Seri wirausaha sosial: lapangan perkerjaan penderita gangguan jiwa (1)

Di berbagai negara maju, masih banyak penderita gangguan jiwa yang telah pulih, namun hidup dengan sumbangan sosial dari pemerintah. Hanya sekitar 25% penderita gangguan jiwa yang pulih dan bekerja secara penuh.

Di Indonesia, karena belum adanya jaminan sosial dari pemerintah, kebanyakan penderita gangguan jiwa menjadi beban keluarganya. Bila keluarga sudah mulai angkat tangan,  sering para penderita tersebut kemudian kambuh kembali dan hidup menggelandang.

Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu cara yang dikembangkan adalah dengan membuat berbagai perusahaan dimana sebagian besar pegawainya adalah bekas penderita gangguan jiwa yang telah pulih. Perusahaan perusahaan tersebut didirikan tidak semata mata untuk mengejar keuntungan, namun mereka mempunyai misi sosial yaitu memberikan pekerjaan kepada bekas penderita gangguan jiwa. Perusahaan perusahaan tersebut juga bisa menjadi tempat pelatihan kerja bagi mereka.

Salah satu perusahaan yang memperkerjakan para bekas penderita gangguan jiwa adalah A-Way, sebuah perusahaan pengantar surat dan dokumen (courier service) di kota Toronto, Kanada (http://www.awaycourier.ca/ ).

A-Way didirikan pada tahun 1987. Perusahaan tersebut memperkerjakan para penderita gangguan jiwa yang telah pulih menjadi pengantar surat dan dokumen dengan mempergunakan transportasi umum yang ada di kota Toronto. Setiap hari, para pekerjanya mengambil surat dan dokumen, kemudian mengantarkannya ketempat tujuan di dalam kota Toronto. Saat ini jumlah pegawainya mencapai 70 orang.

Biaya antar surat/ dokumen di A-Way cukup bersaing dibanding perusahaan swasta lainnya. Hasil kerja mereka juga dapat diandalkan. Mereka berani menjamin bahwa semua surat akan sampai ke tujuan pada hari yang sama. Hingga saat ini, setelah berjalan selama 25 tahun lebih, perusahaan A-Way mempunyai sekitar 1900 pelanggan.

Bagi para pegawainya, A-Way tidak semata mata sebagai tempat kerja biasa. Mereka sudah menganggap A-way sebagai sebuah keluarga besar. Mereka mendapat gaji yang layak, bisa mendapat kepuasan dan kebanggan karena bisa hidup mandiri, dan bisa bergaul serta bertemu dengan masyarakat luas.

Yayasan Delandsey Street

Yayasan Delansey Street telah berhasil melakukan hal hal yang kelihatannya mustahil dilakukan, yaitu: membuat seseorang yang sudah berkali kali masuk penjara, perampok, pemakai obat bius, pelacur, dan berbagai sampah masyarakat lainnya untuk kembali hidup normal di masyarakat.

Selama lebih dari 40 tahun, yayasan Delansey Street sudah melakukan hal tersebut. Hingga saat ini, sudah lebih dari 18000 orang telah lulus dari gemblengan yang dilakukan oleh yayasan Delansey Street. Lulusannya ada yang sudah menjadi pengusaha konstruksi, pemilik restoran, dan berbagai pekerjaan halal di masyarakat lainnya.

Yayasan Delansey Street didirikan oleh Dr Mimi Silbert dan 3 orang kawannya. Mereka membeli sebuha apartment dengan uang pinjaman dan merubahnya menjadi asrama penampungan bekas narapidana, pengedar dan pecandu obat bius, bekas permapok dan pembunuh.

Untuk bisa diterima masuk kedalam gemblengan yayasan, syaratnya adalah tidak boleh memakai obat bius dan tidak boleh melakukan ancaman atau tindak kekerasan. Mereka yang melanggar aturan tersebut dikeluarkan dari asrama. Minimal mereka harus bersedia tinggal di asrama selama 2 tahun (kebanyakan mereka lulus setelah 4 tahun). Rata rata sekitar 35% peserta mengundurkan diri.

