Terapi untuk mengatasi trauma

what_is_tf-cbtSebagian besar kita pernah atau akan mengalami kejadian yang mengancam jiwa, menakutkan, dan diluar kendali kita.

Trauma yang sering terjadi, antara lain: kecelakaan, korban kekerasan seksual atau  fisik, berada dalam situasi yang mengancam jiwa (perang, bencana alam).

Perasaan yang timbul biasanya berupa: ketakutan, perasaan bersalah, terkejut, malu, marah, merasa terancam.

Biasanya, dengan berjalannya waktu, sebagian besar orang yang mengalami trauma dapat mengatasi masalahnya tanpa perlu pertolongan orang lain. Pada sebagian orang, dampak akibat trauma berlangsung lebih lama dan lebih berat. Mereka biasanya memerlukan bantuan untuk memulihkan kesehatan jiwanya.

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), yaitu gangguan tekanan jiwa sehabis mengalami trauma, mempunyai 4 kelompok gejala:

  • Munculnya ingatan atau perasaan seperti ketika mengalami ulang kejadian tersebut
  • Merasa sangat terancam atau menjadi terlalu waspada
  • Menghindari hal hal yang akan mengingatkan kepada kejadian tersebut
  • Mengalami perubahan dalam memandang dunia, orang lain maupun dirinya sendiri.

Diagram diatas menggambarkan proses atau keterkaitan antara trauma dengan berbagai gejala psikologis dari PTSD. Truma menyebabkan pandangan seseorang terhadap dirinya, diri orang lain, masa depannya maupun terhadap dunia. Bila ada kejadian atau sesuatu yang mengingatkan akan trauma tersebut, maka yang bersangkutan mengalami gejala ataupun perasaan seperti ketika dulu mengalami hal tersebut. Hal tersebut membuat yang bersangkutan merasa ketakutan atau terancam jiwanya.

Terapi terhadap PTSD dilakukan dengan: (a) membuat stabil emosi penderita dengan berbagai teknik seperti teknik relaksasi. Kestabilan emsoi juga dapat dicapai dengan memperkuat ketahanan jiwanya. (b) menguraikan ingatan tentang kejadian yang traumatis tersebut. Dengan mengingat kembali dan mengatasi dampak negative yang timbul dari kejadian yang traumatis, maka pelan pelan dampak negatifnya akan dapat dikurangi. (c) langkah berikutnya adalah memperbaiki (meluruskan kembali) kepercayaan (beliefs) yang timbul sebagai akibat dari kejadian yang traumatis tersebut. Misalnya karena pengalaman perang, maka setiap mendengar mercon akan merasa kembali berada dalam peperangan. Hal hal seperti itu perlu diluruskan kembali. (d) membangun kembali kehidupannya. PTSD sering membuat seseorang berantakan hidupnya. langkah keempat adalah bekerja sama dengan therapist untuk menata kembali kehidupan yang bersangkutan.

sumber: http://psychology.tools/what-is-tf-cbt.html

Tidak tahan menghadapi tekanan jiwa (distress intolerance)-3

Tulisan ini merupakan lanjuta tulisan sebelumnya.

Berikut ini beberapa metode untuk memperbaiki atau meningkatkan ketahanan jiwa menghadapi disstress (tekanan jiwa):

  1. Perbaiki pola pikir. Seseorang dengan distress intolerance biasanya mempunyai pola pikir yang tidak sehat, seperti: (a) melebih-lebihkan suatu kejadian kecil sebagai tanda akan terjadi bencana, (b) merasa dirinya selalu gagal, (c) terlalu cepat mengambil kesimpulan (melihat seseorang tak dikenal tertawa dengan teman-temannya, dianggap sebagai menghina atau mentertawakan dirinya), dan berbagai pola pikir kurang sehat lainnya. Teknik untuk memperbaiki pola pikir (cognitive therapy) dapat dipelajari dengan mendown-load artikel di website ini atau diberbagai wensite psikologi lainnya.
  2. Lakukan terapi perilaku. Bila penderita selalu menghindar terhadap situasi yang membuatnya stress, maka terapinya adalah dengan sedikit demi sedikit dilatih untuk menhadapi situasi yang membuatnya stress tersebut (jangan menghindar, tetapi dihadapi). Bila selama ini cara menghadapi stress dengan berkali-kali mengecek apakah pintu sudah terkunci, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah menahan diri untuk tidak mengecek kunci pintu tersebut.
  3. Lakukan relaksasi. Bila stress muncul, segera lakukan relaksasi dengan, misalnya: mengatur pernapasan (napas panjang), melakukan relaksasi otot, melakukan kegiatan yang dapat menghilangkan stress (melakukan hobi, jalan jalan ke taman, dll).
  4. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Peningkatan ketaqwaan dan keimanan akan dapat memperbaiki ketahanan seseorang dalam menghadapi stress. Seseorang yang percaya bahwa ada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka dia dapat berdoa untuk memohon perlindungan dari ancaman atau bahaya (sehingga rasa takut berlebihan menjadi hilang), memohon pengganti atas sesuatu yang hilang (sehingga rasa sedih menjadi berkurang), dan lain lain.
  5. Antisipasi munculnya stress. Kita perlu belajar atau mengenali factor atau kejadian yang memicu munculnya stress. Misalnya: kita merasa stress (marah atau sedih) setelah bertengkar dengan istri/suami atau saudara dekat, ketika harus mengumpulkan tugas pekerjaan kantor/ sekolah, bila tagihan kartu kredit dating, dll. Dengan mengenali factor atau kejadian pemicu munculnya stress, maka kita dapat lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi stress tersebut. Sebagai contoh: (a) bila kita stress setiap menghadapi ujian, maka caranya adalah dengan belajar yang rajin jauh jauh hari sehingga lebih siap ketika menghadapi ujian, (b) bila kita stress ketika menghadapi tagihan dari debt collector, maka kita harus berusaha mengendalikan keuangan.

15 intervensi terhadap skizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya (2)

Artikel ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

2. Terapi / tindakan dini. Gangguan jiwa kebanyakan menyerang anak remaja (anak SMA atau mahasiswa). Dengan pengenalan atau deteksi dini yang kemudian diikuti dengan tindakan atau pengobatan dini, maka kemungkinan penyakitnya berkembang menjadi kronis dapat dihindari atau dicegah. Termasuk dalam tindakan dini adalah pengobatan terhadap gangguan jiwa yang baru pertama kali mengalami serangan. Tindakan dini disini termasuk pengobatan (pemberian obat-obatan) dan pemberian pelayanan pendampingan psikososial (cognitive behavior therapy, family therapy,terapi kerja)

3. Dukungan pekerjaan. Bagi kebanyakan penderita gangguan jiwa, pekerjaan adalah obat bagi pemulihan jiwanya. Masalahnya, dalam kondisi ekonomi di Indonesia sekarang ini, mencari pekerjaan bukanlah perkara yang mudah. Menciptakan pekerjaan sendiri, juga akan banyak menimbulkan tekanan psikologis. Untuk saat ini, tindakan yang paling memungkinkan adalah dengan mendirikan koperasi dimana anggotanya adalah gabungan antara penderita gangguan jiwa dan bukan penderita. Dengan bekerja sama, saling bahu membahu, maka diharapkan masalah pekerjaan akan dapat diatasi. Bentuk koperasi ini sudah diterapkan di Spanyol, Italia dan berbagai negara Eropa lainnya.

4. Terapi keluarga. Peranan keluarga dalam pemulihan gangguan jiwa sangatlah penting. Sayangnya, kebanyakan keluarga tidak mempunyai pengetahuan tentang gangguan jiwa dan cara membantu pemulihannya. Terapi keluarga adalah suatu psikoedukasi dan dukungan kepada keluarga agar mereka mampu mendukung proses pemulihan gangguan jiwa bagi anggota keluarganya yang terserang skizofrenia. Di negara negara maju, terapi keluarga dilakukan melalui kunjungan rumah oleh 2 orang tenaga kesehatan yang terlatih. Mereka menyampaikan informasi tentang gangguan jiwa dan cara membantu mendukung pemulihannya. Petugas tersebut juga melatih kemampuan mengatasi masalah dan memecahkan berbagai permasalahan keluarga yang terkait dengan gangguan jiwa bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya.

Bersambung

15 intervensi terhadap skizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya (1)

Bila tanpa ditangani secara benar dan menyeluruh, penyakit skizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya (skizoafektif, bipolar, depresi berat) akan menjadi beban berat bagi keluarga dan masyarakat umum.

Pada saat ini sudah ditemukan 15 jenis intervensi/ tindakan  agar skizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya bisa dikendalikan sehingga para penderitanya dapat kembali bekerja dan hidup di masyarakat

  1. Pengenalan/ deteksi dini. Penderita skizofrenia yang cepat ditangani akan lebih besar kemungkinannya untuk pulih dan hidup normal di masyarakat. Bila lama waktu seseorang penderita tanpa terapi kurang dari 5 tahun, maka kesempatan untuk kembali pulih jauh lebih besar dibandingkan dengan penderita yang tidak pernah mendapat terapi dalam jangka waktu lama. Permasalahannya, masyarakat Indonesia banyak yang tidak paham tentang gejala awal (gejala prodromal) dari penderita gangguan jiwa. Gejala gejala seperti menarik diri dari pergaulan, gelisah, sulit tidur pada remaja, gampang tersinggung ada kemungkinan merupakan gejala awal dari skizofrenia. Bila ada perubahan perilaku pada remaja, keluarga perlu waspada dan mengamati serta melihat adanya kemungkinan bahwa gejala tersebut merupakan gejala awal skizofrenia. Masyarakat umum dapat membantu mengenali gejala awal skizofrenia ini dengan: (a) belajar memahami gejala gejala skizofrenia, khususnya gejala prodromal (b) menyadari bahwa bila ada remaja yang berubah perilakunya dan mulai berperilaku berbeda (mulai menyendiri, takut berlebihan, gelisah, dll), mungkin yang bersangkutan sedang berjuang mengatasi gejala awal gangguan jiwa, (c) membantu membawa remaja yang mengalami masalah psikologis untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa (psikiater atau psikolog klinis) agar dapat dilakukan penilaian kejiwaannya. Orang awam tidak akan dapat menentukan apakah itu gejala normal pada remaja yang sedang menghadapi masalah atau gejala awal dari suatu skizofrenia.
  2. bersambung

Mengenal faktor resiko dan pelindung dari kekambuhan pada penderita skizofrenia (3)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Faktor lingkungan yang bersifat protektif (melindungi) dari kekambuhan, antara lain:

  1. Terjalinnya hubungan yang baik antara rsj/ panti, psikiater  pemulihan dengan penderita gangguan jiwa.  Hubungan yang baik antara penderita gangguan jiwa dengan panti pemulihan dan rsj akan membuat penderita mudah berkonsultasi sehingga bila ada gejala awal akan kambuh , maka yang bersangkutan dapat segera ditangani. Tenaga kesehatan jiwa juga akan dapat memberi saran dan nasehat bagi kemajuan proses pemulihan jiwanya.
  2. Dukungan keluarga, tetangga dan sahabat. Dukungan dari orang orang dekat akan sangat membantu proses pemulihan dan mencegah dari kekambuhan. Keluarga akan dapat membantu memperkuat ketahanan jiwa penderita gangguan jiwa, mendeteksi gejala awal kekambuhan dan membantu mengembalikannya ke kondisi jiwa yang sehat.
  3. Tersedianya lapangan pekerjaan. Mudahnya mendapatkan pekerjaan akan memudahkan penderita gangguan jiwa untuk segera kembali pulih karena dengan mendapatkan pekerjaan maka harga diri, percaya diri dan harapan akan masa depan yang lebih baik akan kembali tumbuh.
  4. Masyarakat yang tidak melakukan diskriminasi. Masyarakat yang dapat menerima bekas penderita gangguan jiwa kembali hidup di masyarakat akan membantu proses pemulihan dan mengurangi kemungkinan kambuh.

Semoga bermanfaat.

Teknik meningkatkan ketahanan jiwa (1)

Ketahanan jiwa adalah suatu kemampuan untuk bisa tetap bertahan ketika menghadapi hal hal yang sulit dan menyakitkan. Ketahanan jiwa merupakan suatu kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi) ketika terjadi tragedi, trauma dan hal hal yang membuat stress lainnya. Ketahanan jiwa sangat penting dalam kehidupan agar kita tidak mengalami gangguan jiwa atau gangguan kepribadian akibat berbagai permasalahan hidup yang dihadapi.

Memperkuat ketahanan jiwa bagi penderita gangguan jiwa akan dapat menghindarkannya dari kekambuhan.

Berikut ini 10 langkah untuk memperkuat ketahanan jiwa yang saya sarikan dari road to resilience (http://www.apa.org/helpcenter/road-resilience.aspx ) dengan beberapa perubahan sesuai dengan pemikiran saya sendiri:

  1. Membangun dan memperkuat jaringan persaudaraan dan pertemanan. Mempunyai hubungan yang baik dan kuat dengan saudara, sahabat dan teman akan berdampak memperkuat ketahanan jiwa. Hidup menyendiri dan terisolasi memudahkan seseorang terkena depresi dan gangguan jiwa lainnya. Ikutlah kelompok pengajian, arisan, kelompok olah raga atau hobi dan kegiatan sosial lainnya. Kebiasaan saling memberi kepada tetangga, anak yatim dan orang yang membutuhkan juga akan memperkuat ketahanan jiwa seseorang.
  2. Hindari melihat krisis sebagai suatu masalah yang tidak dapat diatasi. Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi atau dipecahkan. Sebesar apapaun masalah yang kita hadapi, Allah tetap akan mampu membantu kita mengatasi masalah tersebut. Masalah bisa saja tetap terjadi, namun kita bisa mengubah cara pandang kita terhadap masalah tersebut.
  3. Menerima apa yang sulit kita ubah dan menerima bahwa dalam hidup segala sesuatunya bisa berubah. Banyak hal diluar kendali kita. Dengan menerima hal hal positif maupun negatif yang terjadi diluar kendali, akan membuat kita terhindar dari kegelisahan dan ketakutan yang tidak perlu.
  4. Mempunyai tujuan hidup yang jelas dan mulia serta bertindak untuk mencapai tujuan tersebut. Hidup dengan tujuan dan sasaran yang jelas dan mulia akan membuat daya tahan kejiwaan menjadi kuat. Soekarno (Presiden pertama Indonesia) waktu muda berkali-kali dipenjara oleh Belanda tetapi tetap kuat karena dia mempunyai tujuan yang mulia, yaitu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Bersambung

Sumber bacaan: http://www.apa.org/helpcenter/road-resilience.aspx

Memahami kognisi (pikiran) penderita gangguan jiwa (3)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya.

Penderita gangguan jiwa sering mempunyai pola pikir yang kurang sehat. Pola pikir tersebut muncul secara otomatis sehingga mereka sering tidak menyadari kalau mempunyai pola pikir yang kurang sehat tersebut.

Untuk bisa mengenal adanya pola pikir yang kurang baik tersebut dan kemudian merubahnya, penderita gangguan jiwa perlu membuat catatan tentang berbagai kejadian dan pikiran apa yang muncul di otak mereka. Tabel dibawah ini bisa dipakai sebagai alat untuk mencatat pikiran pikiran tersebut.

Tabel pencatatan pikiran tersebut terdiri dari 7 kolom. Kolom pertama mencatat situasi/ kejadian atau pencetus. Dalam kolom ini perlu ditulis apa yang terjadi, dimana, kapan, dengan siapa, bagaimana. Misalnya: Ketika saya sedang duduk duduk di warung kopi. Di meja sebelah ada 2 perempuan muda yang tidak saya kenal. Salah seorang dari kedua perempuan tersebut menengok ke arah saya. Kemudian keduanya  tertawa.

Kolom kedua berisi catatan tentang perasaan atau emsoi yang muncul. Dalam kolom ini perlu ditulis perasaan atau emosi apa saja yang muncul pada saat itu, berapa intensitasnya (beri nilai dari 0 hingga 100), perubahan apa yang dirasakan pada tubuh. Misalnya: perasaan yang muncul adalah merasa terhina, marah.Rasanya kepala mau meledak. Intensitasnya 80.

Kolom ketiga untuk mencatat pikiran atau gambaran yang muncul secara otomatis sebagai reaksi atas kejadian atau situasi tersebut. Dalam kolom ini perlu ditulis apa yang muncul di pikiran saya saat itu, apa yang mengganggu/ membuat tidak enak, apa arti kejadian tersebut bagi saya, apa reaksi saya saat itu, hal terjelek apa yang bisa terjadi dari kejadian tersebut. Misalnya: Perempuan itu menghina, menganggap saya tidak berharga. Saya ingin berteraik tapi saya coba mengendalikan diri. saya keluar dari warung dan menghisap rokok untuk menenangkan hati. Bila tidak terkendali, saya bisa berteriak dan memaki kedua perempuan tersebut.

Kolom keempat untuk mencatat bukti bukti atau fakta yang mendukung pikiran yang otomatis muncul tersebut. Dalam kolom ini ditulis fakta atau bukti yang mendukung bahwa pikiran yang secara otomatis muncul tersebut adalah 100% benar. Misalnya: kedua perempuan itu tertawa setelah salah seorang menengok kearah saya.

Kolom kelima untuk mencatat bukti bukti atau fakta yang tidak mendukung atau bertentangan dengan pikiran otomatis yang muncul. Dalam kolom ini ditulis fakta atau bukti yang kurang sesuai dengan pikiran otomatis yang muncul. Misalnya: kedua wanita itu tidak mengenal saya, apa yang mereka tertawakan adalah sesuatu hal yang tidak ada kaitannya dengan saya, orang orang lain yang ada di warung kopi tidak ada yang mentertawakan saya, saya tidak berperilaku atau berpakaian aneh.

Kolom keenam untuk mencatat alternatif pikiran atau pandangan yang lebih berimbang. Sebelum menulis di kolom ini kita perlu berhenti sejenak, menarik napas panjang. Dalam kolom ini perlu dituliskan: apa kata orang lain atas kejadian tersebut, apa gambaran besarnya (bigger picture), apakah ada sudut pandang yang berbeda, nasehat apa yang akan saya sampaikan bila ada orang lain mengalami kejadian serupa, apakah reaksi saya masih sepadan dengan kejadian tersebut, apakah kejadian tersebut benar benar sesuatu yang penting dalam jangka panjang. Misalnya: kedua perempuan itu tidak sedang mentertawakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan saya. Nasehat saya kepada teman bila menghadapi kejadian yang serupa adalah agar bisa menguasai diri, acuhkan saja, bila gelisah segera keluar warung dan tarik napas dalam dalam.

Kolom ketujuh untuk mencatat hasil (outcome). Setelah mengembangkan alternatif pikiran, sekarang bagaimana emosi atau perasaan yang muncul (beri nilai 0-100), apa yang dapat aku lakukan yang berbeda dengan yang dulu dilakukan, apa yang dapat membuat diriku lebih efektif, apa yang bisa aku lakukan secara lebih bijaksana, dll.

Dengan sering dan rajin mencatat pikiran pikiran yang muncul dan mencari alternatif pemikiran yang lebih seimbang, maka pelan pelan pola pikir yang kurang sehat akan dapat diubah menjadi pola pikir yang lebih sehat dan seimbang.

Memahami kognisi (pikiran) penderita gangguan jiwa (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

  1. 3. Pola pikir saringan mental (mental filter). Penderita gangguan jiwa sering mempunyai pola pikir dimana hanya memperhatikan kepada fakta atau hal hal negatif dan mengabaikan kejadian atau fakta positif. Contoh: ulangan matematika saya selalu jelek (padahal dalam kenyataannya, ketika belajar giat, nilai ulangan matematikanya bernilai bagus).
  2. 4. Pola pikir emotional reasoing (berdasar. emosi). Dalam pola pikir ini, emosi atau perasaan dipakai sebagai dasar mengambil kesimpulan. Bila orang tersebut merasa (sedih, gembira, takut, dll), maka apa yang dipikirkannya pastilah benar. Misalnya: saya merasa malu, maka pastilah saya anak yang bodoh.

5. Pola pikir labelling (memberi cap atau label). Memberi label atau cap pada diri sendiri atau orang lain. Biasanya pemberian cap atau label tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya: saya orang yang gagal, saya bodoh, mereka jahat.

6. Pola pikir overgeneralization (generalisasi berlebihan- menyama ratakan). Dalam pola pikir ini, orang tersebut selalu menyamaratakan atau menggeneralisasi secara berlebihan hanya dengan berdasar pada satu (sedikit) fakta. Misalnya: Semua yang terjadi hanya merugikan saya; semua hanya sampah yang tidak ada gunanya.

7. Pola pikir disqualifying the psoitive (menyingkirkan hal hal yang positif). Dalam pola pikir ini, orang tersebut hanya menerima fakta atau kejadian yang negatif dan mengacuhkan atau mengabaikan hal hal yang positif. Misalnya: Saya selalu gagal (padahal dalam kenyataannya dia berhasil ketika memelihara ayam); tidak ada yang menyayangi saya (dia tidak mau mengakui bahwa ada seorang cowok pernah menaksir dirinya).

8. Pola pikir membesar-besarkan (magnifying) atau mengecilkan (minimization). Pola pikir yang membesar-besarkan suatu kejadian yang biasanya akan dapat berakibat buruk atau mengecilkan suatu kejadian yang akan berakibat bik atau positif. Misalnya: saya akan segera mati karena saya sakit perut.

9. Pola pikir harus. Pola pikir ini menetapkan standar yang terlalu tinggi yang harus dilakukan oleh seseorang atau orang lain. Bila “keharusan” tersebut diterapkan pada diri sendiri, maka dia akan merasa gagal, sedangkan bila “keharusan” tersebut diterapkan pada orang lain, maka orang tersebut akan merasa frustasi. Misalnya: saya harus lari 1 jam per hari, tidak perduli hujan atau tidak, tidak peduli badan sedang tidak sehat.

10. Pola pikir personalisasi. Pola pikir yang menyalahkan diri sendiri, meskipun sebenarnya bukan merupakan kesalahannya. Misalnya: saya telah menyebabkan kematian anak saya karena saya menyuruhnya naik Air Asia.

Berlanjut

Memahami kognisi (pikiran) penderita gangguan jiwa (1)

Ketika sedang duduk duduk seorang diri disebuah cafe, Michael Hedrick (penderita schizophrenia paranoid) melihat salah satu dari dua perempuan muda yang duduk di kursi tidak jauh darinya melihat kearah dirinya. Kedua perempuan tersebut kemudian tertawa bersama.

Melihat kejadian tersebut, Michael merasa sakit hati. Dipikirannya, pasti kedua perempuan tersebut mentertawakan dirinya. Rasanya dia ingin berteriak dan melepaskan kekesalan hatinya. Namun, untungnya, Michael dapat mengendalikan dirinya. Dia kemudian berdiri dan keluar dari cafe untuk merokok. Tidak lama kemudian, hatinya menjadi tenang kembali.

Dari cerita tadi, kita bisa tahu kalau ada pola pikir yang kurang sehat pada diri Michael. Kemungkinan besar, kedua perempuan muda tersebut tidak mentertawakan diri Michael. Mereka tertawa karena mungkin membicarakan sesuatu yang lucu yang tidak ada hubungannya dengan Michael. Namun Michael sudah mengambil kesimpulan bahwa kedua perempuan tersebut telah mentertawakan dirinya hanya dari satu bukti, yaitu salah satu diantara mereka telah menengok atau melihat ke dirinya sebelum mereka berdua tertawa.

Ada 10 jenis pola pikir yang kurang sehat, yaitu:

  1. Pola pikir lompat ke kesimpulan. Orang dengan pola pikir ini secara otomatis langsung lompat ke kesimpulan tanpa melakukan analisa atau mengumpulkan data pendukung terlebih dahulu. Seperti kisah Michael diatas. Ketika melihat ada dua perempuan tertawa didepannya, Michael segera berkesimpulan bahwa kedua perempuan tersebut mentertawakan dirinya. Dia tidak berusaha mencari informasi mengapa kedua wanita tadi tertawa, apakah benar bahwa mereka mentertawakan dirinya, dll.
  2. Pola pikir hitam putih, atau all or nothing thinking. Menurut pola pikir ini adanya hanya hitam atau putih. Tidak ada abu abu. Contohnya: bila nilai ulangan matematika saya nilainya tidak 9 (bisa diartikan bahwa cerdas), berarti saya goblok. Padahal, bila ulangan matematika dapat nilai 7 sebenarnya tidak bisa disebut sebagai murid goblok. Bisa juga anak tersebut mendapat nilai 7 karena sehari sebelumnya terlalu banyak bermain sehingga tidak sempat belajar. Bila dia belajar, dia akan bisa mendapat nilai 9.

Berlanjut

Pengobatan dan penanganan PTSD

Pengobatan Gangguan stres pasca-trauma  dapat membantu Anda memperoleh kembali rasa kendali atas kehidupan Anda. Dengan suksesnya  pengobatan gangguan stres pasca-trauma, Anda juga dapat merasa lebih baik tentang diri sendiri dan belajar cara untuk mengatasi jika gejala PTSD muncul lagi.

Pengobatan Gangguan Stres pasca-trauma sering meliputi pengobatan dan psikoterapi. Menggabungkan perawatan ini dapat membantu mengurangi gejala dan mengajarkan keterampilan untuk mengatasi lebih baik terhadap peristiwa traumatik – dan kehidupan secara umum.

Obat

Beberapa jenis obat dapat membantu gejala post-traumatic stress disorder membaik.

  • Antipsikotik. Dalam beberapa kasus, Anda mungkin diresepkanpengobatan singkat antipsikotik untuk meredakan kecemasan yang parah dan masalah yang terkait, seperti sulit tidur atau ledakan emosional.
  •  Antidepresan. Obat-obat ini dapat membantu gejala depresi dan kecemasan. Anti depresan juga dapat membantu membantu mengatasi masalah tidur dan meningkatkan konsentrasi Anda. Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) obat sertraline (Zoloft) dan paroxetine (Paxil) disetujui FDA untuk pengobatan PTSD.
  • Anti-kecemasan. Obat ini juga dapat mengurangi perasaan cemas dan stres.
  • Prazosin. Jika gejala termasuk insomnia atau mimpi buruk berulang, obat yang disebut prazosin (Minipress) dapat membantu. Prazosin, yang telah digunakan selama bertahun-tahun dalam pengobatan hipertensi, juga menghambat respon otak untuk bahan kimia otak seperti adrenalin yang disebut norepinefrin. Meskipun obat ini tidak secara khusus disetujui untuk pengobatan PTSD, prazosin dapat mengurangi atau menekan mimpi buruk pada banyak orang dengan PTSD.

Anda dan dokter Anda perlu bekerja sama untuk menemukan  pengobatan yang terbaik, sesuai dengan gejala-gejala Anda dan situasi, dengan efek samping paling sedikit. Anda mungkin mengalami peningkatan mood dan gejala lain dalam beberapa minggu.
Pastikan untuk memberitahu ahli kesehatan tentang efek samping atau masalah yang Anda miliki dengan obat tersebut, karena dokter Anda mungkin dapat menyarankan sesuatu yang berbeda.

Psikoterapi

Beberapa jenis terapi dapat digunakan untuk mengobati anak-anak dan orang dewasa dengan post-traumatic stress disorder. Anda dapat mencoba lebih dari satu, atau menggabungkan jenis, sebelum menemukan yang sesuai atau tepat untuk Anda. Anda juga dapat mencoba terapi individu, terapi kelompok atau keduanya. Terapi kelompok dapat menawarkan cara untuk terhubung ke orang lain melalui pengalaman yang sama.

Beberapa jenis terapi yang digunakan dalam pengobatan PTSD meliputi:

  • Terapi kognitif. Jenis terapi bicara membantu Anda mengenali cara berpikir (pola kognitif) yang membuat Anda terjebak – misalnya, cara-cara negatif atau tidak akurat dalam memahami situasi normal. Dalam pengobatan PTSD, terapi kognitif sering digunakan bersama dengan terapi perilaku yang disebut terapi eksposur.
  •  Terapi Paparan(eksposur) . Teknik terapi perilaku membantu Anda secara aman menghadapi hal yang sangat menakutkan yang Anda temukan, sehingga Anda dapat belajar untuk mengatasi secara efektif. Sebuah pendekatan baru untuk terapi pemaparan menggunakan program  “virtual reality” yang memungkinkan Anda untuk masuk kembali ke pengaturan di mana Anda mengalami trauma – misalnya, sebuah program “Virtual Irak”.
  •  Gerakan desensitisasi mata  dan pengolahan ulang (EMDR). Jenis terapi ini menggabungkan terapi pemaparan dengan serangkaian gerakan mata dipandu yang membantu Anda memproses kenangan traumatik.

Semua pendekatan ini dapat membantu Anda menguasai rasa takut abadi setelah peristiwa traumatis. Jenis terapi yang mungkin terbaik untuk Anda tergantung pada sejumlah faktor yang dapat Anda diskusikan dengan ahli kesehatan.

Obat-obatan dan psikoterapi juga dapat membantu Anda jika Anda memiliki masalah lain yang berkaitan dengan pengalaman traumatik Anda, seperti depresi, kecemasan, kecanduan alkohol, atau atau penyalahgunaan zat narkoba. Anda tidak harus mencoba untuk menangani beban PTSD sendiri.