Mengatasi depresi dengan bersyukur

Bersyukur meski tanpa kaki

Penderita depresi sering mengalami kesulitan mengerjakan kegiatan yang mudah sekalipun. Dengan bersyukur akan dapat berpengaruh terhadap perasaan atau suasana hati yang sedang kelabu tersebut.

Postingan ini menunjukkan bahwa ajaran agama Islam dengan selalu mengucapkan “alhamdulillah” tanda syukur yang diberikan Alloh swt kepada umat manusia, memberi dampak positif buat kita dan diberi ke nikmatan kesehatan.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat.”(QS.ibrahim [14]:)

Penelitian baru-baru ini menyimpulkan bahwa ungkapan rasa syukur memiliki efek positif yang mendalam terhadap kesehatan, suasana hati dan bahkan kelangsungan pernikahan.

Dalam satu kajian mengenai rasa syukur yang dilakukan oleh Robert A. Emmons, Ph.D. dari University of California-Davis dan rekannya Mike McCullough dari University of Miami, peserta secara acak diberi salah satu dari tiga tugas.

Setiap minggu, seluruh peserta diminta menulis sebuah jurnal singkat. Kelompok pertama diminta menuliskan secara singkat lima hal yang mereka syukuri atas hal-hal yang telah terjadi dalam seminggu terakhir.

Kelompok kedua menuliskan lima kesibukan sehari-hari dari minggu sebelumnya yang membuat kesal, dan kelompok netral diminta menulis lima peristiwa yang mempengaruhi, tapi tidak diharuskan pengalaman positif atau negatif.

Sepuluh minggu kemudian, peserta dalam kelompok bersyukur merasa kehidupannya lebih baik secara keseluruhan dan 25 persen lebih bahagia daripada kelompok yang kesal. Mereka lebih sedikit mengeluh tentang kesehatan dan melakukan olahraga rata-rata 1,5 jam lebih.

Dalam sebuah penelitian berikutnya yang dilakukan oleh Emmons, peserta penelitian diminta menulis tentang hal-hal yang mereka syukuri setiap hari. Tidak mengherankan, praktek sehari-hari menyebabkan kenaikan rasa syukur yang lebih besar daripada menuliskannya dalam jurnal mingguan seeprti pada penelitian pertama.

Namun hasil menunjukkan manfaat lain. Peserta dalam kelompok syukur juga lebih banyak memberikan dukungan emosional atau bantuan terkait masalah pribadi kepada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa melatih rasa syukur meningkatkan niat baik terhadap orang lain, atau bisa dikatakan, mendukung perilaku ‘pro-sosial’.

Penelitian lain mengenai rasa syukur ini dilakukan pada orang dewasa yang memiliki penyakit neuromuskuler (penyakit yang menyerang otot dan syaraf), baik yang bawaan maupun baru terjadi ketika dewasa. Mayoritas peserta memiliki sindrom pasca polio (PPS).

Dibandingkan dengan mereka yang tidak menuliskan rasa syukur setiap malam, peserta dalam kelompok syukur melaporkan lebih banyak jam tidur malamnya dan merasa lebih segar saat bangun. Kelompok syukur juga dilaporkan lebih puas dengan kehidupannya secara keseluruhan, merasa lebih optimis, dan merasa jauh lebih terhubung dengan orang lain daripada peserta dalam kelompok kontrol.

Perubahan positif tersebut nyata terlihat oleh orang lain juga. Pasangan peserta penelitian kelompok syukur melaporkan bahwa peserta penelitian tampaknya memiliki kesejahteraan subjektif lebih tinggi daripada pasangan peserta dalam kelompok kontrol.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa depresi berkorelasi terbalik dengan rasa syukur. Tampaknya orang yang lebih banyak bersyukur semakin sedikit depresinya.

Philip Watkins, psikolog klinis di Eastern Washington University, menemukan bahwa pasien depresi klinis menunjukkan rasa terima kasih yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol yang tidak mengalami depresi, yaitu hampir 50 persen lebih sedikit.

Dr. John Gottman dari University of Washington telah meneliti megenai pernikahan selama dua puluh tahun. Menurutnya, kesimpulan dari semua penelitiannya adalah bahwa jika pasangan tidak mampu mempertahankan tingginya perbandingan pertemuan yang positif dengan negatif (5:1 atau lebih besar), kemungkinan besar pernikahan akan berakhir.

Dengan akurasi 90 persen, Gottman mengatakan bahwa dengan pengamatan selama tiga menit saja, dia bisa memprediksi pernikahan yang cenderung berlangsung lama dan yang akan berakhir. Rumusnya adalah untuk setiap ekspresi negatif (seperti keluhan, mengerutkan kening, ekspresi kemarahan), diperlukan sekitar lima hal yang positif (seperti tersenyum, memuji, tawa, penghargaan, dan rasa syukur).

Berikut adalah beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan untuk membangun momentum positif terhadap kehidupan yang lebih bahagia dan memuaskan seperti dilansir health, Senin (7/11/2011):

1. Tulislah jurnal harian dari tiga hal yang disyukuri. Cara ini bekerja dengan baik jika dilakukan pada pagi hari atau sebelum tidur.
2. Berlatihlah mengatakan hal-hal yang menunjukkan pernghargaan terhadap pasangan atau teman setiap hari.

 

 

 

3. Lihatlah ke cermin ketika menyikat gigi dan pikirkan sesuatu yang telah dilakukan dengan baik atau sesuatu yang disukai tentang diri sendiri.

Dikutip dari http://obatherbaluntukpenyakit.com/bersyukur-bikin-orang-lebih-sehat/

Bisnis sebagai wahana memulihkan penderita gangguan jiwa

Coast Social  Entreprise Foundation (Yayasan Wirausaha Sosial Coast) menjalankan bisnis yang berorientasi profit dan sekaligus memberikan kesempatan kerja kepada para penderita gangguan jiwa. Ada 2 program kerjanya, pertama adalah Sewing With Heart atau menjahit dengan hati danLandscaping with Heart ( Membuat Taman dengan Hati).

Menjahit dengan Hati adalah sebuah wirausaha sosial yang belum lama berjalan yang memproduksi  berbagai tas nilon berkualitas yang dibuat oleh para penderita gangguan jiwa dari Klinik Coast yang telah pulih. Produk mereka bervariasi dari tas klasik untuk makan siang, tas yoga dan tas anggur, yang tahan lama dan dengan harga terjangkau. Mereka juga bisa memproduksi tas sesuai selera si pemesan. Mereka membuat tas tangan multi-guna dengan mendaur ulang nilon, kain berwarna-warni tahan lama, sisa-sisa dari produksi bendera dan spanduk. Dengan membeli dan memakai tas tangan buatan mereka, berarti anda telah membantu mengurangi limbah dan sekaligus mendukung para penderita gangguan jiwa.
Tujuan dari program jahit dengan hati adalah:

•Untuk memberikan penghasilan, kesempatan kerja dan pengembangan keterampilan kepada orang-orang yang telah pulih dari penyakit mental.
•Memberikan kesempatan untuk bekerja dari rumah dalam usaha bisnis yang berfungsi sebagai ‘Koperasi Pekerja ‘ serta terlibat dalam kegiatan bisnis yang etis.

Menjahit dengan Hati dimulai sebagai suatu kemitraan antara The Coast Employment Program (Program Penyediaan Lapangan Kerja dari The Coast) dan The Flag Shop dengan tujuan untuk menyediakan kesempatan kerja bagi penderita gangguan jiwa untuk bekerja dari rumah mereka, menciptakan produk eceran yang layak dari sisa-sisa The Shop Flag. Saat iniThe Sewing with Heart telah menjadi sebuah badan usaha berbentuk koperasi. The Sewing With Heart didukung oleh mitra bisnis seperti:  Enterprising Women,  Asset Development Demonstration Project, Capers Markets, Small Potatoes Urban Delivery, Uprising Breads Bakery, Vancouver Public Library, Canadian Mental Health Association, Mason Sewing Machine Company, The Flag Shop, dan Save-On Foods.
The Landscaping with Heart pada prinsipnya memakai pendekatan yang sama dengan Sewing with Heart, di bidang pertamanan. Contoh bisnis sosial lain yang melibatkan penderita gangguan jiwa adalah Core Arts.
Core Arts telah didirikan pada tahun 1992 oleh seorang seniman menggunakan ruang kosong di Rumah Sakit Hackney. Studio tersebut  menjadi surga bagi ekspresi artistik para pasien yang ingin lari dari hidup yang monoton di bangsal psikiatri dengan menenggelamkan diri dalam dunia cat dan warna. Meski dana terbatas, energi kreatif yang dihasilkan mampu melahirkan terjadinya sebuah studi terbuka. Core Arts secara resmi terbentuk sebagai badan amal pada tahun 1994 setelah mereka berhasil melakukan beberapa pameran secara sukses.
Core Arts sekarang dikenal sebagai pemimpin yang inovatif dalam kreativitas kesehatan mental, keragaman budaya dan wirausaha sosial. Dengan tidak ada agenda analisis atau klinis, program terus berkembang dengan berfokus pada apa yang dapat dicapai, mendukung anggota untuk meningkatkan kapasitas mereka untuk inovasi dan pembelajaran, pemecahan masalah, kepercayaan diri dan keterampilan kepemimpinan. Core Arts dijalankan oleh profesional, penulis seniman dan musisi dari kalangan mereka sendiri, sehingga tercipta suasana menarik, asli,  saling belajar dan berbagi pengalaman.
Masih banyak contoh yang lain. Artinya, bahwa membuat wirausaha sosial untuk membantu para penderita gangguan jiwa bukanlah sesuatu yang mustahil. Meskipun tidak gampang juga.

 

Club House: sarana pemulihan penderita gangguan jiwa

Biaya perawatan penderita gangguan jiwa di rumah sakit sangat mahal, untuk kelas 3 saja biayanya bisa mencapai Rp 2,7 juta per bulan. Suatu angka yang tidak akan terjangkau oleh sebagian besar keluarga dengan penderita gangguan jiwa, karena sebagian besar mereka berasal dari keluarga miskin. Selain itu, kapasitas rumah sakit untuk menampung penderita gangguan jiwa juga sangat terbatas.

 

Idealnya penderita gangguan jiwa memang tinggal bersama keluarganya. Dukungan psikologis dari keluarga akan mempercepat kesembuhannya. Sayangnya, banyak juga lingkungan keluarga yang tidak mendukung bagi kesembuhan pasien. Bahkan, di banyak kasus, lingkungan keluarga tersebut malahan yang menyebabkan penderita mengalami stress. Banyak juga keluarga, yang karena sesuatu hal, tidak bisa menampung dan merawat penderita gangguan jiwa.

 

Di Amerika dan di banyak negara maju lainnya ada sebuah panti rehabilitasi jiwa yang dikenal sebagai club house. Setahu saya, di Indonesia belum ada sebuah “club house” bagi penderita gangguan jiwa. Club house merupakan sebuah panti rehabilitasi yang memberikan kesempatan kepada penderita gangguan jiwa untuk beraktivitas, bersosialisasi dan belajar ketrampilan (misalnya di bidang pertanian, perkebunan, atau memasak)  agar bisa kembali bekerja ditengah masyarakat.
Di dalam club house penderita gangguan jiwa, yang biasa disebut “anggota/member”, bekerja bersama staff club house untuk melakukan kegiatan rutin sebuah club house (mencuci, memasak, membersihkan ruangan, dll). Mereka hidup bersama dalam sebuah komunitas yang saling mendukung sehingga diharapkan akan dapat mempercepat kesembuhan pasien penderita gangguan jiwa. Biasanya, dalam melakukan kegiatan kegiatan tersebut, para anggota tidak mendapatkan bayaran.
Biasanya sebuah club house bekerja sama dengan suatu rumah sakit jiwa sehingga para anggota tetap mendapatkan pengobatan selama tinggal didalam club house. Bila ada yang kambuh, anggota dirujuk ke rumah sakit jiwa. Mereka, para anggota juga bebas kembali kepada keluarganya bila merasa sudah siap untuk kembali ke masyarakat.
Saya sedang berusaha merintis pendirian sebuah club house di Indonesia. Menurut perhitungan saya, bila  bisa mengelola tanah pertanian atau peternakan, maka biaya hidup para “anggota” akan bisa tertutup dari hasil pertanian atau peternakan tersebut. Tentunya club house tersebut tidak bersifat mencari untung, malahan lebih bersifat sebagai suatu kegiatan amal.
Akan sangat baik bila club house bisa mempunyai usaha yang bersifat komersial sehingga hasil usahanya bisa dipakai untuk menutup biaya club house. Usaha milik club house juga akan bisa dimanfaatkan sebagai tempat belajar bagi para anggota club house. Berbagai usaha komersial seperti perawatan taman, katering, pengiriman dokumen dalam kota, laundry, dll bisa dilakukan oleh para anggota club house.
Semoga cita cita tersebut bisa segera terlaksana.

Cara memulihkan gangguan jiwa schizoaffective

Penderita gangguan schizoaffective dapat pulih dengan bantuan obat obatan dan dukungan psikososial. Obat yang diberikan dokter tidak dapat menyembuhkan penyakitnya, namun hanya menekan gejalanya seperti menghilangkan halusinasi,dll. Oleh karena itu, meskipun mereka sudah merasa baik, obat tetap harus diminum karena tanpa obat penyakitnya akan kambuh kembali. Selain itu, obat gangguan jiwa biasanya tidak bisa memberi efek secara langsung. efeknya muncul setelah minum obat selama beberapa hari atau bahkan kadang sampai mingguan. Oleh karena itu, meskipun sudah berhenti minum selama 1-2 minggu sepertinya tidak apa apa, namun setelah berhenti 3-6 bulan penderita sering kambuh. Bila sampai kambuh, perlu beberapa minggu pula untuk mengembalikannya ke kondisi semula. Oleh karena itu, penting sekali untuk membantu penderita schizoaffective disorder minum obat.

Penderita schizoaffective disorder juga sering mendengar suara suara (halusinasi suara). Berikut ini beberapa teknik yang bisa dipakai untuk mengatasi halusinasi suara tersebut:

  1. Verbal technique
    • bicara kepada orang lain
    • bernyanyi pelan
    • menghitung sesuatu
    • ulangi kata kata kepada diri sendiri, misalnya: saya baik baik saja, saya aman.
    • membaca dengan suara keras
  2. Mengalihkan perhatian
    • alihkan perhatian dari suara dengan memperhatikan hal hal sekitar, misalnya memperhatikan kucing atau tanaman atau keadaan sekitar
    • melakukan kegiatan atau tugas yang memerlukan konsentrasi penuh seperti berkebun, menyapu lantai, bermain pingpong atau olah raga lainnya. Melakukan aktivitas bagi penderita merupakan sesuatu yang sulit namun hal tersebut merupakan cara paling manjur dalam mengatasi gangguan akibat mendengar suara suara tersebut.
    • ganti lingkungan. Bila anda sedang diluar rumah, segera masuk rumah. Bila sedang di dalam rumah coba jalan jalan ke halaman.
    • Bila tidak bisa tidur, coba pindah kamar atau tempat tidur.
  3. Mengurangi stimulasi
    • gunakan sumbat telinga, tapi ini jarang bermanfaat
    • dengarkan musik dengan memakai earphone
    • mandi air hangat
    • hindari kerumunan orang (misal: mall pada jam sibuk, stadion olah raga ketika ada pertandingan, dll)
    • bila ada terlalu banyak tugas pekerjaan, maka istirahat sebentar dan kurangi tugas pekerjaan tersebut dengan membuat prioritas. Buat urutan daftar tugas pekerjaan dan kerjakan tugas tersebut satu persatu.
  4. lakukan hal hal positif yang disukai
    • mendengarkan musik
    • melihat tayangan olah raga
    • melihat tayangan film yang disukai
    • pakai pakaian yang disukai
    • makan makanan yang disukai (tapi hati hati jangan kebanyakan, akan bisa bikin kegemukan; tapi jangan sampai kelaparan juga)

Gangguan jiwa schizoaffective

Gangguan jiwa schizoaffective merupakan gangguan jiwa dimana penderita mempunyai gejala yang merupakan kombinasi gejala schizophrenia (seperti halusinasi dan waham) dengan gangguan afektif (suasana hati) seperti depresi dan mania. Schizoaffective disorder merupakan salah satu gangguan jiwa yang belum benar benar diketahui.

Gejala penderita gangguan schizoaffective bervariasi antara satu orang dengan lainnya. Biasanya, penderita mempunyai gejala gangguan psikosis-seperti halusinasi, waham, pola pikir yang tidak terarah–secara bersamaan juga mengalami gangguan afektif yang berupa mania atau depresi.

