Pemulihan gangguan jiwa dirumah

Gangguan jiwa bisa pulih. Lebih menyenangkan lagi ternyata program pemulihan tersebut bisa dilaksanakan dirumah masing masing.

Tentunya ada syarat syarat dan ketentuannya. Pertama, penderita gangguan jiwa tersebut mau minum obat (atau melalui suntikan bila susah minum obat) sesuai ketentuan dan petunjuk dokter. Syarat kedua, ada keluarga atau teman/tetangga dekat yang mendukung

Caranya adalah dengan memberikan dukungan psikososial kepada penderita gangguan jiwa. Dalam memberikan dukungan psikososial kepada penderita gangguan jiwa, ada beberapa hal yang perlu ditekankan disini:

  • Gangguan jiwa bisa pulih. Secara pelan harus ditanamkan bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan bisa menyembuhkan penderita gangguan jiwa. Penderita gangguan jiwa perlu percaya dan diajak berdoa kepada Allah untuk meminta kesembuhan.
  • Penderita gangguan jiwa dan semua anggota keluarga perlu rajin berdoa memohon petunjuk dan pertolongan atas segala masalah yang dihadapi keluarga tersebut. Allah yang Maha Kuasa, yang mampu menciptakan langit dan bumi, pasti mampu memecahkan masalah yang dihadapi penderita gangguan jiwa dan keluarganya asal mereka mau berdoa memohon kepada-Nya. Seluruh anggota keluarga agar rajin sholat wajib berjamaah dan rajin melakukan sholat sunah (utamanya sholat tahajud dan sholat dhuha).
  • Keluarga perlu menanam kebaikan sebanyak-banyaknya. Misalnya: memberi makan kepada orang miskin (tukang becak, tetangga yang kurang mampu), memberi sedekah (misalnya: membayar keperluan anak sekolah dari keluarga yang tidak mampu), membersihkan rumah janda tua yang terlantar. Secara bertahap, penderita gangguan jiwa perlu diajak atau dilibatkan dalam kegiatan amal sholeh tersebut.
  • Ciptakan lingkungan yang kurang menimbulkan stress, misalnya dengan suasana rumah yang tenang, tidak berisik, penghuninya tidak suka membentak/ berteriak, atau berdebat, dan lain lain.

Beberapa kegiatan pendukung yang perlu dan mudah dilakukan, antara lain:

  • Buat pemantauan kegiatan harian penderita. Selama seminggu catat semua kegiatan penderita sejak bangun pagi hingga tidur kembali di malam hari.Dari catatan tersebut kemudian bersama penderita buat jadwal kegiatan harian untuk seminggu kedepan. Upayakan untuk meningkatkan kegiatan postif dan menyenangkan. Misalnya: nonton TV merupakan kegiatan menyenangkan namun tidak positif. Bila terlalu banyak nonton TV, maka kurangi nonton TV dan ganti dengan kegiatan lain. Begitu seterusnya, jadwal baru perlu dibuat sebulan sekali dengan perubahan sedikit demi sedikit sehingga waktu penderita terpakai sepenuhnya untuk kegiatan positif.
  • Bila ada gangguan emosi, maka buat catatan harian keadaan emosi. Bila level emosi meningkat (kearah hipomania) atau menurun (kearah depresi), maka intervensi perlu segera dilakukan. Intervensi untuk mencegah hipomania misalnya adalah dengan membuat penderita cukup tidur. Intervensi untuk mencegah depresi antara lain dengan melakukan kegiatan positif dan menyenangkan (berkebun atau jalan jalan ke taman, ngobrol dengan seseorang yang mendukung, dll)

Silahkan coba diterapkan, semoga Allah SWT memudahkan segala urusan kita. amin.