Selama bergabung dan dibina oleh yayasan Delansey Street, mereka tidak perlu bayar. Makan, minum, kamar dan pakaian diberi gratis. Selama 2 tahun pertama mereka digembleng oleh seniornya, yaitu oleh mereka yang sudah lebih dulu bergabung dengan Yayasan. Prinsipnya seseorang mengajari seorang lainnya. Orang yang dulu sekolah hingga SMA, mengajari peserta baru yang dulunya hanya sekolah SMP. Orang yang bisa masak, menyopir, jadi tukang batu, tukang kayu, mengajari temannya yang ingin belajar hal tersebut.  Mereka juga dibimbing sehingga bisa menyelesaikan pendidikan setara SMA (seperti kejar paket C di Indonesia). Tidak ada tenaga profesional yang didatangkan dari luar.

Selama 2 tahun berikutnya, peserta harus belajar 3 ketrampilan yang laku dijual di pasaran (seperti: ketrampilan jadi tukang batu, juru masak, atau kerja kantoran). Mereka belajar sambil bekerja di berbagai perusahaan yang didirikan dan dipunyai oleh Yayasan Delandsey Street. Semua pekerja tidak digaji (termasuk Mimi Silbert). Semua gaji disetor dan dikumpulkan jadi satu. Semua orang dapat makan, pakaian, dll, namun mereka tidak dapat gaji.

Saat ini Yayasan Delandsey mempunyai berbagai perusahaan seperti: restoran, perusahaan pindah barang (moving company), pertamanan, dan lain lain.

Patricia Deegan: prinsip pemulihan gangguan jiwa (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya.

  • Kita tidak boleh berkata bahwa penderita gangguan jiwa harus tetap minum obat seumur hidupnya.
  • Kebutuhan dan reaksi seorang penderita gangguan jiwa terhadap obat anti gangguan jiwa berubah sesuai dengan berjalannya waktu.
  • Penderita gangguan jiwa dapat belajar untuk hidup secara normal (berkeluarga, bekerja, dan bermasyarakat) meskipun berbagai macam gejala gangguan jwanya masih ada.
  • Hidup mandiri bukan berarti hidup tanpa dukungan obat, alat atau orang lain. Seperti seseorang yang perlu memakai kacamata, kita tidak boleh mengambil kacamatanya agar orang tersebut dapat hidup mandiri. Penderita gangguan jiwa mungkin masih memerlukan dukungan keuangan, obat, nasehat dari orang lain atau dari negara agar mereka dapat hidup mandiri.
  • Dalam proses menuju hidup mandiri, mereka belajar tentang dukungan apa yang sudah tidak lagi diperlukan dan dukungan apa yang masih diperlukan. Tujuan dari proses hidup mandiri bukanlah untuk menghilangkan semua dukungan tersebut.
  • Penderita gangguan jiwa yang memerlukan obat bukan berarti “lebih sakit” dibandingkan dengan yang tidak minum obat. Penderita gangguan jiwa perlu mengetahui apa apa yang (salah satunya adalah obat) dapat membantunya untuk pulih dan mengatasi penyakit yang dideritanya.
  • Penderita gangguan jiwa berhak mempunyai berbagai pertanyaan yang terkait dengan obat anti gangguan jiwa karena obat tersebut cukup kuat dalam mempengaruhi kerja otak, seperti berbagai pertanyaan berikut ini: bagaimana keadaan saya bila saya berhenti minum obat?, apakah manfaat dari minum obat ini?, apakah ada metode lain (selain minum obat) yang dapat saya pelajari yang akan dapat mengurangi gejala yang saya alami?, apakah obat yang saya minum mengurangi kemampuan berpikir saya? dll. Para ahli kesehatan jiwa perlu mulai belajar mendengarkan pertanyaan pertanyaan tersebut.
  • Para ahli kesehatan jiwa perlu mengembangkan berbagai upaya untuk mendukung proses pemulihan dan pengurangan ketergantungan kepada obat anti gangguan jiwa, misalnya: dengan mendirikan: pusat detoksikasi, pengurangan obat anti gangguan jiwa yang didukung oleh para penderita gangguan jiwa yang telah pulih dan lepas dari obat (peer runs medication reduction support group), pelatih yang mampu mengajarkan teknik mengatasi gejala gangguan jiwa, pusat pemulihan yang dikelola oleh bekas penderita gangguan jiwa yang telah pulih.