Gangguan pola pikir bisa muncul berbarengan dengan gangguan afektif, namun bisa juga muncul bergantian. Gambaran gangguan afektif yang muncul biasanya berupa depresi (depressive type schizoaffective) atau bipolar (bipolar type schizoaffective)

termasuk dalam gejala dan tanda gangguan schizoaffective adalah:

  • pola pikir atau persepsi yang aneh atau tidak biasa.
  • pikiran curiga
  • waham, percaya sesuatu tanpa dasar
  • halusinasi suara atau penglihatan (melihat atau mendengar sesuatu)
  • pikiran yang membingungkan atau tidak jelas
  • depresi
  • mania atau suasana hati yang tinggi tidak sesuai dengan kepribadiannya
  • gampang tersinggung atau tidak bisa mengendalikan diri
  • pikiran untuk bunuh diri atau membunuh
  • gaya bicara yang sering sulit dimengerti
  • perilaku extrem seperti orang sedang pingsan atau perilaku banyak bicara dan hiperaktif
  • gangguan ingatan atau perhatian
  • tidak memperhatikan kebersihan diri atau penampilan
  • perubahan energi atau nafsu makan
  • gangguan tidur yang berupa tidak mau tidur atau tidur terus

 

Mengantisipasi bila krisis pada penderita schizophrenia terjadi

schizophreniaMeskipun segala obat dan dukungan psikosialsudah diusahakan dengan sebaik-baiknya, kadang kondisi penderita schizophrenia bisa menurun tajam dan menjadi kambuh. Ketika terjadi krisis, kambuh, maka peranan keluarga dekat menjadi sangat penting. Penderita gangguan jiwa mungkin memerlukan mondok di rumah sakit.

Sebelum terjadi krisis, keluarga dan penderita gangguan jiwa schizophrenia perlu merencanakan apa yang harus dilakukan keluarga bila terjadi krisis. Hal hala yang perlu disiapkan antara lain:

  • kemana harus membawa penderita, ke dokter praktek atau harus ke rumah sakit jiwa? alamatnya?
  • bagaimana transportasi kesana?
  • siapa yang mengurus anak anak yang tinggal dirumah?
  • apakah ada kartu jamkesmas atau jamkesda?

Berikut ini saran saran menghadapi penderita schizophrenia yang sedang kambuh akut:

  • ingat bahwa anda tidak bisa beradu pendapat atau berdebat dengan penderita gangguan jiwa akut.
  • ingat bahwa sebenarnya penderita sendiri juga merasa tidak enak kenapa dirinya hilang kontrol atau tidak bisa mengendalikan diri. Kita harus bisa memahami apa yang sedang dialami oleh si penderita.
  • jangan memperlihatkan bahwa anda marah atau tersinggung. Jangan bersikap mengancam karena akan membuat penderita memberontak atau melawan.
  • jangan berteriak, tapi bicaralah dengan pelan, tegas dan dengan kata kata sederhana
  • jangan menggunakan kata kata ejekan atau bersikap mengejek
  • buat suasana sekitar tenang (matikan TV, radio, lampu yang terlalu terang, dll)
  • minta agar hanya orang orang dekat yang ada disitu, orang lain diminta menyingkir
  • hindari menatap matanya secara langsung, atau jangan lama beradu mata
  • jangan sentuh penderita. turuti permintaannya bila hal tersebut tidak membahayakan atau bila tidak diluar nalar. hal ini akan membuat penderita merasa lebih tenang karena berarti keadaan ada dalam kendalinya.
  • anda duduk dan ajak si penderita juga duduk. Bila si penderita duduk, anda juga harus duduk.
  • jangan berdiri dan menutup pintu keluar tapi posisikan diri anda berada diantara penderita dengan pintu keluar.
  • jangan bercekcok atau adu pendapat dengan sesama anggota keluarga atau jangan saling menyalahkan.

Bila situasi membahayakan atau penderita melakukan kekerasan, segeralah minta tolong tetangga atau polisi. Sampaikan bahwa yang bersankutan menderita gangguan jiwa dan sedang kambuh.

Biasanya kambuhnya penderita tidak terjadi secara tiba tiba. Oleh karena itu, orang orang dekat atau keluarga penderita gangguan jiwa perlu mengenal tanda tanda awal kekambuhan dan mengusahakan pencegahan agar tidak terjadi kambuh. tanda tanda awal kekambuhan biasanya berupa perubahan perilaku, perubahan suasana hati, perubahan pikiran.

Selain itu perlu dicegah pula hal hal yang bisa menjadi pencetus kekambuhan, seperti bertengkar, bergadang sampai larut malam, tidak minum obat, dll.

Mengenal tanda awal penderita schizophrenia yang akan kambuh

schizophreniaMeskipun sudah minum obat dan mengikuti psikoterapi, seorang penderita schizophrenia bisa kambuh. Untungnya, biasanya kambuh tersebut tidak berlangsung tiba tiba. Ada tanda tanda awal yang mendahuluinya. Mula mula tanda awal itu tidak spesifik atau tidak jelas, yang bila dibiarkan akan terlihat semakin jelas dan bisa menjadi kambuh.

Untungnya lagi, bila dialkukan intervensi pada tahap tersebut, kambuhnya penderita bisa dicegah.

Biasanya tanda awal kambuh tersebut berbeda antara satu orang dengan lainnya. Untuk itu, setiap penderita dan orang orang dekatnya perlu mengidentifikasi tanda awal tersebut yang bisa digali dari pengalaman yang bersangkutan dari kambuh terakhir.

Berikut ini daftar tanda awal kambuh yang sering ditemui. Masing masing orang tinggal memilih dan mengurutkan tanda wal kambuh tersebut beserta waktunya (timeline) atau kapan terjadinya.

Tanda yang terjadi pada pemikiran atau persepsi:

pikiran berkejaran (thought are racing), panca indera terasa lebih tajam, berpikiran bahwa anda mempunyai kekuatan khusus, berpikiran bahwa anda bisa membaca pikiran orang lain, berpikiran bahwa orang lain bisa membaca pikiran anda, menerima pesan khusus lewat radio atau TV, sulit mengambil keputusan, berpikiran bahwa anda sebenarnya adalah orang lain, pikiran dipenuhi dengan 1-2 hal tertentu, mengalami sesuatu sensasi yang aneh, melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa melihatnya, berpikiran bahwa orang lain ngomongin anda, berpikiran bahwa orang lain benci/tidak suka anda, sering mimpi buruk, sulit berkonsentrasi, berpikiran aneh aneh, berpikiran bahwa pikiran anda ada yang mengendalikan, mendengar suara, berpikiran bahwa sebagian tubuh anda telah berubah bentuk

Tanda awal pada perasaan

Perasaan tidak berguna/ tidak berpengharapan, perasaan sedih, perasaan takut menjadi gila, perasaan cemas atau kacau, perasaan menjadi lebih religious, merasa terisolasi, merasa diamat-amati, merasa capai atau tak bertenaga, merasa bingung atau banyak masalah/pertanyaan, menjadi pelupa atau jauh dari kenyataan, merasa hidup di dunia lain, merasa sangat kuat, merasa tidak mampu mengerjakan kegiatan sehari-hari, merasa sedang dihukum, merasa tidak bisa mempercayai orang lain, mudah tersinggung, merasa bersalah, merasa tidak perlu tidur.

Tanda awal pada perubahan perilaku

sulit tidur, susah bicara atau bicara tak jelas, bicara atau senyum kepada diri sendiri, berperilaku seperti sedang diawasi, berperilaku aneh tanpa alasan yang jelas, menyendiri, tidak memperhatikan penampilan diri, berperilaku seperti orang lain, tidak mau bertemu orang, tidak makan, tidak meninggalkan rumah, berperilaku seperti anak anak, tidak mau melakukan suatu permintaan sederhana, lebih banyak merokok, tidak bisa duduk lama, gerak menjadi lambat, berperilaku agresif.

 

Cara membantu penderita schizophrenia

Peranan teman dekat atau keluarga dalam membantu seorang penderita gangguan jiwa adalah sangat penting. Biasanya penderita gangguan jiwa akan susah pulih bila tidak ada teman dekat atau keluarga yang mendukung. Dengan kata lain, penderita schizophrenia berat yang susah sembuh biasanya adalah orang orang yang kurang mendapat dukungan keluarga, saudara atau teman dekat.

