Program pemulihan gangguan jiwa di rumah masing masing (3): mencegah kambuh

Langkah ketiga adalah mempelajari teknik psikososial untuk memulihkan penderita gangguan jiwa. Sebagaimana telah dijelaskan dimuka, teknik tersebut ada yang perlu diterapkan kepada semua jenis gangguan jiwa, namun ada juga teknik khusus untuk mengatasi masalah khusus.

Salah satu teknik atau pendekatan yang perlu dipelajari oleh semua orang adalah teknik mencegah kambuh.

Penderita gangguan jiwa bisa pulih selamanya tanpa pernah kambuh. Meskipun demikian, kebanyakan penderita gangguan jiwa yang sudah pulih masih bisa kambuh kembali. Walaupun sedang dalam pengobatan, penderita gangguan jiwa bisa kambuh kembali.

Untungnya, kambuh biasanya tidak terjadi secara mendadak. Oleh karena mengenal tanda tanda awal kambuhnya seorang penderita sangat penting agar kambuh bisa dicegah, dihindari atau segera ditangani.

Ada dua faktor yang mengakibatkan kambuh, yaitu: faktor kerentanan seperti berhenti minum obat, meminum alkohol atau narkoba, kurangnya dukungan sosial dan kesehatan fisik yang rendah. Faktor kedua adalah faktor yang melindungi seseorang dari kambuh, yaitu: tubuh yang sehat, minum obat teratur, kemampuan mengatasi masalah dan adanya dukungan sosial.

Beberapa tanda awal bila seseorang penderita akan kambuh adalah:

Perubahan perasaan, seperti: cemas, takut, mudah tersinggung dan menjadi agresif, merasa sangat sedih atau tidak bahagia, merasa terancam atau tidak aman, dan paranoid (merasa orang lain ngomongin anda)

Perubahan pikiran, seperti: kesulitan konsentrasi atau berfikir, sulit membuat keputusan, banyak pikiran atau bingung, berpikiran negatif atau pesimis, mendengan suara suara dari dalam dirinya sendiri, berpikir tentang menganiaya diri sendiri, memikirkan kejadian masa lalu.

Perubahan perilaku, seperti: menyendiri atau tidak ingin pergi keluar, nafsu makan naik atau turun, kebanyakan atau susah tidur, banyak minum alkohol atau narkoba, gampang marah/menangis atau tertawa, tidak bertenaga, malas mandi atau membersihkan lingkungan.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Sosial fobia (2)

Baca artikel sebelumnya

Penderita sosial fobia mempunyai pola pikir yang kurang sehat yang menyebabkan mereka selalu cemas. Kecemasan pada sosial fobia terutama karena penderita sosial fobia tidak ingin mendapat penilaian yang jelek atau penolakan dari orang lain.

Beberapa belief atau kepercayaan atau pikiran pada diri seorang penderita sosial fobia yang sering ditemui adalah:

  • saya harus kelihatan mampu
  • saya harus kelihatan menarik atau saya akan gagal
  • bila mereka melihat saya cemas atau gelisah, mereka akan menilai bahwa saya lemah
  • bila tidak ada yang bisa saya omongkan atau sampaikan, itu akan jadi bencana
  • mereka akan mulai tidak menyukai saya.

Beberapa pikiran atau belief yang menurut penderita sosial fobia dimiliki orang lain ketika melihat dirinya bila ia tidak bisa tampil dengan baik:

  • orang bodoh
  • orang tersebut kelihatan tidak becul
  • dia tidak bisa mengendalikan dirinya
  • tingkah lakunya aneh.

karena punya pikiran seperti diatas, seorang penderita sosial fobia akan selalu cemas dan menarik diri atau menghindar dari melakukan tuga tugas dimana dia harus tampil atau kelihatan. Untuk itu, dalam mengobati sosial fobia langkah yang harus dilakukan adalah:

  1. Belajar untuk mengidentifikasi pikiran yang lewat di kepala penderita sosial fobia dalam menanggapi peristiwa, dan interpretasi mereka  terhadap  peristiwa dan situasi tersebut.
  2. Belajar bagaimana melihat setiap pikiran-pikiran secara objektif, dan memutuskan apakah pikiran pikiran tersebut mewakili penilaian yang wajar dari situasi (ini untuk menantang mereka agar mempunyai pikiran atau kepercayaan alternatif ).
  3. Menata ulang setiap pikiran yang tidak realistis atau tidak membantu (tidak sehat) dengan cara yang lebih mencerminkan realitas situasi dan lebih membantu dalam kehidupannya.
  4. Menempatkan keyakinan baru yang  lebih bermanfaat dalam praktek dengan mendasarkan perilakunya pada pikiran atau kepercayaan baru tersebut.

Sebagai contoh:

Activating event (A) atau situasi: Minum kopi di cafe.

Belief (B) yang muncul adalah: (1) Tangan saya akan gemetar dan kopi akan tumpah. (2) Saya akan terlihat gemetar, (3) mereka akan mengira saya orang gila.

Sebagai konsekuensi (C), maka yang bersangkutan akan sangat gelisah, cemas. Tanda yang muncul antara lain: gemetar, pucat, berkeringat.

Tentunya seorang penderita fobia sosial akan berkurang cemasnya bila mampu mengubah B (belief) dari kejadian A tersebut dan menerapkannya dalam perilaku yang baru.

Biasanya, terapi kognitif tersebut digabung dengan terapi perilaku. Penderita sosial fobial diminta mengidentifikasi hal hal yang membuatnya cemas. Kemudain bersama terapis, mereka membuat program untuk menghadapi hal hal yang mencemaskan tersebut secara bertahap. Misalnya bila bepergian dengan kendaraan umum membuatnya cemas, maka dibuat program sebagai berikut:

  1. pergi ke terminal dan kemudian kembali kerumah tanpa naik kendaraan umum. Bila berhasil, kemudian lakukan langkah kedua.
  2. pergi ke terminal dan naik kendaraan umum sejauh 1 km dan turun. Bila berhasil, maka lakukan langkah ketiga
  3. pergi ke terminal dan naik kendaraan umum sampai ketempat tujuan. Bila berhasil, langkah berikutnya:
  4. pergi ke terminal, naik kendaraan umum sampai tujuan dan kemudian kembali ke rumah dengan kendaraan umum lagi.

Begitulah, dengan menggarap aspek kognitif dan perilaku, bila perlu ditambah obat, lama kelamaan sosial fobia akan bisa dihilangkan.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Ketahanan Jiwa (5)

Artikel sebelumnya bisa di klik disini

Hasil gambar untuk berdoaBeberapa jalan untuk meningkatkan ketahanan jiwa:

  • Bersikap optimis. Dengan bersikap optimis dan percaya bahwa setelah segala kesulitan akan ada kemudahan, maka seseorang akan lebih berani melangkah kedepan. Sikap optimis membuat seseorang lebih mudah melihat peluang dalam setiap pemecahan masalah.
  • Rawat diri sendiri. Mengabaikan kebutuhan dan kesehatan diri hanya akan memperlemah ketahanan jiwa. Dengan menjaga kesehatan serta berperilaku sehat, maka ketahanan jiwa juga akan ikut meningkat. Luangkan waktu untuk berolah raga, menikmati keindahan alam, bergaul dengan masyarakat sekitar akan meningkatkan ketahanan jiwa.
  • Memperdalam agama. Meningkatkan keimanan, khususnya tauhid, akan memperkuat ketahanan jiwa. Dengan meyakini bahwa Allah itu Maha Kuasa dan Allah akan mengabulkan doa, maka dengan bersandar pada Allah, hidup akan menjadi terasa lebih mudah.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Ketahanan Jiwa (3)

Lanjutan artikel sebelumnya

Beberapa jalan lain yang akan dapat membuat ketahanan jiwa semakin kuat:

  1. Jangan terperangkap masa lalu, bergerak terus menuju tujuan hidupmu. Terpaku kepada masa lalu, khususnya yang tidak menyenangkan (membuat sedih, kecewa, marah, merasa bersalah, dll) akan membuat jiwa rapuh, gampang terserang gangguan jiwa atau setidaknya membuat hidup menjadi gelisah. Bila ada Hasil gambar untuk PHKmasa lalu yang menimbulkan rasa bersalah, segera mohon ampun, bertobat, memperbaiki diri dan segera melangkah maju. Begitu pula, bila ada kejadian masa lalu yang membuat kita malu atau sedih, maka terima saja itu sebagai sesuatu kenyataan yang sudah terjadi, dan segera perbaiki diri dan melangkah kedepan.  Dengan tetap melangkah kedepan, tidak terjebak masa lalu, akan membuat jiwa kita semakin kuat dan sehat.
  2. Berani mengambil keputusan. Segera ambil keputusan dan hadapi hal hal yang tidak menyenangkan. Bila nasi sudah jadi bubur, segera ambil santan, ayam dan jadikan sebagai bubur ayam yang enak. Bila kita dipecat atau di PHK, jangan terlalu banyak larut dalam kepedihan, segera keluar rumah dan lakukan pekerjaan apa saja.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Ketahanan jiwa (2)

Lanjutan artikel sebelumnya

Jalan untuk memperkuat ketahanan jiwa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Jalan yang cocok untuk seseorang, mungkin tidak cocok dipakai oleh orang lainnya.

Hasil gambar untuk resilienceSetidaknya ada 10 jalan yang dapat memperkuat ketahanan jiwa:

  1. Membuat jalinan hubungan sosial dan kekerabatan. Hubungan kekerabatan, pertemanan atau persaudaraan yang baik akan dapat memperkuat ketahanan jiwa. Punya seseorang yang bersedia mendengarkan dan menolong ketika ada masalah, membuat ketahanan jiwa seseorang menjadi lebih kuat.Sebagai manusia yang beragama, maka mengadu atau curhat kepada Tuhan adalah cara yang terbaik. Tuhan pasti akan mendengarkan doa hambanya dan akan menjaga kerahasiaan masalah yang dikeluhkan kepadaNya.
  2. Hindari melihat krisis sebagai masalah yang tidak dapat diatasi. Kita tidak akan dapat mengubah fakta atau kenyataan bahwa sesuatu masalah sedang terjadi. Namun kita dapat mengubah sikap atau rekasi kita terhadap masalah tersebut. Dengan menempatkan masalah dalam konteks yang lebih luas, maka masalah biasanya akan teratasi dengan berjalannya waktu.Setiap badai pasti berlalu. Begitu pula dengan masalah yang sedang dihadapi saat ini, juga akan segera berlalu.
  3. Terima kenyataan bahwa semuanya bisa berubah. Tidak ada yang abadi didunia ini.Semuanya bisa berubah. Begitu pula, bila suatu tujuan atau sasaran tidak dapat dicapai, kita dapat mengubah sasaran atau tujuan tersebut. Dengan bersikap fleksibel, maka jiwa akan menjadi lebih tahan dalam menghadapi goncangan atau masalah

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Ketahanan jiwa (1)

Hasil gambar untuk keluarga bahagiaKetahanan jiwa adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dan kembali melangkah kedepan ketika menghadapi tragedi, bencana atau sumber sumber stress berat lainnya. Ketahanan jiwa disini juga berarti kemampuan bangkit kembali ketika jatuh karena terkena bencana atau tragedi.

Beberapa hal yang memerlukan ketahanan jiwa, antara lain: kehilangan orang orang dekat/ yang dicintai, perceraian, menderita penyakit yang serius, mengalami kegagalan yang cukup berarti.

Kebanyakan orang, setelah mengalami kejatuhan atau kegagalan, akan bisa bangkit kembali karena mereka mempunyai ketahanan jiwa. Namun pada sebagian kecila orang, kegagalan atau bencana membuat dirinya jatuh, depresi, terkena gangguan jiwa dan tidak mampu bangkit kembali.

Salah satu faktor penting yang membuat seseorang mempunyai ketahanan jiwa yang baik adalah orang tersebut mempunyai jaringan persaudaraan, saling menyayangi di dalam keluarga dan mempunyai jaringan pertemanan yang kuat.

Beberapa faktor tambahan yang membuat seseorang mempunyai daya tahan kejiwaan:

  • Mampu membuat rencana yang realistis dan mampu melaksanakan rencana tersebut.
  • Mempunyai penilaian terhadap diri sendiri yang positif dan percaya terhadap kemampuan dirinya.
  • Mempunyai ketrampilan dalam hubungan antar manusia dan kemampuan dalam pemecahan masalah
  • mempunyai kemampuan mengendalikan perasaan dan dorongan hati.

Bersambung

Sumber bacaan: http://www.apa.org/helpcenter/road-resilience.aspx

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

 

Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (5)

Lanjutan artikel sebelumnya

Tirto Jiwo dan pusat pemulihan gangguan jiwa berat lainnya bisa diibaratkan seperti sekolahan.

Penderita gangguan jiwa yang masuk program pemulihan adalah siswa yang belajar meningkatkan kemampuan jiwa agar dapat mengatasi gangguan jiwa yang dideritanya. Bila siswa telah menguasai kemampuan yang diajarkan, atau dinyatakan lulus, tentunya ingin agar segera dapat keluar kembali ke masyarakat.

Meskipun belum ahli betul, namun mereka telah mempunyai kemampuan minimal dalam mengatasi gangguan jiwanya. Kemampuan tersebut perlu ditingkatkan dan diperkuat di masyarakat. Oleh karena itu, mereka ingin agar dapat segera keluar dari sekolah dan kembali ke masyarakat.

Masalah timbul bila keluarga tidak siap menerima anggota keluarganya yang sakit. Keluarga ingin agar penderita tetap di panti sampai mereka siap menerima anggota keluarganya kembali.

Akibatnya, pusat pemulihan berubah fungsinya menjadi penjara, tempat mengasingkan penderita gangguan jiwa agar tidak kembali ke keluarganya.

Situasi tersebut membuat situasi tidak kondusif bagi proses pemulihan. Membuat penderita agar tetap mau tinggal di pusat pemulihan, padahal seharusnya sudah boleh kembali ke masyarakat, bukanlah pekerjaan mudah. Banyak penderita yang kemudian jatuh lagi atau kambuh gangguan jiwanya ketika menyadari bahwa keluarganya tidak mau menerimanya kembali.

Oleh karena itu, memang diperlukan kerjasama yang baik antara keluarga dengan pusat pemulihan agar penderita gangguan jiwa dapat segera pulih dan kembali produktif di masyarakat.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (3)

Lanjutan dari artikel sebelumnya

Aspek psikososial yang juga sangat penting adalah masalah tempat tinggal.

Gambar terkait orang, termasuk didalamnya adalah para penderita gangguan jiwa, juga memerlukan tempat tinggal. Saya kira kalimat tersebut jelas dan mudah dipahami. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit orang yang menolak bila ada saudaranya yang menderita gangguan jiwa untuk tinggal dirumahnya. Banyak sekali alasan yang dikemukakan yang pada intinya tidak mau bila ada kakak atau adiknya yang menderita gangguan jiwa ingin tinggal bersamanya. Mereka mengharapkan ada orang lain atau pemerintah yang mau menampung saudaranya tersebut.

Sebagian diantaranya masih mau mengeluarkan uang asal adik atau kakaknya tidak tinggal dirumahnya. Tidak sedikit yang tidak mau menyumbang uang meskipun hanya sedikit.

Terus dimana mereka harus tinggal?

Salah satu alternatifnya adalah dengan mendirikan perumahan yang disubsidi dan didukung oleh pusat pusat pemulihan.

Didalam perumahan tersebut, para penderita gangguan jiwa dapat tinggal, bekerja mencari nafkah dan mendapat dukungan psikososial yang diperlukannya.

Tirto Jiwo masih mempunyai tanah yang bisa dipakai untuk membangun perumahan bagi para penderita gangguan jiwa yang tidak punya saudara atau tempat untuk menumpang. Hanya, dana untuk membangun perumahan tersebut yang belum tersedia.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (2)

Lanjutan dari artikel sebelumnya

Idealnya keluarga yang membantu dan mendukung agar anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa dapat pulih secara total. Bukan panti rehabilitasi sosial atau pemerintah. Salah satunya, adalah mengupayakan agar penderita gangguan jiwa tersebut dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan yang mencukupi untuk hidup.

Oregon Supported Employment

Sayangnya, banyak keluarga yang tidak mau atau tidak mampu melaksanakan tugas tersebut, yaitu membantu dan mendukung agar anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa dapat bekerja. Banyak alasannya. Mulai dari tidak ada waktu, tidak ada koneksi, tidak ada modal hingga berbagai alasan yang sepintas terlihat masuk akal.

Bila hanya dilatih, kemudian dilepas sendiri untuk mencari pekerjaan atau mendirikan usaha sendiri, hampir semua penderita gangguan jiwa tidak mampu atau gagal. Tidak hanya di negara berkembang, di negara majupun program pelatihan bagi penderita gangguan jiwa gagal total. Pelatihan tidak mampu membuat penderita gangguan jiwa dapat bekerja atau mencarai pekerjaan sendiri.

Penderita gangguan jiwa yang dalam proses pemulihan, mereka memerlukan lehih dari hanya sekedar pelatihan. Mereka memerlukan bantuan dan dukungan selama mereka bekerja. Mereka memerlukan dukungan psikososial agar mampu mengatasi masalah psikis dan sosial selama bekerja.

Untuk itu, diperlukan bantuan dan dukungan kerja, bukan hanya pelatihan kerja.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (1)

Hasil gambar untuk employment schizophreniaPenderita skizofrenia, bipolar dan gangguan jiwa berat lainnya tidak akan dapat diselesaikan melalui pemberian obat saja. Mereka memang memerlukan obat, namun obat saja tidak cukup. Mereka juga memerlukan dukungan psikososial.

Berbagai permasalahan psikososial yang menjerat penderita gangguan jiwa perlu juga dibantu pemecahannya. Tanpa intervensi terhadap permasalahan tersebut, mereka akan mudah kambuh kembali.

Setidaknya ada 3 permasalahan besar yang sering dijumpai, yaitu: pekerjaan, tempat tinggal , dan jaringan sosial kekerabatan.

Pekerjaan, selain dapat mendatangkan pemasukan uang, juga berfungsi meningkatkan harga diri, ada jadwal kegiatan harian yang teratur, pertemanan dan identitas diri,

Masalahnya, stigma bagi penderita gangguan jiwa masih sangat kuat sehingga menyebabkan mereka sulit mendapatkan pekerjaan.

Saat ini, Tirto Jiwo sudah mendirikan cafe yang dapat berfungsi sebagai tempat latihan kerja. Dimasa mendatang, berbagai sarana latihan kerja akan terus dikembangkan agar para penderita gangguan jiwa lebih mudah dan lebih siap masuk ke lapangan kerja.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo