Antisipasi kematian

Steve+Jobs+Unveils+Apple+iPhone+MacWorld+Expo+Z0DjjrUTNXLlBerikut ini kata kata terakhir dari Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple yang saya kutip dari website Jamil Azzaini, inspirator sukses mulia[1].

Dalam dunia bisnis, aku adalah simbol dari kesuksesan, seakan-akan harta dan diriku tidak terpisahkan. Karena selain kerja, hobiku tak banyak.

Saat ini aku berbaring di rumah sakit, merenung jalan kehidupanku: kekayaan, nama, kedudukan… Semuanya itu tidak ada artinya lagi.

Malam yang hening, cahaya & suara mesin di sekitar ranjangku, bagai nafasnya maut kematian yang mendekat pada diriku.

Sekarang aku mengerti. Seseorang, asal memiliki harta secukupnya buat diri gunakan, itu sudah cukup.

Mengejar kekayaan tanpa batas bagaikan monster yang mengerikan.

Tuhan memberi kita organ-organ perasa, agar kita bisa merasakan cinta kasih yang terpendam dalam hati kita yang paling dalam. Tapi bukan kegembiraan yang datang dari kehidupan yang mewah. Itu hanya ilusi saja.

Harta kekayaan yang aku peroleh saat aku hidup, tak mungkin bisa aku bawa pergi. Yang aku bisa bawa adalah kasih yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku. Hanya cinta kasih itu lah yang bisa memberiku kekuatan & terang.

Ranjang apa yang termahal di dunia ini?

Ranjang orang sakit.

Orang lain bisa membukakan pintu mobil untukmu. Orang lain bisa bekerja untukmu. Tapi tidak ada orang bisa menggantikan sakitmu.

Barang hilang bisa di dapat kembali, tapi nyawa hilang tak bisa kembali.

Saat kamu masuk ke ruang operasi, kamu baru sadar bahwa betapa berharganya kesehatan itu.

Kita berjalan di jalan kehidupan ini. Dengan jalannya waktu, suatu saat akan sampai tujuan.

Bagaikan panggung pentas. Tirai panggung akan tertutup. Pentas telah berakhir.

Yang patut kita hargai dan sayangkan adalah hubungan kasih antar keluarga, cinta akan suami-istri dan juga kasih persahabatan antar teman…

Steve Jobs… Last Words. Kata-kata Terakhir.”

Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya.

[1] Azzaini, J., (2015), Last Word dari Steve Jobs, di http://jamilazzaini.com/last-word-dari-steve-jobs/

 

Gaya berpikir mental filtering

unhelpful_thinking_stylesGaya berpikir mental filter adalah gaya berpikir dimana seseorang menyaring sebagian informasi dan mengabaikan bagian informasi yang lain. Pada seseorang dengan kecenderungan depresi, maka yang bersangkutan cenderung memasukkan informasi negative tentang dirinya dan mengabaikan informasi positif. Dilain pihak, seseorang dengan sikap kebesaran, maka informasi yang positif yang diterima, sedangkan informasi yang negative diabaikan.

Pada kehidupan sehari-hari sebagian orang cenderung menyaring informasi yang mendukung idenya dan mengabaikan informasi yang berlawanan dengan idenya. Dengan banyaknya informasi sehingga orang harus memilah-milah informasi, maka mental filtering sering terjadi.

Pak Santosa sering mempunyai ide awal yang bagus. Ide awal tersebut, agar dapat diterapkan, masih memerlukan penjabaran lebih lanjut sehingga menjadi sebuah rencana detil yang operasional. Biasanya dalam proses tersebut diperlukan beberapa penyesuaian. Sayangnya, Pak Santosa sering menyaring data dan informasi yang masuk kepadanya. Dia selalu mengabaikan data dan informasi yang tidak mendukung ide awalnya tersebut. Akhirnya, ide awal yang bagus tersebut sering mentah ditengah jalan.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Gaya berpikir memberi cap atau label

unhelpful_thinking_stylesDalam gaya berpikir memberi cap atau label, maka seseorang memberi cap atau label terhadap dirinya atau orang lain berupa pernyataan yang umum berdasarkan pada perilaku atau kejadian spesisifk dalam situasi tertentu. Cap atau label tersebut tetap saja diberikan, meskipun banyak data atau bukti bahwa pernyataan atau cap tersebut tidak sesuai.

Bila seseorang lupa membayar pulsa listrik, kemudian berkata “saya memang pelupa”, atau seseorang lupa memberi selamat ulang tahun kepada temannya, kemudian dikatakan “dia tidak perhatian kepada orang lain” itu suatu bentuk gaya berpikir labelling atau memberi cap. Dengan memberi label atau cap pada seseorang, maka sisi lain dari orang tersebut sering terabaikan atau terlupakan. Seseorang yang dicap pelupa, bodoh, tidak perhatian, bukan berarti dia selalu lupa, selau bodoh atau tidak dapat mengerti, atau tidak pernah memberi perhatian kepada temannya sama sekali.

Kenyataan bahwa seorang anak membuat kesalahan dengan menjatuhkan gelas dari meja, dan dicap sebagai anak “tidak hati hati”, tidak berarti bahwa dia benar benar tidak berhati-hati karena setiap hari si anak dapat berangkat dan pulang ke sekolah sendirian tanpa tertabrak kendaraan di jalan raya

Di kantor tempat Pak Henri bekerja, setiap orang sudah mempunyai julukan atau label tersendiri. Ada beberapa orang yang mendapat label “kartu mati” karena selama ini tidak mempunyai kontribusi terhadap perusahaan, ada yang mendapat julukan “bintang” karena ide idenya yang brillian sehingga menyebabkan perusahaan mendapat untung yang besar. Pada suatu rapat, Pak Henri yang termasuk sebagai pegawai yang diberi julukan “kartu mati”, mengusulkan sebuah ide yang bagus yang bila diterapkan akan menguntungkan perusahaan. Ide tersebut ditolak karena muncul dari seorang “kartu mati”.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

 

 

Memperkuat ketahanan jiwa-7

13668025901197932444Tulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya.

  • Gemar menolong orang lain. Anak anak dengan gangguan kepribadian maupun gangguan jiwa adalah anak yang egosentris, atau menjadikan dirinya sebagai pusat dari segalanya. Dengan belajar memahami kebutuhan dan perasaan orang lain serta berusaha untuk mengurangi penderitaan orang lain, maka sedikit demi sedikit sifat egosentrisnya akan berkurang. Anak akan terlatih untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, namun memakai energy maupun kelebihan dirinya untuk membantu orang lain. Dengan gemar menolong orang lain dengan niat yang ikhlas, maka sifat sifat egosentris, bertingkah laku semaunya sendiri, akan sedikit demi sedikit terkikis.
  • Hanya bersandar kepada Tuhan. Salah satu kelemahan yang juga sering ditemui adalah ketergantungan berlebihan kepada orang orang didekatnya. Ketergantungan tersebut, bila tidak terpenuhi, dapat menyebabkan timbulnya perasaan sebagai anak yang dibuang, ditolak, ditinggalkan, ditekan atau dipenjara. Dilain pihak, bila ketergantungan berlebihan tersebut selalu dipenuhi atau dituruti oleh orang orang dekatnya, maka anak tersebut dapat menjadi anak yang tergantung, tidak dapat mengambil keputusan sendiri, dan tidak dapat hidup mandiri. Dengan melatih anak tersebut hanya bersandar kepada Tuhan yang Maha Kuasa, maka anak akan dapat terbebas dari ketergantungan kepada orang lain. Dalam kaitan ini, anak anak perlu dilatih untuk mempunyai pemahaman yang benar tentang Tuhan, kaitan Tuhan dan mahluknya, tentang takdir, dll.
  • Belajar menjadi pemaaf. Dengan menjadi pemaaf, maka seorang anak akan terbebas dari beban akibat perasaan benci, dendam, marah kepada seseorang yang telah berbuat salah atau menyakitinya. Dengan menjadi pemaaf, maka seorang anak juga akan lebih mudah bergaul dan menjalin persahabatan.

Keempat sifat tersebut diatas: bersyukur, gemar menolong orang lain (compassion), pemaaf dan hanya bersandar kepada Tuhan hanya dapat diajarkan secara pelan pelan dan bertahap. Keempat sifat tersebut tidak dapat ditumbuhkan hanya melalui talk therapy atau diskusi. Anak anak perlu belajar dan mencoba menerapkan keempat sifat tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

semoga bermanfaat

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Memperkuat ketahanan jiwa-6

Team-building-activities-kidsTulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Kondisi kejiwaan seseorang terbentuk sejak masa kanak-kanak secara pelan pelan. Oleh karena itu, untuk memperkuat ketahanan jiwa anak agar menjadi kuat dan tahan banting juga memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Proses memperkuat ketahanan jiwa perlu waktu panjang dan memakan banyak energy, kesungguhan dan komitment.

Proses memperkuat ketahanan jiwa akan sulit dilakukan oleh psikolog atau psikiater dari tempat praktek, karena akan memerlukan banyak biaya.Selain, proses penguatan ketahanan jiwa tidak dapat hanya dengan terapi bicara/ psikoterapi. Penguatan ketahanan jiwa memerlukan latihan dalam dunia nyata di lapangan.

Guru yang didukung oleh orang tua merupakan sosok yang ideal dalam proses penguatan jiwa seorang anak agar menjadi sehat dan tahan banting. Untuk itu, guru perlu dibekali ilmu dan diberi motivasi agar bersedia mengorbankan waktu dan tenaga bagi tumbuhnya jiwa anak yang sehat.

Guru yang telah dilatih akan dapat mengenali anak anak yang memerlukan penguatan ketahanan jiwa, yaitu anak anak yang rentan maupun anak yang marah (lihat artikel sebelumnya).

Pada prinsipnya, anak anak tersebut perlu diberi pelatihan agar menjadi anak yang:

  • Bersyukur. Anak anak yang marah maupun merasa diabaikan/ dibuang, adalah anak yang tidak merasa puas dengan kondisinya. Anak anak tersebut perlu dilatih agar dapat menghayati dan menerapkan rasa syukur (gratitude). Dengan mempertebal rasa syukur, maka sedikit demi sedikit rasa marah maupun rasa tidak terpenuhi kebutuhannya akan dapat berkurang. Dengan bersyukur, maka anak akan merasa bahagia, puas dengan keadaan dirinya sekarang. Anak akan memandang dirinya secara positif.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Memperkuat ketahanan jiwa-5

foto-kelakuan-anak-smu-zaman-sekarang-04Tulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Secara garis besar, dari sisi kejiwaan, anak anak dapat dapat dikelompokkan kedalam 4 jenis anak:

  1. Anak yang rentan (vulnerable child), yaitu anak anak yang mempunyai satu atau lebih ciri ciri sebagai berikut: anak yang merasa kesepian, terisolasi, sedih, merasa tidak dimengerti oleh orang orang dekat disekitarnya, tidak mendapat dukungan, mempunyai banyak kekurangan, merasa tidak mendapat hak-haknya sebagai anak (kasih saying, perhatian, dll), ragu akan dirinya, merasa tidak berdaya, tidak mampu, tidak ada harapan, cemas, tidak disayang, tidak pantas untuk disayang, lemah, merasa kalah, diasingkan, pesimis, ditinggalkan, tidak mempunyai kekuatan, hidup tanpa tujuan.
  2. Anak yang marah (angry child), anak yang mempunyai ciri ciri sebagai berikut: merasa sangat marah, frustasi, tidak sabar karena kebutuhan fisik dan emosionalnya yang inti tidak dipenuhi.
  3. Anak yang impulsive, semaunya.Anak yang mempunyai ciri ciri sebagai berikut: Anak yang tidak dapat mengendalikan keinginan atau kemauannya untuk segera dituruti atau dipenuhi. Tidak dapat menunda pemenuhan keinginan atau kebutuhannya. Perilakunya egois, mementingkan diri sendiri, sering perilakunya secara tidak terkendali. Sering terlihat sebagai anak yang manja.
  4. Anak yang puas, bahagia. Anak anak dengan ciri ciri sebagai berikut: Anak yang merasa bahwa dirinya disayang keluarganya, merasa puas, mempunyai ikatan atau hubungan erat dengan keluarganya, diterima oleh orang disekitarnya, merasa mendapat perawatan/ bimbingan, merasa ada yang melindungi, percaya diri, merasa mandiri secara wajar, aman, terkendali, optimis, merasa dilibatkan, merasa dirinya cukup kuat.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Memperkuat ketahanan jiwa-4

resilience-2i01xgeTulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya

Mempunyai jiwa yang tahan banting akan dapat mengurangi seseorang terkena gangguan jiwa. jiwa yang tahan banting juga akan dapat membuat hidup seseorang lebih sukses, dapat segera bangkit ketika terkena badai kehidupan.

Berikut ini beberapa factor yang akan memperkuat ketahanan jiwa:

  • Mempunyai kedekatan hubungan dengan keluarga dan teman. Anak yang mempunyai banyak teman dan sahabat akan lebih kuat ketahanan jiwanya. Begitu pula, anak yang mempunyai hubungan yang dekat dengan orang tua dan saudara saudaranya juga akan mempunyai ketahanan jiwa yang lebih kuat dibandingkan dengan anak yang tidak dekat dengan saudara maupun anak yang tidak punya sahabat atau teman dekat.
  • Mempunyai pandangan positif terhadap diri sendiri dan percaya akan kemampuan diri. Anak yang terlalu banyak menyalahkan diri sendiri, terlalu keras dalam mengkritik dirinya sendiri, biasanya mempunyai jiwa yang rapuh. Begitu pula, anak yang tidak percaya akan kemampuan dirinya akan membuat diri anak tersebut tergantung kepada orang lain.
  • Kemampuan mengendalikan emosi dan perasaan. Kemampuan mengendalikan emosi sehingga tidak mudah meledak marah atau terlalu mudah merasa sedih akan membuat seorang anak lebih tahan menghadapi tekanan jiwa. Kemampuan mengendalikan perasaan dan emosi juga akan membuat seorang anak dapat berkawan dan bergaul dengan baik.
  • Mempunyai kemampuan memecahkan masalah dan komunikasi. Seorang anak dengan kemampuan memecahkan masalah dengan baik, akan dapat mengatasi setiap masalah dengan tepat sehingga hal tersebut akan membuat jiwanya lebih tahan banting. Kemampuan komunikasi yang baik juga akan membuat seorang anak lebih mudah dalam mengatasi masalah dalam kaitannya dengan orang lain. Hal ini akan membuat sang anak menjadi lebih kuat ketahanan jiwanya.
  • Gemar menolong orang lain. Anak yang gemar menolong orang lain cenderung mempunyai jiwa yang kuat dan tahan banting.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Memperkuat ketahanan jiwa-3

epic-failTulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Berikut ini (lanjutan) beberapa kelompok anak yang mempunyai jiwa yang rapuh:

  • Anak yang merasa dirinya gagal atau akan selalu gagal dibidang karir, olah raga, sekolah. Anak tersebut sering merasa dirinya bodoh, tidak mampu.
  • Anak dengan waham kebesaranMerasa dirinya lebih hebat dari yang lain atau teman sebaya padahal dalam kenyataannya tidak demikian. Anak tersebut merasa dirinya berhak mendapat perlakuan khusus dan keinginannya harus dituruti.
  • Anak yang kurang kontrol diri, tidak mampu disiplin diri. Tidak mampu atau tidak mau mengendalikan diri, tidak mampu mengatasi rasa frustasi.
  • Tunduk berlebihan. Anak yang tunduk atau patuh terhadap orang lain secara berlebihan.
  • Anak yang selalu memenuhi keinginan orang lain dengan mengorbankan kesenangan diri secara berlebihan.
  • Persetujuan orang lain. anak yang selalu memerlukan persetujuan, perhatian atau pengakuan orang lain.
  • Pesimis. Anak yang selalu memandang dunia dan segala sesuatunya secara negative atau pesimis.
  • Pengekangan emosi. Anak yang selalu mengekang emosi, mengekang tindakan spontan atau perasaan. Hal tersebut dilakukan karena untuk menhindari penolakan, rasa malu, dll.
  • Standard tinggi, hipercriticalness. Anak yang menetapkan standar perilaku dan emosi yang sangat tinggi, biasanya hal tersebut dilakukan untuk menghindari kritikan.
  • Hukuman. Anak yang merasa bahwa dirinya harus dihukum secara keras bila melakukan kesalahan, cenderung gampang marah, tidak sabar, tidak toleran.

Kadang seorang anak dengan jiwa yang rapuh akan mempunyai beberapa sifat seperti tersebut diatas. Sebagai contoh, seorang anak dengan waham kebesaran (merasa dirinya hebat, padahal kenyataannya tidak), sering juga mempunyai sifat kurang dapat mengontrol diri. Anak yang merasa dirinya gagal, sering disertai dengan sifat pesimis, selalu memerlukan persetujuan orang lain, tunduk berlebihan, dan lain lain.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Memperkuat ketahanan jiwa-2

Vulnerable-childTulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

Salah satu alternative dalam mencegah gangguan jiwa adalah dengan mendeteksi anak anak dengan jiwa yang rapuh dan kemudian memperkuat ketahanan jiwa anak tersebut.

Anak dengan jiwa yang rapuh adalah anak yang rentan terhadap stress, tidak tahan menghadapi stress dan bila terkena stress akan cenderung mengalami gangguan jiwa atau mempunyai kecenderungan untuk menderita gangguan kepribadian.

Beberapa ciri anak dengan kepribadian yang rapuh adalah:

  • anak yang merasa dirinya (akan) dibuang, ditinggalkan, atau diasingkan oleh keluarganya.
  • Anak yang selalu curiga bahwa orang lain akan menyakiti dirinya, memanipulasi, melecehkan, menipu, atau mengambil keuntungan darinya.
  • Anak yang merasa dirinya kurang diperhatikan (emotional deprivation). Tidak ada yang memberikan perhatian, dukungan, asuhan atau perlindungan secara mencukupi.
  • Anak yang tidak percaya diri/ malu. mempunyai cacat, kelemahan, tidak diinginkan, tidak ada yang menyukai, sehingga sangat sensitive terhadap kritik, takut disalahkan.
  • Anak yang menyendiri atau mengurung diri Merasa dirinya bukan bagian dari masyarakat atau kelompoknya.
  • Anak yang mempunyai ketergantungan, tidak mampu (tidak kompeten), yaitu yang merasa dirinya tidak mampu mengelola kehidupan sehari-hari, memerlukan bantuan atau dukungan orang lain.
  • Anak yang merasa ketakutan yang berlebihan akan datangnya penyakit fisik, penyakit kejiwaan maupun akan terjadinya kecelakaan.
  • Anak dengan diri yang tidak tumbuh. kepribadiannya tidak tumbuh dewasa karena campur tangan orang lain yang berlebihan. Seringorang tersebut merasa dirinya kosong, tidak punya tujuan hidup.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Memperkuat ketahanan jiwa-1

EarlyInterventionInPsychosisFourMencegah lebih baik dari mengobati. Ungkapan tersebut juga berlaku pada gangguan jiwa. Mencegah timbulnya gangguan jiwa lebih baik, lebih mudah dan lebih murah, dibandingkan dengan memulihkan penderita gangguan jiwa.

Meskipun demikian, mencegah seseorang dari terkena gangguan jiwa tidak gampang. Beberapa masalah yang dihadapi adalah:

  1. Gejala awal gangguan jiwa tidak spesifik (seperti: gelisah, gangguan tidur, kinerja sekolah menurun, menarik diri dari pergaulan, dll). Gejala tersebut juga sering muncul pada orang orang normal yang sedang mengalami tekanan jiwa.
  2. Kurangnya kesadaran untuk minta pertolongan. Selain sulitnya mendeteksi gejala awal gangguan jiwa, seringkali gejala awal tersebut tidak mendorong seseorang untuk meminta pertolongan. Adanya gejala anak yang menarik diri dari pergaulan, menurunnya prestasi di sekolah tidak menjadi pendorong bagi keluarga untuk meminta pertolongan.
  3. Tidak semua anak dengan resiko tinggi akan mengalami gangguan jiwa. Ada beberapa anak yang mempunyai resiko lebih tinggi untuk mendapatkan gangguan jiwa. Anak anak yang mempunyai resiko tinggi adalah anak dengan saudara dekat penderita gangguan jiwa. Anak dengan salah satu dari orang tuanya menderita gangguan jiwa, saudara sekandung dengan gangguan jiwa mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita gangguan jiwa. Meskipun demikian, anak dengan resiko terkena gangguan jiwa tidak otomatis akan menderita gangguan jiwa dikemudian hari.
  4. Hambatan untuk mendapatkan pertolongan. Adanya stigma atau cap bahwa seseorang punya bakat untuk menderita gangguan jiwa akan membuat sang anak semakin menarik diri atau dijauhi teman temannya. Tidak tersedianya ahli  atau seseorang yang dapat menolong mencegah terjadinya gangguan jiwa juga merupakan hambatan bagi program pencegahan gangguan jiwa.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo