6 langkah untuk mengurangi takut mati (2)

kematian1Tulisan ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya.

  • 3. Lepaskan apa yang tidak dapat dikendalikan. Dalam hidup ini ada yang dapat kita kendalikan dan ada yang tidak dapat dikendalikan. Hal hal berikut perlu kita lakukan untuk mengurangi rasa takut mati: (a) focus pada apa yang dapat dikendalikan. Misalnya kita takut mati kena serangan jantung, maka usahakan hidup sehat dengan mengatur makanan, olah raga dan mengatur stress agar tidak kena serangan jantung; (b) arahkan atau kendalikan hidupmu.Kita tidak dapat mengendalikan 100% hasil dari jerih payah kita. Kita perlu seperti pilot pesawat terbang. Pesawat tidak terbang lurus, kadang harus membelok menghindari awan, namun arah pesawat tetap terkendali; (c) hilangkan pola pikir tidak produktif, terutama melebih-lebihkan sesuatu tanda/ gejala sebagai pertanda bahwa bencana akan terjadi (melihat kucing hitam pertanda akan celaka, dll); (d) sediakan waktu untuk cemas, misalnya sediakan waktu 5 menit untuk merasa cemas. setelah 5 menit, maka hentikan berfikir sesuatu yang membuat cemas; (e) tolak pikiran negative. Bila kita takut mati ketika naik pesawat, maka coba pelajari data jumlah kecelakaan pesawat terbang, dll; (f) kurang bergaul dengan orang yang selalu merasa takut, cemas karena perasaan tersebut akan menular; (g) lakukan kegiatan kegiatan baru sehingga pikiran akan kematian jarang muncul; (h) buat rencana yang terkait dengan kematian dan penguburan dengan keluarga. Misalnya bila kita harus memakai mesin pernapasan di ICU, maka kapan mesin tersebut akan dicabut, dimana akan dimakamkan, dll
  • 4 Jadikan hidup penuh arti. Daripada sibuk memikirkan dan mencemaskan kematian, maka langkah berikut akan dapat mengurangi ketakutan akan mati: (a) upayakan agar hidupmu benar benar penuh arti dan bermanfaat; (b) luangkan waktu untuk orang orang yang kita cintai, jangan hanya sibuk mencari uang; (c) buat catatan harian yang berisi hal hal yang patut kita syukuri; (d) jaga diri, jangan lakukan hal hal negative yang akan merugikan diri sendiri, seperti: mengkonsumsi obat terlarang, makan berlebihan, dll;

Bersambung

6 Langkah mengurangi takut mati (1)

kematian3Salah satu gejala yang sering ditemui pada penderita gangguan jiwa adalah ketakutan, baik ketakutan karena mau ditangkap polisi, dianiaya atau bahkan takut dibunuh. Salah satu ketakutan yang palin extreme adalah ketakutan akan kematian (takut mati). Agar jiwa kita semakin sehat, tahan menghadapi tekanan jiwa, salah satu yang perlu kita lakukan adalah mengurangi ketakutan terhadap kematian. Berikut ini 6 langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi takut mati:

