Hidup dengan skizofrenia

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) menyatakan bahwa penderita skizofrenia bisa pulih. Berbagai penelitian telah membuktikan hal tersebut. Hal ini penting disampaikan kepada seluruh penderita skizofrenia, keluarga, dan pendampingnya.

Selama ini, karena kurang tepatnya dalam penanganan, maka sebagian besar penderita gangguan jiwa menjadi kronis dan menjadi beban bagi keluarga. Padaha, bil mendapat pengobatan dan dukungan psikosial dari keluarga, kerabat/saudara, teman dan masyarakat sekitarnya, penderita skizofrenia bisa pulih dan kembali hidup bermasyarakat.

Penderita skizofrenia sendiri harus punya keyakinan bahwa dirinya bisa punya kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang. Dia harus mau bekerja sama dengan para petugas kesehatan dan orang orang dkeluarganya, untuk bersama sama mengupayakan pemulihan kesehatan jiwanya. Dia harus mau berusaha melawan dan mengatasi gejala gangguan jiwa yang menyerangnya.

Petugas kesehatan juga harus punya pemahaman yang sama bahwa penderita gangguan jiwa bisa pulih. Tugas dari tenaga kesehatan adalah membantu penderita skizofrenia agar bisa kembali pulih dan hidup produktif di masyarakat.

Keluarga juga harus mau belajar cara membantu pemulihan gangguan jiwa, karena kadang kadang keluarga jadi pemicu kekambuhan. Keluarga perlu mendukung pemulihan dari skizofrena dengan cara, antara lain: tidak membiarkan penderita hidup sendirian, jangan dibiarkan melamun seharian. Ajaklah penderita untuk mengerjakan pekerjaan ringan di rumah, mengajak berkomunikasi, dan lain lain.

Pertemanan atau persahatan juga penting bagi proses pemulihan. Dukungan teman akan membantu proses pemulihan. Masyarakat bisa menyediakan lapangan kerja atau melibatkan penderita skizofrenia dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Terapi Keluarga

Berbagai penelitian ilmiah sudah membuktikan bahwa bila suatu keluarga, dimana salah satu anggota keluarganya menderita gangguan jiwa, mendapat terapi keluarga (psiko-edukasi, intervensi keluarga), maka kondisi pasien akan lebih cepat pulih dan kemungkinan kambuh menjadi lebih sedikit.

Sayangnya, terapi keluarga masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Akibatnya, sebagian besar pasien menjadi kronis dan menjadi beban keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Biasanya terapi keluarga dilakukan oleh 2 orang petugas dengan mengunjungi keluarga si penderita. Kunjungan dilakukan secara berkala selama 18 bulan. Pada awalnya, kunjungan dilakukan 1-2 minggu sekali. Setelah 6 bulan, kunjungan dilakukan sebulan sekali. Setiap kunjungan berlangsung sekitar 1 jam.

Tujuan terapi keluarga adalah membantu keluarga dan penderita gangguan jiwa untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Dengan membantu keluarga tersebut, maka mereka akan bisa membantu pemulihan anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa agar bisa pulih dan hidup sehat di masyarakat. Terapi keluarga diberikan kepada seluruh anggota keluarga (yg sudah dewasa) dan teman/tetangga yang mau ikut mendukung Proses pemulihan.

Selama family terapi, anggota keluarga dan saudara/ teman, penderita, mendapat informasi tentang gangguan jiwa, seperti penyebabnya, gejalanya, cara mengatasi gejala, cara mencegah kambuh, memperkuat ketahanan jiwa, mengatasi krisis, dan lain lain. Ketika membahas gejala, penderita juga dapat diminta untuk menceritakan gejala yang dialaminya dan cara mengatasi yang selama ini dilakukannya. Biasanya, dalam setiap sesi pertemuan, keluarga diminta mengerjakan suatu tugas yang hasilnya akan dibahas dalam pertemuan berikutnya. Dengan penugasan tersebut, maka family terapi bisa menjadi lebih efektif karena waktu tidak hanya terbatas selama pertemuan.

Dalam  family terapi, semua peserta diminta secara aktif mengajukan tanya jawab dan bersama sama mencari pemecahan terhadap setiap permasalahan yang terkait dengan gangguan jiwa yang muncul di dalam keluarga tersebut. Teknik pemecahan masalah dan berbagai teknik mengatasi gejala, serta memperkuat ketahanan jiwa akan diajarkan untuk diterapkan.

Terapi keluarga telah terbukti efektif dan diterapkan di negara negara maju seperti Inggris. Apakah terapi keluarga juag bisa dan sesuai untuk Indonesia? Kita perlu mencoba dan menilai keberhasilan penetapan terapi keluarga di Indonesia

Obat gangguan jiwa dan kehamilan

Sebagian ibu ibu yang menderita gangguan jiwa perlu minum obat secara teratur. Tanpa minum obat, gangguan jiwanya bisa kambuh.

Masalah serius timbul bila ibu ibu tersebut ingin punya anak. Beberapa obat yang sering dipakai untuk mengobati gangguan jiwa mempunyai dampak yang buruk terhadap janin yang dikandungnya.

Pada tahun 2009, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Amerika Serikat telah memperingatkan akan bahaya obat Sodium Valproate (Depakote, Depakene) terhadap janin yang terkena obat tersebut. Janin dapat mengalami kelainan pada syaraf tulang belakang, cacat kepala wajah, dan kelainan jantung dan pembuluh darah. Depakoote adalah obat untuk mengatasi gangguan bipolar.

Obat obat atypical juga mempunyai dampak yang kurang baik terhadap janin, meskipun data hasil penelitian untuk memastikan kelainan tersebut masih terbatas.

Aripipirazole dapat menimbulkan gangguan jantung (unexplained tachycardia) sehingga mengharuskan bayi untuk segera dilahirkan melalui operasi seksi cesaria. Sayangnya, data masih sangat terbatas untuk membuat kesimpulan secara pasti.

Clozapine juga dapat menimbulkan kelainan atau kecacatan yang cukup besar, gangguan metabolik kehamilan, dan berbagai efek samping pada janin. Data tentang dampak clozapine terhadap janin juga masih terbatas.

Berbagai studi menunjukkan bahwa Olanzapine tidak menimbulkan kelainan bawaan pada bayi. Begitu pula dalam percobaan pada binatang, tidak ditemukan dampak olabzapine pada janin. Meskipun demikian, olanzapine sering menimbulkan gangguan metabolisme pada bayi yang ibunya meminum olanzapine selama kehamilan.

Tidak ditemukan pengaruh negatif terhadap  bayi  pada ibu yang meinum obat Quetiapine. Obat Quetiapine merupakan obat pilihan pada ibu dengan gangguan jiwa yang ingin mempunyai anak.

Bagi ibu hamil, Quetiapine lebih baik dibandingkan Risperidone. Obat Risperidone memang tidak menimbulkan efek samping yang berat pada janin. Hanya saja ditemukan bahwa Risperidone menyebabkan hiperprolactinemia yang sering menyebabkan keguguran. Obat Risperidone bukan obat pilihan pertama pada kehamilan muda. Obat ini boleh diberikan bila kehamilan sudah berlangsung selama beberapa bulan tanpa gangguan pada janin.

Memperhatikan adanya berbagai efek samping obat terhadap kehamilan, ibu ibu dengan gangguan jiwa yang ingin atau sudah hamil perlu berdiskusi dengan dokter yang merawatnya. Perlu dipilih obat yang paling sesuai, namun mempunyai dampak negatif paling sedikit terhadap bayinya.

Sumber bacaan: http://www.currentpsychiatry.com/specialty-focus/practice-trends/article/atypical-antipsychotics-during-pregnancy/66830924a85234cbb0eafc0eebb71497.html

 

Apa yang bisa membuat kita pulih?

