penderita skizofrenia jika cepat diobati bisa sembuh dan penderitanya bisa beraktivitas seperti biasa dan melakukan hal-hal yang positif. Seperti yang dialami Lili Suwardi misalnya. Pria 33 tahun  asal Cianjur, Jawa Barat itu bahkan mengalami lebih parah. Dia pernah menggelandang di jalanan. Oleh pihak keluarga segera dibawa ke dokter dan akhirnya bisa normal kembali. Bahkan kini Lili menjadi relawan untuk penderita skizofrenia.

Begitu halnya dengan Dwi Putro alias Pak Wi. Pria asal Yogyakarta itu  selain terkena skizofrenia juga  mengalami gangguan pendengaran dan komunikasi. Kondisinya semakin parah ketika kedua orangtuanya meninggal dunia. Pak Wi pun hidup di jalanan selama beberapa tahun. Melihat kondisi Pak Wi yang makin memburuk, Sang Adik, Nawa Tunggal  merasa sedih dan tergerak membantu dan mengangkat Pak Wi dari kehidupan jalanan. Dengan penuh kesabaran dan ketekunan, Pak Wi akhirnya tidak sering mengamuk, dan bisa menjadi pelukis. Bahkan Oktober 2012 mendatang Pak Wi akan memamerkan tiga ribu koleksi lukisannya di Pasar Seni Ancol, Jakarta.

Dukungan keluarga yang kuat juga dirasakan Yudistira Sjuman. Di kala sedang terpuruk  dan mengalami gangguan suara-suara di kepala. Sang Ibu, Farida Oetoyo sering mendampinginya. Ibunda Yudi, sering menyarankan jika ada suara-suara yang jahat  dan tidak baik agar jangan diikuti. Selain dukungan keluarga Yudi juga rajin berkonsultasi dengan dokter ahli kejiwaan. Kini Yudi selain menjadi koreografer tari juga sibuk menjadi guru tari balet.

Skizofrenia pada dasarnya bisa disembuhkan. Menurut Surya Widya, dokter ahli kejiwaan, peranan keluarga dan masyarakat sangat dibutuhkan. ”Jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala skizofrenia hendaknya segera konsultasi ke dokter ahli kejiwaan setempat,” ujar Dokter Surya. Sedangkan dukungan masyarakat adalah, agar tidak mencap atau memberi stigma atau mengolok-olok ”orang gila” kepada penderita. Dengan mengolok-olok akan semakin penderita menjadi depresi dan semakin parah.

Silahkan lihat tayangannya di http://www.youtube.com/watch?v=LlzCrpTNWps

Animal assisted therapy

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa memelihara binatang bisa membantu proses pemulihan gangguan jiwa. Di Tirto Jiwo, alhamdulillah kini telah ada rusa dan ayam kate.

Hingga saat ini beberapa teman sudah berjanji akan menitipkan binatang piaraan (burung merak, berbagai jenis burung lainnya) untuk dipelihara dan dikembangkan, sekaligus sebagai alat terapi bagi kesembuhan penderita gangguan jiwa

Strategi pemulihan gangguan jiwa di Tirto Jiwo

Agar bisa mebantu pemulihan dari gangguan jiwa, Tirto Jiwo mengembangkan program sebagai berikut:

  1.  Menemukan dan membangun harapan. Studi menunjukkan bahwa penderita gangguan jiwa lebih mungkin untuk sembuh tanpa obat (obat minimal) jika mereka benar-benar percaya bahwa ada harapan untuk pulih dari penyakit tersebut. Di Tirto Jiwo beberapa petugas adalah bekas penderita skizofrenia berat yang telah pulih dari penyakitnya. Bekas penderita yang telah pulih akan memberi inspirasi kepada penderita bahwa penyakitnya bisa diatasi. Selain itu, pelan pelan juga ditanamkan bahwa ada Allah dimana kita bisa menggantungkan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
  2. Membangun gaya hidup sehat dan stabil. Penderita gangguan jiwa secara bertahap dilatih untuk mempunyai gaya hidup sehat dan belajar untuk bisa mempunyai penghasilan yang bisa menghidupi secara sederhana.
  3. Membantu membangun hubungan antar manusia yang mendukung. Langkah ini penting bagi penderita skizofrenia pulih kembali ke masyarakat. Hubungan antar manusia yang mendukung ini dapat diperoleh dari teman-teman, keluarga, kelompok sesama penderita gangguan jiwa atau melalui teman kerja.
  4. Membantu terlibat  suatu komunitas atau kelompok yang lebih luas (diluar keluarga).  Mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan adalah langkah menuju tujuan ini, meskipun mungkin sulit untuk mengatasi prasangka terhadap orang yang sakit mental. Akan ada kemunduran dan cobaan, dan sangat penting untuk membantu orang menyadari bahwa ini adalah bagian dari kehidupan normal. Di Tirto Jiwo penderita akan dilatih untuk melakukan kegiatan sederhana yang nantinya bisa menghasilkan uang (peternakan, berkebun, memasak, dll). Melalui kegiatan tersebut, penderita akan mempunyai kesempatan untuk bergaul dengan masyarakat luas.
  5. Membangun pemecahan masalah dan strategi penanggulangan masalah. Penderita dilatih dan disiapkan sehingga mampu menangani permasalahan kehidupan sehari hari, berlatih agar hidupnya berarti untuk seseorang atau sesuatu (kucing, ayam, tanaman, dll), dan bisa mencari bantuan bila mereka menghadapi masalah yang tidak bisa dipecahkannya sendiri.
  6. Selalu kontak dengan terapi. Pemulihan adalah suatu proses yang kadang disertai dengan kemunduran. Penderita gangguan jiwa akan dilatih agar mengenal tanda tanda awal bila akan kambuh dan tahu cara mengatasinya. Termasuk disini adalah tahu kemana harus minta bantuan bila ada gejala yang tidak bisa diatasinya.

 

Laporan keuangan bulan September 2012

Selama bulan September 2012, pembangunan fisik gedung Tirto Jiwo berhenti sementara.  Hal tersebut terjadi karena saat ini tukang yang biasa bekerja di Tirto Jiwo telah mendapat kerja di tempat lain. Selain itu, dalam bulan September semua proyek pemerintah sedang berjalan sehingga jarang ada  tukang yang menganggur.

Alasan lain karena kita sedang menggalang dana. Hingga saat ini, uang pensiun saya dari kerja di kementerian kesehatan belum juga bisa dicairkan.

Rencananya, kita akan segera menyelesaikan pembangunan WC, lantai, dapur dan pintu/jendela. Bila hal tersebut selesai dan  pemasangan listrik juga bisa terlaksana, insya Allah kita akan mulai mempersiapkan perangkat luan bagi beroperasinya Tirto Jiwo.

Semoga para dermawan mendapat balasan berlipat ganda dari Allah SWT sesuai dengan firman-Nya dalam Surat Al Baqarah ayat 261. amin