  1. Kenali ketakutan (fobia) tersebut. langkah pertama dalam mengatasi ketakutan akan mati adalah mengenali ketakutan tersebut: (a) sadari bahwa banyak orang merasa takut mati, (b) catat waktu dimana, kapan, dalam keadaan seperti apa, perasaan takut mati itu muncul, (c) catat hal hal yang menimbulkan kecemasan (kapan, dimana, keadaan seperti apa, dll), (d) bandingkan apakah ada pola yang sama antara kecemasan dengan ketakutan akan mati, (e) pahami kaitan antara kecemasan dengan antisipasi. Kadang hal yang dicemaskan tidak sejelek yang dibayangkan (f) hadapi kematian. Semua yang hidup pasti akan mati. Dengan secara tegar menghadapi kematian, maka ketakutan akan mati akan hilang dengan sendirinya.
  2. Tafakur tentang kehidupan. Dengan merenungkan kehidupan, maka kita akan dapat mengurangi ketakutan akan mati. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah: (a) pahami bahwa hidup dan mati tidak dapat dipisahkan. Setiap hari ribuan sel dalam tubuh kita mengalami kematian dan ribuan sel lainnya tumbuh menggantikan sel yang mati. Semua yang hidup akan mengalami kematian; (b) sadarilah bahwa tubuh kita merupakan bagian ecosystem dunia yang rumit; (c) pahami bahwa diri kita merupakan bagian dari scenario dunia; (d) luangkan waktu untuk menikmati alam, agar kita menyadari bahwa tubuh kita adalah bagian dari alam dunia ini; (f) pahami dan renungkan bahwa ada kehidupan yang abadi setelah kita mati. Dengan memahami bahwa ada kehidupan yang abaddi setelah kematian, maka sedikit demi sedikit kita akan dapat mengurangi ketakutan akan mati

Sumber bacaan: http://www.wikihow.com/Overcome-Fear-of-Death

5 Metode mengatasi kesedihan (2)

thOYX5XXT4Tulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Ketrampilan mengatasi kesedihan atau rasa kehilangan, merupakan salah satu ketrampilan yang penting agar jiwa kita dapat tetap sehat.

  • 4. Kenali dan tangani depresi berat (clinical depression). Depresi berat jarang terjadi dan biasanya tidak dapat sembuh dengan sendirinya, berlangsung dalam kurun waktu lebih lama/ menetap, dan kadang tanpa sebab yang jelas. Cara mengatasi depresi berat: (a) langkah pertama adalah dengan mengenali gejala depresi berat, seperti: perubahan pola makan, perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, terasa tidak bertenaga, tidak tertarik melakukan kegiatan yang dulu disenangi, merasa tidak ada harapan, tidak berharga/ tidak berguna, dll. (b) kenali penyebab depresi berat. Beberapa penyebab yang sering adalah: penyalah gunaan obat terlarang, menjadi gay/ lesbian atau transgender, atau dapat juga disebabkan adanya kelainan kimiawi otak, (c) cari pertolongan dokter dan atau tenaga kesehatan jiwa, (d) tetap melakukan kontak dengan saudara atau teman, (e) makan dan tidur secara sehat, (f) olah raga,
  • 5. Kenali dan atasi depresi musiman. Depresi musiman biasa terjadi di Negara Negara dengan 4 musim. Di Indonesia, dengan hanya ada 2 musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan, sepertinya depresi musiman tidak banyak ditemui.

5 Metode mengatasi kesedihan (1)

sedih3Semua orang pernah merasakan kesedihan. Berbagai studi menunjukkan bahwa perasaan sedih bertahan lebih lama dibandingkan dengan perasaan lainnya (marah, takut, dll).

Perasaan sedih adalah sesuatu yang normal. Namun sedih berlebihan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Berikut ini 5 metode mengatasi kesedihan:

  • Metode 1: tanggulangi (coping) perasaan sedih dengan: (a) menangislah. Beberapa riset menunjukkan bahwa dengan menangis, maka perasaan sedih akan berkurang; (b) Berolah raga. Olah raga akan dapat memicu keluarnya hormone endorphine yang dapat membantu melawan kesedihan; (c) tersenyumlah. Menurut beberapa penelitian, ternyata tersenyum, meskipun dalam keadaan sedih, akan dapat mengurangi kesedihan; (d) dengarkan musik. mendengarkan musik dapat membuat kita lebih santai dan mengurangi kesedihan; (e) mandi air hangat.
  • Metode 2: atasi (overcoming) kesedihan, dengan: (a) sadari dan terima bahwa kita sedang sedih. Dengan menyadari dan menerima hal tersebut, maka kesedihan akan berkurang; (b) alihkan perhatian dengan ngobrol dengan teman, lakukan kegiatan yang menyenangkan; (c) kendalikan pikiran (mindfulness) sehingga pikiran tidak melayang kemana-mana. dengan memikirkan masalah yang membuat sedih terus menerus akan membuat perasaan semakin sedih. Kendalikan pikiran agar tidak melayang ke hal-hal yang negative; (d) lakukan meditasi; (e) lakukan latihan yoga atau tai-chi.
  • Metode 3: kenali dan tangani persaan sedih akibat kehilangan. langkah yang perlu dilakukan: (a) Sedih karena kehilangan seseorang atau sesuatu benda yang berharga adalah reaksi yang normal. Oleh karena itu, coba kenali penyebab kesedihan yang sedang dialami; (b) Kenali rekasi normal yang muncul akibat kehilangan. reaksi yang normal tersebut adalah: tidak percaya atas apa yang terjadi, bingung, mati rasa, cemas, gejala di badan (sakit kepala, lemas, mau muntah), (c) jangan hakimi perasaan anda. perasaan sedih adalah hal biasa, bukan sesuatu yang jelek; (d) kenali tingkat tingkat kesedihan karena kehilangan, yaitu: menolak (denial – ini tidak benar, tidak mungkin terjadi), marah (ini tidak adil, kenapa menimpa saya), bargaining (tawar menawar – kalau saya tidak ke kantor, pasti anak saya tidak akan mengalami kecelakaan; kalau saya tidak pergi, pasti hal tersebut tidak akan terjadi, dll), depresi (gejala: lemas, lelah, tidak dapat tidur, sakiut kepala,tidak dapat menikmati sesuatu yang dulu menyenangkan) dan penerimaan  (acceptance: misal: ini sudah nasibku, takdir); (e) cari dukungan dari keluarga, teman atau sahabat,

bersambung

Sumber bacaan: http://www.wikihow.com/Overcome-Sadness

7 Langkah menumbuhkan jiwa welas asih (compassion)

compassionSalah satu ciri jiwa yang sehat dan dewasa adalah jiwa yang welas asih (compassion). Jiwa yang welas asih perlu dipupuk agar tumbuh subur.

Jiwa yang penuh welas asih akan membuat kita tahan menghadapi goncangan dan tekanan jiwa.

Berikut ini 7 langkah untuk menumbuh suburkan sifat welas asih:

  1. Doa dan renungan pagi. Di setiap pagi lakukan renungan dan doa berikut: ” Ya Allah, aku hidup dan bangun pada pagi hari ini, hidupku adalah hidup yang sangat berharga, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan memanfaatkan seluruh daya yang ada pada diriku untuk mengembangkan kemampuanku dan mengembangkan kalbuku, agar dapat menyebarkan dan melakukan kebaikan kepada orang banyak”
  2. Latihan berempati (tenggang rasa, memahami perasaan dan pikiran orang lain). Latihlah empati dengan membayangkan dan coba merasakan penderitaan saudara, sahabat ketika mengalami sakit atau berbagai bentuk kesusahan/ penderitaan lainnya. Agar sikap empati tersebut dapat berkembang menjadi simpati, latihlah untuk selalu focus atau memperhatikan orang lain, bukan focus atau memperhatikan diri sendiri.
  3. Latihan untuk melihat kesamaan, bukan perbedaan. Latihlah untuk melihat kesamaan yang ada diantara kita dengan orang orang yang kita temui, teman atau sahabat. Kurangi pikiran untuk melihat perbedaan yang ada.
  4. Berlatih mengurangi penderitaan atau kesusahan orang lain. Coba bayangkan kesusahan atau penderitaan orang lain dan lakukan sesuatu untuk mengurangi kesusahan atau penderitaan tersebut. Misalnya: coba lakukan puasa dan rasakan penderitaan akibat lapar. Rasakan kesusahan atau penderitaan orang yang tidak cukup makan dan lakukan sesuatu untuk membantu orang yang kelaparan.
  5. Lakukan kebaikan, walaupun kecil. Lakukan kebaikan untuk mengurangi penderitaan atau kesusahan orang lain, misalnya: beri sedekah nasi bungkus, kunjungi pasien di kelas 3 dan bawa sesuatu untuk mengurangi sakitnya, kunjungi sekolah dan bayar tunggakan biaya sekolah.
  6. Lakukan kebaikan kepada orang yang berbuat tidak baik kepada kita. Ini tingkat yang sudah lebih tinggi. kalau kita sudah dapat melakukan kebaikan (bukan karena takut) kepada orang yang berbuat jahat atau tidak baik kepada kita, maka kita sudah satu tingkat naik dalam jenjang welas asih.
  7. Lakukan renungan sore hari. Pada sore hari, lakukan evaluasi apa yang sudah kita lakukan terhadap orang lain, apakah kita sudah menolong mengurangi kesusahan atau penderitaan orang lain.

