Memperkuat ketahanan jiwa-4

resilience-2i01xgeTulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya

Mempunyai jiwa yang tahan banting akan dapat mengurangi seseorang terkena gangguan jiwa. jiwa yang tahan banting juga akan dapat membuat hidup seseorang lebih sukses, dapat segera bangkit ketika terkena badai kehidupan.

Berikut ini beberapa factor yang akan memperkuat ketahanan jiwa:

  • Mempunyai kedekatan hubungan dengan keluarga dan teman. Anak yang mempunyai banyak teman dan sahabat akan lebih kuat ketahanan jiwanya. Begitu pula, anak yang mempunyai hubungan yang dekat dengan orang tua dan saudara saudaranya juga akan mempunyai ketahanan jiwa yang lebih kuat dibandingkan dengan anak yang tidak dekat dengan saudara maupun anak yang tidak punya sahabat atau teman dekat.
  • Mempunyai pandangan positif terhadap diri sendiri dan percaya akan kemampuan diri. Anak yang terlalu banyak menyalahkan diri sendiri, terlalu keras dalam mengkritik dirinya sendiri, biasanya mempunyai jiwa yang rapuh. Begitu pula, anak yang tidak percaya akan kemampuan dirinya akan membuat diri anak tersebut tergantung kepada orang lain.
  • Kemampuan mengendalikan emosi dan perasaan. Kemampuan mengendalikan emosi sehingga tidak mudah meledak marah atau terlalu mudah merasa sedih akan membuat seorang anak lebih tahan menghadapi tekanan jiwa. Kemampuan mengendalikan perasaan dan emosi juga akan membuat seorang anak dapat berkawan dan bergaul dengan baik.
  • Mempunyai kemampuan memecahkan masalah dan komunikasi. Seorang anak dengan kemampuan memecahkan masalah dengan baik, akan dapat mengatasi setiap masalah dengan tepat sehingga hal tersebut akan membuat jiwanya lebih tahan banting. Kemampuan komunikasi yang baik juga akan membuat seorang anak lebih mudah dalam mengatasi masalah dalam kaitannya dengan orang lain. Hal ini akan membuat sang anak menjadi lebih kuat ketahanan jiwanya.
  • Gemar menolong orang lain. Anak yang gemar menolong orang lain cenderung mempunyai jiwa yang kuat dan tahan banting.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Memperkuat ketahanan jiwa-3

epic-failTulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Berikut ini (lanjutan) beberapa kelompok anak yang mempunyai jiwa yang rapuh:

  • Anak yang merasa dirinya gagal atau akan selalu gagal dibidang karir, olah raga, sekolah. Anak tersebut sering merasa dirinya bodoh, tidak mampu.
  • Anak dengan waham kebesaranMerasa dirinya lebih hebat dari yang lain atau teman sebaya padahal dalam kenyataannya tidak demikian. Anak tersebut merasa dirinya berhak mendapat perlakuan khusus dan keinginannya harus dituruti.
  • Anak yang kurang kontrol diri, tidak mampu disiplin diri. Tidak mampu atau tidak mau mengendalikan diri, tidak mampu mengatasi rasa frustasi.
  • Tunduk berlebihan. Anak yang tunduk atau patuh terhadap orang lain secara berlebihan.
  • Anak yang selalu memenuhi keinginan orang lain dengan mengorbankan kesenangan diri secara berlebihan.
  • Persetujuan orang lain. anak yang selalu memerlukan persetujuan, perhatian atau pengakuan orang lain.
  • Pesimis. Anak yang selalu memandang dunia dan segala sesuatunya secara negative atau pesimis.
  • Pengekangan emosi. Anak yang selalu mengekang emosi, mengekang tindakan spontan atau perasaan. Hal tersebut dilakukan karena untuk menhindari penolakan, rasa malu, dll.
  • Standard tinggi, hipercriticalness. Anak yang menetapkan standar perilaku dan emosi yang sangat tinggi, biasanya hal tersebut dilakukan untuk menghindari kritikan.
  • Hukuman. Anak yang merasa bahwa dirinya harus dihukum secara keras bila melakukan kesalahan, cenderung gampang marah, tidak sabar, tidak toleran.