Harapan dan keimanan sebagai kunci pemulihan dari gangguan jiwa

Agar seseorang bisa pulih dari gangguan jiwa, yang bersangkutan harus mempunyai setitik harapan. Harus ada harapan atau kepercayaan bahwa hidupnya dimasa depan bisa lebih baik. Adanya harapan bahwa penyakitnya bisa pulih. Adanya harapan bahwa keadaan saat ini hanya bersifat sementara dan dengan berlalunya waktu, maka masalah yang dihadapinya akan bisa dipecahkan. Tanpa adanya setitik harapan, hampir dipastikan bahwa tidak akan ada pemulihan dari gangguan jiwa.

Biasanya, masalah yang melilit penderita gangguan jiwa memang bukan masalah yang mudah. Masalahnya bisa mulai dari kemampuan ekonomi yang terbatas, keluarga yang tidak mendukung, istri/ suami yang minta cerai, kesulitan bersosialisasi dan mencari pekerjaan, dan beragam masalah lainnya. Masalah yang mereka hadapi biasanya diluar kemampuan yang bersangkutan untuk mengatasinya. Pertanyaannya, kemana mereka harus meminta tolong?

Jawabannya adalah mereka (dan kita semua) harus meminta tolong kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji. Tuhan yang bisa menciptakan langit dan bumi, pastilah akan mampu dengan mudah mengatasi masalah yang dihadapi penderita gangguan jiwa. Menciptakan langit dan bumi pastilah lebih sulit dibandingkan dengan mengatasi masalah yang sedang dihadapi para penderita gangguan jiwa. Untuk itu, yang perlu ditanamkan adalah bahwa ada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang bisa dan bersedia menolong hamba-Nya. Syaratnya adalah dengan percaya (keimanan) dan meminta atau berdoa. Dengan permintaan melalui doa, maka Allah akan turut campur dalam kehidupan kita dan menolong kita mengatasi masalah yang kita hadapi. Tuhan akan menolong hamba-Nya yang meminta/ memohon dengan cara yang tidak terduga.

Bagaimana cara Tuhan menolong hamba-Nya? Bisa ber-macam macam caranya. Bisa lewat dokter, lewat orang tua, saudara atau teman, atau lewat orang yang tidak kita kenal. Pertolongan bisa berupa: ada orang yang mau membantu kita mengatasi kegelisahan, membantu melatih sehingga bisa bekerja dan mempunyai penghasilan, dan berbagai macam cara. Kita tidak perlu pusing memikirkan bagaimana Allah akan menolong kita. Yang perlu bagi kita adalah kita perlu percaya kepada Allah dan berdoa meminta pertolongannya. Berdoa dan meminta agar kita bisa sembuh, bisa kembali hidup bermasyarakat, bisa bekerja dan bermanfaat bagi masyarakat.

Di Tirto Jiwo, yang saat ini masih dalam proses pembangunan, kepada penderita gangguan jiwa yang sudah keluar dari rsj akan ditanamkan keimanan tersebut. Penderita gangguan jiwa akan diajak untuk berdzikir menyebut Asmaul Husna dan berdoa dengan menyebut Asmaul Husna.

Terapi kognitif perilaku secara islami

Salah satu penyebab gangguan jiwa berat, seperti depresi berat dan skizofrenia, adalah adanya kelemahan atau kesalahan dalam pola pikir. Pada penderita dengan depresi, pola pikir yang ada biasanya berupa menyalahkan dirinya sendiri, merasa dirinya tidak berguna dan tidak bersyukur. Pola pikir yang tidak sehat yang sering ditemui pada penderita gangguan jiwa lainnya adalah menyalahkan orang lain, tidak percaya kepada orang lain, dan bahkan percaya bahwa orang lain ingin mencelakakannya.