sumber bacaan: http://www.wikihow.com/Cultivate-Compassion-in-Your-Life

Cukuplah Allah bagi kami

Kolam Ikan Hias, masih dalam tahap pembangunan

Kolam Ikan Hias, masih dalam tahap pembangunan

Pada saat ini, Tirto Jiwo sedang membangun sebuah kolam ikan hias. Kami harapkan dengan adanya kolam ikan tersebut, maka suasana Tirto Jiwo akan semakin mendukung proses pemulihan.

Kami sengaja membangun prasarana Tirto jiwo berada dalam pertengahan. Keinginan kami, bangunan Tirto Jiwo tidak mewah bagi kalangan miskin, namun juga tidak jelek bagi kalangan berada.

Kami juga sengaja tidak menentukan tarif secara ketat. Bagi keluarga miskin, kami akan dengan sepenuh hati melayani. Bagi keluarga mampu, kami mengharapkan pengertiannya untuk membayar lebih sebagai bentuk infaq untuk mendapatkan keberkahan dari Allah. Keberkahan dari Allah swt merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kesembuhan seseorang dari gangguan jiwa. Bila Allah menghendaki, seberat apapun kondisi kesehatan jiwanya, akan dengan mudah dipulihkan.

Namun, namanya juga manusia. Beberapa keluarga yang mampu mencoba untuk membayar serendah mungkin. Mereka pikir bahwa membayar sedikit mungkin itu bagus buat mereka.

“Cukuplah Allah bagi kami, Allah yang akan memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami”

Tidak tahan menghadapi tekanan jiwa (distress intolerance)-3

Tulisan ini merupakan lanjuta tulisan sebelumnya.

Berikut ini beberapa metode untuk memperbaiki atau meningkatkan ketahanan jiwa menghadapi disstress (tekanan jiwa):

  1. Perbaiki pola pikir. Seseorang dengan distress intolerance biasanya mempunyai pola pikir yang tidak sehat, seperti: (a) melebih-lebihkan suatu kejadian kecil sebagai tanda akan terjadi bencana, (b) merasa dirinya selalu gagal, (c) terlalu cepat mengambil kesimpulan (melihat seseorang tak dikenal tertawa dengan teman-temannya, dianggap sebagai menghina atau mentertawakan dirinya), dan berbagai pola pikir kurang sehat lainnya. Teknik untuk memperbaiki pola pikir (cognitive therapy) dapat dipelajari dengan mendown-load artikel di website ini atau diberbagai wensite psikologi lainnya.
  2. Lakukan terapi perilaku. Bila penderita selalu menghindar terhadap situasi yang membuatnya stress, maka terapinya adalah dengan sedikit demi sedikit dilatih untuk menhadapi situasi yang membuatnya stress tersebut (jangan menghindar, tetapi dihadapi). Bila selama ini cara menghadapi stress dengan berkali-kali mengecek apakah pintu sudah terkunci, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah menahan diri untuk tidak mengecek kunci pintu tersebut.
  3. Lakukan relaksasi. Bila stress muncul, segera lakukan relaksasi dengan, misalnya: mengatur pernapasan (napas panjang), melakukan relaksasi otot, melakukan kegiatan yang dapat menghilangkan stress (melakukan hobi, jalan jalan ke taman, dll).
  4. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Peningkatan ketaqwaan dan keimanan akan dapat memperbaiki ketahanan seseorang dalam menghadapi stress. Seseorang yang percaya bahwa ada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka dia dapat berdoa untuk memohon perlindungan dari ancaman atau bahaya (sehingga rasa takut berlebihan menjadi hilang), memohon pengganti atas sesuatu yang hilang (sehingga rasa sedih menjadi berkurang), dan lain lain.
  5. Antisipasi munculnya stress. Kita perlu belajar atau mengenali factor atau kejadian yang memicu munculnya stress. Misalnya: kita merasa stress (marah atau sedih) setelah bertengkar dengan istri/suami atau saudara dekat, ketika harus mengumpulkan tugas pekerjaan kantor/ sekolah, bila tagihan kartu kredit dating, dll. Dengan mengenali factor atau kejadian pemicu munculnya stress, maka kita dapat lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi stress tersebut. Sebagai contoh: (a) bila kita stress setiap menghadapi ujian, maka caranya adalah dengan belajar yang rajin jauh jauh hari sehingga lebih siap ketika menghadapi ujian, (b) bila kita stress ketika menghadapi tagihan dari debt collector, maka kita harus berusaha mengendalikan keuangan.

Tidak tahan menghadapi tekanan jiwa (distress intolerance)-2

Tulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Tiga kelompok rasa yang muncul ketika kita mengalami stress atau tekanan jiwa, yaitu perasaan takut, marah atau sedih.

Sebenarnya kemunculan ketiga perasaan tersebut sangat normal dan diperlukan agar seseorang dapat bertahan hidup. Misalnya: (a) kita perlu rasa takut agar kita menghindar atau tidak mendekati harimau, (b) kita perlu rasa marah agar kita bertindak melindungi bila ada yang mengganggu anak kita, (c) perasaan sedih muncul ketika kita kehilangan orang tua atau kehilangan sesuatu yang berharga agar kita melindungi atau menjaga harta/ orang tua.

Permasalahan timbul ketika seseorang mudah frustasi karena tidak tahan merasakan sedih, marah atau takut tersebut atau dikenal sebagai distress intolerance. Agar seseorang lebih tahan menghadapi stress dan dapat menerima (accepting), maka orang tersebut perlu menyadari bahwa perasaan takut, sedih atau marah itu biasa dan diperlukan dalam kehidupan. Selain itu, perlu pula disadari bahwa perasaan takut, marah atau sedih tersebut bersifat sementara. Berikut ini beberapa langkah agar kita dapat menerima dan tahan menghadapi situasi yang menekan:

  1. Perhatikan dan amati perasaan/ emosi tersebut. Bila perasaan marah, takut, atau sedih muncul, kita dapat mengamati dan memperhatikan perasaan tersebut. Disini kita seolah olah orang lain yang mengamati dan memperhatikan perasaan yang muncul didalam diri kita.
  2. Memberikan “nama/ label atau menguraikan” rasa yang muncul. Kita dapat berkata kepada diri sendiri, misalnya: Saya merasakan sedih, badan terasa lemas dan tidak bertenaga. Saya hanya ingin tinggal dikamar.
  3. Jangan menghakimi atau memberi penilaian. Perasaan sedih, takut atau marah yang muncul bukan sesuatu yang jelek atau jahat. Kita perlu berlkatih untuk menerima bahwa kita mempunyai perasaan seperti itu dan tidak perlu memberi penilaian bahwa itu jelek atau jahat.
  4. Membayangkan (imagery). Kita bisa berlatih menerima munculnya stress dengan membayangkan stress tersebut sebagai awan mendung yang akan hilang, kereta api yang berlari kencang, ombak di lautan atau sebagai anak kecil yang nakal.
  5. Fokus pada keadaan sekarang. Bila perasaan marah, takut atau sedih tersebut muncul, maka secara pelan pelan fokuskan pikiran dan perasaan kita pada situasi sekarang. Misalnya fokuskan pada kegiatan yang sedang kita lakukan, music yang sedang kita dengarkan, dll.

Bersambung

Tidak tahan menghadapi tekanan jiwa (distress intolerance)-1

Semua orang pernah mengalami perasaan (emosi) yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.

Distress (tekanan jiwa)  adalah perasaan (emosi) yang tidak enak atau tidak nyaman disebabkan karena situasi yang sulit, susah, menderita, atau berbahaya.

Distress intolerance adalah keadaan dimana seseorang merasa tidak mampu menahan emosi yang tidak enak (tidak nyaman) dan berkeinginan untuk menghindari atau menghilangkan rasa tidak enak tersebut. Distress intolerance adalah keadaan dimana seseorang tidak tahan menghadapi tekanan jiwa.

Biasanya, keadaan emosi yang sering menimbulkan distress intolerance adalah dapat dikelompokkan perasaan sedih (kehilangan, malu, bersalah, dll) marah (benci, frustasi, dendam, dll) atau takut (panic, terancam, dll).

Seseorang yang mengalami distress intolerance biasanya berkata/ mengeluh: saya tidak tahan, saya bisa gila, saya akan kehilangan kendali, ini berbahaya, dll.

Ada beberapa cara menghadapi distress yang tidak sehat;

  1. Menghindar (avoidance). Menghindari situasi atau orang yang menimbulkan distress. Misalnya dengan menghindari tempat, suasana atau ketemu orang yang menimbulkan stress.
  2. Re-assuranceseeking atau checking. Menghindari distress dengan mencari dukungan atau mengecek keadaan berkali-kali. Misalnya distress karena takut terkena penyakit maka yang bersangkutan cuci tangan berkali-kali sehari. takut kemalingan dengan melakukan checking terhadap kunci pintu berkali-kali
  3. Distraction atau suppression. Menghindari stress dengan cara mengalihkan atau menekan stress tersebut. Masalahnya disini, biasanya seseorang tidak dapat mengalihkan atau menekan stress dalam waktu cukup lama. Bila ini terjadi, stress akan muncul kembali.
  4. Menarik diri (withdrawing) dan numbing (mematikan rasa). Distress coba dihindari dengan tidur berlebihan, minum alcohol (mabuk) atau obat terlarang, makan berlebihan.
  5. Harmful release (melepaskan stress dengan cara berbahaya). Misalnya orang tersebut memukul kepala, menggaruk-garuk kulit, menari-narik rambut, menggigit, memotong/ melukai diri, dll).

Sumber bacaan: http://www.cci.health.wa.gov.au/resources/infopax.cfm?Info_ID=54

Bersambung

Berlatih memaafkan

Salah satu kelemahan pada sebagian penderita gangguan jiwa adalah kurangnya kemampuan memaafkan. Mereka sering dikuasai oleh berbagai pikiran negative akibat rendahnya kemampuan mereka memaafkan kesalahan orang lain yang menyebabkan mereka merasa terlukai.

Berikut ulasan tentang cara atau metode agar kita lebih mudah memaafkan.

Arti maaf
Dari jawaban umum, kita bisa mengartikan memaafkan sebagai mengampuni kesalahan, tidak mendendam, memberi remisi, atau pembebasan .Secara psikologis, memaafkan merupakan proses menurunnya motivasi membalas dendam dan menghindari interaksi dengan orang yang telah menyakiti sehingga cenderung mencegah seseorang berespons destruktif dan mendorongnya bertingkah laku konstruktif dalam hubungan sosialnya (Cullough, Worthington, Rachal, 1997).
Dari contoh pertanyaan-pertanyaan di atas terlihat banyak kejadian menyakitkan hati akibat dicaci, dibohongi, ditipu, atau dikhianati orang lain, yang membuat kita sering sulit memberi maaf. Mengapa?

Fiksi
Menurut Janis Spring (1996), ada lima anggapan keliru tentang memaafkan yang mungkin membuat kita berhenti belajar melakukannya.
1. Pemaafan terjadi secara total dan sekaligus.
2. Ketika Anda memaafkan, perasaan negatif terhadap orang lain berganti menjadi perasaan positif.
3. Ketika memaafkan seseorang, Anda mengakui perasaan negatif Anda padanya adalah salah atau tak dapat dibenarkan.
4. Bila Anda memaafkan, Anda tidak akan mendapat imbalan apa pun.
5. Bila Anda memaafkan seseorang, Anda melupakan luka hati Anda.

Dengan memercayai fiksi-fiksi tersebut, maka sepertinya tingkah laku memaafkan jauh untuk bisa kita jangkau dan membuat kita jadi berpikir hanya orang suci atau nabilah yang dapat melakukannya karena harus dilakukan tanpa syarat, secara total, dan dengan cara mengorbankan diri pribadi.

Fakta
Padahal menurut Spring, ahli psikologi klinis dari Yale University, AS, memaafkan bukanlah tindakan yang bersih murni dan tidak mementingkan diri sendiri. Memaafkan adalah bagian dari proses yang dimulai ketika kita berbagi rasa sakit hati setelah peristiwa menyakitkan berakhir dan akan berkembang begitu kita punya pengalaman mengoreksi diri, yang membangun kembali rasa percaya dan keakraban terhadap orang lain.Untuk memperbaiki dugaan keliru tadi, kita perlu melihat kenyataan yang sesungguhnya terjadi pada kita sebagai manusia biasa agar dapat lebih mudah belajar memaafkan kesalahan.

Fakta 1. Proses memaafkan selalu berlangsung perlahan dan berlanjut sepanjang hubungan kita dengan orang tersebut.
Mungkin saat ini kita hanya dapat memaafkan kesalahan seseorang sebanyak 10 persen, dan begitu kita membina hubungan kembali kita mungkin dapat menambah dengan 70 persen, tetapi tak pernah lebih banyak lagi.
Hal di atas sah-sah saja. Kita tak perlu menjadi orang baik bila kita memaafkan secara total, kita juga tak perlu menjadi jahat bila tak bisa melakukannya. Kita hanya dapat memberi apa yang mampu kita berikan dan apa yang orang lain peroleh.

Fakta 2. Beberapa orang mungkin bertahan untuk memaafkan karena melihatnya sebagai ”penghentian permusuhan/dendam”, suatu kondisi di mana kepahitan lenyap digantikan rasa cinta dan kasih. Padahal sebenarnya tak ada orang mampu mencapai kondisi seperti itu.
Dalam hidup, luka psikis tak pernah sepenuhnya sembuh atau menghilang, ataupun secara ajaib digantikan hal positif lain. Yang benar, seperti halnya cinta yang matang, memaafkan membolehkan adanya pertimbangan serempak antara perasaan yang bertentangan, gabungan dari rasa benci dan cinta.
Bila kita memaafkan, kebencian kita tetap ada, tetapi diimbangi dengan kenyataan orang yang menyakiti tidaklah begitu buruk ataupun kita yang telah sangat naif.

Fakta 3. Sebenarnya, dengan memaafkan bukan berarti kita mengingkari kesalahan pelaku atau ketidakadilan yang telah terjadi, tetapi hanya membebaskannya dari ganti rugi (retribusi).

Fakta 4. Beberapa orang tak mau memaafkan karena berpikir, ”Mengapa saya harus membebaskan seseorang dari kewajiban memperbaiki kesalahannya?”
Padahal, dengan memaafkan tidak berarti kita lemah atau harus membuat orang lain jadi tidak bertanggung jawab. Bila tujuan kita berekonsiliasi, memaafkan memerlukan penebusan dari pelaku. Pemaafan yang sesungguhnya tak bisa diberikan sampai pelaku membayarnya melalui pengakuan, penyesalan, dan penebusan.

Fakta 5. Yang benar, bagaimanapun orang yang disakiti tak pernah akan lupa seperti apa kita telah diperdaya atau dikhianati, apakah kita memaafkan atau tidak.

Setelah bertahun-tahun berlalu, kita akan tetap bisa mengingatnya, tetapi hanya sebagai bagian dari suatu gambaran/potret yang juga melibatkan masa-masa kebersamaan lain yang lebih positif dengan pelaku.

3 Kunci Rahasia
Lantas bagaimana caranya agar kita bisa lebih mudah memaafkan orang yang bersalah kepada kita? Apa yang perlu kita ketahui dan lakukan agar terbebas dari rasa tidak nyaman dan tersiksa karena sakit hati? Berikut ada tiga kuncinya.

Pertama, kita perlu memahami bahwa meskipun orang yang berbuat salah kepada kita harus menerima balasan atas perbuatannya, tidak berarti kita yang berhak menghukumnya. Orang yang bersalah memang pantas dihukum, tapi siapa yang melakukannya, dimana dan kapan, itu bukan urusan kita.
Lagi pula, orang yang kita benci   seringkali  tidak merasa bersalah dan tenang-tenang saja. Sebaliknya kitalah yang terbebani secara emosi. Setiap kali kita teringat orang yang kita benci, perasaan itu kembali muncul seketika. Karena itu kita yang akan rugi sendiri.

Kedua, memberi maaf tidak berarti membebaskan orang yang kita maafkan  atas kesalahannya.  Juga tidak berarti melepaskan orang yang bersalah dari hukuman formal, jika kesalahannya  melanggar hukum positif.
Penerimaan hukum formal oleh orang yang melakukan kejahatan tidak otomatis membuka pintu maaf. Buktinya, ada saja orang yang tetap tidak mau memaafkan orang lain meskipun yang bersangkutan sudah menjalani hukuman.
Selain itu memberi maaf juga tidak mengubah nilai perbuatan salah menjadi benar. Meskipun kita memaafkan orang lain yang bersalah kepada kita, tidak berarti perbuatannya menjadi benar.
Memberi maaf berarti menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang berbuat salah kepada kita. Dan ini sebenarnya lebih untuk kebaikan orang yang memberi maaf daripada kebaikan orang yang dimaafkan. Maaf akan membebaskan yang bersangkutan dari beban emosi yang bisa merusak mental dan tubuhnya.

Karena itu, setiap kali Anda merasa diperlakukan salah, maafkanlah, bahkan sebelum yang bersangkutan meminta maaf dan meskipun yang bersangkutan tidak meminta maaf. Karena memberi maaf lebih untuk kebaikan Anda daripada orang yang Anda beri maaf.

Ketiga, agar lebih mudah memaafkan orang lain  maka serahkan urusan kesalahan orang lain kepada Tuhan.  Setiap orang pasti menerima konsekuensi dari tingkah lakunya. Jika baik, maka akan berbalas baik. Dan jika buruk maka balasannya juga buruk. Tidak peduli apakah suatu keburukan akan dibalas dengan keburukan yang sama, akan dibalas langsung atau tertunda, akan dibalas di dunia atau di akhirat. Yang pasti, setiap keburukan pasti dapat balasan yang setimpal.

Dalam hidup ini Tuhan menciptakan apa yang kita sebut dengan hukum kekekalan energi. Energi tidak bertambah atau berkurang, hanya berubah bentuk. Semua tingkah laku kita merupakan energi, baik positif maupun negatif. Energi yang kita keluarkan pasti sama dengan yang kita terima, meskipun bentuknya bisa berbeda. Karena itu, jika kita menyakiti orang lain, maka energi negatif itu akan kembali kepada kita meskipun dengan bentuk lain.

Karena itu, dengan ketiga kunci tersebut diharapkan kita dapat memulai hari di awal tahun ini dengan bebas dari tekanan dan beban emosi. Dengan begitu, hidup lebih tenang dan juga kita akan terbebas dari penjara mental (ego) menuju kehidupan yang lebih damai dan bahagia.

Sumber: https://irvanhabibali.wordpress.com/2009/08/12/memaafkan-kesalahan-orang-lain-kenapa-tidak/