Penyebab kegagalan: perilaku ke-kanak kanakan atau tidak dewasa (8)

ProjectionTulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Bentuk lain dari perilaku kekanak-kanakan adalah melakukan proyeksi, yaitu menempatkan pemikiran, ide atau perilaku yang tidak baik yang dipunyai oleh dirinya dan ditempatkan pada orang lain.

Proyeksi adalah bentuk awal atau bentuk primitif dari paranoia. Bila dibiarkan berkembang, proyeksi bisa berkembang menjadi paranoia.

Ada banyak contoh perilaku proyeksi disini. Misalnya:

  • Ketika dia menaksir sekretarisnya (padahal dirinya sudah beristri), maka dia akan mengatakan kepada orang lain bahwa sang sekretaris menaksir dirinya
  • Seorang yang tidak naik pangkat karena tidak berprestasi, kemudian berkelit bahwa dia tidak naik pangkat/ jabatan karena teman temannya iri atau tidak suka dengan dirinya.
  • Orang yang sering bilang bahwa teman temannya tidak menyukai atau membenci dirinya. Padahal dalam kenyataannya, orang tersebut yang sulit bergaul atau tidak bisa membaur dengan teman temannya di kantor.
  • Orang yang punya kelemahan fisik (misalnya kegemukan), dan kemudian sering mengkritik atau mengomentari penampilan orang lain, sebagai norak, kampungan, atau bentuk penampilan fisik yang tidak baik lainnya.
  • Orang yang sering mengatakan bahwa dia bisa melakukan sesuatu, maka orang lain juga harus bisa melakukannya. Misalnya: dia bisa datang ke kantor tepat waktu, maka dia selalu mengkritik orang lain yang sering terlambat tanpa mau tahu berbagai hambatan yang dihadapi oleh teman temannya.
  • Menggosipkan atau bercerita tentang kejelekan orang lain untuk menutupi kejelekan yang ada pada dirinya.

Terima kasih

Penyebab kegagalan: perilaku ke-kanak kanakan atau tidak dewasa (7)

caleg-gagalTulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Jenis tindakan kekanak-kanakan berikutnya, yang juga sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah melakukan suatu tindakan berdasar angan angan (wishful thinking) atau keinginan, dan tidak berdasar bukti nyata, data atau fakta, atau keadaan yang sebenarnya.

Tindakan berdasar angan-angan banyak dilakukan oleh para politikus amatiran. Banyak anggota masyarakat yang mencalonkan diri menjadi anggota DPR atau DPRD tanpa melihat pada kenyataan bahwa diri mereka tidak populer atau tidak dikenal masyarakat. Akibatnya, meskipun mereka telah menghabiskan banyak dana untuk kampanye, tetap saja mereka tidak terpilih sebagai anggota DPR/ DPRD. Biaya kampanye yang tinggi membuat calon politikus yang gagal menjadi bangkrut secara ekonomi dan jatuh kedalam depresi. Begitu pula, banyak calon bupati/ walikota yang gagal dan bangkrut serta terlilit oleh hutang.

Pak Zainuri dan istrinya bekerja pada perusahaan swasta yang berbeda. Penghasilan mereka berdua cukup baik sehingga mampu membeli sebuah rumah di sebuah real estate secara kredit (kredit pemilikan rumah atau KPR). Ketika perekonomian Indonesia berkembang (sebelum krisis ekonomi 1997-98), mereka kembali meminjam kredit untuk perluasan dan renovasi rumah. Mereka mengambil keputusan menambah kredit dengan pemikiran bahwa kondisi keuangan mereka akan terus membaik. Ternyata terjadi krisis ekonomi. Suaminya terkena PHK, Kondisi ekonomi yang memburuk membuat pak Zainuri cemas sehingga terkena stroke dan tidak lama kemudian meninggal. Pak Zainuri telah mengambil keputusan dan kemudian bertindak berdasar angan angan, tanpa mempertimbangkan kondisi perekonomian nasional.

Hutang untuk membeli barang barang konsumsi (TV, motor, HP) juga sering merupakan tindakan berdasar angan angan, tanpa melihat kondisi keuangan secara nyata. Akibatnya, banyak penghutang yang kemudian terpaksa motornya disita, dikejar kejar debt collector karena tidak mampu melunasi hutangnya.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Penyebab kegagalan: perilaku ke-kanak kanakan atau tidak dewasa (6)

ott-suap-hakim-ptun-medan-ditahan-kpk_20150711_123644Tulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Jenis lain dari perilaku ke-kanak kanakan adalah somatisasi (somatization).

Somatisasi adalah mengubah dan mengkomunikasikan konflik psikologis menjadi penyakit tubuh dan mencari pengobatan atas penyakitnya.

Dengan menyalurkan masalah psikologis dan emosional kedalam penyakit tubuh membuat orang tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah utama sebagai penyebab dari munculnya gangguan psikologis, tetapi lebih kepada mengobati penyakit tubuhnya. Selama permasalahan utamanya tidak terpecahkan, maka penyakit tubuhnya akan muncul kembali.

Endah, sorang remaja putri menjadi lumpuh karena keluarga pacarnya tidak setuju anaknya pacaran dengan Endah. Dengan menjadi lumpuh, Endah “memaksa” calon mertua untuk setuju dan mau menerima dirinya menjadi menantu. Endah tidak mau mempelajari alasan kenapa calon mertuanya tidak setuju dan kemudian memperbaiki dirinya agar calon mertuanya berubah menjadi setuju.

Pak Subagio, seorang camat, tiba tiba  mengalami sakit perut karena kantornya sedang diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Dia tidak berani ketemu dengan petugas dari BPK karena sebenarnya dia menyadari kalau dirinya membuat kesalahan dalam penggunaan anggaran di kantornya. Dengan menderita sakit perut, maka dia “selamat” dari kecemasan ketika harus memberi penjelasan kepada petugas pemeriksa.

Meskipun sudah dipelajari sejak lama, namun hingga sekarang patofisiologi terjadinya somatisasi belum diketahui secara pasti.

Teori paling tua menjelaskan bahwa somatisasi terjadi karena tubuh sudah tidak kuat menanggung beban akibat adanya tekanan emosional dan psikologis yang kemudian disalurkan kedalam bentuk gangguan syaraf dan otak, fungsi reproduksi atau pencernaan. Gangguan psikologis sering tercermin pada sakit kepala, sakit perut dan gangguan pada sistem kekebalan tubuh (imunitas).

Teori yang lebih baru menyatakan bahwa somatisasi terjadi karena pada seseorang yang sedang mengalami stress, maka nilai ambang terhadap rasa sakit menjadi menurun. Artinya, ketika sedang stress, maka orang tersebut akan lebih gampang mendeteksi adanya sakit di kepala atau diperutnya.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Penyebab kegagalan: perilaku ke-kanak kanakan atau tidak dewasa (5)

af8263e4cdf77e4df36a9c371022aa21Artikel merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Signe Whitson, Chief Operating Officer dari the Life Space Crisis Intervention Institute, dalam bukunya yang berjudul The Angry smile: The Psychology of Passive Aggressive Behavior in Families, Schools, and Workplaces,  telah mengidentifikasi beberapa kata kata atau pernyataan yang menunjukkan perilaku pasif agresif :

  • Saya tidak marah”, tetapi bila diamati lebih dalam sebetulnya hatinya menggelegak.
  • Ya sudah, terserah bapak saja. Bapak kan yang jadi boss”. Orang yang sebenarnya tidak setuju, namun tidak dapat menolak secara terang-terangan. Kata kata tersebut diucapkan untuk mengakhiri pembicaraan.
  • Seseorang yang berkata “Ya”, tapi tidak dikerjakan.
  • Orang yang selalu menunda-nunda dan berkata kepada atasannya:” Saya tidak tahu kalau yang bapak maksudkan itu harus selesai sekarang”.
  • Ibuselalu meminta segala sesuatunya harus sempurna”. Kata kata tersebut disampaikan bila menunda-nunda tidak mungkin dilakukan, maka perilaku pasif agresif dilakukan secara lebih canggih, yaitu dengan mengerjakan tugas secara sekedarnya.
  • Saya pikir bapak sudah tahu”. Kadang perilaku pasif agresif dilakukan dalam bentuk menghilangkan atau menyembunyikan informasi.
  • Pasti, saya akan menindak-lanjutinya dengan senang hati”, tapi hal tersebut tidak pernah dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh bagian pengaduan di suatu kantor yang menerima suatu pengaduan sambil tersenyum ramah, namun kemudian membuang berkas pengaduan tersebut ke tempat sampah.
  • Seseorang yang menyampaikan sindiran tajam, kemudian berkata:“Saya hanya bergurau”.
  • Mengapa kamu jadi marah marah begitu?” Seseorang dengan pasif agresif sangat pandai berlagak tenang. Bila lawan bicaranya marah, maka dengan mudah dia mengatakan bahwa orang tersebut bereaksi berlebihan.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Penyebab kegagalan: perilaku ke-kanak kanakan atau tidak dewasa (4)

af8263e4cdf77e4df36a9c371022aa21Artikel ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Jenis keempat perilaku ke-kanak kanakan adalah perilaku passive aggressive, yaitu  mekanisme pertahanan terhadap tekanan stress dengan cara menampakkan agresi secara tidak langsung dengan cara bersikap pasif, masochism (mendapat kesenangandari siksaan atau penderitaan) dan mengarahkan agresinya kepada diri sendiri.