Agar bisa pulih dan hidup secara sehat, pola pikir negatif tersebut perlu diluruskan. Berdebat atau adu argumentasi biasanya tidak ada gunanya. Kabar baiknya, dengan dukungan keluarga dan kemauan kuat dari penderita, pola pikir negatif tersebut secara pelan bisa diganti dengan pola pikir yang lebih positif dan lebih sehat. Untuk itu, pada penderita gangguan jiwa memerlukan 3 intervensi secara bersamaan, yaitu:

  1. Minum obat sesuai ketentuan. Pemberian obat oleh dokter ahli jiwa untuk menekan gejala (anti depresan, anti psikotik, dll). Pemberian obat obatan ini tidak akan diuraikan disini dan kita serahkan saja pada ahlinya.
  2. Terapi kognitif. Pola pikir negatif perlu sedikit demi sedikit diganti dengan pola pikir positif dan sehat. Pada penderita gangguan jiwa secara pelan perlu ditanamkan bahwa ada Allah Yang Maha Kuasa yang mampu menolong hamba-Nya. Allah mempunyai 99 asmaul husna. Misalnya pada penderita paranoid yang selalu curiga pada orang lain, perlu ditanamkan bahwa yang bersangkutan bisa mohon perlindungan dari Allah yang Maha Memelihara dan Maha Melindungi (Muhaimin). Dengan pemahaman, doa dan dzikir, sedikit demi sedikit pola pikir yang negatif tersebut akan bisa digantikan dengan pola pikir yang sehat dan positif.
  3. Terapi perilaku. Perubahan pola pikir perlu didukung dengan terapi perilaku. Terapi perilaku disini, misalnya, penderita mulai diajak untuk membantu membersihkan rumah janda tua miskin yang terlantar, ikut membagikan sedekah nasi bungkus kepada orang yang tidak punya, memelihara ternak, berkebun, bergaul dengan masyarakat.

Untungnya terapi kognitif dan terapi perilaku tersebut bisa dilakukan dirumah masing masing, tentunya dengan dukungan keluarga dan teman. Bila ini diterapkan, insya Allah, penderita gangguan jiwa akan bisa cepat pulih dan kembali hidup sehat di masyarakat.

 

Membantu mengatasi halusinasi

Penderita gangguan jiwa kadang mengalami halusinasi. Halusinasi adalah pengalaman mendengar, merasakan atau melihat sesuatu yang tidak dirasakan, didengar atau dilihat orang lain. Salah satu contohnya adalah mendengar suara suara yang mengatakan bahwa hidupnya gagal, dia bukan siapa siapa, menyuruh melakukan bunuh diri karena dengan demikian dia akan masuk surga. Halusinasi bisa juga berupa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, seperti melihat harimau di halaman, agen rahasia negara lain.

Gejala yang terlihat ketika seseorang mengalami halusinasi, antara lain:

  • jalan jalan atau melangkah terus.
  • tidak bisa diam, gelisah
  • menarik diri dari pergaulan sosial
  • asyik dengan sesuatu
  • gampang tersinggung
  • berbicara atau bergumam sendiri

Bila ada teman atau anggota keluarga dengan halusinasi, hal hal yang bisa dilakukan untuk membantu adalah dengan:

  • mengidentifikasi hal hal yang menyebabkan stress dan mengurangi penyebab stress tersebut.
  • mengajak penderita untuk melakukan kegiatan seperti jalan jalan, mengerjakan pekerjaan rumah yang sederhana, mengajaknya melakukan suatu permainan/ game, atau menganjurkan yang bersangkutan untuk bicara denga orang lain.
  • melakukan latihan relaksasi, seperti latihan  napas dalam dan berbagai teknik relaksasi lain.
  • mengajak olah raga ringan (bermain tenis meja, bermain volley, dan lain lain)
  • memberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya
  • memberikan rangsangan yang bisa mengalihkan perhatiannya dari halusinasi (menyediakan walkman/ stereo, nonton tv, nonton fil)

Tujuan utamanya adalah agar penderita dapat mengalihkan perhatiannya dari halusinasi. Penderita belajar untuk mengacuhkan halusinasi tersebut dan akhirnya mengendalikannya sehingga tidak akan muncul lagi.

Jangan mengajak berdebat atau beradu argumen dengan suara sura tersebut. Tidak akan ada gunanya.

Pemulihan dari skizofrenia

Pemulihan dari skizofrenia dapat didefinisikan sebagai suatu perjalanan penyembuhan, dan perubahan yang positif, yang memungkinkan seseorang dengan penyakit mental yang serius untuk menjalani hidup yang lebih berarti ketika hidup dalam komunitas pilihan nya.

Poin-poin berikut juga telah mulai disepakati:

  • Pemulihan dari gangguan skizofrenia dapat terjadi tanpa keterlibatan tenaga profesional
  • Pemulihan dapat terjadi bahkan jika ada gejala kambuh atau terulang kembali
  • Pemulihan yang terbaik dicapai jika ada dukungan pribadi
  • Pemulihan tidak fokus pada kausalitas (penyebab) dari penyakit mental
  • Pemulihan adalah lebih dari sekedar remisi dari gejala.
  • Pemulihan bukanlah proses seperti garis lurus (linier), maka dalam proses pemulihan dapat terjadi kekambuhan, percepatan atau perlambatan proses.
  • Pemulihan adalah proses yang lambat dari serangkaian langkah-langkah kecil
  • Pemulihan berfokus pada pilihan konsumen (penderita gangguan jiwa)
  • Pemulihan terus berlangsung, tidak ada titik akhir.

Pemulihan dari gangguan skizofrenia atau segala bentuk penyakit mental bisa berbeda untuk orang yang berbeda.  Model Pemulihan menempatkan tanggung jawab dan pengambilan keputusan di tangan pasien, bukan dokter. Pemulihan mengandalkan dukungan dari orang lain pada titik-titik tertentu di sepanjang proses penyembuhan tersebut sehingga memungkinkan pasien mempunyai kontrol lebih besar atas jalur pemulihan yang sesuai dengan kebutuhannya. Hal tersebut akan memungkinkan mereka untuk menemukan apa yang terbaik untuk mereka oleh mereka sendiri, dan belajar dari pengalaman orang lain.

Ada berbagai konsep yang mendasari Pemulihan Skizofrenia. Perjalanan Setiap seseorang untuk pemulihan sangat pribadi dan terkait dengan individu dan masyarakat dimana si penderita tinggal

Harapan

Harapan sangat penting dan harus ditemukan, dipupuk dan dipelihara. harapan untuk pulih dapat digambarkan sebagai kunci untuk pemulihan,. Dan itu termasuk kepercayaan diri, gigih melalui saat yang tidak menentu dan disaat terjadi kemunduran yang memang pasti terjadi, dengan keyakinan bahwa ada masa depan yang lebih baik.

Arti dan tujuan hidup
Mengembangkan makna dan tujuan dalam hidup yang baru adalah penting. Pasien harus didorong atau dibantu dalam menemukan arti dan tujuan hidup ini melalui pengembangan keterampilan baru, atau peran sosial atau keahlian yang baru.. Makna baru juga dapat ditemukan melalui mengadopsi filosofi baru, praktek politik atau agama. Ini pada dasarnya adalah sebuah proses penemuan diri.

Pemberdayaan dan identitas diri
Sebuah faktor penting dari pemulihan adalah pemberdayaan pasien dan memulihkan rasa percaya diri. Hal ini penting karena memiliki penyakit mental yang serius dapat mengakibatkan pasien menjadi merasa tidak berdaya akibat pengalaman seperti kurungan paksa (rawat paksa di rumah sakit), stigma, dan sikap paternalistik dari penjaga dan tim perawatan. Hal ini dapat mengakibatkan pasien mengadopsi identitas baru, sesuai dengan gambar ketidakmampuan dan tidak berharga, dan mengadopsi peran sebagai orang cacat/sakit. Pasien perlu dibantu dalam mengembangkan kepercayaan diri, kemandirian, dan ketegasan.

Hubungan yang mendukung

Teman dan keluarga yang percaya dan mendukung pasien tidak ternilai harganya dalam proses pemulihan Hubungan ini jauh lebih penting dibandingkan dengan dukungan tenaga profesional kesehatan mental.. Pengguna jasa lain (penderita gangguan jiwa lain) juga dapat mempunyai arti penting agar pasien bisa pulih. Selalu mempertimbangkan saran dari keluarga dan teman, serta profesional kesehatan mental.

Mengenal Diri
Sangat penting untuk memulihkan rasa percaya diri. Salah satu strategi yang telah digunakan adalah untuk mengatur keterlibatan sosial Anda dengan membatasi hanya kepada orang lain yang memberikan hubungan yang positif, aman dan bermakna, sehingga memungkinkan ruang individu untuk mengembangkan pemahaman, spiritualitas diri mereka dan minat. Pengenalan diri ini dibantu melalui hubungan dan atmosfer di mana ada penerimaan, kebersamaan dan rasa memiliki.

Pemulihan dari penyakit skizofrenia selalu merupakan perjalanan dan keputusan pribadi  Pemulihan ini dapat difasilitasi melalui berbagai program. Pada awalnya , individu harus menerima bantuan dan mulai mengambil tanggung jawab untuk kesejahteraan mental mereka sendiri. Harapan dan keyakinan bahwa hidup akan menjadi lebih baik  adalah penting. Proses ini dipelajari melalui terapi dan interaksi dalam hubungan yang mendukung, dengan pengembangan kemandirian yang meningkat.

Langkah-langkah praktis termasuk mengambil tanggung jawab, mengelola kesehatan mental Anda, kecanduan, hubungan dan perawatan diri, mengembangkan panggilan atau bekerja, keterampilan hidup dan jaringan sosial, dan membangun kepercayaan, harapan, identititas dan harga diri.

Sumber: http://www.understand-schizophrenia.com/recovery-in-schizophrenia.html

Bill Schneider: kisah nyata penderita skizofrenia yang pulih kembali

What a difference a friend makes in helping with mental illness

Saya dibesarkan di sebuah keluarga yang normal, dan saya adalah seorang anak cerdas dengan IQ- 140, seorang mahasiswa yang selalu dapat nilai A. Tapi ketika masih kuliah, konsentrasi saya mulai menghilang.Saya mulai mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa saya bukan siapa-siapa, bahwa saya  tidak akan pernah berhasil dalam hidup. Nilai saya turun dari A ke C.

Pada tahun 1977, saya dirawat di rumah sakit karena skizofrenia. Saya diberi terapi electroconvulsive (ECT), sejumlah besar obat. Suara-suara itu berhenti sementara, tetapi mereka tidak pergi untuk selamanya. Setelah dirawat di rumah sakit, saya mencoba untuk mencari pekerjaan dan bekerja mandiri. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Suara-suara tersebut  menakutkan dan sangat mengganggu. Akhirnya saya pindah dan hidup dengan ibu saya, dan segera setelah itu, dikirim ke rumah sakit lain di Jacksonville, Florida, Amerika Serikat.

Saya keluar masuk rumah sakit dan mendapat pengobatan rawat jalan untuk sementara waktu, karena suara-suara tersebut datang dan pergi. Kadang-kadang saya merasa kondisi begitu baik sehingga saya menyangkal kalau saya punya penyakit sampai gejala tersebut kembali kambuh. Saya merasa sangat lelah dan bosan dengan pengobatan pada saat itu, saya merasa ada stigma terhadap saya dari ibu saya sendiri dan bahkan psikiater saya. Ibu saya bilang kalau saya akan disingkirkan atau dibuang selama sisa hidup saya, dan dia percaya bahwa tidak seorangpun dengan penyakit mental seperti skizofrenia bisa sembuh.

Saya tidak tahan dengan cap (stigma) seperti itu , jadi aku pindah. Rencana saya adalah untuk mencari pekerjaan, tapi akhirnya saya jadi tunawisma di jalanan di Florida. Saya tidak punya makanan, obat-obatan, dan pekerjaan yang bisa membuat saya hidup mandiri. Untuk sementara, saya tinggal di garasi seseorang, dan sebagai imbalannya , saya harus melakukan segala macam pekerjaan. Ketika gejala penyakit saya menjadi lebih parah, saya dibawa ke unit gawat darurat.

Di sinilah cerita saya mulai berbalik. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya terhubung dengan seorang pekerja sosial yang membantu saya mendapatkan perawatan, Jaminan Sosial, pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Ketidak pastian dan kekhawatiran saya tentang hidup sendiri mulai pergi, dan saya merasa termotivasi. Ini adalah awal dari pemulihan saya.

Saya mendapat obat-obatan yang lebih baru dan lebih efektif, dan obat yang disebut Respidol akhirnya membuat suara-suara menghilang untuk selamanya. Saya bisa hidup sendiri di sebuah apartemen biasa untuk pertama kalinya. Saya belajar keterampilan dasar mengatasi masalah (halusinasi, dll) dari petugas kesehatan (manajer kasus)  dan teman-teman serta dari kelompok pendukung yang memiliki pengalaman dalam sistem kesehatan mental. Mereka mengajari saya bagaimana untuk melakukan advokasi untuk diri saya sendiri. Bantuan mereka sangat penting dalam proses pemulihan saya, itu membuat saya ingin memberi sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan. Saya mulai menceritakan kisah saya sendiri kepada konsumen (penderita gangguan jiwa lain). Hebatnya, saya menemukan bahwa melakukan hal ini tidak hanya membuat orang lain terinspirasi tetapi membantu pemulihan saya sendiri. Perlahan lahan saya semakin kuat dan pulih kembali. 

Setelah 20 tahun, akhirnya saya kembali ke perguruan tinggi. Ada petugas kesehatan (manajer kasus) yang meragukan saya, yang mengatakan saya tidak boleh mengajukan pinjaman (hutang) untuk mahasiswa karena saya tidak mungkin bisa mendapatkan nilai yang diperlukan. Tapi di tahun 1990-an, saya mendapat gelar sarjana saya dan selanjutnya master dalam pekerjaan sosial dan konsisten mendapat nilai A. Pada titik ini saya benar-benar independen. Saya melepaskan  Jaminan Sosial, Medicare dan Medicaid , serta melepaskan perumahan bersubsidi. Saya sekarang memiliki sebuah kondominium melalui program sewa-untuk-saya sendiri, dan di sanalah saya tinggal-dengan istri saya. Saya lupa menyebutkan saya menikah?

Sekarang, saya koordinator Kantor Urusan Konsumen di Florida, kantor didanai oleh Departemen Anak dan Keluarga. Menurut saya hal yang paling penting untuk pemulihan adalah adanya harapan, kekuatan dan kemampuan dari diri saya sendiri yang bisa membuat pemulihan menjadi suatu kenyataan.  Bukan hanya obat-obatan, tidak hanya terapi, bukan hanya stabilitas keuangan, dll . Semua hal tersebut penting dalam proses pemulihan. Namun pemulihan itu hal yang pribadi sifatnya, berbeda antara satu dengan lainnya. Tidak ada yang dapat memberitahu Anda bagaimana untuk melakukan pemulihan tersebut. Hal yang penting untuk diketahui adalah bahwa Anda bisa pulih.  Anda memiliki kekuatan dan kemampuan untuk membuat pemulihan menjadi suatu kenyataan.