Christina Bruni: 5 strategi mengatasi paranoia

Christina Bruni didiagnosa menderita skizofrenia pada tahun 1987. Salah satu gejala yang menonjol pada dirinya adalah paranoia. Minum obat membuat paranoianya berkurang, tapi tidak hilang sama sekali. Ketika kembali kuliah, pada tahun 1997, 10 tahun setelah sakit, gejala paranoia tetap masih ada meskipun sudah jauh berkurang. Sejak dia bekerja sebagai pustakawan (ahli perpustakaan) pada umur 35 tahun, paranoia jarang sekali muncul.

Berikut ini saran Christina agar kita bisa mengendalikan gejala paranoia

  1. Minum obat sesuai petunjuk dokter. Obat membantu mengurangi gejala paranoia. Pada beberapa orang, hanya dengan minum obat gejala paranoia hilang sama sekali. Sebagian besar penderita skizofrenia perlu minum obat dalam waktu yang cukup lama. Bicarakan dengan dokter bila ada gejala akibat efek samping obat. Mungkin dokter akan mengurangi dosis, mengubah waktu minum obat atau mengganti obat tersebut.
  2. Lakukan tes kebenaran ketika berada ditempat umum. Bila kita berada ditempat umum, kita sekali sekali perlu tanyakan kepada teman tentang hal hal yang terjadi. Sebagi informasi, pada penderita paranoia, sering mereka merasa orang orang disekitarnya sedang membicarakan dirinya atau akan berbuat sesuatu yang tidak baik kepada dirinya. Tes kebenaran pemikiran kita kepada kawan akan membantu kita mengatasi paranoia. Bila kita berada ditempat umum seorang diri, maka kita harus selalu membuat alternatif (pilihan lain) atas pikiran kita. Misalnya: bila kita merasa bahwa seseorang mentertawakan kita, maka buat alternatif pikiran bahwa tertawanya orang tersebut tidak ada kaitannya dengan diri kita. Disini penderita belajar membuat pikiran pikiran alternatif yang lebih sehat.
  3. Bangun kepercayaan diri yang kuat. Ketika makan disebuah restoran di kota Washington, Christina mengeluarkan obat dan meminumnya. Seorang pemuda yang duduk dimeja disebelahnya berkata kepada temannya. Christina mempunyai keyakinan bahwa anak muda tersebut membicarakan dirinya. Meskipun punya pikiran seperti itu, Christina berusaha untuk mengacuhkan pikiran pikiran negatif tersebut. Dia berusaha untuk tidak bereaksi atas pikiran yang muncul dikepalanya.
  4. Lihat sisi positif atas apa yang terjadi. Bila kita sadari bahwa kita mengalami paranoia, maka banyak pikiran pikiran kita tidak berdasar. Lebih dari 50% penderita skizofrenia dengan paranoia sangat yakin dengan pikiran pikirannya tersebut. Dengan menyadari bahwa kita menderita paranoia, kita bisa melihat sisi lain dari apa yang kita pikirkan.
  5. Buat strategi jalan keluar atau kode rahasia. Bila sedang bersama teman dan berada ditempat umum, kemudian kita merasa tidak nyaman akibat paranoia yang sangat mengganggu, maka kita bisa mengajaknya pulang. Kita bisa menggunakan kode rahasia, misalnya: maaf tiba tiba kepala saya pusing, saya minta ijin pulang dulu.

Menurut pengamatan Christina, dengan bertambahnya umur, maka gejala akibat skizofrenia akan semakin berkurang. Minum obat akan membantu mengurangi paranoia, meskipun sering tidak bisa hilang sama sekali. Mempunyai pekerjaan yang disukai akan sangat membantu mengatasi paranoia.

Christina Bruni (22 tahun tidak pernah kambuh): strategi memperkuat ketahanan jiwa

Christina Bruni pernah menderita gangguan jiwa (skizofrenia) , namun hingga kini sudah 22 tahun dia tidak pernah kambuh.

Pengalaman hidupnya dalam mengatasi gangguan jiwa dia tulis dalam buku “Left of the Dial” yang cukup laris dipasaran.