Manifestasi dari pasif agresif dapat berupa sikap keras kepala, sering lupa, melakukan oposisi, sengaja membuat kegagalan atau gagal berulang kali, mengerjakan tugas pelan pelan, sengaja melakukan pekerjaan secara tidak efisien, selalu datang terlambat atau melakukan penundaan (procrastination).Seseorang dengan pasif agresif melakukan segala sesuatu untuk mencapai tujuannya dengan upaya yang sedikit tetapi seolah-olah telah bekerja keras.

Tindakan pasif agresif dikantor sering muncul bila tidak ada komunikasi yang terbuka antara atasan dengan bawahan.Bawahan seolah olah sudah melakukan segala sesuatunya dengan benar, namun dalam kenyataannya mereka melakukan sabotase atau pengkhianatan.

Pak Bagus tidak cocok dengan atasannya yang baru.Pemikirannya yang berbeda tidak pernah diungkapkannya kepada atasannya tersebut. Akhir akhir ini Pak Bagus sering membolos, bekerja asal asalan dan kadang malah tidur ketika sedang ada rapat besar di kantor.

Perilaku pasif  agresif juga terjadi dalam keluarga. Bila seorang suami berkata sesuatu kepada istrinya, namun melakukan hal yang sebaliknya, kemudian mengelak bahwa dia tidak pernah mengatakan hal tersebut sebelumnya, itu pertanda bahwa suami sedang berperilaku pasif agresif.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Penyebab kegagalan: perilaku ke-kanak kanakan atau tidak dewasa (3)

304955_menteri-pan-rb-yuddy-chrisnandi-cium-tangan-puan-maharani_663_382Lanjutan artikel sebelumnya

Ketika menghadapi situasi yang menekan, menimbulkan stress, reaksi antara satu orang dengan orang lain sering berbeda. Perbedaan tersebut disebabkan karena faktor pengalaman masa lalu yang berbeda, faktor lingkungan dan keluarga yang berbeda. Menghadapi situasi yang menekan, ada yang dapat bereaksi secara positif dan mengatasi stress dengan benar dan komplit, namun ada juga yang menghadapi tekanan tersebut dengan cara yang kekanak-kanakan.

Jenis lain dari perilaku kekanak-kanakan adalah melakukan idealisasi atau mengidolakan seseorang lain secara berlebihan. Idealisasi adalah beranggapan bahwa seseorang yang dikagumi mempunyai kemampuan yang jauh lebih hebat (atau hampir sempurna) dibandingkan dengan kenyataan yang ada.

Mengidolakan seseorang sering dilakukan oleh anak anak. Misalnya: mengidolakan penyanyi, bintang film, guru atau tokoh masyarakat. Mengidolakan seseorang pada anak anak adalah perilaku normal, namun orang dewasa yang mengidolakan seseorang secara berlebihan berarti orang tersebut masih bersifat kekanak-kanakan.

Contoh: Seseorang yang dinasihati oleh atasan terus menganggap atau menilai bahwa sang atasan adalah pemimpin yang cerdas, pintar dan tidak pernah karena bisa mendeteksi kesalahan kecil yang dilakukan dirinya. Dia menjadi sangat takut, hormat berlebihan ketika bertemu atasan. Sering memuji muji atasan.

Pada orang dewasa yang terlilit hutang dan sudah lama tidak mampu melunasinya, sering terjebak dengan mengidolakan motivator bisnis, konsultan bisnis atau bahkan dukun. Mereka mengikuti saran atau nasihat motivator, konsultan atau dukun bisnis dengan membabi buta.

Bisa juga, idealisasi pada orang dewasa dilakukan dengan mengidolakan kepala daerahnya, ustadz atau guru ngajinya, atau siapa saja yang dianggapnya hebat, tidak ada cacat celanya, dan mempunyai kemampuan diatas kemampuan senyatanya.

bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Penyebab kegagalan: perilaku ke-kanak kanakan atau tidak dewasa (2)

berkhayalArtikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Jenis lain dari perilaku ke-kanak-kanakan adalah ketika menghadapi masalah yang membuat stress kemudian lari ke fantasi atau berkhayal.

Pada orang dewasa, berkhayal atau berfantasi itu sering dilakukan oleh para seniman ketika berkarya, baik seniman lukis, pematung, pengarang novel ataupun seniman lain. Berkhayal bagi mereka adalah keharusan. Tanpa berkhayal, mereka tidak akan bisa menghasilkan karya seni. Khayalan seorang seniman dilakukan bukan untuk melarikan diri atau mengurangi stress, tapi karena tuntutan pekerjaan.

Hal tersebut berbeda dengan khayalan sebagai tindakan tidak dewasa. Pada orang dewasa, bila mereka berkhayal untuk mengurangi atau menghindari stress, maka itu merupakan tindakan kekanak-kanakan.

Sebagai contoh seseorang yang stress karena penghasilannya pas-pasan, kemudian dia berkhayal menemukan harta karun, maka itu adalah tindakan yang tidak dewasa. Seharusnya, pada orang dewasa, ketika penghasilannya pas-pasan, maka dia akan berusaha bekerja lebih keras, bekerja lebih cerdas dan bekerja lebih ikhlas agar penghasilannya meningkat, bukan dengan berkhayal mendapatkan harta karun atau menang lotere.

Jenis fantasi sangat beragam, tergantung stress atau masalah yang dihadapi. Seseorang yang sudah lama ingin menikah namun belum ketemu jodohnya, mungkin akan berfantasi bahwa dirinya adalah putri raja yang sedang dipingit dan menunggu datangnya pangeran.

Berkhayal berbeda dengan bercita-cita. Cita cita diikuti dengan usaha. Seseorang yang bercita-cita jadi penyanyi akan berlatih bernyanyi dengan serius. Seseorang yang ingin menjadi pengusaha akan berlatih dan mencoba melakukan bisnis. Seseorang yang bercita-cita menjadi dokter akan belajar dan mendaftar ke fakultas kedokteran. Sedangkan seseorang yang berkhayal jadi penyanyi, kegiatan sehari-hari yang dilakukan hanya melamun bahwa dirinya telah menjadi penyanyi terkenal.

Dari ilustrasi diatas, jelas bahwa seorang dewasa yang menghindari stress dengan banyak berkhayal tidak akan sukses hidupnya.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Penyebab kegagalan: perilaku ke-kanak kanakan atau tidak dewasa (1)

immaturitySaya kira kita semua tahu bahwa perilaku kekanak-kanakan akan membuat hidup kita tidak sukses.

Namun dalam kehidupan sehari-hari sering sekali saya temui peristiwa atau keadaan dimana orang dewasa tanpa sadar melakukan tindakan tindakan yang kekanak-kanakan atau berperilaku seperti anak kecil.

Pada orang dewasa, perilaku seperti anak kecil tidak akan muncul ketika semua berjalan lancar dan tidak ada masalah. Perilaku seperti anak kecil baru akan muncul ketika orang tersebut menghadapi suatu masalah yang membuatnya stress.

Beberapa contoh keadaan yang membuat seorang dewasa normal mengalami stress antara lain: dimarahi oleh atasan karena telah berbuat suatu kesalahan, ditagih debt collector karena menunggak hutang, menghadapi test penerimaan pegawai, belum punya uang untuk membayar uang sekolah anak atau uang kontrak rumah, konflik dengan istri, dan lain lain.

Pada orang dewasa dengan jiwa yang matang, ketika dimarahi oleh atasan karena berbuat salah, maka dia akan menerima teguran tersebut dan belajar agar dimasa yang akan datang tidak akan melakukan kesalahan yang sama atau bahkan berusaha agar bisa berprestasi lebih baik lagi.