Dikutip dari: http://www.whatadifference.samhsa.gov/stories.asp?nav=nav03&content=3_1_bills

 

Gangguan jiwa dan epilepsi

Psikosis (dikenal psikiater sebagai gangguan psikotik) adalah gangguan mental yang berat di mana orang tersebut kehilangan kontak dengan realitas. Prevalensi (jumlah penderita) jenis gangguan jiwa pada orang dengan epilepsi belum  diketahui, tetapi persentase cukup kecil. Beberapa bentuk psikosis terkait erat dengan terjadinya kejang (epilepsi) dan berbeda dengan gangguan psikotik yang menyerang orang lain. Secara umum, episode psikotik  pada orang dengan epilepsi cenderung kurang parah dan merespon lebih baik terhadap terapi.

Kehilangan kontak dengan realitas terasa menakutkan. Jika Anda memiliki perasaan ini, jangan malu untuk membicarakannya dengan dokter Anda. Sangat penting untuk melaporkannya karena dokter mungkin dapat mengarahkan Anda untuk bantuan tambahan. Jika hal itu terjadi kepada anggota keluarga, pastikan bahwa dokter saraf dan dokter jiwa memahami hal tersebut.

Psikosis pada orang dengan epilepsi yang paling sering diklasifikasikan menurut waktu ketika peristiwa serangan kejang terjadi, yaitu:

  • Psikosis Postictal telah diperkirakan mempengaruhi antara 6% dan 10% orang dengan epilepsi. Ini melibatkan gejala kejiwaan yang terjadi dalam waktu 7 hari (biasanya dalam waktu 1 sampai 3 hari) setelah kejang atau cluster kejang pada diri seseorang yang tidak memiliki gejala-gejala ini pada waktu lain (atau setidaknya memiliki gejala dalam bentuk yang jauh lebih ringan). Gejala-gejala ini mungkin termasuk delusi (waham), depresi atau psikosis manik, atau pikiran atau perilaku yang aneh. Gejala tersebut umumnya menghilang segera apabila diobati dengan obat dosis rendah. Gejala tersebut  lebih sering terjadi setelah serangan kejang  tonik-klonik umum yang menyeluruh, terutama pada orang yang pernah mengalami kejang selama beberapa tahun. Insomnia biasanya merupakan tanda pertama psikosis postictal, sehingga gejala psikotik sering dapat dicegah jika obat seperti risperidone (Risperdal) diberikan segera saat insomnia yang terjadi dalam situasi postictal. Beberapa orang dengan psikosis epilepsi pengalaman postictal setelah kejang cluster besar, sehingga sangat beralasan untuk memberikan orang-orang ini obat tanpa menunggu untuk insomnia terjadi. Beberapa studi telah menemukan bahwa psikosis postictal jauh lebih umum pada orang dengan fokus kejang independen pada kedua sisi otak mereka.
  • Psikosis iktal biasanya melibatkan jenis status epileptikus nonconvulsive. Penggunaan EEG penting dalam membuat diagnosis, seperti psikosis iktal sering melibatkan unresponsiveness dan gerakan otomatis yang juga dapat terjadi pada gangguan psikotik yang tidak berhubungan dengan kejang.
  • Psikosis interiktal dapat terjadi kapan saja, tanpa hubungan dengan waktu kejang. Hal ini biasanya terlihat pada orang dengan epilepsi parsial dan kadang-kadang menunjukkan adanya tumor kecil di otak. Jika fokus kejang terlokalisir pada satu daerah tunggal, operasi epilepsi yang efektif dapat dibuat. Beberapa orang lain dengan psikosis interiktal memiliki kelainan otak luas.
  • Suatu jenis yang agak tidak biasa psikosis pada orang dengan epilepsi terjadi ketika kejang dengan baik dikontrol oleh obat kejang. Gejala-gejala psikotik yang berbanding terbalik dengan terjadinya kejang, umumnya pada orang yang memiliki epilepsi untuk waktu yang lama. Penyebab fenomena ini, yang disebut psikosis alternatif atau normalisasi paksa (forced normalization), tidak diketahui secara pasti. Jika obat kejang dikurangi sampai kejang berulang, gejala-gejala psikosis akan berhenti. Suatu bentuk ringan dari situasi ini dapat dilihat dalam kemurungan atau depresi bahwa orang dengan epilepsi sering mengalami pada hari-hari sebelum kejang.Terkadang akan sulit untuk membedakan antara psikosis alternatif dan psikosis yang kadang-kadang terjadi sebagai efek samping dari obat kejang yang paling. Obat kemungkinan menjadi penyebab psikosis jika orang tersebut masih mengalami kejang atau juga menunjukkan gejala seperti tremor atau gangguan gerak lainnya.

Kadang psikosis terjadi pada pasien yang dioperasi otaknya (Lobektomi temporal) diikuti. Risiko ini telah ditemukan lebih besar dalam situasi berikut:

  • Usia di atas 30 tahun
  • Riwayat keluarga psikosis
  • Bedah melibatkan lobus temporal kanan
  • Adanya ” jaringan asing” (tumor atau displasia) di lobus yang dioperasi.

Tidak semua temuan tersebut belum bisa  dijelaskan.

Tentu saja, beberapa orang dengan epilepsi juga memiliki gangguan psikotik (seperti skizofrenia) yang tidak terkait langsung dengan epilepsi mereka. Mereka diperlakukan dengan cara yang sama sebagai orang lain dengan gangguan yang sama, kecuali bahwa kedua ahli saraf dan psikiater perlu mempertimbangkan interaksi antara obat kejang dan obat yang digunakan untuk psikosis tersebut. Kebanyakan obat digunakan untuk mengobati gangguan psikotik membuat kejang lebih mungkin, dan interaksi obat mungkin memerlukan baik dokter untuk meresepkan dosis yang berbeda dari apa yang mereka biasanya memberikan kepada pasien lain.

Sebagian besar informasi dalam artikel ini didasarkan pada Kanner AM: Psikosis epilepsi: Sebuah perspektif ahli saraf. Epilepsi prilaku 2000; 1 (4) :219-227.

Penyebab gangguan obsesif kompulsif

Penyebab gangguan obsesif-kompulsif tidak sepenuhnya dipahami. Ada beberapa teori:

 

  • Biologi. OCD (obsessive compusive disorder) mungkin akibat dari perubahan kimia alami tubuh atau fungsi otak. OCD juga mungkin terkait dengan komponen genetik, tetapi yang gen-gen tersebut belum teridentifikasi.
  • Lingkungan. OCD dapat berasal dari perilaku yang berhubungan dengan kebiasaan yang Anda pelajari dari waktu ke waktu.
  • Kurangnya serotonin. Tingkat kadar serotonin, salah satu kimia otak Anda, dapat menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif. Selain itu, orang dengan gangguan obsesif-kompulsif yang minum obat yang meningkatkan aksi dari serotonin sering memiliki lebih sedikit gejala OCD.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko timbulnya atau memicu gangguan obsesif-kompulsif meliputi:

  • Riwayat keluarga. Memiliki orang tua atau anggota keluarga lainnya dengan gangguan tersebut dapat meningkatkan resiko terkena OCD.
  • Persitiwa stres dalam hidup. Jika Anda cenderung bereaksi berlebihan terhadap stres, risiko terkena OCD dapat meningkat. Reaksi ini dapat, karena berbagai alasan  memicu pikiran dan ritual yang merupakan karakteristik gangguan emosi obsesif-kompulsif.

Komplikasi akibat dari atau terkait dengan obsesif-kompulsif,  antara lain

  •      Pikiran dan perilaku bunuh diri
  •      Penyalahgunaan Alkohol atau penyalahgunaan zat
  •      Gangguan kecemasan lain
  •      depresi
  •      gangguan makan
  •      Dermatitis kontak akibat dari sering mencuci tangan
  •      Ketidakmampuan untuk datang ke tempat kerja atau sekolah
  •      bermasalah dalam hubungan antar manusia
  •      Secara keseluruhan kualitas hidup yang rendah