Sisi lain dari kecemasan (anxiety)-3

washmeTulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Apa dampaknya bila kecemasan yang timbul dari masalah yang tidak selesai tersebut dibawa terus?

Kecemasan yang berkepanjangan dapat mendorong timbulnya penyakit jasmani, seperti: tekanan darah tinggi, jantung, gangguan kekebalan tubuh, stroke, gula darah, dan penyakit jasmani lainnya.

Kecemasan yang berkelanjutan juga membuat seseorang mencoba mengatasi hal tersebut dengan cara yang tidak sehat, sehingga menimbulkan berbagai gejala gangguan kejiwaan. Jenis gejala yang muncul tergantung dari permasalahan yang ada dan bagaimana perasaan yang bersangkutan terhadap masalah yang ada

  • menjadi depresi, badan terasa lemah, sedih berkepanjangan, tidak ada gairah hidup.
  • mengalami halusinasi, yang paling sering berupa halusinasi suara. Yang bersangkutan sering mendengar suara atau bisikan dari seseorang yang sebenarnya tidak ada. bisikan bisikan itu dapat berasal dari satu orang atau lebih, ada yang bersikap bersahabat namun sering juga ada yang bersikap kasar dan menghina atau memerintah dan mengancam.
  • waham curiga. Merasa ada orang yang akan menangkap, mencelakakan atau berbuat jahat terhadap dirinya. Bentuk kecurigaan itu dapat berupa takut diracun lewat makanan sehingga tidak mau makan kecuali dia sendiri yang masak, takut ada kuman atau racun ditangannya sehingga sering mencuci tangan sampai lecet-lecet.
  • hidup dalam alam khayalnya karena tidak kuat menanggung beban yang terlalu berat ketika hidup dialam kenyataan.

Semua gejala gangguan jiwa, seperti halusinasi atau waham tersebut akan hilang dengan sendirinya bila masalah utama yang menimbulkan kecemasan dapat diselesaikan. Tantangannya adalah bagaimana membuat yang bersangkutan mau menyadari dan menerima atau memecahkan masalah yang dialaminya

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Memperkuat ketahanan jiwa-1

EarlyInterventionInPsychosisFourMencegah lebih baik dari mengobati. Ungkapan tersebut juga berlaku pada gangguan jiwa. Mencegah timbulnya gangguan jiwa lebih baik, lebih mudah dan lebih murah, dibandingkan dengan memulihkan penderita gangguan jiwa.

Meskipun demikian, mencegah seseorang dari terkena gangguan jiwa tidak gampang. Beberapa masalah yang dihadapi adalah:

  1. Gejala awal gangguan jiwa tidak spesifik (seperti: gelisah, gangguan tidur, kinerja sekolah menurun, menarik diri dari pergaulan, dll). Gejala tersebut juga sering muncul pada orang orang normal yang sedang mengalami tekanan jiwa.
  2. Kurangnya kesadaran untuk minta pertolongan. Selain sulitnya mendeteksi gejala awal gangguan jiwa, seringkali gejala awal tersebut tidak mendorong seseorang untuk meminta pertolongan. Adanya gejala anak yang menarik diri dari pergaulan, menurunnya prestasi di sekolah tidak menjadi pendorong bagi keluarga untuk meminta pertolongan.
  3. Tidak semua anak dengan resiko tinggi akan mengalami gangguan jiwa. Ada beberapa anak yang mempunyai resiko lebih tinggi untuk mendapatkan gangguan jiwa. Anak anak yang mempunyai resiko tinggi adalah anak dengan saudara dekat penderita gangguan jiwa. Anak dengan salah satu dari orang tuanya menderita gangguan jiwa, saudara sekandung dengan gangguan jiwa mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita gangguan jiwa. Meskipun demikian, anak dengan resiko terkena gangguan jiwa tidak otomatis akan menderita gangguan jiwa dikemudian hari.
  4. Hambatan untuk mendapatkan pertolongan. Adanya stigma atau cap bahwa seseorang punya bakat untuk menderita gangguan jiwa akan membuat sang anak semakin menarik diri atau dijauhi teman temannya. Tidak tersedianya ahli  atau seseorang yang dapat menolong mencegah terjadinya gangguan jiwa juga merupakan hambatan bagi program pencegahan gangguan jiwa.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

8 Langkah latihan mengatur emosi (2)

dreng%20raaber%20frustreret%20colourboxTulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya.

  • Langkah 4: Sering terlibat dalam kegiatan yang menghasilkan emosi positif. Kejadian kejadian yang tidak menyenangkan akan menimbulkan reaksi berupa munculnya emosi negative (sedih, marah, cemas, dll). Dalam jangka panjang, kita perlu mengatur hidup kita sehingga lebih banyak terlibat dalam kegiatan atau kejadian yang memberikan efek pada emosi positif. Kegiatan yang akan menimbulkan emosi positif, misalnya: sedekah, menolong atau membantu seseorang, melakukan hobi, ikut pengajian, dll.
  • Langkah 5: Tingkatkan perhatian (mindfulness) pada emosi saat ini. Kita perlu melatih agar pikiran kita selalu focus pada keadaan atau kejadian yang berlangsung saat ini. Jangan biarkan pikiran melayang ke masa lalu atau ke masa depan. Tingkatkan perhatian pada emosi yang sedang kita jalani sekarang.
  • Langkah 6: Coba lakukan kegiatan yang berlawanan. Bila kita sedang sedih (badan terasa lemas dan tak bertenaga, biasanya hanya ingin tiduran atau bermalas-malasan), maka segera bangun dan lakukan olah raga di luar rumah; Bila kita marah, maka coba duduk atau tiduran.
  • Langkah 7: lakukan teknik untuk meningkatkan daya tahan menghadapi stress (distress tolerance technique) yang dapat dipelajari dari tulisan ini.
  • Langkah 8: Paparkan emosi. Buat catatan tentang emosi negative yang ingin kita atur. Misalnya, bila kita ingin mengatur emosi sedih, maka langkahnya adalah buat catatan tentang kejadian yang membuat sedih, reaksi tubuh ketika sedih, pikiran yang mucul, perilaku waktu sedih. Kemudian secara bertahap (mula mula sebentar saja) membayangkan kejadian yang membuat kita sedih dan coba amati reaksi yang muncul di tubuh kita. Dengan melatih hal ini, maka kemampuan kita mengatur rasa sedih akan meningkat.

Semoga bermanfaat.

8 Langkah latihan mengatur emosi (1)

dysregulation-wise-mindSalah satu ketrampilan yang perlu dipunyai agar jiwa sehat adalah ketrampilan mengatur emosi. Emosi (marah, takut, sedih,gembira, dll) tidak dapat dilepas semaunya. Emosi perlu diatur agar selaras dengan kehidupan social yang normal.

Beberapa penderita gangguan jiwa jenis borderline personality disorder, gangguan jiwa bipolar, depresi berat maupun penderita gangguan schizoaffective, mempunyai kelemahan dalam mengatur emosi.

Berikut ini 8 langkah mengatur emosi:

  • Langkah 1: Mengenali dan memberi nama (label) dari affect (perasaan, emosi). Kadang seseorang marah, sedih atau cemas tanpa sadar. Langkah pertama agar kita mampu mengatur emosi adalah mengenali dan memberi nama (label) atas setiap emosi yang terjadi pada diri kita. Untuk itu, kita perlu dapat mengenali dan menyadari setiap perubahan emosi. Dengan mengenali setiap perubahan emosi yang muncul, kita akan dapat pula mengidentifikasi: (a) kejadian yang memicu munculnya emosi, (b) arti atau interpretasi yang kita berikan kepada kejadian pemicu tersebut, (c) perubahan fisik yang terjadi ditubuh kita (misalnya: jantung berdetak lebih cepat), (d) perilaku yang muncul yang terkait dengan emosi tersebut (misalnya: membanting piring), (e) dampak dari emosi tersebut terhadap fungsi tubuh secara keseluruhan (missal: sedih membuat badan lemas, tidak dapat berangkat kerja).
  • Langkah 2: Mengenali hambatan dalam mengubah emosi. Mengubah emosi itu tidak gampang, karena biasanya kita sudah terbiasa dengan reaksi lanjutan dari munculnya emosi tersebut. Misalnya: bila sedih atau marah terus larinya ke minum minuman keras karena dengan minum maka marah/ sedih berkurang.  Bila sedih, terus makan banyak. Kebiasaan kebiasaan tersebut membuat kita lebih sulit mengatur emosi.
  • Langkah 3: Kurangi kerentanan terhadap emotional mind (pikiran yang dikuasai emosi). Kerentanan terhadap emotional mind dapat dikurangi dengan kebiasaan hidup sehat: olah raga teratur, makan sehat teratur, tidak begadang, tidak minum minuman keras, dll.

Sumber bacaan: http://www.mindfulnessmuse.com/dialectical-behavior-therapy/top-10-ways-to-regulate-emotions-part-one

Meningkatkan daya tahan menghadapi stress (2)

640px-sketching_8925389363Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Daya tahan menghadapi stress (distress tolerance) dapat pula ditingkatkan dengan teknik yang dikenal dengan singkatan ACCEPT (Activities, Contributing, Comparison, Emotion, Pushing away, Thought, Sensations):

  1. Activities, yaitu melakukan kegiatan (biasanya berupa hobi atau kegiatan lain yang menyenangkan) untuk mengalihkan perhatian dari hal yang membuat jiwa kita tertekan.
  2. Contributing, melakukan kegiatan yang tujuan utamanya melayani orang lain, menolong orang lain mengatasi masalahnya, menjadi sukarelawan, melakukan kerja bakti, membersihkan masjid, dll.
  3. Comparison, mengurangi tekanan jiwa dengan membandingkan keadaan kita dengan nasib orang lain yang lebih jelek atau membandingkan dengan keadaan dimasa lalu yang lebih jelek.
  4. Emotions, mengembangkan suasana hati yang berbeda, misalnya: (a) bila sedih, maka lihat film komedi atau mendengarkan music rock,  (b) bila takut, maka tonton film kepahlawanan (spiderman), dll.
  5. Pushing away, mengganti pikiran yang membuat stress dengan pikiran lain atau memberikan perhatian ke hal hal lain. Bisa juga dengan membayangkan masalah tersebut dimasukkan kedalam kotak dan sementara disimpan ditempat lain. Bagi anak muda yang belum dewasa dan punya bakat gangguan jiwa dan orang yang pernah terkena gangguan jiwa, metode pushing away ini dapat mendorong timbulnya halusinasi dan waham.
  6. Thoughts, tujuannya adalah mengisi otak anda dengan pikiran pikiran berbeda yang menyenangkan atau tidak membuat stress (misalnya: secara sadar membayangkan membuat taman dirumah, menyanyikan lagu yang syairnya tidak ingat, mencoba menebak apa pekerjaan orang orang yang berada dalam satu bus, dll). Metode thoughts ini juga tidak tepat bagi anak muda yang punya bakat gangguan jiwa atau orang yang pernah mengalami gangguan jiwa karena akan mendorong munculnya waham dan halusinasi. Metode ini hanya cocok untuk orang yang tidak punya bakat gangguan jiwa.
  7. Sensations, memanfaatkan paca indera untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang membuat stress. Misal: (a) indera pendengaran: mendengarkan suara gemericik air, suara burung, dan suara suara alam lainnya; (b) penciuman: mencium aroma (bunga, buah, tanaman) yang menyegarkan; (c) penglihatan: melihat pemandangan alam atau membayangkan kita merenovasi rumah, (d) rasa: makan makanan kesukaan, mencoba makanan baru, (e) sentuhan: berendam air hangat, pijat.

Meningkatkan daya tahan menghadapi stress (1)

distresstoleranceDistress tolerance adalah kemampuan seseorang menjalani atau mengalami hal hal yang tidak menyenangkan, seperti hal hal yang menimbulkan kesedihan, kepedihan, menanggung malu, ketakutan, kemarahan, dan hal hal yang tidak menyenangkan lainnya.

Seseorang dengan distress tolerance bukannya tidak merasa sedih, marah atau takut. Namun, dia tahan ketika merasakan semua penderitaan tersebut.

Meningkatkan distress tolerance bukannya mengurangi stress (tekanan jiwa), tapi memperkuat jiwa seseorang sehingga meskipun tekanan jiwa datang, dia tidak menjadi sakit jiwa atau melakukan hal hal yang merugikan.

Orang dengan distress tolerance yang rendah sering melakukan kesalahan, yaitu mencoba melarikan diri dari stress dengan minum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, mengamuk (marah marah), atau membiarkan masalah tanpa mau mencoba memecahkannya.

Salah satu metode meningkatkan distress tolerance adalah dengan melakukan IMPROVE (Imagery, Meaning, Prayer, Relaxation, One thing at a time, Vacation, Encouragement)

  1. Imagery, secara sadar membayangkan suatu keadaan yang tenag, damai dan menyenangkan. Metode ini sebaiknya hanya dipergunakan oleh orang yang sudah dewasa (berusia diatas 40 th) dan tidak mempunyai riwayat gangguan jiwa berat (psikosis). Metode imagery (membayangkan) dapat membuat munculnya halusinasi maupun waham.
  2. Meaning, mencari makna atau hikmah dari suatu kejadian. Misalnya: (a) lebih baik meninggal dari pada sakit berkepanjangan; (b) masih untung hanya kaki yang putus, bukan meninggal, (c) lebih baik, selamat. uang dapat dicari, dll.
  3. Prayer, berdoa kepada Tuhan. dengan berdoa, maka hati akan menjadi tenang.
  4. Relaxation, melakukan relaksasi misalnya dengan bernapas dalam dan panjang, menerapkan progressive muscle relaxation, dll.
  5. One thing at a time. Satu persatu masalah dipecahkan atau memecahkan masalah besar dengan menguraikannya satu persatu.
  6. Vacation, yaitu pergi bersantai atau berlibur untuk menyegarkan pikiran.
  7. Encouragement, yaitu berbicara atau menasehati diri sendiri agar tetap tenang, kalm, tidak emosi, dll.

5 cara mengendalikan emosi

emosionalSemua orang pernah merasakan sedih, gembira, marah atau takut. Namun emosi yang tidak terkendali dapat merugikan diri sendiri. Misalnya, bila kita tidak dapat mengendalikan emosi ketika ada orang yang menyenggol motor/ mobil kita, maka nyawa kita dapat terancam. Bila kita tidak dapat mengendalikan tawa kita ketika melihat sesuatu yang menurut kita lucu, mungkin orang lain akan mulai menjauhi kita.

Berikut ini 5 cara agar kita lebih dapat mengendalikan emosi kita:

  1. Pilih situasi. Bila kita sering emosional ketika terburu-buru, maka usahakan buat rencana sehingga kita tidak perlu terburu-buru. Bila kita sering emosi bila bertemu dengan seseorang teman, maka coba jaga jarak dengan teman tersebut.
  2. Ubah situasi. Kita sering emosional karena ada rasa kecewa dibalik kejadiannya itu. Misalnya, kita sering emosional setiap kali memasak masakan tapi tidak ada yang makan. Maka jalan keluarnya adalah kita ubah masakan kita, misalnya dengan memasak makanan yang disukai suami/ anak. Bila kita emosional ketika sedang berdiri, cobalah duduk. bila kita emosional ketika sedang didalam ruangan, cobalah jalan ke halaman.
  3. Ubah fokus perhatianmu. Sering kali seseorang emosional karena ada rasa rendah diri (inferior). Untuk mengatasi hal itu, coba fokuskan perhatian kita pada orang orang yang secara status sosial/ prestasi dibawah kita. Bila kita emosional ketika bermain tenis meja, karena kita sering kalah, maka dilain waktu ajak bermain orang yang dibawah kita ketrampilannya bermain tenis meja.
  4. Ubah pikiranmu. Pada dasarnya kita dapat memberi arti yang berbeda-beda terhadap suatu kejadian. Ketika ada 2 orang yang duduk di meja dekat kita tertawa, maka kita dapat punya berbagai pikiran, misalnya: orang itu pasti mentertawakan saya sehingga kita menjadi emosi, atau kita ubah pikiran kita dengan berpikir bahwa orang tersebut tertawa tidak ada hubungannya dengan kita. Teknik ini disebut dengan cognitive reappraisal.
  5. Ubah response/ reaksimu. Langkah terakhir bila semua cara yang diuraikan tersebut tidak berhasil adalah dengan mengubah response atau reaksi kita. Misalnya, bila kita merasa marah mulai tidak terkendali, cobalah atur pernapasan dengan menarik napas dalam, melakukan berbagai teknik relaksasi. Bila kita sedih, cobalah lakukan olah raga, jalan jalan ke taman, dll.

Sumber bacaan: https://www.psychologytoday.com/blog/fulfillment-any-age/201502/5-ways-get-your-unwanted-emotions-under-control

Ketahanan jiwa

6031d9076b00432046b6b300adb167abKetahanan jiwa adalah suatu kondisi dimana seseorang dapat segera bangkit kembali ketika jatuh atau mengalami tekanan jiwa. Ketahanan jiwa adalah kemampuan menghadapi dan mengatasi hal hal yang menekan jiwa, seperti: kegagalan, kehilangan, mendapat malu, ancaman, dan lain lain.

Ketahanan jiwa sangat terkait dengan pemulihan gangguan jiwa. Biasanya, ketahanan jiwa para penderita gangguan jiwa dalam kondisi lemah. Agar dapat pulih dan lepas dari obat, ketahanan jiwa penderita gangguan jiwa perlu diperkuat.

Tanda yang terlihat pada seseorang dengan ketahanan jiwa yang lemah adalah: sering merasa takut, merasa tidak aman, dan tidak percaya diri. Sedangkan tanda tanda seseorang dengan ketahanan jiwa yang kuat adalah: jiwa yang penolong (compassion), selalu bersyukur, pemaaf, cepat baik kembali (tidak jadi pendendam, bila tersinggung dapat cepat kembali menguasai diri), bisa mengendalikan emosi dan baik hati.

Ketahanan jiwa terbentuk sejak kecil. Menurut dr Christof Wiechert, agar mempunyai ketahanan jiwa, seorang anak dalam perkembangannya perlu:

  • Mempunyai hubungan yang stabil dan dapat diandalkan (reliable) dari seseorang. Biasanya seorang anak mendapatkan hal tersebut dari ibunya. Meskipun demikian, anak juga dapat mendapatkan hubungan yang stabil dan dapat diandalkan tersebut dari orang lain, misalnya: ayah, nenek,tante, atau orang lain yang tinggal serumah.
  • Memiliki pengalaman dibimbing seseorang yang tegas. Ketika masih kecil, seorang anak belum dapat mengambil keputusan sendiri dengan baik. Pengalaman mendapat bimbingan dari seseorang yang dengan tegas menunjukkan mana yang baik (boleh) dan mana yang tidak baik (tidak boleh) akan sangat membantu dan menimbulkan rasa aman pada diri sang anak. Rasa aman ini sangat penting bagi pertumbuhan jiwa yang sehat.
  • Anak perlu belajar melalui contoh. Hingga usia 10 tahun, anak anak belajar, utamanya, dari meniru atau mencontoh. Untuk itu, anak perlu mendapatkan seseorang didekatnya yang dapat memberikan contoh yang baik, utamanya dari sisi moral. Rasa percaya diri dan lain lain, terbentuk bukan dari proses kognisi, tapi tumbuh berdasar pengalaman hidup yang dijalaninya.
  • Anak anak perlu mendapat pengalaman hidup melalui kegiatan khusus. Kegiatan kegiatan khusus seperti merayakan lebaran, mendengarkan dongeng sebelum tidur, ikut orang tua berkunjung ke saudara merupakan pengalaman hidup yang penting yang akan dapat menumbuhkan ketahanan jiwa.
  • Pengalaman positif selama di sekolah.  Pengalaman positif selama bersekolah juga akan dapat memperkuat ketahanan jiwa seorang anak. Anak anak yang sering diancam, diejek, dan lain lain akan menyebabkan ketahanan jiwanya lemah.

Sumber bacaan: http://www.waldorftoday.com/2011/08/resilience-by-christof-wiechert/

9 Langkah mengurangi cinta dunia

materialismSalah satu ciri jiwa yang sehat adalah jiwa yang tidak terlalu cinta dunia.

Pengertian cinta dunia yang saya maksudkan adalah dimana kita mengukur segala sesuatu dari sisi materi. Kesuksesan seseorang diukur dari harta benda yang dipunyai, pangkat yang tinggi dan popularitas (terkenal).

Terlalu cinta dunia, membuat kita tidak bahagia dan takut mati. Terlalu cinta dunia juga membuat kita tidak bahagia dan rentan terhadap tekanan jiwa.

Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi cinta dunia:

  1. Hentikan pergi belanja (atau ke mall) sebagai kegiatan hiburan. Hal hal yang perlu dilakukan: (a) Hilangkan pikiran bahwa mall adalah tempat rekreasi. Jangan pergi ke mall, kecuali bila kita benar benar perlu belanja disana. (b) Belilah barang sesuai kebutuhan (needs), bukan karena keinginan (want); (c) Bila kita ingin membeli sesuatu, catatlah benda yang ingin dibeli tersebut dan kita simpan catatan tersebut selama 30 hari. Setelah 30 hari, lihat lagi catatan tersebut. Sebagian besar barang yang kita catat 30 hari yang lalu sudah tidak kita inginkan lagi.
  2. Beli barang secara fungsional. Jangan beli barang karena merk/ brand atau karena gengsi. Bila kita perlu beli kendaraan, belilah kendaraan sesuai fungsinya sebagai alat transportasi, bukan sebagai alat untuk pamer kekayaan atau gengsi.
  3. Kurangi menonton TV. Kurangi rangsangan yang membuat kita bersifat materialistik, seperti kurang menonton TV yang banyak menyampaikan gaya hidup gemerlap/ keduniawian, kurangi mengunjungi pameran mobil, pakaian, dll yang dapat mendorong kita menjadi konsumptif.
  4. Batasi selancar di internet. Setelah TV, internet juga banyak menyodorkan informasi dan rangsangan gaya hidup mewah, seperti informasi tentang kehidupan selebriti, dll.
  5. Jadilah lebih berwawasan lingkungan.Sadarilah bahwa ada kaitan antara kerusakan lingkungan dengan pola hidup yang materialistik. Dengan lebih sadar dan berwawasan lingkungan, maka kita akan dapat mengurangi dorongan untuk mengkonsumsi lebih banyak materi.
  6. Kumpulkan dan buang barang tidak terpakai. Dengan mengumpulkan dan membuang barang tidak terpakai, kita akan sadar betapa banyak kita telah memboroskan materi. Kesadaran akan pemborosan yang telah kita lakukan akan dapat mengurangi dorongan untuk membeli banyak barang yang sering tidak diperlukan.
  7. Ikuti kegiatan hiburan yang tidak materialstik. Kita dapat menghibur diri dengan: (a) mengunjungi dan mengobrol dengan tetangga, saudara atau sahabat, (b) membaca buku riwayat hidup orang orang besar yang banyak berjasa, (c) menyaksikan kegiatan olah raga gratis (non-professional), seperti pertandingan olah raga tingkat kampong, antar sekolah, dll.
  8. Hilangkan keterikatan kepada barang. Sadari bahwa barang suatu saat akan hilang, rusak atau tidak terpakai lagi. Untuk itu, kurangi keterikatan kepada barang dan tumbuhkan keterikatan/ koneksi kepada manusia dengan menjalin persahabatan dan persaudaraan.
  9. Tingkatkan keimanan dan ketaqwaan. Pelajari agama, khususnya tentang aqidah. Jalankan perintah agama, seperti: bersedekah, menolong orang lain yang membutuhkan, hidup qanaah (cukup dengan apa yang ada), hidup zuhud, meningkatkan silaturahmi, mengunjungi orang sakit, berpuasa Senin-Kamis, dll

Semoga bermanfaat.

Sumber bacaan: http://www.wikihow.com/Escape-Materialism-and-Find-Happiness

6 langkah untuk mengurangi takut mati (3)

thZIL95MURTulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Berikut ini beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi ketakutan menghadapi kematian:

  • 5. Temukan pendukung. Adanya pendukung akan dapat membantu kita mengatasi masalah ketakutan menghadapi kematian tersebut. Langkah langkah untuk mendapatkan dukungan dapat dilakukan dengan: (a) cerita atau curhat kepada saudara atau teman dekat yang dapat dipercaya Dengan mengeluarkan isi hatri dan bercerita, maka kita akan dapat memperoleh dukungan atau mungkin mendapatkan cara untuk mengurangi ketakutan tersebut; (b) bila kecemasan atau ketakutan tersebut terasa berat, maka cobalah kunjungi psikolog atau psikiater. Bisa juga lakukan konsultasi ke Kyai atau pemuka agama; (c) kunjungi “death café”. Di Amerika ada death café, sebuah café dimana ada sekelompok orang yang suka berdiskusi atau ngobrol tentang kematian. saya tidak pernah dengar adanya death café di Indonesia;
  • Gunakan teknik relaksasi.Perasaan cemas akibat ketakutan menghadapi kematian dapat dikurangi dengan melakukan berbagai teknik relaksasi, seperti: (a) menerapkan pernapasan dalam/ tarik napas dalam (deep breathing), (b) lakukan meditasi (mindfulness meditation), (c) lakukan yoga, (d) lakukan relaksasi otot secara progressive (progressive muscle relaxation), (e) lakukan dzikir. Dengan berdzikir/ mengingat Allah, maka hati akan menjadi tenang.

Semoga bermanfaat.

Sumber bacaan: http://www.wikihow.com/Overcome-Fear-of-Death