Berikut ini beberapa jenis perilaku kekanak-kanakan atau tidak dewasa beserta contohnya:

  1. Acting out: Melakukan suatu tindakan tanpa dipikir panjang. Pada anak kecil, kita sering melihat anak yang menangis dan berguling guling ditanah karena permintaannya tidak dipenuhi. Tindakan tersebut disebut acting out. Bila hal tersebut dilakukan oleh anak kecil, tentunya masih bisa diterima. namun bila dilakukan oleh orang dewasa tentunya secara norma tidak dapat diterima.  Contoh acting out pada orang dewasa:  ketika dimarahi atasan langsung menangis atau marah marah. Yang bersangkutan tidak tahan mengalami stress karena dimarahi oleh atasan dan untuk mengurangi stress tersebut dia menangis (biasanya perempuan), mengambek atau marah dan mengajak berantem (pada laki laki). Contoh acting out yang lain: (a) ketika motor senggolan dengan kendaraan lain, tanpa banyak omong langsung main pukul, (b) main pukul ketika anak buah tidak melaksanakan tugasnya, (c) menangis ketika suami tidak mau membelikan baju baru.
  2. bersambung  

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Jiwa yang rapuh (2)

EnthusiasmTulisan ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya

Begitu pula dengan orang yang macet karirnya. Tanpa terlebih dahulu memperkuat jiwanya, mereka sering tidak mampu menemukan dan menerapkan upaya yang diperlukan untuk mengatasi karir yang macet tersebut.

Ketika saya baru diangkat untuk memegang jabatan setingkat direktur di Kementrian Kesehatan pada awal tahun 2000, saya ajak ngobrol ketiga kepala bagian yang kebetulan lebih senior dari saya.

Tahu nggak, mengapa saya diangkat jadi pejabat eselon 2?: tanya saya kepada mereka.

Tanpa menunggu jawaban dari mereka, langsung saya jawab sendiri: “karena saya baru saja mendirikan panti asuhan”.

Bener Pak Gun? Kalau begitu saya akan ikut menyumbang”: kata dua diantaranya.

Sekitar setahun kemudian, kedua anak buah saya yang menyumbang secara rutin panti asuhan tersebut diangkat menjadi pejabat setingkat direktur juga. Yang seorang menjadi Kepala Biro di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan yang seorang menjadi Kepala Dinas Kesehatan Propinsi di sebuah propinsi di Pulau Jawa.

Sesuai dengan teori mekanisme pertahanan jiwa (defense mechanism) yang dikembangkan oleh Sigmund Freud lebih dari seabad yang lalu, orang orang yang sehat, matang dan kuat jiwanya sering melakukan kegiatan kebajikan (altruisme) dan kegiatan lain yang termasuk dalam mekanisme pertahanan jiwa dewasa atau adaptif. Kegiatan kegiatan tersebut membuat jiwa seseorang menjadi sehat, dewasa dan tahan banting.

Bersambung

Artikel terkait: Jiwa rapuh vs jiwa sehat ; memperkuat ketahanan jiwa

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

 

Sisi lain dari kecemasan (anxiety)-3

washmeTulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Apa dampaknya bila kecemasan yang timbul dari masalah yang tidak selesai tersebut dibawa terus?

Kecemasan yang berkepanjangan dapat mendorong timbulnya penyakit jasmani, seperti: tekanan darah tinggi, jantung, gangguan kekebalan tubuh, stroke, gula darah, dan penyakit jasmani lainnya.

Kecemasan yang berkelanjutan juga membuat seseorang mencoba mengatasi hal tersebut dengan cara yang tidak sehat, sehingga menimbulkan berbagai gejala gangguan kejiwaan. Jenis gejala yang muncul tergantung dari permasalahan yang ada dan bagaimana perasaan yang bersangkutan terhadap masalah yang ada

  • menjadi depresi, badan terasa lemah, sedih berkepanjangan, tidak ada gairah hidup.
  • mengalami halusinasi, yang paling sering berupa halusinasi suara. Yang bersangkutan sering mendengar suara atau bisikan dari seseorang yang sebenarnya tidak ada. bisikan bisikan itu dapat berasal dari satu orang atau lebih, ada yang bersikap bersahabat namun sering juga ada yang bersikap kasar dan menghina atau memerintah dan mengancam.
  • waham curiga. Merasa ada orang yang akan menangkap, mencelakakan atau berbuat jahat terhadap dirinya. Bentuk kecurigaan itu dapat berupa takut diracun lewat makanan sehingga tidak mau makan kecuali dia sendiri yang masak, takut ada kuman atau racun ditangannya sehingga sering mencuci tangan sampai lecet-lecet.
  • hidup dalam alam khayalnya karena tidak kuat menanggung beban yang terlalu berat ketika hidup dialam kenyataan.

Semua gejala gangguan jiwa, seperti halusinasi atau waham tersebut akan hilang dengan sendirinya bila masalah utama yang menimbulkan kecemasan dapat diselesaikan. Tantangannya adalah bagaimana membuat yang bersangkutan mau menyadari dan menerima atau memecahkan masalah yang dialaminya

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo