Terapi Keluarga

Hasil gambar untuk Family therapyDi Inggris, bila ada salah satu anggauta keluarga terkena gangguan jiwa, maka seluruh anggauta keluarga yang tinggal serumah dianjurkan untuk mendapatkan terapi keluarga (family therapy) atau kadang juga disebut sebagai  intervensi keluarga (family intervention) atau family psychoeducation (penyuluhan/pendidikan psikologi bagi keluarga).

Mengapa terapi keluarga diperlukan?

Karena penelitian membuktikan bahwa peranan keluarga dalam pemulihan gangguan jiwa sangatlah penting. Tanpa dukungan keluarga, kecil kemungkinan seseorang bisa pulih dari gangguan jiwa. Selain itu, adanya anggauta keluarga yang menderita gangguan jiwa juga bisa menyita perhatian dan kadang memerlukan dukungan biaya juga. Bila penderita menjadi khronis, maka kadang keluarga bisa mengalami kelelahan atau frustasi dalam menangani penderita gangguan jiwa. Oleh karena itu, di Inggris, setiap keluarga dengan penderita gangguan jiwa dianjurkan untuk mengikuti terapi keluarga atau psikoedukasi keluarga.

Apa itu terapi keluarga?

Dalam kaitannya dengan gangguan jiwa, terapi keluarga merupakan intervensi psikologis berupa pendidikan (pemberian pengetahuan) tentang segala seluk beluk gangguan jiwa (penyebab, gejala, pengobatan, efek samping obat, dll); tindakan untuk mencegah kambuh, mengatasi bila terjadi kambuh, dan langkah langkah yang diperlukan untuk membantu pemulihan gangguan jiwa.

Dalam terapi keluarga, peserta juga akan diberi pengetahuan dan teknik bagaimana membantu mengatasi halusinasi, waham, memonitor efek samping obat, mengendalikan stress (tekanan hidup). Selain itu, peserta program terapi keluarga juga akan mendapatkan ilmu dan ketrampilan pemecahan masalah, teknik relaksasi, dan penerapan praktis dari terapi kognitif perilaku (cognitive behavioral therapy) sederhana.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Obatilah sakitmu dengan sedekah

Di Tirto Jiwo sengaja tidak ditetapkan tarif biaya pengobatan. Harapannya adalah penderita gangguan jiwa dari keluarga miskin dapat mendapatkan pelayanan gratis, penderita dari keluarga yang tidak miskin membayar sesuai kemampuannya, dan penderita keluarga dari keluarga mampu membayar lebih sehingga terjadi subsidi silang.

Tirto Jiwo tidak membedakan perlakuan dan pelayanan pemulihan gangguan jiwa. Semua mendapat perlakuan yang sama.

Bagaimana dengan yang membayar lebih? Niatkanlah itu sebagai sedekah. Insya Allah nanti Allah sendiri yang akan membalas sedekah tersebut. Perlu diingat bahwa Allah yang menyembuhkan semua penyakit. Obat dan berbagai intervensi psikososial hanyalah perantara.

Berikut ini kami kutipkan ayat dalam al Quran dan hadis nabi Muhammad saw, sebagai pelajaran bagi kita semua.

Dalam Al Quran Surat As Shu-ara ayat 75-81, Allah berfirman:

” Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”.

Berikut ini hadis nabi Muhammad saw:

“Jagalah hartamu dengan zakat dan obatilah sakitmu dengan sedekah dan hadapilah segala cobaan dan bahaya dengan doa serta rendah hati.”(HR. Abu Hurairah)

Terapi Keluarga

Berbagai penelitian ilmiah sudah membuktikan bahwa bila suatu keluarga, dimana salah satu anggota keluarganya menderita gangguan jiwa, mendapat terapi keluarga (psiko-edukasi, intervensi keluarga), maka kondisi pasien akan lebih cepat pulih dan kemungkinan kambuh menjadi lebih sedikit.

Sayangnya, terapi keluarga masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Akibatnya, sebagian besar pasien menjadi kronis dan menjadi beban keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Biasanya terapi keluarga dilakukan oleh 2 orang petugas dengan mengunjungi keluarga si penderita. Kunjungan dilakukan secara berkala selama 18 bulan. Pada awalnya, kunjungan dilakukan 1-2 minggu sekali. Setelah 6 bulan, kunjungan dilakukan sebulan sekali. Setiap kunjungan berlangsung sekitar 1 jam.

Tujuan terapi keluarga adalah membantu keluarga dan penderita gangguan jiwa untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Dengan membantu keluarga tersebut, maka mereka akan bisa membantu pemulihan anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa agar bisa pulih dan hidup sehat di masyarakat. Terapi keluarga diberikan kepada seluruh anggota keluarga (yg sudah dewasa) dan teman/tetangga yang mau ikut mendukung Proses pemulihan.

Selama family terapi, anggota keluarga dan saudara/ teman, penderita, mendapat informasi tentang gangguan jiwa, seperti penyebabnya, gejalanya, cara mengatasi gejala, cara mencegah kambuh, memperkuat ketahanan jiwa, mengatasi krisis, dan lain lain. Ketika membahas gejala, penderita juga dapat diminta untuk menceritakan gejala yang dialaminya dan cara mengatasi yang selama ini dilakukannya. Biasanya, dalam setiap sesi pertemuan, keluarga diminta mengerjakan suatu tugas yang hasilnya akan dibahas dalam pertemuan berikutnya. Dengan penugasan tersebut, maka family terapi bisa menjadi lebih efektif karena waktu tidak hanya terbatas selama pertemuan.

Dalam  family terapi, semua peserta diminta secara aktif mengajukan tanya jawab dan bersama sama mencari pemecahan terhadap setiap permasalahan yang terkait dengan gangguan jiwa yang muncul di dalam keluarga tersebut. Teknik pemecahan masalah dan berbagai teknik mengatasi gejala, serta memperkuat ketahanan jiwa akan diajarkan untuk diterapkan.

Terapi keluarga telah terbukti efektif dan diterapkan di negara negara maju seperti Inggris. Apakah terapi keluarga juag bisa dan sesuai untuk Indonesia? Kita perlu mencoba dan menilai keberhasilan penetapan terapi keluarga di Indonesia

Perumahan dan pekerjaan bagi penderita gangguan jiwa

Latihan membuat kaos

Adanya rumah (tempat tinggal) dan pekerjaan adalah dua kunci penting dalam proses pemulihan gangguan jiwa.

Di Indonesia, belum ada program pendidikan dan pembimbingan bagi keluarga yang salah satu anggota keluarganya terkena gangguan jiwa. Akibatnya, karena hanya mengandalkan minum obat (sering juga penderita tidak patuh minum obat), maka penderita gangguan jiwa menjadi kronis. Akhirnya, setelah bosan merawat, penderita gangguan jiwa tersebut mulai ditinggalkan dan bahkan “dibuang”.

Di Amerika dan Inggris, ada program family therapy yang berlangsung selama 18 bulan. Tujuannya adalah menyiapkan keluarga agar dapat membantu proses pemulihan penderita gangguan jiwa. Selain itu juga ada program “supported employment”, yaitu program untuk membantu penderita gangguan jiwa yang telah mulai pulih untuk dapat bekerja dan mendapat penghasilan yang layak.

Di Tirto Jiwo, kami secara pelan mulai mengarah kesana. Saat ini, sudah ada 2 alumni (1 orang yang jadi motor, 1 orang lagi membantu/ magang) Tirto Jiwo yang berhasil membuka kios HP.

Kami sedang mempersiapkan lahan yang bisa dipakai untuk berkebun, berternak ayam atau burung, sehingga bisa dipakai sebagai latihan kerja. Dengan membuat peternakan ayam, walupun skala kecil, nantinya bisa dipakai untuk menumbuhkan  percaya diri, ketrampilan bergaul, berlatih berdagang dan latihan latihan praktis ketrampilan hidup lainnya.

Dalam hal perumahan, kami sedang mencoba mengembangkan ‘rumah kos” bagi penderita gangguan jiwa yang sudah pulih. Rumah kos tersebut tetap mendapat supervisi dan pembinaan dari Tirto Jiwo sehingga kondisi kejiwaan mereka tetap terpantau dan mendapat dukungan bila membutuhkan.

Kami akan sangat senang bila ada pembaca yang bersedia menjadi sukarelawan atau mitra dalam upaya membantu pemulihan gangguan jiwa. Kami menilai kegiatan tersebut merupakan ladang amal  untuk menggapai ridlo Allah

 

Kampung Tirto Jiwo

Agar bisa kembali pulih, setelah keluar dari RSJ, penderita gangguan jiwa memerlukan dukungan psikososial. Dukungan psikososial tersebut mencakup: dukungan agar penderita bisa mengelola gejala gangguan jiwanya, penderita dapat mempunyai aktivitas (pekerjaan) yang berarti bagi dirinya, dan penderita bisa berintegrasi kedalam masyarakat (kehidupan sosial).

Sayangnya, kebanyakan keluarga tidak mampu memberikan dukungan psikososial tersebut secara penuh. Untuk itu, diperlukan adanya sebuah tim yang memberikan pembinaan dan dukungan psikososial bagi penderita gangguan jiwa di rumah penderita. Hal ini yang dilakukan di MHA Village di Kalifornia, Amerika. Di MHA Village dan di Project Transition (www.projecttransition.com) , penderita tinggal di apartment umum (atau bersama keluarganya), namun mereka mendapat dukungan psikososial dari tim kesehatan jiwa dari MHA Village center.

Tirto Jiwo juga nantinya akan mengarah kesana. Penderita gangguan jiwa yang baru keluar dari RSJ akan sementara tinggal di asrama Tirto Jiwo. Secara bertahap kemudian penderita akan dipindah untuk tinggal di rumah penduduk di sekitar asrama Tirto Jiwo. Mereka akan mendapat dukungan dari Tim Tirto Jiwo hingga punya rasa percaya diri untuk hidup mandiri di luar lingkungan Tirto Jiwo.

Penderita gangguan jiwa akan mendapat bimbingan dalam mengelola penyakitnya, mendapatkan atau menciptakan pekerjaan untuk dirinya (self-employment) dan kembali bergaul dan berperan dalam masyarakat.

Sebenarnya, akan lebih bagus bila Pemerintah berkenan mengadopsi ide ini dan menerapkannya di Indonesia. Tanpa dukungan psikososial yang menyeluruh, Indonesia tidak akan pernah bisa bebas dari pasung.

Terapi Keluarga

Di Inggris, bila ada salah satu anggauta keluarga terkena gangguan jiwa, maka seluruh anggauta keluarga yang tinggal serumah dianjurkan untuk mendapatkan terapi keluarga (family therapy) atau kadang juga disebut sebagai  intervensi keluarga (family intervention) atau family psychoeducation (penyuluhan/pendidikan psikologi bagi keluarga).

Mengapa terapi keluarga diperlukan?

Karena penelitian membuktikan bahwa peranan keluarga dalam pemulihan gangguan jiwa sangatlah penting. Tanpa dukungan keluarga, kecil kemungkinan seseorang bisa pulih dari gangguan jiwa. Selain itu, adanya anggauta keluarga yang menderita gangguan jiwa juga bisa menyita perhatian dan kadang memerlukan dukungan biaya juga. Bila penderita menjadi khronis, maka kadang keluarga bisa mengalami kelelahan atau frustasi dalam menangani penderita gangguan jiwa. Oleh karena itu, di Inggris, setiap keluarga dengan penderita gangguan jiwa dianjurkan untuk mengikuti terapi keluarga atau psikoedukasi keluarga.

Apa itu terapi keluarga?

Dalam kaitannya dengan gangguan jiwa, terapi keluarga merupakan intervensi psikologis berupa pendidikan (pemberian pengetahuan) tentang segala seluk beluk gangguan jiwa (penyebab, gejala, pengobatan, efek samping obat, dll); tindakan untuk mencegah kambuh, mengatasi bila terjadi kambuh, dan langkah langkah yang diperlukan untuk membantu pemulihan gangguan jiwa.

Dalam terapi keluarga, peserta juga akan diberi pengetahuan dan teknik bagaimana membantu mengatasi halusinasi, waham, memonitor efek samping obat, mengendalikan stress (tekanan hidup). Selain itu, peserta program terapi keluarga juga akan mendapatkan ilmu dan ketrampilan pemecahan masalah, teknik relaksasi, dan penerapan praktis dari terapi kognitif perilaku (cognitive behavioral therapy) sederhana.

Sebenarnya informasi tentang teknik teknik tersebut telah dikupas dan tersebar diberbagai artikel di website ini.

Dukungan bagi keluarga penderita gangguan jiwa

Merawat penderita gangguan jiwa dalam jangka panjang yang tinggal serumah memang sering menimbulkan frustasi.  Lebih lebih bila keluarga tersebut tidak mempunyai pengetahuan yang memadai tentang apa itu gangguan jiwa dan bagaimana membantu memulihkan anggota keluarga yang terkena gangguan jiwa.

Apa yang diperlukan oleh keluarga agar bisa mendukung pemulihan anggota keluarganya yang terkena gangguan jiwa?

Yang pertama tentunya adalah pengetahuan tentang apa itu gangguan jiwa, apa penyebab gangguan jiwa, dan bagaimana membantu anggota keluarga yang terkena gangguan jiwa. Untungnya, saat ini cukup banyak artikel di internet yang bisa dipakai bahan pelajaran. Sayangnya, sebagian besar tulisan di internet tersebut memakai bahasa Inggris. Sangat jarang tulisan dalam bahasa Indonesia.

          Sebagai ilustrasi, ketika salah seorang dari anggauta keluarga ada yang dirawat dirumah sakit karena gangguan jiwa, maka keluarga perlu mencari informasi tentang hal hal sebagai berikut:

  1. apa diagnosa penyakitnya dan apa itu artinya?
  2. apa rencana pengobatan yang akan diberikan oleh rumah sakit/ dokter?
  3. apa yang perlu diketahui dan dilakukan untuk mencegah agar tidak kambuh?
  4. bagaimana mengetahui gejala gangguan jiwa?
  5. apa dan bagaimana caranya untuk mendapatkan dukungan (finansial, pelayanan, dll)?
  6. apa penyebab stress (tekanan jiwa) dan bagaimana menangani stress tersebut?
  7. bagaimana proses pemulihan gangguan jiwa?

Kedua, kemampuan mengelola stress atau tekanan hidup serta kemampuan berkomunikasi dengan baik. Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa bila suatu keluarga sering menyatakan emosinya secara terang terangan (marah, berdebat, menangis lain lain bentuk emosi yang kurang terkendali) maka akan semakin sering/ mudah penyakitnya kambuh.

Ketiga, kemampuan memecahkan masalah. Keluarga yang mempunyai kemampuan tinggi dalam memecahkan masalah (keuangan, kesehatan, masalah sosial lainnya) akan semakin kuat dalam mendukung pemulihan gangguan kesehatan bagi salah seorang anggauta keluarganya yang terkena gangguan jiwa.

Ketiga hal tersebut sangat penting, namun sering tidak cukup. Kadang keluarga juga memerlukan dukungan dari luar (teman atau saudara) yang bisa mendukung mereka dalam mengatasi permasalahan yang mereka hadapi.

Sayangnya di Indonesia, masih amat jarang adanya individu atau kelompok yang terlatih dan secara sukarela membantu suatu keluarga dengan gangguan jiwa. Di banyak negara maju, ada kelompok kelompok pendukung yang anggotanya adalah bekas penderita gangguan jiwa, atau seseorang yang mempunyai anggauta keluarga dengan gangguan jiwa. dukungan kelompok tersebut akan sangat membantu suatu keluarga dalam memulihkan anggauta keluarganya yang terkena gangguan jiwa.

Pelan pelan, Tirto Jiwo juga nanti akan mengarah kesana. Tirto Jiwo juga akan menjadi pusat pelatihan bagi keluarga dan sukarelawan pendukung keluarga dengan gangguan jiwa. ilmunya sudah ada, masalahnya saya masih harus bekerja di luar negeri.

Peranan keluarga dalam penyembuhan penderita gangguan jiwa berat

Ada kaitan yang erat antara penderita gangguan jiwa berat yang menjadi kronis dengan tidak adanya dukungan keluarga. Semakin lemah dukungan dari keluarga (atau teman, tetangga, masyarakat), maka kemungkinan seorang penderita gangguan jiwa menjadi kronis akan semakin besar. Dengan kata lain, agar bisa menjadi pulih, dukungan keluarga (teman atau masyarakat) sangat diperlukan.

Sayangnya, banyak keluarga yang kurang mendukung, atau terlalu cepat menyerah ketika salah satu anggota keluarganya ada yang terkena gangguan jiwa. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka (keluarga) tidak tahu apa yang harus dilakukan. Setelah tahu apa yang harus dilakukan, keluarga sering tidak sanggup ketika harus bersusah payah melakukan semua upaya bagi kesembuhan anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa tersebut.

Sebenarnya apa yang harus dilakukan oleh keluarga agar penderita gangguan jiwa bisa sembuh?

Pertama dan paling penting adalah mendoakan dengan sungguh sungguh bagi kesembuhan penderita gangguan jiwa tersebut. Berdoa dengan sungguh sungguh berarti berdoa dalam jumlah (kuantitas) yang banyak, dalam waktu yang lama (setiap hari selama berbulan-bulan), pada waktu dan tempat yang mustajab (misalnya: setiap selesai sholat tahajud atau di masjidil haram) dan dilakukan secara bersungguh-sungguh. Hal ini yang sering banyak dilupakan atau tidak dikerjakan oleh keluarga penderita gangguan jiwa.

Dengan doa yang sungguh sungguh dari keluarga, maka nanti akan terbuka jalan bagi penyembuhan penderita gangguan jiwa.

Doa dari ibunya yang bersungguh-sungguh telah mengundang datangnya pertolongan Allah. Meskipun telah beberapa tahun dipasung, seorang penderita dari desa Gebang, Purworejo bisa kembali pulih.

Penderita lain lagi dari desa yang berbeda, ada yang kambuh, ibunya langsung mengadakan doa bersama dan tidak henti-hentinya berdoa memohon kesembuhan anaknya. Tidak lama kemudian, anaknya bisa pulih dan bisa kembali  bekerja.

Kesimpulannya. Mari kita mohon keajaiban Allah bagi kesembuhan anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa agar bisa kembali hidup produktif di masyarakat.

 

Perlunya pengorbanan keluarga dekat agar anggota keluarganya bisa pulih dari gangguan jiwa

Sebelum kemerdekaan Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia masih buta huruf atau hanya mengenyam pendidikan dasar. Pada tahun 1940an, Sukarno adalah seorang insinyur lulusan ITB dan Mohammad Hatta adalah sarjana ekonomi lulusan Belanda. Bila hanya ingin hidup senang dan kaya, mereka tidak perlu menjadi pejuang bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan menjadi pegawai perusahaan milik Belanda, Sukarno dan Hatta bisa hidup mewah. Sukarno dan Hatta memilih berkorban dan menjadi pejuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sukarno dan Hatta kenyang dipenjara dan dibuang ke daerah terpencil. Tanpa pengorbanan mereka, Indonesia tidak akan bisa merdeka di tahun 1945.

Dengan pengorbanan mereka, Indonesia bisa merdeka. Sukarno dan Hatta menjadi orang yang mulia dan sukses. Artinya, mereka mendapat balasan juga selama di dunia dengan kemuliaan dan hidup berkecukupan. Para pahlawan lain yang gugur sebelum kemerdekaan, insya Allah akan mendapat balasannya dengan surga.

Membantu anggota keluarga pulih dari gangguan jiwa juga memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Pengorbanan tersebut sering tidak hanya berupa uang, kadang berupa tenaga, pikiran, perasaan dan waktu. Tanpa pengorbanan keluarga dekat, hampir tidak mungkin penderita gangguan jiwa bisa pulih.

Apa saja bentuk pengorbanan yang diperlukan? Pertama dengan menciptakan suasana rumah yang tenteram, jauh dari bising TV/ musik, tidak ada bentakan bentakan, kritik tajam, ejekan, dll. Penderita gangguan jiwa juga perlu didukung agar bisa beraktivitas sesuai tingkat kemampuan dan kesenangannya. Penderita gangguan jiwa perlu didorong untuk beraktivitas, misalnya: berkebun, berternak atau memelihara kucing, burung, melukis atau bermain musik. Selama beraktivitas tersebut, utamanya pada awalnya, diperlukan teman yang mendampingi.

Keluarga dekat juga perlu membantu agar penderita gangguan jiwa bisa minum obat sesuai ketentuan dokter dan memantau adanya efek samping. Kegiatan yang tidak kalah penting adalah berdoa (sholat tahajud) dan bersedekah. Kedua hal tersebut bukan hal yang ringan.Bila sudah memungkinkan, penderita gangguan jiwa juga perlu mulai dilatih sholat dan bersedekah.

Insya Allah, pengorbanan tersebut tidak akan sia sia. Balasannya adalah kesembuhan anggota keluarga dari gangguan jiwa dan pahala dari Allah SWT.