Beberapa saran agar kita bisa membantu saudara, teman atau tetangga yang menderita schizophrenia:

  • pelajari seluk beluk schizophrenia. Dengan mengklik kata schizophrenia di mesin pencari, kita akan dapat banyak ilmu tentang schizophrenia. Pengetahuan tentang schizophrenia akan memudahkan anda membantu pemulihan dan mencegah kambuhnya penderita schizophrenia
  • kurangi stress dengan menciptakan lingkungan yang mendukung. Kurangi kebiasaan mengkritik kekurangan penderita schizophrenia
  • berpikir realistis dan jangan berkeinginan terlalu tinggi.
  • Dukung penderita gangguan jiwa dengan memberdayakannya. Ajak penderita schizophrenia melakukan olah raga, kegiatan sosial, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Salah satu langkah penting untuk membantu memulihkan penderita schizophrenia adalah dengan membantunya mendapatkan pengobatan. Biasanya penderita lebih mau diajak ke dokter bila diajak untuk mengurangi gejala (mengurangi halusinasi suara, waham/ delusi, sukar tidur, dll). Dalam kaitannya dengan pengobatan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu penderita:

  • monitor efek samping obat. Banyak orang tidak mau minum obat karena adanya efek samping tersebut. Bila penderita mengeluh efek samping obat, sampaikan hal tersebut kepada dokter sehingga dokter bisa mengurangi dosisnya, mengganti dengan obat lainnya, atau memberi obat tambahan untuk menekan efek samping tersebut.
  • bantu agar bisa minum obat secara teratur sesuai perintah dokter. Penderita sering lupa atau menolak minum obat. Tugas andalah meyakinkan agar yang bersangkutan mau minum obat secara teratur. Misalnya dengan cara menjadwalkan jam minum obat, dll.
  • hindari komplikasi karena interaksi obat. Bila penderita harus minum obat dari dokter lain, sampaikan bahwa yang bersangkutan minum obat untuk mengobati schizophrenia. Berikan daftar dan dosis yang biasa diminum si penderita.
  • Catat perkembangan penderita. Adanya catatan perkembangan/ kemajuan dari perilaku, gejala atau suasana hati penderita akan memudahkan dokter menyesuaikan obat bagi penderita.

Selain itu, fungsi dari  saudara atau teman dalam membantu penderita schizophrenia adalah : (1) mengidentifikasi penderita gangguan jiwa yang ada di masyarakat; (2) menjelaskan kepada keluarga apa yang harus dikerjakan kepada penderita gangguan jiwa; (3) mendukung keluarga untuk membawa penderita ke sarana kesehatan untuk mendapat pengobatan; (4) membantu transport penderita sampai ke RSJ dan mencarikan kartu Jamkesmas; (5) melepaskan korban pasung dan membawanya ke RSJ; (6) menengok penderita selama perawatan panjang di RSJ; (7) melaksanakan kunjungan rumah pada para penderita setelah perawatan di RSJ dan menge-chek apakah penderita mau kontrol dan kemana (bisa ke Puskesmas atau RSUD); dan (8) membantu keluarga untuk memberikan pekerjaan atau kegiatan bagi penderita dan memotivasi dia aktif melakukan hal itu.

Cara memulihkan diri dari schizophrenia

Akhir akhir ini banyak penelitian menunjukkan bahwa penderita schizophrenia bisa pulih. Meskipun demikian, pemulihan tersebut merupakan suatu proses atau perjalanan panjang yang kadang ada pasang surutnya. Fakta baru menunjukkan bahwa:

  • schizophrenia bisa diobati dan dipulihkan. Meskipun belum ada obat untuk menyembuhkannya, schizophrenia bisa dipulihkan. Hanya saja perlu pengobatan dan dukungan orang orang dekatnya.
  • schizophrenia bisa menjalani hidup dengan berarti dan bahagia. Dengan penanganan yang baik, penderita schizophrenia bisa bekerja dan bermasyarakat serta hidup bermanfaat dan bahagia.
  • schizophrenia tidak harus tinggal di rumah sakit. Dengan minum obat dan melakukan upaya agar tidak kambuh, penderita schizophrenia bisa terhindar dari kambuh yang memerlukan perawatan di rsj.
  • Dengan berjalannya waktu, penderita schizophrenia menjadi semakin baik, tidak memburuk.

Menurut UK Royal College of Psychiatrist, dari setiap 5 pasien dengan schizophrenia, maka: 1 orang akan pulih dalam waktu 5 tahun sejak serangan pertama, 3 orang akan pulih, namun kadang kambuh, dan 1 orang akan mengalami gangguan secara berkelanjutan.

Dibawah ini ada beberapa cara untuk mengatasi schizophrenia:

  1. Mengupayakan  pemulihan dirinyaa secara aktif dan bertanggung jawab. Bila kita tahu diri kita atau seseorang menderita schizophrenia, segeralah berobat. Semakin cepat berobat semakin baik hasilnya. Penderita gangguan jiwa bisa pulih dan itu yang harus tetap dipegang oleh si penderita maupun keluarga atau orang orang dekatnya.
  2. Ciptakan lingkungan yang mendukung. Adanya lingkungan yang mendukung sangat penting bagi pemulihan. Keluarga, saudara atau teman dekat dapat menjadi pendukung dengan mencarikan dokter, mengendalikan gejala dan membimbing agar bisa kembali bermasyarakat. Upayakan agar selalu bergaul dan bermasyarakat,  jangan hidup menyendiri.
  3. Upayakan untuk mengikuti pola hidup sehat. Berolah raga secara teratur, tidur yang cukup (8 jam sehari), hindari alkohol atau obat terlarang, kendalikan stress dan lakukan hal hal positif yang menyenangkan (musik, melukis, menulis puisi, dll)
  4. Minum obat sesuai petunjuk dokter. Jenis dan dosis obat bervariasi bagi masing masing individu sehingga perlu kerja sama dgn dokter dalam penentuan jenis obat dan dosisnya. Pelajarilah obat gangguan jiwa dan efek sampingnya. Perlu diingat bahwa obat tidak menyembuhkan schizophrenia, tapi menekan gejalanya sehingga berhenti minum obat sering menimbulkan kambuh.
  5. Upayakan untuk bermasyarakat. Upayakan untuk bisa kerja dan melakukan kegiatan kemasyarakatan. Nantinya, Tirto Jiwo akan memberi bekal kepada penderita gangguan jiwa agar bisa mandiri secara keuangan dengan memberikan pelatihan kerja secara praktis.

Pengertian dan gejala schizophrenia

Schizophrenia merupakan salah satu gangguan jiwa berat dimana penderita memahami realitas secara abnormal  (tidak normal). Schizophrenia biasanya menyebabkan timbulnya halusinasi (melihat atau mendengar sesuatu yang secara realita tidak benar), delusi (angan angan, misalnya percaya bahwa ada orang yang akan meracuninya), dan  gangguan pemikiran maupun perilaku.Schizophrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang. Meskipun demikian, penderita schizophrenia bisa pulih.

Gejala schizophrenia bisa dijumpai pada penderita gangguan jiwa jenis lainnya. Tidak ada satu gejalapun yang menjadi ciri pokok schizophrenia. Pada laki laki, gejala schizophrenia mulai diumur belasan atau 20an tahun. Pada perempuan, gejala mulai diumur 20an tahun atau awal 30an tahun. Tidak jarang schizophrenia menyerang anak belasan tahun, namun jarang mulai menyerang pada orang dewasa yang berusia lebih dari 45 tahun.

Tanda dan gejala schizophrenia bisa dikategorikan dalam gejala positif, negatif dan kognitif.

Gejala positif: mencerminkan adanya fungsi normal yang berlebihan atau terdistorsi, seperti:

  • delusi (angan angan atau khayalan, waham), merupakan gejala yang paling sering muncul. Penderita mempunyai kepercayaan (beliefs) yang tidak sesuai dengan realitas, biasanya keliru dalam memahami pengalaman atau mempunyai persepsi yang keliru. Misalnya percaya bahwa ada orang akan membunuhnya.
  • halusinasi, yaitu mendengar suara atau melihat sesuatu yang tidak berdasar realitas. Halusinasi suara merupakan halusinasi yang paling sering muncul.
  • gangguan pemikiran, gangguan dalam mengorganisir pikiran dan berbicara sehingga penderita berhenti bicara ditengah kalimat atau mengucapkan kata kata tanpa arti (word salad).
  • perilaku yang tak teratur, yang bisa muncul dalam bentuk perilaku seperti perilaku bodoh pada anak kecil atau agitasi yang tidak bisa diduga sebelumnya.

Gejala negatif:menunjukkan adanya penurunan fungsi normal, seperti:

  • tidak lagi tertarik melakukan kegiatan sehari-hari
  • kurangnya emosi
  • berkurangnya kemampuan merencanakan atau melakukan kegiatan
  • kurang memperhatikan kebersihan diri
  • mengurung diri
  • kehilangan motivasi

Gejala kognitif: berupa gangguan proses berpikir. Ini merupakan gejala yang paling mengganggu dan menyebabkan tidak bisa bekerja secara benar.

  • gangguan mengingat-ingat
  • gangguan dalam memberikan perhatian (atensi)
  • gangguan dalam memahami informasi