Berikut ini beberapa saran dari Christina Bruni agar jiwa kita tahan menghadapi berbagai goncangan dan tantangan hidup.

1. Manfaat jaringan pendukung. Jangan hanya berdiam diri dirumah, coba telpon teman atau saudara, hadiri pertemuan (misalnya pengajian), kunjungi saudara atau sahabat. Usahakan untuk paling tidak seminggu sekali mengontak teman, saudara atau sahabat untuk mendapatkan dukungan atau curhat tentang berbagai peristiwa atau masalah yang ditemui.

2. Fleksible (tidak kaku) dan terbuka terhadap perubahan. Setelah seseorang terkena gangguan jiwa, memang segala sesuatunya berubah. Meskipun demikian, terkena skizofrenia bukan berarti segalanya berakhir. Banyak kesempatan baru yang berbeda masih terbuka lebar. Lebih baik terima dan hadapi kenyataan bahwa kita menderita gangguan jiwa, dan kedepannya cari kesempatan kesempatan baru yang terbuka meskipun berbeda dengan keinginan sebelum terkena gangguan jiwa.

3. Bersikap optimis. Penyesalan adalah energi negatif yang dapat menghabiskan ‘harapan’ dan merusak jiwa. Penyesalan yang tiada henti sering menyebabkan kerugian besar yang tidak kita sadari. Percayalah bahwa masa depan bisa lebih baik, meskipun masa depan datangnya perlahan lahan. Pelajari segala sesuatu yang terkait dengan gangguan jiwa dan terapkan nasehat nasehat agar tidak kambuh dan bisa hidup lebih sehat dan sejahtera. Hilangkan rasa cemas dan percaya bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan menolong kita.

4. Membuat prioritas. Lakukan hal hal yang akan membuat kita sehat dan sejahtera. Tolak ajakan teman teman untuk begadang, minum minuman keras dan kegiatan lain yang kurang sehat. Tidak semua bisa dikerjakan secara bersamaan. Melihat kondisi kejiwaan kita saat ini, kita perlu membuat pilihan apa yang bisa kita lakukan sekarang. Haruskah kita kembali kerja atau kembali ke sekolah sekarang atau bisa ditunda tahun depan?

5. Fokus pada membuat hidup lebih berarti. Dalam tahun tahun awal setelah mendapat diagnosa skizofrenia, kita memang sering terpaku pada penyakit tersebut. Kita takut kalau kalau akan kambuh. Tapi dengan menyadari bahwa penyakit tersebut bisa kambuh, maka Christina Bruni bisa lebih fokus pada mengisi hidupnya dengan melakukan kegiatan kegiatan yang berarti. Hari harinya dipenuhi dengan membantu sesama penderita skizofrenia agar bisa bangkit dan hidup bahagia.

Bagaimana cara Janey Antoniou hidup dengan skizofrenia

Saat ini Janey Antoniou, umur 46 tahun, telah 21 tahun hidup berkeluarga dan mempunyai 2 anak. Janey adalah seorang ilmuwan di bidang genetika. Meskipun demikian, dia pernah mengalami gangguan jiwa hingga harus beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa.

Sejak umur 7 tahun Janey sudah mengalami depresi ringan. Ada masa masa dimana dia merasa sedih dan tubuhnya terasa tidak bertenaga.

Janey tidak ingat persisnya kapan dia mulai mendengar suara suara (halusinasi suara). Seingatnya, dia mulai mengalami halusinasi dikala sudah remaja (umur belasan tahun). Dia mendengar 4-7 suara, laki laki dan perempuan, yang berbeda antara satu dengan lainnya. Semuanya berbicara dalam bahasa Inggris seperti dirinya.

Perilaku Janey agak eksentrik, aneh dan berbeda dari lainnya. Pada masa itu, di era tahun 1970an, Janey kulaih di University of Sussex, Inggris. Pada masa itu para mahasiswa memang sering berperilaku aneh atau eksentrik sehingga perilaku Janey yang aneh tidak menimbulkan masalah diantara teman temannya. Meskipun demikian, ketika dia mencoba bunuh diri dengan mengiris tangannya, teman temannya membawanya ke psikiater. Kepada dokter jiwa tersebut, Janey tidak mengaku kalau dia suka mendengar suara suara (halusinasi suara).

Selama kuliah, selain percobaan bunuh diri tersebut, Janey tidak mengalami gangguan jiwa. Hal tersebut disebabkan dia pernah menderita radang amandel (tonsilitis) sehingga dirawat di rumah sakit selama 8 hari. Suasana tenang dan kegiatan rutin di bangsal rumah menyebabkan halusinasinya menurun sehingga akhirnya Janey dapat menyelesaikan kuliahnya.

Setelah lulus, Janey bekerja di sebuah laboratorium dimana dia bertemu dengan Michael, yang kemudian menjadi suaminya hingga sekarang. Michael tahu tentang depresi yang pernah dialami Janey, namun dia tidak pernah bercerita tentang halusinasi yang dialaminya.

Pada masa itu, Janey bisa mengendalikan halusinasinya sehingga dia pikir gangguan jiwanya tidak akan datang lagi.

Pada umur 25 tahun, kesehatannya menurun. Janey coba menyembunyikan gangguan jiwa. Namun akhirnya teman temannya bisa mengenali adanya gejala dan memberi tahu Michael, suaminya. Sejak saat itu, halusinasi suaranya semakin keras sehingga Janey tidak dapat lagi mengacuhkannya.

Mula mula Janey diobati dengan obat anti depresi, tetapi setelah dia mengaku kalau ada halusinasi, maka obatnya diganti dengan obat anti gangguan jiwa. Pada awalnya Janey tidak mau menerima kalau dirinya menderita skizofrenia. 2 tahun setelah didiagnosa baru Janey menginformasikan hal tersebut kepada kedua orang tuanya dan saudara saudaranya. Untungnya, mereka semua sangat mendukung Janey untuk mengatasi penyakitnya.

Michael selalu mengamati kondisi kejiwaan Janey dan mengatakan kalau kondisi kejiwaannya mulai menurun. Namun Janey selalu tidak menghiraukannya dan merasa bahwa dia dapat mengendalikan halusinasi tersebut. Selama 5 tahun hal tersebut berlangsung dengan tanpa masalah. Janey berganti ganti obat. Namun bila dia berhenti minum obat, maka sakitnya akan kambuh dan dia harus dirawat di rumah sakit jiwa.

Kini Janey telah dapat menerima kalau dirinya menderita skizofrenia. Dia minum obat dengan teratur. Agar tidak kambuh, dia menghindari minum minuman keras dan melakukan kegiatan relaksasi (bersantai). Janey juga menghindari menonton TV (karena dia merasa bahwa TV selalu mengirim pesan untuknya) dan tidak berpergian ke laur dalam rombongan besar/ banyak orang.

Meskipun masih mengalami halusinasi, Janey dapat mengendalikannya. Suara suara tersebut kini seperti suara dikejauhan sehingga tidak terlalu mengganggu. Janey kini bekerja sebagai pelatih kesehatan jiwa bagi para polisi agar mereka mengetahui bagaimana caranya menangani penderita gangguan jiwa dengan tepat.

Dikutip dari http://www.dailymail.co.uk/health/article-201335/How-I-live-schizophrenia.html

Michael Hedrick: pulih dari schizophrenia

Michael Hedrick pernah menderita schizophrenia. Kini dia telah pulih dan menjalani hidupnya sebagai fotografer dan penulis diberbagai majalah dan surat kabar.

Di awal dia menderita schizophrenia, dia merasa ketakutan terhadap gerak tubuh (bahasa tubuh, non verbal) yang dilakukan oleh orang orang yang ada disekelilingnya. Ada orang yang menggaruk kepalanya sendiri, biasa dia artikan bahwa dia harus maju kedepan. Begitu pula, bila ada seseorang yang berkedip didepannya, dia artikan bahwa orang tersebut menyuruhnya melakukan sesuatu.

Kini Michael Hedrick telah bisa mengatasi penyakitnya. Selain minum obat, untuk menjaga agar tidak kambuh, dia menerapkan pola hidup sehat. Setiap hari dia akan tidur awal dan tidur setidaknya 6-7 jam sehari. Menurut pengalamannya, bila dia sampai 2 hari berturut turut tidak dapat tidur dengan baik, gangguan jiwanya akan kambuh.

Michael Hedrick juga tidak lagi pernah minum minuman keras. Begadang dan minum minuman keras menjadi pemicu kekambuhan penyakitnya.

Setelah bangun pagi, dia akan sarapan. Setelah itu, dia akan mulai menulis untuk dipublikasikan di websitenya maupun diberbagai surat kabar atau majalah. Sore hari, dia sibuk dengan pekerjaan rumah, mencuci baju, dan lain lain.

Dengan kegiatan seperti itu, sudah selama bertahun tahun dia dapat mengendalikan hidupnya dan terhindar dari kekambuhan.

Bagi yang ingin mengenalnya lebih lanjut, silahkan kunjungi websitenya di http://thehedrick.com/#about

Esme Wei Jun Wang: pulih dari schizophrenia

Esme Wei Jun Wang pernah didiagnosa menderita schizoaffective disorder, sebuah gangguan jiwa yang merupakan campuran antara schizophrenia dengan gangguan emosi (bipolar).

Kini, Esme telah pulih, berkeluarga dan hidup sebagai penulis, pembicara di berbagai seminar, aktivis di kesehatan jiwa dan seniman.

Meskipun demikian, kadang kadang gangguan jiwanya masih kambuh. Beberapa tahun lau (2013), dia mengalami kekambuhan paling lama, yaitu dari bulan Februari hingga bulan Agustus. Ketika kambuh tersebut, dia yakin kalau dirinya sudah mati. Esme mengalami gejala yang didunia kedokteran disebut sebagai Cotard’s delusion (waham Cotard).

Selama masa kambuh tersebut berbagai obat telah diminumnya, termasuk berbagai obat atypical antipsikosis. Namun akhirnya, Esme Wei Jun Wang minum haloperidol yang membuatnya kembali sadar dari wahamnya.

Bila anda ingin mengenal lebih lanjut, silahkan kunjungi websitenya di http://www.esmewang.com/

Dari penderita skizofrenia menjadi psikoterapis

Agar bisa pulih dari skizofrenia, minum obat secara teratur memang perlu, tapi itu tidak cukup. Setidaknya itulah pelajaran yang dapat diambil dari kisah hidup James Hickman, dari Huntville, Alabama, Amerika.

James Hickman lahir pada tahun 1974 dan pada usia 7 tahun harus masuk panti asuhan karena ibunya meninggal dunia. Hidup dalam segala keterbatasan, kemiskinan, kurang kasih sayang, James Hickman akhirnya didiagnosa dengan skizofrenia pada usia 21 tahun. Ibunya dulu juga pernah menderita skizofrenia. Kini, James Hickman sudah menyelesaikan pendidikan S2 dalam bidang kesejahteraan sosial (social work).

Dia tidak pernah berkeinginan untuk menjadi psikoterapis hiingga pada tahun 1998, ketika sedang dirawat di rumah sakit jiwa untuk kedua kalinya, James Hickman bertemu dengan seseorang yang juga menderita skizofrenia. Temannya tersebut berkata:” Mengapa kita tidak berupaya menjadi petugas kesehatan? Kita yang pernah mengalami gangguan jiwa, akan bisa menjadi psikoterapis yang handal. Kita akan bisa membantu orang orang yang mengalami gangguan jiwa”.

Saat itu, James Hickman sudah mau menerima bahwa dirinya menderita skizofrenia. Dia juga menyadari bahwa dia memerlukan obat untuk membantu mengatasi gangguan jiwanya.

Titik balik dalam hidupnya terjadi pada tahun 2002, saat itu James Hickman bekerja sebagai satpam dan menjadi sukarelawan (volunter) di sebuah LSM yang bergerak dibidang kesehatan jiwa. Dia bertemu dengan seorang perempuan bekas penderita skizofrenia yang menjadi sarjana komputer. Pertemuan itu mendorongnya untuk kuliah hingga akhirnya berhasil meraih gelar S2 dibidang kerja sosial.

Kini James Hickman sukses menjadi motivator, inspirational speaker khususnya di bidang yang berkaitan dengan kesehatan jiwa.