Kadang seorang anak dengan jiwa yang rapuh akan mempunyai beberapa sifat seperti tersebut diatas. Sebagai contoh, seorang anak dengan waham kebesaran (merasa dirinya hebat, padahal kenyataannya tidak), sering juga mempunyai sifat kurang dapat mengontrol diri. Anak yang merasa dirinya gagal, sering disertai dengan sifat pesimis, selalu memerlukan persetujuan orang lain, tunduk berlebihan, dan lain lain.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Memperkuat ketahanan jiwa-2

Vulnerable-childTulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

Salah satu alternative dalam mencegah gangguan jiwa adalah dengan mendeteksi anak anak dengan jiwa yang rapuh dan kemudian memperkuat ketahanan jiwa anak tersebut.

Anak dengan jiwa yang rapuh adalah anak yang rentan terhadap stress, tidak tahan menghadapi stress dan bila terkena stress akan cenderung mengalami gangguan jiwa atau mempunyai kecenderungan untuk menderita gangguan kepribadian.

Beberapa ciri anak dengan kepribadian yang rapuh adalah:

  • anak yang merasa dirinya (akan) dibuang, ditinggalkan, atau diasingkan oleh keluarganya.
  • Anak yang selalu curiga bahwa orang lain akan menyakiti dirinya, memanipulasi, melecehkan, menipu, atau mengambil keuntungan darinya.
  • Anak yang merasa dirinya kurang diperhatikan (emotional deprivation). Tidak ada yang memberikan perhatian, dukungan, asuhan atau perlindungan secara mencukupi.
  • Anak yang tidak percaya diri/ malu. mempunyai cacat, kelemahan, tidak diinginkan, tidak ada yang menyukai, sehingga sangat sensitive terhadap kritik, takut disalahkan.
  • Anak yang menyendiri atau mengurung diri Merasa dirinya bukan bagian dari masyarakat atau kelompoknya.
  • Anak yang mempunyai ketergantungan, tidak mampu (tidak kompeten), yaitu yang merasa dirinya tidak mampu mengelola kehidupan sehari-hari, memerlukan bantuan atau dukungan orang lain.
  • Anak yang merasa ketakutan yang berlebihan akan datangnya penyakit fisik, penyakit kejiwaan maupun akan terjadinya kecelakaan.
  • Anak dengan diri yang tidak tumbuh. kepribadiannya tidak tumbuh dewasa karena campur tangan orang lain yang berlebihan. Seringorang tersebut merasa dirinya kosong, tidak punya tujuan hidup.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Memperkuat ketahanan jiwa-1

EarlyInterventionInPsychosisFourMencegah lebih baik dari mengobati. Ungkapan tersebut juga berlaku pada gangguan jiwa. Mencegah timbulnya gangguan jiwa lebih baik, lebih mudah dan lebih murah, dibandingkan dengan memulihkan penderita gangguan jiwa.

Meskipun demikian, mencegah seseorang dari terkena gangguan jiwa tidak gampang. Beberapa masalah yang dihadapi adalah:

  1. Gejala awal gangguan jiwa tidak spesifik (seperti: gelisah, gangguan tidur, kinerja sekolah menurun, menarik diri dari pergaulan, dll). Gejala tersebut juga sering muncul pada orang orang normal yang sedang mengalami tekanan jiwa.
  2. Kurangnya kesadaran untuk minta pertolongan. Selain sulitnya mendeteksi gejala awal gangguan jiwa, seringkali gejala awal tersebut tidak mendorong seseorang untuk meminta pertolongan. Adanya gejala anak yang menarik diri dari pergaulan, menurunnya prestasi di sekolah tidak menjadi pendorong bagi keluarga untuk meminta pertolongan.
  3. Tidak semua anak dengan resiko tinggi akan mengalami gangguan jiwa. Ada beberapa anak yang mempunyai resiko lebih tinggi untuk mendapatkan gangguan jiwa. Anak anak yang mempunyai resiko tinggi adalah anak dengan saudara dekat penderita gangguan jiwa. Anak dengan salah satu dari orang tuanya menderita gangguan jiwa, saudara sekandung dengan gangguan jiwa mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita gangguan jiwa. Meskipun demikian, anak dengan resiko terkena gangguan jiwa tidak otomatis akan menderita gangguan jiwa dikemudian hari.
  4. Hambatan untuk mendapatkan pertolongan. Adanya stigma atau cap bahwa seseorang punya bakat untuk menderita gangguan jiwa akan membuat sang anak semakin menarik diri atau dijauhi teman temannya. Tidak tersedianya ahli  atau seseorang yang dapat menolong mencegah terjadinya gangguan jiwa juga merupakan hambatan bagi program pencegahan gangguan jiwa.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

