THR 4 bulan gaji, Mau? Oleh Muhaimin Iqbal

Membaca judul tulisan ini para pembaca akan langsung terbelah. Kelompok terbesarnya tidak percaya, kelompok kedua percaya  tetapi tidak melaksanakannya, kelompok ketiga adalah yang curiga, kelompok keempat tidak peduli dan sedikit kelompok terakhir yang percaya dan melaksanakannya. Yang terakhir inilah yang paling beruntung karena insyaAllah Anda akan bener-bener mendapatkan THR 4 x dari Gaji bulanan Anda. Bagaimana caranya ? 

Kita semestinya yakin dan percaya bahwa janji Allah pasti benarnya, tetapi tingkat keimanan kitalah yang menjadi kendala untuk berbuat maksimal mengikuti janji-janjiNya. Bagi kelompok yang curiga-pun Anda tidak salah, karena biasanya kalau ada orang menganjurkan sedekah seperti ini buntutnya memberi nomor rekening yayasan atau institusinya atau lebih parah lagi memberikan rekeningnya sendiri. 

Nah sedekah yang saya anjurkan disini bukan untuk institusi, yayasan ataupun diri saya – silahkan Anda sedekahkan ke kerabat dekat Anda masing-masing di kampung mumpung lebaran. Atau kepada siapapun yang Anda yakini amanah dengan sedekah Anda.  

Yang ingin saya sampaikan hanyalah satu ayat di Al-Qur’an yang memungkinkan bagi Anda untuk melipat gandakan rezeki Anda – dan bahkan ada hitungannya – yang saya sebut Matematika Ilahiah. 

Perhatikan janjiNya di ayat berikut ? siapa yang tidak percaya pada janjiNya ?  

Barangsiapa berbuat kebaikan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat amalnya…” (QS 6 :160)  

Nah bagaimana kita mengamalkan ayat ini secara konkrit ? tentu niat kita sedapat mungkin jangan beramal untuk mendapatkan imbal balik yang lebih banyak, tetapi beramal untuk membenarkan janjiNya tersebut di atas. Bahwasanya dari sana kita akan diberi balasan sepuluh kali lipat atau bahkan lebih – itu sepenuhnya hak Allah.  

Tetapi saya mencoba memahami janjiNya tersebut dengan angka, agar kita bertambah kuat keimanan kita – karena di ayat inipun Allah memberi angka – jadi tidak salah bila kita terus jabarkan angka tersebut dengan angka lagi.  

Asumsinya Anda sekarang menerima THR x atau saya anggap 100% dari gaji bulanan Anda. Sebesar apapun angkanya, kebanyak manusia tidak merasa ini cukup – jadi kemungkinannya Andapun merasa ini kurang.  

Matematika Ilahiah Untuk THR 4 Bulan Gaji

Tetapi disinilah Matematika Ilahiah itu berlaku. Bila dengan THR 100% saja Anda tidak merasa cukup, apa mungkin Anda akan kurangkan 33% atau 1/3nya untuk sedekah ? 

Hanya Anda yang termasuk sedikit orang yang percaya dan melaksanakan sajalah – yang akan melaksanakan inspirasi dari ayatNya ini. Sesuai janjiNya, maka 33 % dari THR yang Anda sedekahkan akan dibalas dengan minimal 10 kali lipat, artinya menjadi 330% dari THR Anda.  

Selain balasannya yang akan menjadi 330% tersebut, Anda juga masih punya 67% dari THR Asal. Jadi berapa THR Anda setelah proses ini berlangsung ?, THR Anda menjadi 330% + 67% atau menjadi 397% atau medekati 4 kali dari THR semula.  

Tentu balasan dari Allah bukan seperti uang yang tiba-tiba turun dari langit atau tiba-tiba ada di depan pintu rumah Anda di malam hari, meskipun inipun memungkinkan bila Allah berkehendak – Namun kalau ini yang terjadi – wajar Anda curiga karena yang seperti ini pernah menjadi modus kejahatan yang sampai sekarang sedang ditangai pihak yang berwajib.  

Juga bukan transfer ndak jelas, dari pihak lain ujug-ujug masuk rekening Anda. Bila ini yang terjadi kemungkinannya itu uang suap , uang salah transfer dan sejenisnya yang minimal akan membuat Anda repot bila di belakang hari menjadi temuan KPK atau menjadi fakta persidangan.  

Allah punya cara tersendiri untuk merealisasikan janjiNya – baik bentuk maupun waktunya, dan pastinya itulah terbaik menurut Allah dan berarti terbaik pula untuk kita. Perhatikan ayatNya sebagai berikut :  

Dan tidak ada sesuatupun, melainkan disisi Kamilah khazanahnya (sumber/supply-terj). Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu” (QS 15:21).  

Masih tidak percaya bahwa Anda bisa memperoleh THR 4 x Gaji ?, belajarlah dari Siti Aisyah ketka menasihati pembantunya

Saya bersumpah demi Allah, seseorang tidak bisa sampai benar-benar beriman sampai dia lebih percaya kepada Allah dari apa yang ada di tangannya – sesuatu yang bisa dilihat digenggaman tangannya”.  

Nah THR Anda kini sudah ada di genggaman tangan Anda, sudah dapat Anda lihat fisiknya berada digenggaman tangan – well mayoritasnya angka di bank – tetapi as good as uang yang Ada digenggaman tangan Anda. Maukah Anda melepaskannya karena Anda lebih percaya kepada janji Allah  dari uang THR yang sudah digenggaman tangan tersebut ? Jawabannya tergantung seperti apa tingkat keimanan kita  seperti yang disampaikan oleh Siti Aisyah tersebut di atas.  

Dari sinilah kita lebih mudah paham, mengapa di negeri yang penduduknya bener-bener beriman dan bertakwa – Allah akan bukakan pintu-pintu berkah dari langit dan dari bumi (QS 7:96). Karena bayangkan orang-orang yang mudik memadati sepanjang jalan-jalan di Jawa, Sumatra dan pulau-pulau lainnya. Mereka adalah orang-orang yang baru menerima THR dari kantornya masing-masing.  

Apa jadinya ketika dalam perjalananya itu masing-masing menyedekahkan 1/3 dari THR-nya, berkah akan melimpah dari bumi dan dari langit Indonesia. Yang tidak bekerja akan ikut-ikutan memperoleh ‘THR’, proyek-proyek amal akan terakselerasi progressnya. Dan yang mensedekahkan THR-nya 1/3 , Allah lipat gandakan dengan berbagai kebaikan yang sampai empat kalinya.  

Jadi mau dapat THR 4 x Gaji sambil menghadirkan keberkahan di negeri ini ? 

Menunjukkan satu kebaikan pahalanya adalah sama dengan kebaikan itu sendiri. Maka ayo, kita saling mengajak kepada kebaikan ini. Mumpung masih bulan Ramadhan, pahalanya bisa berlipat-lipat lagi. Lagi-lagi bukan untuk saya atau institusi saya, saya tidak memberi rekening – dan Anda boleh curiga kalau saya memberi nomor rekening. Tetapi ini untuk bangsa ini yang lagi sangat membutuhkan berkahNya, tebarkanlah sedekah itu di lingkungan Anda masing-masing. InsyaAllah bersama-sama kita bisa menghadirkan keberkahan itu. 

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Perkuat ketahanan jiwa dengan sedekah

Dalam psikologi, ada yang dikenal dengan istilah mekanisme pertahanan (defence mechanism). Mekanisme pertahanan menjaga jiwa agar tetap sehat ketika menghadapi tekanan hidup.

Teori tentang mekanisme defensi tersebut pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud lebih dari seabad yang lalu. Dr George E. Valliant dari Universitas Harvard membagi mekanisme defensi menjadi  4 tingkatan, yaitu tingkat patologis, tingkat tidak matang, tingkat neurosis, dan tingkat matang atau dewasa.

Sedekah atau menolong sesama (altruisme) merupakan salah satu mekanisme defensi tingkat dewasa. Dengan sering atau secara rutin melakukan sedekah maka ketahanan jiwa yang bersangkutan akan semakin kuat sehingga akan mampu menghadapi berbagai persoalan hidup.

Ibu Sumirah sejak remaja selalu menyedekahkan 50% penghasilannya untuk sedekah sehingga meskipun hanya lulusan SD (SMP tidak tamat) dia tidak pernah kesulitan secara ekonomi. Bahkan Ibu Sumirah mampu membangun masjid, memperbaiki jalan di desanya, mendirikan panti asuhan, dll.

Silahkan lihat tayangan Kick Andy yang menjadikan Ibu Sumirah sebagai nara sumber  dengan melihat tayangan berikut

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Menolong sesama membuat jiwa jadi bertambah kuat

Image

Altruisme (menolong sesama) adalah salah satu jenis pertahanan jiwa (defense mechanism). Dengan secara rutin melakukan kegiatan menolong sesama akan membuat jiwa seseorang menjadi semakin kuat sehingga yang bersangkutan akan mampu mengatasi permasalahan hidup yang menghadangnya

 

 

Bymaristan

Bymaristan

Oleh : Muhaimin Iqbal

Beberapa tahun lalu Bloomberg mengolah data dari PBB, WHO dan Worldbank untuk kesehatan, hasilnya dituangkan dalam bentuk ranking negeri-negeri yang paling sehat sampai negeri yang paling tidak sehat. Dari 145 negara yang di-rangking, yang paling sehat adalah Singapore dan yang paling tidak sehat adalah Swaziland. Indonesia berada di urutan 90 dan Amerika Serikat berada di urutan no 33, yang menarik sekali adalah ternyata urusan sehat ini tidak terkait dengan besarnya biaya kesehatan yang kita keluarkan. 

Ketika saya cross-check dengan biaya-kesehatan per capita yang dikeluarkan oleh OECD dan juga WHO, saya bisa memahami mengapa Indonesia berada di urutan 90 – lha wong biaya yang kita keluarkan untuk  kesehatan kita memang hanya di kisaran US$ 130 per kapita per tahun. 

Yang aneh adalah di negeri yang biaya kesehatan per kapitanya terbesar di dunia , yaitu Amerika Serikat dengan pengeluaran US$ 9,523 ternyata mereka juga bukan negeri yang paling sehat, mereka hanya berada di urutan no 30 dari negeri yang paling sehat di dunia. 

Lantas apa masalah yang sesungguhnya di industri kesehatan ini ? Mengapa biaya kesehatan tidak berbanding lurus dengan tingkat kesehatan rata-rata penduduk ? Dugaan saya adalah sebagian dari biaya kesehatan tersebut larinya bukan untuk pengobatan itu sendiri – tetapi ke profit margin industri-nya sendiri. 

Lari ke pabrik obat untuk membayarai nilai paten dari suatu obat, bahan obat yang murah bisa menjadi sangat mahal karena patent-nya bukan karena ongkos produksinya. Lari ke rumah sakit untuk membayari biaya layanan atau peralatan yang tidak mutlak perlu sekalipun. 

Juga lari ke industri penunjang yang mengelola dananya, seperti asuransi komersial yang tentu saja mengambil profit margin dari pengelolaan dana kesehatan itu sendiri. Bahkan juga asuransi sosial yang eksekutif-eksekutifnya bergaji selangit. 

Dari realita tersebut diatas, maka digenjot seberapa tinggipun biaya kesehatan kita – bila pengelolaannya masih juga diiringi oleh berbagai kepentingan komersial – maka ini tidak akan berarti banyak dalam meningkatkan kesehatan rata-rata penduduk kita. 

Lantas bagaimana solusinya ? Pertama yang harus diubah adalah mindset, bahwa ketika ada saudara kita yang sakit – dia bukanlah target untuk mengambil keuntungan oleh siapapun. Sebaliknya, dia adalah target amal shaleh – kesempatan yang sehat untuk bisa beramal shaleh terhadap si sakit. 

Fokus pada berlomba-lomba dalam kebajikan inilah yang dahulu melahirkan apa yang disebut Bymaristan – rumah untuk merawat oarng yang sakit di masa-masa peradaban Islam memimpin dunia. 

Di Bymaristan orang sakit tidak dikenai biaya, karena saudaranya yang sehat akan berlomba beramal shaleh menolongnya. Si sakit bahkan ketika dia sudah sembuh, dibekali dengan baju baru dan uang secukupnya – agar dia tidak buru-buru harus bekerja lagi ketika masih dalam periode penyembuhan dari sakitnya. 

Darimana dananya ? ya dari orang-orang sehat yang mampu – yang ingin berbuat baik pada saudaranya yang lagi tidak berdaya karena sakit. 

Pertanyaannya adalah apakah konsep ini sekarang mungkin kita hidupkan lagi ? Kitabnya masih sama, nabinya masih sama – semua contoh terbaiknya masih sama – mengapa kita tidak bisa melakukannya ? Asal ada kemauan saja – insyaAllah kita akan bisa mengulanginya. 

Bayangkan diri Anda sedang di UGD sebuah rumah sakit menemani saudara yang sakit. Datang tergopoh-gopoh suami istri yang membawa anaknya yang lagi kritis, tetapi untuk bisa dirawat dia perlu menyerahkan jaminan Rp 15 juta – yang tidak semua orang memilikinya setiap saat. 

Saat itu yang ada Anda dan Anda punya uang ratusan juta di bank, maukah Anda berbuat ? Saya yakin mayoritas pembaca situs ini akan mau melakukannya. 

Tetapi kita tidak sering-sering nongkrong di UGD rumah sakit, sehingga kita tidak tahu bahwa peristiwa yang saya sampaikan di atas terjadi setiap saat dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Sebagian menjadi berita, sebagian besar lainnya tidak – dan sudah dianggap biasa.  

Itulah sebabnya institusi semacam Bymaristan tersebut perlu hadir, agar orang-orang yang berniat membantu saudaranya yang sakit – dia bisa melakukannya setiap saat tanpa harus mengetahui siapa yang datang ke rumah sakit dan lagi perlu pertolongan hari itu.  

Hanya saja untuk mewujudkan konsep Bymaristan yang sesungguhnya akan perlu dana besar untuk membeli lahan, membiayai pembangunan dan peralatannya, perlu serangkian perijinan rumah sakit yang njlimet luar biasa dlsb. Walhasil konsep ini meskipun ideal, perlu effort yang luar biasa dari umat ini untuk menghadirkan kembali. 

Bukan berarti tidak akan kita lakukan, tetapi tahapannya yang akan kita mulai persis mengikuti sirah – ketika Bymaristan-bymaristan tersebut belum hadir di masa kaum muslimin berkecukupan dalam penguasaan ekonomi – apa yang diperbuat kaum muslimin ? 

Rumah sakit pertama dalam Islam yang hadir di jaman Nabi adalah rumah sakit bergerak – bahasa kerennya sekarang adalah mobile hospital. Yaitu ketika terjadi perang Khandak, tatkala Sa’ad bin Muadz terluka di tangannya. Saat itu nabi bersabda ‘…Tempatkan dia di kemah Rafidah sampai aku menyambanginya sebentar lagi !’ Kemah Rafidah inilah rumah sakit pertama yang tercatat dalah sirah uswatun hasanah kita. 

Kemudian cara seperti ini dilanjutkan oleh para khalifah dan sultan-sultan Islam sesudahnya. Rumah sakit bergerak ini makin maju dan makin lengkap dengan segala macam pengobatan dan dokter-dokter terbaik pada jamannya. Bahkan dalam masa Sultan Muhammad Seljuk – rumah sakit bergerak itu ada yang  sampai perlu diangkut dengan 40 unta – saking besar dan lengkapnya !  

Juga bukan hanya untuk masa perang, tetapi untuk menyambangi daerah-daerah yang jauh dari keramian dan jauh dari perhatian pemimpin pada umumnya. Seperti yang ditulis oleh Wazir Isa bin Ali al Jarrah kepada Sinan bin Tsabit – dokter pengawas rumah sakit di salah satu pusat peradaban Islam saat itu – yaitu Bagdad. 

Aku memikirkan penduduk desa-desa. Di antara mereka tentu ada yang sakit, padahal disitu tidak ada dokter yang mengawasi dan mengobatinya. Maka kirimkan dokter-dokter berikut persediaan obat-obatan dan minuman ke desa-desa…”.  

Kisah-kisah indah membantu saudara-saudara kita yang lagi membutuhkan inilah yang ingin kita ulangi. Kalau membuat rumah sakit lengkap belum ada dananya, ya kita buat rumah sakit bergerak – alias ambulan-ambulan yang dilengkapi segala macam obat dan peralatan yang dibutuhkan. 

Dengan beberapa ratus juta insyaAllah kita sudah bisa merintis cikal bakal lahirnya Bymaristan yang utuh, tugas kita memulai untuk melempar – nanti Allah-lah yang akan meneruskan lemparan kita ini, insyaAllah. 

Saya yakin dokter-dokter yang mebaca situs ini juga akan tergerak untuk membantunya, demikian pula para pembaca situs ini utamanya yang sudah di atas 40 tahun. Bukankah Anda sering berdo’a yang disyariatkan untuk orang yang diatas 40 tahun : 

Ya Rabbi, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridloi; berilah kebaikan kepadaku yang akan mengalir sampai ke anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“. (QS 46:15)  

Kita berdo’a untuk dimudahkan dalam beramal shaleh, maka ketika ada peluang amal shaleh yang ada di depan mata kita – masak kita tolak ? Pengelolaan kesehatan  ala kapitalisme barat sekarang – ternyata tidak menyehatkan rakyatnya seperti fakta-fakta tersebut di awal tulisan ini, dan kita berpeluang untuk memperbaikinya – mengapa tidak kita lakukan ?  

Mengapa tidak kita coba alternatifnya yang tinggal mencontoh saja – lha wong ini semua sudah dilakukan dalam sejarah peradaban Islam yang sangat panjang. Solusi ini juga akan meringankan beban pemerintah, beban rumah sakit-rumah sakit yang ada sekarang, juga beban para dkter sendiri – jadi harusnya mendapat dukungan dari semua pihak, atau minimal tidak diganggu !  

Untuk merealisasikan ini, yang kami butuhkan juga bukan hanya para dokter, paramedis ,donator dan sukarelawan – karena mobil-mobil ambulan perdananya insyaallah akan segera siap – kami juga butuh para engineer dan ahli manufacturing yang canggih di bidangnya masing-masing.  

Saat ini misalnya kami butuh engineer yang sangat menguasai proses pabrikasi mesin-mesin canggih bertekanan tinggi, mungkin engineer perminyakan yang cocok. Apa hubungannya dengan kesehatan ?  

Bahan- bahan obat itu berlimpah di sekitar kita, tetapi untuk mengolahnya kita butuh kemampuan teknik yang tinggi. Teknologi ekstrak yang terbaik untuk bahan obat  dari tanaman hingga kini adalah apa yang disebut Super Critical Fluid Extraction (SCFE), prinsip kerjanya sederhana – bisa kami jelaskan  hanya kami butuh engineer yang tepat untuk pabrikasinya – agar biaya obat bisa ditekan serendah mungkin, agar impor bahan obat juga dapat kita minimalisir tinggal yang benar-benar perlu dan tidak ada bahan bakunya di negeri ini.  

Ketika kesehatan dikelola sebagai project amal shaleh – bukan lagi project komersial, maka insyaAllah kita akan bisa menempatkan negeri ini menjadi negeri paling sehat – mengalahkan negeri jiran terdekat kita yang saat ini dinilai paling sehat, tanpa harus menaikkan biaya kesehatan kita 20 kali lipat dari sekarang menyamai Singapore yang sudah lebih dari US$ 2,500 per kapita !  

Dan untuk ini kita tidak perlu reinvent the wheel, contoh konkritnya sudah ada tinggal mengulanginya. Contoh daruratnya adalah rumah sakit bergerak alias ambulan-ambulan yang lengkap, contoh lengkapnya nanti bila sudah memungkinkan adalah Bymaristan yang utuh – meliputi pengelolaan kesehatan sekaligus pengelolaan pembiayannya ! InsyaAllah. 

Pembangunan mushola Tirto Jiwo

IMG-20160325-WA0003Ternyata pembangunan mushola, karena berbagai kendala, terpaksa molor dari jadwal semula.

Alhamdulillah, kini sudah mulai menggarap atap. Semoga pembangunan mushola dapat segera selesai.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

6 Saran dalam menggalang dana secara online

cropped-header-web-srBagaimana cacarnya agar dapat menggalang dana untuk kegiatan social secara online?

Pertanyaan tersebut sangat sesuai bagi saya yang mengelola Tirto Jiwo, Pusat pemulihan dan pelatihan gangguan jiwa da Klinik Umiyah, klinik rawat inap bagi dhuafa. Nah, daripada ilmunya dipakai sendiri, saya share saja ilmu yang saya dapat. Semoga menjadi lebih berkah.

Agar lebih kongkrit, ada baiknya kalau kita belajar dari organisasi yang sudah terbukti mampu menggalang dana secara efektif.

Ada sebuah gerakan yang menyebut dirinya sebagai #sedekah rombongan, mulai beraktivitas sejak tahun 2011, dalam waktu kurang dari 2 tahun sudah mampu menggalang dana hingga mencapai Rp 2 milyar. Hingga bulan September 2015,  #sedekahrombongan telah mampu menggalang dana sebesar Rp 28 Milliar lebih.

Apa rahasianya? Salah satu kunci utamanya adalah karena mereka mampu menyajikan foto dan cerita yang menyentuh. Tentunya ada faktor yang lain, seperti (a) mereka tidak memakai uang sumbangan untuk biaya operasionalnya dan (b) memegang amanah dengan sanat teguh. Mereka rela masuk neraka bila sampai menyalah gunakan uang sedekah.

Menurut Katya Andersen, ahli dalam marketing untuk organisasi nirlaba, ada beberapa karakteristik dimana sebuah website bisa menggerakan para dermawan untuk menyumbang.

Katya Andersen menyatakan bahwa data yang kering ternyata kurang bermanfaat. Data statistik tidak akan “go viral:, tidak akan di share atau dibagikan oleh para pengguna social media.

Foto dan cerita yang menyentuh hati dan menggerakkan lebih bisa mengajak dermawan untuk menyumbang. Masalahnya sekarang, bagaimana agar foto dan cerita di website kita bisa menyentuh dan menggerakan?
Ada 6  elemen dari cerita yang baik:

  1. relevant dengan pembaca atau pengunjung website
  2. biasanya berupa cerita tentang seseorang atau masyarakat
  3. membawa pesan tertentu
  4. cukup detail sehingga membuat cerita lebih “bisa dipercaya”
  5. menyenangkan atau menarik dibacanya
  6. tidak terlalu panjang

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Cara menemukan lentera jiwa-5

200309-omag-beck-passion-600x411Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya

Salah satu topic yang menarik dalam kaitannya dengan passion (lentera jiwa) adalah bagaimana kalau lentera jiwa tidak dapat menghasilkan penghasilan untuk hidup.

Dalam dunia ini ada scenario A, dimana lentera jiwa tidak menghasilkan penghasilan yang mencukupi untuk hidup. Ini terjadi pada banyak seniman (pelukis, penyanyi, pemain film, dll). Penyanyi top atau pelukis top memang dapat menghasilkan uang yang banyak, tapi sebagian besar penyanyi (atau yang ingin menjadi penyanyi) tidak dapat hidup dari bernyanyi. Begitu pula dengan pelukis dan seniman lainnya.

Scenario B adalah kondisi dimana kita bekerja ditempat yang menghasilkan banyak uang, tetapi kita tidak menikmati pekerjaan tersebut. Kita merasa tersiksa atau tidak termotivasi untuk bekerja.

Scenario C adalah kita bekerja sesuai dengan lentera jiwa (passion) kita dan menghasilkan banyak uang. Tantangan bagi kita adalah bagaimana caranya agar lentera jiwa kita dapat menghasilkan banyak uang.

Berikut ini cara agar lentera jiwa kita dapat menghasilkan uang:

  • Jangan lihat orang biasa, belajar dari orang yang hebat. Disekitar kita banyak sekali orang yang punya passion, tapi tidak dapat hidup dari passion-nya tersebut. Jangan dibuat pesimis oleh mereka. Kita perlu belajar dari orang orang yang hebat yang dapat membuat passion mereka menghasilkan uang. Di bidang tulis menulis ada Paulo Coelho, dibidang bisnis ada Bill Gate, dan banyak yang lain.
  • Rahasia orang orang hebat. Orang orang hebat tersebut mempunyai ciri ciri atau karakteristik seperti pekerja keras, mau belajar meningkatkan kemampuannya, hidup hemat, dan berbagai ciri ciri hebat lainnya. Namun, kita tahu bahwa banyak orang yang sudah bekerja keras tetapi tetap miskin. Profesor yang punya banyak ilmu, tetapi hidup pas-pasan. Salah satu rahasia orang hebat yang tidak banyak dikaitkan dengan kehebatan maupun kesuksesan mereka adalah bahwa banyak bersedekah dan menolong orang miskin. Paulo Coleho punya panti asuhan dan sekolah untuk orang miskin. Bill Gate setiap tahun menyumbang jutaan dollar. Banyak penguasaha besar yang punya yayasan social (misal: Sasakawa Foundation, Ford Foundation). Bila anda ingin menggabungkan antara passion dengan penghasilan, maka kuncinya adalah sedekahkan minimal 10% penghasilan atau 10% jam kerja anda untuk menolong orang miskin.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Cara mengatasi perasaan tidak berdaya (learned helplessness)-3

Ibu Sumirah

Ibu Sumirah

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya.

Pada saat ini, dengan telah mengguritanya system kapitalisme , maka sebagian besar pekerja akan sangat sulit untuk dapat hidup berkecukupan. Bagi kebanyakan pekerja, termasuk pegawai negeri sipil, gaji mereka hanya cukup untuk hidup pas-pasan. Cari tambahan penghasilan yang halal juga tidak gampang.Sebagian besar waktu, tenaga dan pikiran sudah tersedot oleh pekerjaan yang ditekuninya sekarang. Tidak cukup tabungan tersedia untuk memulai usaha sampingan.

Bagaimana caranya menembus batas dan perangkap yang menjerat?

Kita perlu belajar dari orang orang yang telah terbukti mampu mengatasi semua rintangan tersebut. Ada beberapa teladan yang akan saya ulas sebagai pelajaran.

  1. Ibu Sumirah, seorang ibu tamatan SMP yang bekerja sebagai tukang pijat, tukang sol sepatu, buruh pabrik. Beliau mampu mempunyai penghasilan (tahun 2008) sebesar Rp 2 juta perhari. Dia terapkan nasihat ayahnya.  ‘Kalau kamu punya rezeki, 50 persen untuk kamu dan 50 persen lagi untuk mushala. Pasti rezeki itu akan barokah’,”
    Pesan almarhum ayahnya terus diingat Sumirah. Setiap rupiah yang dihasilkan selalu disisihkan untuk mushala. Ketika SD dan tinggal di Pacitan, orderan memijat datang hingga Madiun, bahkan Semarang. Saat SMP Sumirah dan kakaknya hijrah ke Jakarta. Di kota megapolitan ini Sumirah tidak tertarik mencicipi pekerjaan lain. Kebetulan, kemampuan memijatnya tersohor hingga ke Jawa Barat. Pada 1986 Sumirah dan suami mencari peruntungan di Surabaya. Di kota ini selain tetap memijat, ia bekerja di pabrik PT Horison Sintex (sekarang Lotus). Ia hanya masuk pabrik hari Selasa, Rabu, dan Kamis.Dia menyisihkan 50% penghasilannya untuk membangun mushola, memperbaiki jalan dikampungnya, dan membuat serta mengelola panti asuhan. Silahkan kunjungi Ibu Sumirah di Panti Asuhan Amanah sekaligus rumahnya di Jalan Pandugo Gg II Nomor 30 B, Rungkut.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Wifi gratis

11418258_1042599875750968_946290907_nBerkat dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Purworejo, maka di Tirto Jiwo tersedia fasilitas wifi.

Kami sengaja tidak memasang password, sehingga masyarakat sekitar, terutama anak anak dapat memanfaatkannya.

Dalam foto terlihat beberapa anak anak memanfaatkan fasilitas wifi dengan berada disekitar bangunan Tirto Jiwo.

 

Semoga Tirto Jiwo dapat membawa keberkahan, tidak hanya kepada penderita gangguan jiwa, namun juga kepada masyarakat sekitar.   11292959_1042617165749239_1421161621_n11303524_1042611335749822_1401643520_n

Cukuplah Allah bagi kami

Kolam Ikan Hias, masih dalam tahap pembangunan

Kolam Ikan Hias, masih dalam tahap pembangunan

Pada saat ini, Tirto Jiwo sedang membangun sebuah kolam ikan hias. Kami harapkan dengan adanya kolam ikan tersebut, maka suasana Tirto Jiwo akan semakin mendukung proses pemulihan.

Kami sengaja membangun prasarana Tirto jiwo berada dalam pertengahan. Keinginan kami, bangunan Tirto Jiwo tidak mewah bagi kalangan miskin, namun juga tidak jelek bagi kalangan berada.

Kami juga sengaja tidak menentukan tarif secara ketat. Bagi keluarga miskin, kami akan dengan sepenuh hati melayani. Bagi keluarga mampu, kami mengharapkan pengertiannya untuk membayar lebih sebagai bentuk infaq untuk mendapatkan keberkahan dari Allah. Keberkahan dari Allah swt merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kesembuhan seseorang dari gangguan jiwa. Bila Allah menghendaki, seberat apapun kondisi kesehatan jiwanya, akan dengan mudah dipulihkan.

Namun, namanya juga manusia. Beberapa keluarga yang mampu mencoba untuk membayar serendah mungkin. Mereka pikir bahwa membayar sedikit mungkin itu bagus buat mereka.

“Cukuplah Allah bagi kami, Allah yang akan memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami”