Membayar hutang-1

kaos-sedekahSalah satu masalah yang terkait dengan gangguan jiwa adalah masalah keuangan keluarga.Kebetulan, saya menemukan beberapa kisah tentang orang orang yang bisa lepas dari lilitan hutang. Saya coba sampaikan ringkasan kisahnya. Semoga pembaca bisa mengambil hikmahnya:
1. Kisah tentang Abdullah yang saya ambil dari http://www.7kids.co.cc/kisahtauladan/kisah_sedekah

 Abdullah, seorang pegawai dengan gaji bulanan 4000 Riyal menghadapi pelbagai masalah kewangan dan hutang.  Beliau bercerita: Saya menyangka bahawa saya akan hidup dalam keadaan ini sehingga mati dan keadaan saya tidak akan berubah buat selama-lamanya. Apa yang paling saya takuti ialah saya akan mati dalam keadaan berhutang yang bertambah pada setiap detik. Keperluan hidup benar-benar menyesakkan saya. Pada suatu hari saya pergi berehat di tempat-tempat orang muda yang mempunyai masalah seperti saya. Tujuan saya pergi ke sana ialah untuk meringankan bebanan diri saya dengan mendengar masalah orang lain. Pada hari tersebut terdapat salah seorang kawan yang saya hormati pandangannya lalu saya mengadukanperihal saya kepadanya. Beliau lalu menasihatkan agar saya mengkhususkan suatu bahagian daripada gaji bulanan saya untuk sedekah. Saya menjawab: “Saya makan pun tak cukup macam mana nak sedekah ?”

Apabila saya balik ke rumah saya bercerita kepada isteri saya tentang apa yang berlaku. Isteri saya berkata: “Apa kata kita cuba dan mungkin Allah akan membuka jalan bagi kita.” Saya lalu menjawab: “Oleh yang demikian saya akan mengkhususkan 300 Riyal daripada gaji bulanan untuk sedekah.” Demi Allah selepas itu hidup saya mula berubah. Perasaan lapang mula menyelubungi saya dan saya menjadi sangat optimistik. Selepas dua bulan, hidup saya mula menjadi teratur semula. Saya mengecap barakah dalam gaji saya yang saya tidak pernah temui sebelum ini. Saya mendapat kekuatan pengurusan sehingga saya boleh menjangkakan bila hutang saya akan selesai.

Selepas beberapa lama salah seorang saudara saya memulakan perniagaan hartanah dan setiap kali saya mendapatkan seorang ahli syer yang baru maka saya mendapat komisen. Segala puji bagi Allah, saya merasakan bahwa hutang-hutang saya akan habis dalam tempoh yang dekat. Setiap komisen yang saya dapat juga saya tidak lupa memperuntukkan satu bahagian untuk sedekah. Demi Allah, sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengetahui kelebihannya melainkan orang yang telah mengecapinya. Bersedekahlah dan bersabar nescaya anda akan lihat kebaikan dan keberkatan dengan izin Allah.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Suasana nyaman kekeluargaan

11874157_1465104517147970_1383744827_nTirto Jiwo, sebagai pusat pemulihan tidak memberikan kesan menakutkan. Suasana di Tirto Jiwo adalah layaknya suasana asrama biasa.

11909727_1474921499499605_1656776451_n

 

 

Banyak penduduk desa sekitar tidak tahu mana yang menderita gangguan jiwa dan mana yang sehat. Mereka tidak dapat membedakannya.

11186325_1013973955280227_1706265047_n

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Jessie Close: pulih dari gangguan jiwa bipolar

Jessie Close, seperti juga pada banyak penderita bipolar, dia tidak tahu kalau dirinya menderita bipolar hingga ketika berusia 40an tahun. Menurut Glen Close, saudaranya, memang ada yang tidak beres pada diri Jessie. Mereka menganggap bahwa hal tersebut merupakan kepribadian dari Jessie. Jessie hidup tidak teratur, keluar dari sekolah, puyna banyak pacar, ganti ganti mobil, tidak bisa tenang.

Dalam keluarga Jessie memang ada riwayat kecanduan minuman keras dan depresi. Pada usia sangat muda, Jessie pernah mencoba bunuh diri. Pada waktu itu, keluarganya belum punya pengetahuan tentang gangguan jiwa dan cara mengatasinya.

Pada suatu musim panas, Jessie mengalami depresi berat. Keluarganya sedang berkumpul saat itu. Akhirnya Jessie berkata: “Aku perlu pertolongan”.

Kejadian itu merupakan titik bali dalam kehidupan Jessie Close. Sejak berobat ke pskiater dan mendapat pengobatan, dia mulai dapat mengendalikan diri dan perasaannya. Dulunya Jessie merupakan orang yang gampang bingung, sering curiga (paranoid), kini dia sudah mampu menyelesaikan novel karangannya yang kedua.

Beberapa saran dari Jessie Close tentang keberhasilannya mengatasi penyakit bipolar yang dideritanya:

  1. Minum obat secara teratur
  2. Konsultasi dengan psikiater
  3. Ketemu dokter keluarga secara teratur
  4. Mengenali tanda tanda awal kekambuhan
  5. Meminta dukungan dari teman dan keluarga

Sumber bacaan : http://www.choicesinrecovery.com/about/recovery-spotlight/jessie-close

James Kindler: pulih dari skizofrenia

Pada awalnya, ketika mulai terserang skizofrenia, James Kindler merasa hidupnya berat dan membingungkan. Orang orang disekitarnya tidak memahami apa yang terjadi pada diri James Kindler.

Namun sejak mendapat diagnose skizofrenia dan pengobatan, dia mulai dapat mengendalikan gejala sakitnya dan menata hidupnya.

James Kindler pernah mencoba menghentikan obat anti gangguan jiwa yang diberikan dokter sebanyak 4 kali. Pengalaman mengajarkannya bahwa setiap kali berhenti minum obat, sakitnya akan kambuh dan kembali masuk rumah sakit. Oleh karena itu, kini James Kindler minum obat secara teratur. Dia menyadari kalau dirinya menderita gangguan jiwa dan memerlukan obat.

(catatan pengelola Tirto Jiwo: Perlu diingat bahwa, sebelum berhenti minum obat, seorang penderita gangguan jiwa harus memperkuat ketahanan jiwanya dan dosis obat diturunkan sedikit demi sedikit).

Berdasar pengalamannya, James Kindler menyarankan 3 hal agar dapat pulih dari skizofrenia:

  • Menjalin hubungan yang dekat dengan keluarga dan teman teman, terutama saudara dan teman yang tahu tentang gejala awal kalau dirinya akan kambuh. Saudara dan teman akan dapat mengingatkan dan membantu James Kindler agar tidak kambuh.
  • Membuat rencana kerja pemulihan (wellness recovery action plan) dimana dia menuliskan apa yang perlu dilakukannya secara rutin setiap harinya agar tetap sehat, apa yang harus dilakukannya secara berkala, tahu apa yang menjadi pemicu dan cara mencegah kekambuhan, dan apa yang perlu dialkukan apabila dia sampai kambuh.
  • Melakukan kegiatan yang berarti (bekerja) atau sebagai sukarelawan.

Sumber bacaan: http://www.choicesinrecovery.com/about/recovery-spotlight/james-kindler

Kelly Risbey: berhasil berjuang mengatasi depresi dan gangguan kecemasan.

Kelly Risbey sukses dalam berjuang mengatasi depresi dan gangguan kecemasan yang datang dan pergi selama sekitar 20 tahun (silahkan kunjungi websitenya di http://mentalhealthwarrior.com/about-me/my-story/ )

Kelly berusaha keras tetap bersekolah dan mendapat nilai yang bagus, ditengah perjuangannya melawan depresi dan serangan panic yang sering muncul ketika sedang mengikuti pelajaran. Dengan dukungan keluarga dan teman teman, serta dengan semangat juangnya yang tinggi, akhirnya dia dapat menyelesaikan S1-nya.

Gangguan depresi dan serangan panik juga muncul ketika Kelly mulai bekerja. Di kantornya dia harus duduk diruangan sempit, sepi, dan dengan jadwal kerja yang ketat, serta kurangnya kontak personal. Semangat juangnya muncul kembali sehingga akhirnya dia dapat juga mengatasi depresi dan gangguan kecemasan ditempat kerjanya.

Kelly kemudian melanjutkan kuliahnya. Dia kuliah selama 10 tahun untuk menyelesaikan S2 dan S3-nya ditengah serangan depresi dan kecemasan. Selain itu, dia juga menderita sakit kronis di leher dan punggungnya. Dia merasa sangat menderita, jauh lebih menderita dibandingkan dengan orang orang lain. Namun, dengan semangat juangnya, dia mampu mengatasi hal tersebut.

Serangan paling parah terjadi di tahun 2009, ketika dia harus pindah ke kota lain untuk bekerja. Ditempat baru dia kehilangan teman teman dan sahabat yangb mendukung, serta pelayanan sakit pinggang dan leher kronisnya. Hal tersebut menyebabkan kondisi kejiwaannya memburuk.

Kelly mengalami halusinasi suara dan visual, mimpi buruk, agoraphobia, depresi dan gangguan kecemasan. Dia harus minum obat, tidur 23-24 jam per hari. Dia mengalami hal tersebut selama 9 bulan.

Akhirnya, Kelly dapat bangkit dan pulih dari gangguan jiwanya. Daya juangnya bangkit kembali. Perlahan-lahan, dia berhasil mengatasi gangguan jiwanya.

Kelly merasa banyak orang mendukung dan ingin membantunya, termasuk suaminya. Namun, karena mereka belum pernah mengalami depresi atau mengalami kecemasan, maka bantuan tersebut sering tidak tepat.

Ketika sedang gelisah dan depresi tersebut, Kelly memerlukan bantuan orang lain yang pernah mengalami gangguan jiwa yang sama dengan yang dideritanya yang kini sudah pulih. Oleh karena itu, ketika sudah pulih dari depresi dan serangan panik, dia mendirikan lembaga swadaya masyarakat Mental Helath Warriors. Dia ingin membantu mereka yang terkena gangguan jiwa untuk dapat pulih seperti dirinya.

Dalam membantu penderita gangguan jiwa, Tirto jiwo memakai pendekatan yang dianjurkan oleh para bekas penderita gangguan jiwa yang kini telah pulih.

Aktivitas di Tirto Jiwo

Melakukan aktivitas yang bermakna merupakan salah satu wahana bagi pemulihan gangguan jiwa.

Aktivitas tersebut tidak boleh hanya berupa aktivitas yang tanpa arti (misalnya membuat amplop surat), tapi harus merupakan kegiatan yang menyenangkan, kelihatan hasil dan dampaknya.

Terlihat, para peserta program di Tirto Jiwo sedang membuat tempat duduk di depan asrama Tirto Jiwo. Mereka melakukan kegiatan di ruangan terbuka, diluar pagar Tirto Jiwo.

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (1)

Laurie Ahern pernah menderita sakit jiwa ketika berumur 19 tahun. Saat ini, Laurie bekerja sebagai managing editor beberapa koran dan penulis lepas di Boston Globe dan Associated Press. Dia juga menjabat sebagai associate director Mental Disability Right International serta beberapa jabatan lainnya.

Dan Fisher adalah seorang dokter ahli kesehatan jiwa (psikiater), dan doktor (S3) dalam bidang biokimia. Ketika berumur 25 tahun, dia didiagnosa dengan skizofrenia dan pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa. Kini, Dan Fisher bekerja sebagai direktur National Empowerment Center dan anggota White Hose New Freedom Commission on Mental Health, penasehat  president AS dalam bidang kesehatan jiwa.

Kalau pedoman pemulihan gangguan jiwa ditulis oleh seseorang yang belajar tentang kesehatan jiwa, seperti dokter atau psikolog itu hal yang biasa. Bila pedoman pemulihan gangguan jiwa ditulis oleh seseorang yang pernah menderita gangguan jiwa, itu baru luar biasa dan perlu disimak serta dipelajari.

Laurie Ahern dan Dan Fisher sering memberikan ceramah bersama. keduanya kemudian menulis sebuah buku pedoman pemulihan gangguan jiwa Personal Assistance in Community Existence (PACE). Berikut ini beberapa ini sari dari buku tersebut.

Menurut Laurie Ahern dan Dan Fisher, penderita gangguan jiwa bisa pulih, asalkan mereka mendapatkan dukungan dan perlakuan yang tepat. Pendapat mereka berbeda dengan pendapat kebanyakan petugas rumah sakit jiwa dan masyarakat yang menyatakan bahwa gangguan jiwa adalah penyakit seumur hidup yang hanya bisa distabilkan, dirawat dan ditingkatkan kemampuannya, namun tetap menderita sakit jiwa.

Bersambung

Sumber bacaan bisa di download dihttp://nationalempowermentcenter.com/downloads/pace_manual.pdf

Catherine Duclos: penyakit jiwa sebagai penyakit spiritual

Catherine adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana, berumur 50 tahun dengan 2 anak. Sekitar 13 tahun yang lalu dia didiagnosa dengan gangguan bipolar.

Sejak saat itu, Catherine telah minum berbagai jenis obat, berganti-ganti, sebagian karena tidak cocok atau tidak berefek pada penyembuhan penyakitnya.

Sejak beberapa tahun yang lalu, Catherine mulai memandang penyakitnya dari sudut pandang yang sangat berbeda. Dia tidak hanya mencoba menerapkan diet atau pola hidup yang sehat, namun Catherine berkesimpulan bahwa sebenarnya penyakit bipolar yang diderita disebabkan karena gangguan spiritual atau keimananannya.

Ketika Catherine berumur 6 tahun dan memandang foto keluarganya. Dia menyadari bahwa suatu saat mereka, dan juga dirinya, akan meninggal dunia. Ada perasaan kehilangan dan kehampaan yang sulit dijelaskan dengan kata kata.

Pada umur 12 tahun, Catherine mengalami kejadian lain yang juga mempengaruhi pertumbuhan kejiwaannya. Ketika itu, pada suatu siang yang mendung, dia berjalan jalan dengan saudara perempuannya dan kedua orang tuanya. Catherine dan kakaknya berjalan didepan kedua orang tuanya. Ketika itu, tiba tiba awan yang menutupi matahari tiba tiba berpindah sehingga sinar matahri menyinari kedua orang tuanya. Dalam pandangan Catherine, kedua orang tuanya terlihat sangat cantik/ gagah. Catherine merasa sangat bahagia. Namun perasaan sangat bahagia  tersebut hanya berlangsung beberapa menit. Catherine kehilangan perasaan sangat berbahagia tersebut. Kehilangan perasaan sangat berbahagia yang terjadi dalam waktu singkat membuatnya jatuh kedalam perasaan depresi. Dia merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Semua orang dalam hidupnya pasti pernah merasakan pengalaman spiritual seperti yang dialami oleh Catherine. Hanya reaksi setiap orang berbeda beda. Pada orang dengan bakat gangguan jiwa, pengalaman spiritual tersebut sangat membekas dan bisa menimbulkan krisis. Bila mereka salah dalam menyikapi dan menanggapi pengalaman spiritual tersebut, mereka bisa terjatuh kedalam gangguan jiwa.

Setelah mengalami berbagai pengalaman spiritual tersebut, termasuk ketika mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak anaknya, Catherine berpendapat bahwa gangguan jiwa adalah penyakit spiritual. Penyakit yang muncul ketika seseorang mengalami gangguan dalam pertumbuhan spiritualnya.  Para ahli kesehatan jiwa menyebut pengalaman spiritual tersebut sebagai spiritual emergent.

Dalam pengamatan saya terhadap berbagai penderita gangguan jiwa, memang kebanyakan mereka kurang memahami dan menghayati arti tauhid, serta segala implikasinya terhadap kehidupan kita. Mereka sering gelisah dan tidak dapat mengendalikan emosinya karena mengingat masa lalu (ingat kejadian dimasa lalu), takut menghadapi masa depan. Bila iman mereka benar dan kuat, sebenarnya tidak perlu ada yang membuat mereka gelisah.

Dilain pihak, banyak juga orang yang tidak beriman atau keimanannya tidak kuat atau salah, namun mereka tidak terkena gangguan jiwa. Kesimpulannya, masalah keimanan hanya akan menimbulkan gangguan jiwa pada orang orang tertentu yang memang berbakat terkena gangguan jiwa.

Sumber bacaan:http://www.madinamerica.com/2012/07/seeing-mental-illness-as-a-spiritual-illness/

Seri wirausaha sosial: lapangan kerja penderita gangguan jiwa (3)

La Fageda adalah sebuah wirausaha sosial di Spanyol. Didirikan oleh Christobal Colon, seorang psikolog, pada tahun 1982, La Fageda bergerak di bidang peternakan sapi perah dan pengolahan susu menjadi yoghurt dan hasil olahan lainnya.

Yang unik mengenai La Fageda adalah perusahaan tersebut berbentuk koperasi dengan sekitar 280 anggota (pada tahun 2010) dimana sekitar 160 diantaranya adalah penderita gangguan jiwa. Omset mereka mencapai 14 juta dolar per tahun. Di Spanyol La Fageda tidak kalah dari perusahaan besar seperti Danone atau Nestle.

Pada tahun 1960an, Christobal Colon melihat bahwa rumah sakit jiwa di Spanyol sangat sedikit memberikan pelayanan kesehatan. Kegiatan RSJ sebagian besar hanya membuat sibuk para penderita gangguan jiwa dengan menyuruh mereka melakukan kerja yang tidak bernilai secara ekonomis.  Dia berpendapat bahwa para penderita gangguan jiwa perlu diberi pekerjaan yang dapat memberinya penghasilan yang layak sehingga meningkatkan harga diri dan kesehatan jiwanya.

Selain bergerak di bidang sapi perah, La Fageda juga mempunyai kebun buah buahan yang hasilnya dibuat selai, peternakan sapi sebanyak 500 ekor, dan pelayanan pertamanan. Mereka juga memperkerjakan sebuah kelompok psikolog yang menangani aspek kejiwaan dari penderita gangguan jiwa.

Seri wirausaha sosial: lapangan kerja penderita gangguan jiwa (2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pekerjaan merupakan salah satu hal yang penting bagi pemulihan gangguan jiwa. Adanya pekerjaan akan mempermudah dan membantu seseorang pulih dari gangguan jiwanya.

Sayangnya, menciptakan lapangan pekerjaan bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Berbagai latihan kerja yang dilakukan oleh rumah sakit jiwa atau panti rehabilitasi tidak mampu memberikan penghasilan yang layak dan kepuasan kerja kepada para penderita gangguan jiwa yang bekerja disana.

Harbor City Service merupakan sebuah wirausaha sosial, sebagai bagian dari perusahaan Humanim, yang sebagian besar pegawainya adalah bekas penderita gangguan jiwa yang telah pulih. Harbor City Service mempunyai dua tujuan utama, yaitu: mencari penghasilan agar perusahaan bisa mandiri secara keuangan dan sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi para penderita gangguan jiwa yang telah pulih.

Harbor City Services didirikan di tahun 1987 dan bergerak di bidang pergudangan, manajemen arsip atau dokumen, penghancuran dokumen, dan pindahan (moving company). Mereka mempunyai lebih dari 300 pelanggan, seperti: rumah sakit, lembaga pemerintah, kantor hukum (law firms) dan berbagai lembaga swasta non profit.Mereka mempunyai gudang seluas kira kira 5000 m2 yang mampu memberikan jasa pergudang lengkap.