10 jalan menuju jiwa tahan banting (1)

resilienceJiwa yang tahan banting (resilience) adalah jiwa yang segera bangkit begitu terkena pukulan atau trauma psikologis yang berat, seperti kehilangan orang yang disayangi, kehilangan pekerjaan, mengalami bencana, terkena penyakit berat, dan lain lain.

Menurut ahli kesehatan jiwa dari Mayo Clinic, sifat utama dari jiwa yang tahan banting adalah: jiwa yang selalu bersyukur (grateful) dan mau berkorban/ menolong orang lain (compassion).

Latihan agar mempunyai jiwa tahan banting perlu diberikan, terutama kepada anak anak hingga mencapai usia dewasa. Jiwa yang tahan banting akan membuat mereka dapat mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup, meskipun badai kehidupan menghantam.

Berikut ini 10 jalan menuju jiwa yang tahan banting yang disarankan oleh American Psychological Association dalam artikelnya road to resilience:

  • Buat jaringan (get connected). Jangan hidup menyendiri, buatlah jaringan persaudaraan dengan anggota keluarga maupun jaringan persahabatan dengan sebanyak mungkin teman. Ikutlah kelompok kelompok pertemanan (pramuka, karang taruna), kelompok pengajian, dan lain lain. Lakukanlah kegiatan kerja suka rela dan menolong orang yang membutuhkan. Jaringan persahabatan dan kegiatan positif (menolong orang yang membutuhkan) akan membuat jiwa jadi kuat.
  • Hindari melihat krisis (masalah besar) sebagai persoalan yang tidak dapat diatasi. Hal hal yang tidak diinginkan tetap saja akan terjadi dalam hidup ini, namun kita dapat melihat perspektif yang berbeda dari masalah tersebut. Sebuah kecelakaan yang menyebabkan kehilangan kaki, misalnya, bukanlah akhir dari segalanya. Banyak hal dapat dilakukan, meskipun hidup tanpa kedua kaki. Banyak masalah yang dengan berjalannya waktu, akhirnya akan dapat diatasi.
  • Terima bahwa perubahan merupakan bagian dari kehidupan. Tidak ada yang abadi didunia ini. Setiap saat banyak hal berubah. Kendalikan hal hal yang dapat dikontrol dan pasrahkan kepada Tuhan hal hal yang berada diluar kendali kita.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

8 Langkah latihan mengatur emosi (2)

dreng%20raaber%20frustreret%20colourboxTulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya.

  • Langkah 4: Sering terlibat dalam kegiatan yang menghasilkan emosi positif. Kejadian kejadian yang tidak menyenangkan akan menimbulkan reaksi berupa munculnya emosi negative (sedih, marah, cemas, dll). Dalam jangka panjang, kita perlu mengatur hidup kita sehingga lebih banyak terlibat dalam kegiatan atau kejadian yang memberikan efek pada emosi positif. Kegiatan yang akan menimbulkan emosi positif, misalnya: sedekah, menolong atau membantu seseorang, melakukan hobi, ikut pengajian, dll.
  • Langkah 5: Tingkatkan perhatian (mindfulness) pada emosi saat ini. Kita perlu melatih agar pikiran kita selalu focus pada keadaan atau kejadian yang berlangsung saat ini. Jangan biarkan pikiran melayang ke masa lalu atau ke masa depan. Tingkatkan perhatian pada emosi yang sedang kita jalani sekarang.
  • Langkah 6: Coba lakukan kegiatan yang berlawanan. Bila kita sedang sedih (badan terasa lemas dan tak bertenaga, biasanya hanya ingin tiduran atau bermalas-malasan), maka segera bangun dan lakukan olah raga di luar rumah; Bila kita marah, maka coba duduk atau tiduran.
  • Langkah 7: lakukan teknik untuk meningkatkan daya tahan menghadapi stress (distress tolerance technique) yang dapat dipelajari dari tulisan ini.
  • Langkah 8: Paparkan emosi. Buat catatan tentang emosi negative yang ingin kita atur. Misalnya, bila kita ingin mengatur emosi sedih, maka langkahnya adalah buat catatan tentang kejadian yang membuat sedih, reaksi tubuh ketika sedih, pikiran yang mucul, perilaku waktu sedih. Kemudian secara bertahap (mula mula sebentar saja) membayangkan kejadian yang membuat kita sedih dan coba amati reaksi yang muncul di tubuh kita. Dengan melatih hal ini, maka kemampuan kita mengatur rasa sedih akan meningkat.

Semoga bermanfaat.

8 Langkah latihan mengatur emosi (1)

dysregulation-wise-mindSalah satu ketrampilan yang perlu dipunyai agar jiwa sehat adalah ketrampilan mengatur emosi. Emosi (marah, takut, sedih,gembira, dll) tidak dapat dilepas semaunya. Emosi perlu diatur agar selaras dengan kehidupan social yang normal.

Beberapa penderita gangguan jiwa jenis borderline personality disorder, gangguan jiwa bipolar, depresi berat maupun penderita gangguan schizoaffective, mempunyai kelemahan dalam mengatur emosi.

Berikut ini 8 langkah mengatur emosi:

  • Langkah 1: Mengenali dan memberi nama (label) dari affect (perasaan, emosi). Kadang seseorang marah, sedih atau cemas tanpa sadar. Langkah pertama agar kita mampu mengatur emosi adalah mengenali dan memberi nama (label) atas setiap emosi yang terjadi pada diri kita. Untuk itu, kita perlu dapat mengenali dan menyadari setiap perubahan emosi. Dengan mengenali setiap perubahan emosi yang muncul, kita akan dapat pula mengidentifikasi: (a) kejadian yang memicu munculnya emosi, (b) arti atau interpretasi yang kita berikan kepada kejadian pemicu tersebut, (c) perubahan fisik yang terjadi ditubuh kita (misalnya: jantung berdetak lebih cepat), (d) perilaku yang muncul yang terkait dengan emosi tersebut (misalnya: membanting piring), (e) dampak dari emosi tersebut terhadap fungsi tubuh secara keseluruhan (missal: sedih membuat badan lemas, tidak dapat berangkat kerja).
  • Langkah 2: Mengenali hambatan dalam mengubah emosi. Mengubah emosi itu tidak gampang, karena biasanya kita sudah terbiasa dengan reaksi lanjutan dari munculnya emosi tersebut. Misalnya: bila sedih atau marah terus larinya ke minum minuman keras karena dengan minum maka marah/ sedih berkurang.  Bila sedih, terus makan banyak. Kebiasaan kebiasaan tersebut membuat kita lebih sulit mengatur emosi.
  • Langkah 3: Kurangi kerentanan terhadap emotional mind (pikiran yang dikuasai emosi). Kerentanan terhadap emotional mind dapat dikurangi dengan kebiasaan hidup sehat: olah raga teratur, makan sehat teratur, tidak begadang, tidak minum minuman keras, dll.

Sumber bacaan: http://www.mindfulnessmuse.com/dialectical-behavior-therapy/top-10-ways-to-regulate-emotions-part-one

Meningkatkan daya tahan menghadapi stress (2)

640px-sketching_8925389363Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Daya tahan menghadapi stress (distress tolerance) dapat pula ditingkatkan dengan teknik yang dikenal dengan singkatan ACCEPT (Activities, Contributing, Comparison, Emotion, Pushing away, Thought, Sensations):

  1. Activities, yaitu melakukan kegiatan (biasanya berupa hobi atau kegiatan lain yang menyenangkan) untuk mengalihkan perhatian dari hal yang membuat jiwa kita tertekan.
  2. Contributing, melakukan kegiatan yang tujuan utamanya melayani orang lain, menolong orang lain mengatasi masalahnya, menjadi sukarelawan, melakukan kerja bakti, membersihkan masjid, dll.
  3. Comparison, mengurangi tekanan jiwa dengan membandingkan keadaan kita dengan nasib orang lain yang lebih jelek atau membandingkan dengan keadaan dimasa lalu yang lebih jelek.
  4. Emotions, mengembangkan suasana hati yang berbeda, misalnya: (a) bila sedih, maka lihat film komedi atau mendengarkan music rock,  (b) bila takut, maka tonton film kepahlawanan (spiderman), dll.
  5. Pushing away, mengganti pikiran yang membuat stress dengan pikiran lain atau memberikan perhatian ke hal hal lain. Bisa juga dengan membayangkan masalah tersebut dimasukkan kedalam kotak dan sementara disimpan ditempat lain. Bagi anak muda yang belum dewasa dan punya bakat gangguan jiwa dan orang yang pernah terkena gangguan jiwa, metode pushing away ini dapat mendorong timbulnya halusinasi dan waham.
  6. Thoughts, tujuannya adalah mengisi otak anda dengan pikiran pikiran berbeda yang menyenangkan atau tidak membuat stress (misalnya: secara sadar membayangkan membuat taman dirumah, menyanyikan lagu yang syairnya tidak ingat, mencoba menebak apa pekerjaan orang orang yang berada dalam satu bus, dll). Metode thoughts ini juga tidak tepat bagi anak muda yang punya bakat gangguan jiwa atau orang yang pernah mengalami gangguan jiwa karena akan mendorong munculnya waham dan halusinasi. Metode ini hanya cocok untuk orang yang tidak punya bakat gangguan jiwa.
  7. Sensations, memanfaatkan paca indera untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang membuat stress. Misal: (a) indera pendengaran: mendengarkan suara gemericik air, suara burung, dan suara suara alam lainnya; (b) penciuman: mencium aroma (bunga, buah, tanaman) yang menyegarkan; (c) penglihatan: melihat pemandangan alam atau membayangkan kita merenovasi rumah, (d) rasa: makan makanan kesukaan, mencoba makanan baru, (e) sentuhan: berendam air hangat, pijat.

Meningkatkan daya tahan menghadapi stress (1)

distresstoleranceDistress tolerance adalah kemampuan seseorang menjalani atau mengalami hal hal yang tidak menyenangkan, seperti hal hal yang menimbulkan kesedihan, kepedihan, menanggung malu, ketakutan, kemarahan, dan hal hal yang tidak menyenangkan lainnya.

Seseorang dengan distress tolerance bukannya tidak merasa sedih, marah atau takut. Namun, dia tahan ketika merasakan semua penderitaan tersebut.

Meningkatkan distress tolerance bukannya mengurangi stress (tekanan jiwa), tapi memperkuat jiwa seseorang sehingga meskipun tekanan jiwa datang, dia tidak menjadi sakit jiwa atau melakukan hal hal yang merugikan.

Orang dengan distress tolerance yang rendah sering melakukan kesalahan, yaitu mencoba melarikan diri dari stress dengan minum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, mengamuk (marah marah), atau membiarkan masalah tanpa mau mencoba memecahkannya.

Salah satu metode meningkatkan distress tolerance adalah dengan melakukan IMPROVE (Imagery, Meaning, Prayer, Relaxation, One thing at a time, Vacation, Encouragement)

  1. Imagery, secara sadar membayangkan suatu keadaan yang tenag, damai dan menyenangkan. Metode ini sebaiknya hanya dipergunakan oleh orang yang sudah dewasa (berusia diatas 40 th) dan tidak mempunyai riwayat gangguan jiwa berat (psikosis). Metode imagery (membayangkan) dapat membuat munculnya halusinasi maupun waham.
  2. Meaning, mencari makna atau hikmah dari suatu kejadian. Misalnya: (a) lebih baik meninggal dari pada sakit berkepanjangan; (b) masih untung hanya kaki yang putus, bukan meninggal, (c) lebih baik, selamat. uang dapat dicari, dll.
  3. Prayer, berdoa kepada Tuhan. dengan berdoa, maka hati akan menjadi tenang.
  4. Relaxation, melakukan relaksasi misalnya dengan bernapas dalam dan panjang, menerapkan progressive muscle relaxation, dll.
  5. One thing at a time. Satu persatu masalah dipecahkan atau memecahkan masalah besar dengan menguraikannya satu persatu.
  6. Vacation, yaitu pergi bersantai atau berlibur untuk menyegarkan pikiran.
  7. Encouragement, yaitu berbicara atau menasehati diri sendiri agar tetap tenang, kalm, tidak emosi, dll.

5 cara mengendalikan emosi

emosionalSemua orang pernah merasakan sedih, gembira, marah atau takut. Namun emosi yang tidak terkendali dapat merugikan diri sendiri. Misalnya, bila kita tidak dapat mengendalikan emosi ketika ada orang yang menyenggol motor/ mobil kita, maka nyawa kita dapat terancam. Bila kita tidak dapat mengendalikan tawa kita ketika melihat sesuatu yang menurut kita lucu, mungkin orang lain akan mulai menjauhi kita.

Berikut ini 5 cara agar kita lebih dapat mengendalikan emosi kita:

  1. Pilih situasi. Bila kita sering emosional ketika terburu-buru, maka usahakan buat rencana sehingga kita tidak perlu terburu-buru. Bila kita sering emosi bila bertemu dengan seseorang teman, maka coba jaga jarak dengan teman tersebut.
  2. Ubah situasi. Kita sering emosional karena ada rasa kecewa dibalik kejadiannya itu. Misalnya, kita sering emosional setiap kali memasak masakan tapi tidak ada yang makan. Maka jalan keluarnya adalah kita ubah masakan kita, misalnya dengan memasak makanan yang disukai suami/ anak. Bila kita emosional ketika sedang berdiri, cobalah duduk. bila kita emosional ketika sedang didalam ruangan, cobalah jalan ke halaman.
  3. Ubah fokus perhatianmu. Sering kali seseorang emosional karena ada rasa rendah diri (inferior). Untuk mengatasi hal itu, coba fokuskan perhatian kita pada orang orang yang secara status sosial/ prestasi dibawah kita. Bila kita emosional ketika bermain tenis meja, karena kita sering kalah, maka dilain waktu ajak bermain orang yang dibawah kita ketrampilannya bermain tenis meja.
  4. Ubah pikiranmu. Pada dasarnya kita dapat memberi arti yang berbeda-beda terhadap suatu kejadian. Ketika ada 2 orang yang duduk di meja dekat kita tertawa, maka kita dapat punya berbagai pikiran, misalnya: orang itu pasti mentertawakan saya sehingga kita menjadi emosi, atau kita ubah pikiran kita dengan berpikir bahwa orang tersebut tertawa tidak ada hubungannya dengan kita. Teknik ini disebut dengan cognitive reappraisal.
  5. Ubah response/ reaksimu. Langkah terakhir bila semua cara yang diuraikan tersebut tidak berhasil adalah dengan mengubah response atau reaksi kita. Misalnya, bila kita merasa marah mulai tidak terkendali, cobalah atur pernapasan dengan menarik napas dalam, melakukan berbagai teknik relaksasi. Bila kita sedih, cobalah lakukan olah raga, jalan jalan ke taman, dll.

Sumber bacaan: https://www.psychologytoday.com/blog/fulfillment-any-age/201502/5-ways-get-your-unwanted-emotions-under-control