Jalan atau cara orang kembali pulih dari gangguan jiwa berbeda antara satu orang dengan lainnya. Meskipun demikian, beberapa hal dibawah ini telah terbukti membantu orang dengan gangguan jiwa kembali pulih:

  1. Harapan. Adanya harapan yang tumbuh didalam diri seseorang bahwa hari esok dapat lebih baik dibanding kondisi sekarang merupakan kunci dalam proses pemulihan. Tanpa adanya harapan, tidak akan ada proses pemulihan. Harapan dapat ditumbuhkan, antara lain, dengan membaca riwayat oarng dengan gangguan jiwa yang kini pulih kembali, bertemu dan bergaul dengan penderita gangguan jiwa yang telah pulih, percaya bahwa Allah itu Maha Pengasih, maha Kuasa, dll.
  2. Penerimaan. Tidak ada manusia yang sempurna. Ada yang punya darah tinggi, kanker, tidak punya kaki, namun juga ada yang terkena gangguan jiwa. Kesediaan menerima bahwa dirinya menderita gangguan jiwa dengan berbagai kesulitan yang diakibatkannya, merupakan salah satu kunci pemulihan. Kesediaan menerima tersebut akan menjadi titik balik, dimana yang bersangkutan mulai bersedia membuat rencana kedepan dan melakukan langkah langkah untuk mengatasi penyakitnya. Kepercayaan kepada Allah bahwa semua ini ada maknanya tersendiri akan membuat penerimaan terhadap penyakitnya menjadi lebih mudah. Penerimaan bahwa dirinya menderita gangguan jiwa juga akan membuka kesempatan kesempatan yang mungkin berbeda dengan cita citanya dimasa lalu.
  3. Bersikap aktif. Sakit gangguan jiwa memang bisa membuat seseorang kehilangan kendali atas kehidupannya. Dokter, perawat, keluarga yang mengatur segalanya. Dalam proses pemulihan, penderita gangguan jiwa perlu bersikap aktif, misalnya: mengenali hal hal yang membuatnya kambuh, mengenali hal hal yang membuatnya terasa lebih sehat, dll.
  4. Stabilitas. Masalah keuangan dan tempat tinggal merupakan dua hal yang sering membuat gelisah penderita gangguan jiwa. Mengatasi hal ini bukan masalah gampang karena situasi ekonomi di Indonesia sedang sulit. Untuk itu, keyakinan dan ketakwaan kepada Allah menjadi penting. Dukungan keluarga dan masyarakat sangat diperlukan agar penderita gangguan jiwa tidak menjadi gelandangan.
  5. Hubungan sosial. Hidup menyendiri akan membuat gangguan jiwa menjadi semakin buruk. Ngobrol dan bergaul dengan teman, saudara dan kenalan akan mendukung proses pemulihan.
  6. Terapi. Minum obat dan pendampingan psikologis dari keluarga atau teman akan dapat mendukung proses pemulihan.
  7. Pola hidup sehat. Menjalani pola hidup sehat akan mendukung proses pemulihan. Pola hidup yang terkait dengan gangguan jiwa, antara lain: tidur teratur (jangan begadang), hindari minuman keras, olah raga ringan diluar rumah, makan makanan yang sehat, melakukan kegiatan yang positif (bekerja, mengerjakan pekerjaan rumah seperti membersihkan kamar, ikut pengajian, menjadi sukarelawan dengan membantu di panti asuhan, membantu janda tua yang hidup sendiri, dll).

Sumber bacaan: http://www.rethink.org/living-with-mental-illness/recovery/what-is-recovery/my-recovery

Patricia Deegan: prinsip pemulihan gangguan jiwa (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya.

  • Kita tidak boleh berkata bahwa penderita gangguan jiwa harus tetap minum obat seumur hidupnya.
  • Kebutuhan dan reaksi seorang penderita gangguan jiwa terhadap obat anti gangguan jiwa berubah sesuai dengan berjalannya waktu.
  • Penderita gangguan jiwa dapat belajar untuk hidup secara normal (berkeluarga, bekerja, dan bermasyarakat) meskipun berbagai macam gejala gangguan jwanya masih ada.
  • Hidup mandiri bukan berarti hidup tanpa dukungan obat, alat atau orang lain. Seperti seseorang yang perlu memakai kacamata, kita tidak boleh mengambil kacamatanya agar orang tersebut dapat hidup mandiri. Penderita gangguan jiwa mungkin masih memerlukan dukungan keuangan, obat, nasehat dari orang lain atau dari negara agar mereka dapat hidup mandiri.
  • Dalam proses menuju hidup mandiri, mereka belajar tentang dukungan apa yang sudah tidak lagi diperlukan dan dukungan apa yang masih diperlukan. Tujuan dari proses hidup mandiri bukanlah untuk menghilangkan semua dukungan tersebut.
  • Penderita gangguan jiwa yang memerlukan obat bukan berarti “lebih sakit” dibandingkan dengan yang tidak minum obat. Penderita gangguan jiwa perlu mengetahui apa apa yang (salah satunya adalah obat) dapat membantunya untuk pulih dan mengatasi penyakit yang dideritanya.
  • Penderita gangguan jiwa berhak mempunyai berbagai pertanyaan yang terkait dengan obat anti gangguan jiwa karena obat tersebut cukup kuat dalam mempengaruhi kerja otak, seperti berbagai pertanyaan berikut ini: bagaimana keadaan saya bila saya berhenti minum obat?, apakah manfaat dari minum obat ini?, apakah ada metode lain (selain minum obat) yang dapat saya pelajari yang akan dapat mengurangi gejala yang saya alami?, apakah obat yang saya minum mengurangi kemampuan berpikir saya? dll. Para ahli kesehatan jiwa perlu mulai belajar mendengarkan pertanyaan pertanyaan tersebut.
  • Para ahli kesehatan jiwa perlu mengembangkan berbagai upaya untuk mendukung proses pemulihan dan pengurangan ketergantungan kepada obat anti gangguan jiwa, misalnya: dengan mendirikan: pusat detoksikasi, pengurangan obat anti gangguan jiwa yang didukung oleh para penderita gangguan jiwa yang telah pulih dan lepas dari obat (peer runs medication reduction support group), pelatih yang mampu mengajarkan teknik mengatasi gejala gangguan jiwa, pusat pemulihan yang dikelola oleh bekas penderita gangguan jiwa yang telah pulih.

Patricia Deegan: prinsip pemulihan gangguan jiwa(1)

Patricia Deegan diwaktu remaja pernah menderita skizofrenia. Akibat sakitnya, Patricia pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa. Namun beberapa tahun kemudian, dia berhasil mengatasi penyakit. Patricia kemudian belajar ilmu psikologi dan mendapat gelar S3 dalam bidang psikologi klinis. Patricia kini menjadi ahli dibidang psikologi klinis, konsultan, inspirator dan motivator, serta mengembangkan berbagai metode pemulihan gangguan jiwa.

Berikut ini berbagai prinsip pemulihan gangguan jiwa yang disarankan oleh Patricia Deegan: Principles of Recovery Model Including Medication

  • Minum obat adalah salah satu cara, diantara berbagai macam cara yang ada, yang dapat dipilih seseorang sebagai metode agar dirinya dapat pulih dari gangguan jiwa.
  • Penderita gangguan jiwa atau seseorang yang didiagnosa oleh dokter menderita gangguan jiwa, dapat belajar metode/ cara mengatasi gejala gangguan jiwa dengan metode diluar pemberian obat anti gangguan jiwa (pemberian obat anti gangguan jiwa adalah wewenang dokter)
  • Masyarakat perlu diberi kesempatan untuk belajar berbagai metode pemulihan gangguan jiwa (diluar pemberian obat) tersebut.
  • Pemerintah dan ahli kesehatan jiwa perlu menciptakan cara dan kesempatan agar masyarakat yang memerlukan dapat belajar metode pemulihan gangguan jiwa tersebut
  • Penderita gangguan jiwa dapat beralih dari sekedar (terpaksa) minum obat menjadi secara sukarela dan penuh kesadaran meminum obat sebagai salah satu cara untuk membantu proses pemulihan jiwanya. Pada sebagian penderita gangguan jiwa, mereka perlu minum obat. Namun, sering kali, minum obat saja tidak cukup. Selain minum obat, mereka perlu menerapkan berbagai langkah untuk memperkuat ketahanan jiwanya.
  • Dalam upaya pemulihan gangguan jiwa, penderita perlu menyadari akan adanya resiko untuk gagal/ kambuh. Para ahli kesehatan jiwa perlu memahami hal tersebut dan mendukung upaya pemulihan gangguan jiwa.
  • Kepatuhan dalam minum obat bukanlah tujuan akhir yang dikehendaki dari suatu proses pemulihan gangguan jiwa. Bila hanya mengandalkan minum obat, maka jiwa penderita gangguan jiwa tidak diperkuat atau dikembangkan. Tanpa memperkuat ketahanan jiwa, maka penderita gangguan jwa akan tergantung kepada obat selamanya.
  • Tujuan akhir dari proses pemulihan gangguan jiwa adalah menumbuhkan kemampuan penderita gangguan jiwa untuk mengatasi gejala gangguan jiwanya. Penderita gangguan jiwa bertanggung jawab atas kesehatan jiwa dirinya. Obat dan ahli kesehatan jiwa hanyalah membantu agar proses pemulihan bisa berlangsung dengan lancar.

Bersambung

 

Christina Bruni: strategi menghadapi masa masa sulit

Christina Bruni pernah menderita skizofrenia. Kini dia telah dapat mengatasi penyakitnya tersebut. Hingga saat ini, Christina Bruni telah 28 tahun tidak pernah mengalami kambuh dari skizofrenia yang dulu dideritanya.

Berdasarkan pengalaman hidupnya selama ini, Christina memberikan beberapa saran dalam menghadapi masa masa sulit.

  1. Jujur pada diri sendiri. Jangan bekerja atau melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain atau hanya membuktikan sesuatu kepada orang lain. Pada umur 20an tahun, Christina bekerja sangat keras di bidang asuransi untuk membuktikan bahwa meskipun dia menderita skizofrenia, dia dapat bekerja keras seperti orang lain. Christina meninggalkan keharusannya berobat, sebagai akibatnya kondisi kejiwaannya mengalami kemunduran.
  2. Jika tidak cocok di suatu tempat, cari tempat lain yang sesuai. Pada umur 35 tahun, Christina baru menemukan tempat kerja yang cocok sebagai pustakawan. Bekerja di perpustakaan memberinya kesempatan untuk membaca banyak buku, bisa berdandan sesuai mode dan membantu orang. Hal hal tersebut sesuai dengan dirinya, yang sangat berbeda dengan kalau bekerja di kantoran seperti yang dulu pernah dijalaninya.
  3. Jangan beri batas waktu, tapi buat arah (jalur) kehidupan. Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena kamu tidak bisa mencapai sasaran sesuai batas waktu yang telah ditentukan. Christina memerlukan waktu 13 tahun untuk mendapatkan pekerjaan yang dia sukai. dia juga memerlukan 13 tahun sebelum akhirnya berhasil menerbitkan kisah perjalanan hidupnya.
  4. Sadari bahwa sejahtera tidak berarti bebas dari penyakit. Kebanyakan penderita skizofrenia atau gangguan jiwa lainnya mengalami kekambuhan. Christina mengalami masa masa sulit antara tahun 2004-2007. Untuk mengatasi berbagai kesulitan, dia meminta pertolongan ahlinya. Dia mendapatkan psikoterapi agar bisa mengatasi berbagai kesulitan tersebut.Christina juga berlatih dan menjalankan relaksasi dan berbagai teknik lain.
  5. Membayangkan kehidupan yang diinginkan. Christina mempunya moto : Hari ini adalah seperti ini DAN esok bisa berbeda. Kita harus bisa memupuk harapan bahwa masa depan bisa lebih baik dibandingkan dengan kehidupan sekarang.

Hal hal lain yang perlu diingat adalah:

  • Kota Roma tidak dibangun dalam waktu 1 hari. Perlu waktu untuk membangun atau merubah sesuatu. Lakukanlah sesuatu sesuai tujuan hidup setiap hari sedikit demi sedikit, tanpa disadari nanti tujuan tersebut akhirnya akan bisa tercapai juga.
  • Jangan mengukur kesuksesan hidup berdasar gaji yang kita terima atau kekayaan yang kita kumpulkan, atau gelar yang bisa kita raih. Jangan nilai diri sendiri berdasar hal hal yang telah kita capai. Bila kita menjadi orang yang baik, itu sudah suatu tanda kesuksesan.
  • Jangan kaitkan kebahagiaan dengan perkawinan (saya akan berbahagia kalau sudah menikah), prestasi di masyarakat atau di sekolah. Jangan kaitkan kebahagian dengan hal hal yang terlaksana, terjadi atau tidak terjadi. Tetaplah berbahagia meskipun apa yang terjadi.
  • Jangan putus asa. Keadaan bisa berubah. Hidup akan menjadi lebih indah sejalan dengan proses pemulihan dari gangguan jiwa. Proses pemulihan dan perubahan hidup berjalan setapak demi setapak.

 

Christina Bruni: 5 strategi mengatasi paranoia

Christina Bruni didiagnosa menderita skizofrenia pada tahun 1987. Salah satu gejala yang menonjol pada dirinya adalah paranoia. Minum obat membuat paranoianya berkurang, tapi tidak hilang sama sekali. Ketika kembali kuliah, pada tahun 1997, 10 tahun setelah sakit, gejala paranoia tetap masih ada meskipun sudah jauh berkurang. Sejak dia bekerja sebagai pustakawan (ahli perpustakaan) pada umur 35 tahun, paranoia jarang sekali muncul.

Berikut ini saran Christina agar kita bisa mengendalikan gejala paranoia

  1. Minum obat sesuai petunjuk dokter. Obat membantu mengurangi gejala paranoia. Pada beberapa orang, hanya dengan minum obat gejala paranoia hilang sama sekali. Sebagian besar penderita skizofrenia perlu minum obat dalam waktu yang cukup lama. Bicarakan dengan dokter bila ada gejala akibat efek samping obat. Mungkin dokter akan mengurangi dosis, mengubah waktu minum obat atau mengganti obat tersebut.
  2. Lakukan tes kebenaran ketika berada ditempat umum. Bila kita berada ditempat umum, kita sekali sekali perlu tanyakan kepada teman tentang hal hal yang terjadi. Sebagi informasi, pada penderita paranoia, sering mereka merasa orang orang disekitarnya sedang membicarakan dirinya atau akan berbuat sesuatu yang tidak baik kepada dirinya. Tes kebenaran pemikiran kita kepada kawan akan membantu kita mengatasi paranoia. Bila kita berada ditempat umum seorang diri, maka kita harus selalu membuat alternatif (pilihan lain) atas pikiran kita. Misalnya: bila kita merasa bahwa seseorang mentertawakan kita, maka buat alternatif pikiran bahwa tertawanya orang tersebut tidak ada kaitannya dengan diri kita. Disini penderita belajar membuat pikiran pikiran alternatif yang lebih sehat.
  3. Bangun kepercayaan diri yang kuat. Ketika makan disebuah restoran di kota Washington, Christina mengeluarkan obat dan meminumnya. Seorang pemuda yang duduk dimeja disebelahnya berkata kepada temannya. Christina mempunyai keyakinan bahwa anak muda tersebut membicarakan dirinya. Meskipun punya pikiran seperti itu, Christina berusaha untuk mengacuhkan pikiran pikiran negatif tersebut. Dia berusaha untuk tidak bereaksi atas pikiran yang muncul dikepalanya.
  4. Lihat sisi positif atas apa yang terjadi. Bila kita sadari bahwa kita mengalami paranoia, maka banyak pikiran pikiran kita tidak berdasar. Lebih dari 50% penderita skizofrenia dengan paranoia sangat yakin dengan pikiran pikirannya tersebut. Dengan menyadari bahwa kita menderita paranoia, kita bisa melihat sisi lain dari apa yang kita pikirkan.
  5. Buat strategi jalan keluar atau kode rahasia. Bila sedang bersama teman dan berada ditempat umum, kemudian kita merasa tidak nyaman akibat paranoia yang sangat mengganggu, maka kita bisa mengajaknya pulang. Kita bisa menggunakan kode rahasia, misalnya: maaf tiba tiba kepala saya pusing, saya minta ijin pulang dulu.

Menurut pengamatan Christina, dengan bertambahnya umur, maka gejala akibat skizofrenia akan semakin berkurang. Minum obat akan membantu mengurangi paranoia, meskipun sering tidak bisa hilang sama sekali. Mempunyai pekerjaan yang disukai akan sangat membantu mengatasi paranoia.

Christina Bruni (22 tahun tidak pernah kambuh): strategi memperkuat ketahanan jiwa

Christina Bruni pernah menderita gangguan jiwa (skizofrenia) , namun hingga kini sudah 22 tahun dia tidak pernah kambuh.

Pengalaman hidupnya dalam mengatasi gangguan jiwa dia tulis dalam buku “Left of the Dial” yang cukup laris dipasaran.

Berikut ini beberapa saran dari Christina Bruni agar jiwa kita tahan menghadapi berbagai goncangan dan tantangan hidup.

1. Manfaat jaringan pendukung. Jangan hanya berdiam diri dirumah, coba telpon teman atau saudara, hadiri pertemuan (misalnya pengajian), kunjungi saudara atau sahabat. Usahakan untuk paling tidak seminggu sekali mengontak teman, saudara atau sahabat untuk mendapatkan dukungan atau curhat tentang berbagai peristiwa atau masalah yang ditemui.

2. Fleksible (tidak kaku) dan terbuka terhadap perubahan. Setelah seseorang terkena gangguan jiwa, memang segala sesuatunya berubah. Meskipun demikian, terkena skizofrenia bukan berarti segalanya berakhir. Banyak kesempatan baru yang berbeda masih terbuka lebar. Lebih baik terima dan hadapi kenyataan bahwa kita menderita gangguan jiwa, dan kedepannya cari kesempatan kesempatan baru yang terbuka meskipun berbeda dengan keinginan sebelum terkena gangguan jiwa.

3. Bersikap optimis. Penyesalan adalah energi negatif yang dapat menghabiskan ‘harapan’ dan merusak jiwa. Penyesalan yang tiada henti sering menyebabkan kerugian besar yang tidak kita sadari. Percayalah bahwa masa depan bisa lebih baik, meskipun masa depan datangnya perlahan lahan. Pelajari segala sesuatu yang terkait dengan gangguan jiwa dan terapkan nasehat nasehat agar tidak kambuh dan bisa hidup lebih sehat dan sejahtera. Hilangkan rasa cemas dan percaya bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan menolong kita.

4. Membuat prioritas. Lakukan hal hal yang akan membuat kita sehat dan sejahtera. Tolak ajakan teman teman untuk begadang, minum minuman keras dan kegiatan lain yang kurang sehat. Tidak semua bisa dikerjakan secara bersamaan. Melihat kondisi kejiwaan kita saat ini, kita perlu membuat pilihan apa yang bisa kita lakukan sekarang. Haruskah kita kembali kerja atau kembali ke sekolah sekarang atau bisa ditunda tahun depan?

5. Fokus pada membuat hidup lebih berarti. Dalam tahun tahun awal setelah mendapat diagnosa skizofrenia, kita memang sering terpaku pada penyakit tersebut. Kita takut kalau kalau akan kambuh. Tapi dengan menyadari bahwa penyakit tersebut bisa kambuh, maka Christina Bruni bisa lebih fokus pada mengisi hidupnya dengan melakukan kegiatan kegiatan yang berarti. Hari harinya dipenuhi dengan membantu sesama penderita skizofrenia agar bisa bangkit dan hidup bahagia.

Mengenal faktor resiko dan pelindung dari kekambuhan pada penderita skizofrenia (3)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Faktor lingkungan yang bersifat protektif (melindungi) dari kekambuhan, antara lain:

  1. Terjalinnya hubungan yang baik antara rsj/ panti, psikiater  pemulihan dengan penderita gangguan jiwa.  Hubungan yang baik antara penderita gangguan jiwa dengan panti pemulihan dan rsj akan membuat penderita mudah berkonsultasi sehingga bila ada gejala awal akan kambuh , maka yang bersangkutan dapat segera ditangani. Tenaga kesehatan jiwa juga akan dapat memberi saran dan nasehat bagi kemajuan proses pemulihan jiwanya.
  2. Dukungan keluarga, tetangga dan sahabat. Dukungan dari orang orang dekat akan sangat membantu proses pemulihan dan mencegah dari kekambuhan. Keluarga akan dapat membantu memperkuat ketahanan jiwa penderita gangguan jiwa, mendeteksi gejala awal kekambuhan dan membantu mengembalikannya ke kondisi jiwa yang sehat.
  3. Tersedianya lapangan pekerjaan. Mudahnya mendapatkan pekerjaan akan memudahkan penderita gangguan jiwa untuk segera kembali pulih karena dengan mendapatkan pekerjaan maka harga diri, percaya diri dan harapan akan masa depan yang lebih baik akan kembali tumbuh.
  4. Masyarakat yang tidak melakukan diskriminasi. Masyarakat yang dapat menerima bekas penderita gangguan jiwa kembali hidup di masyarakat akan membantu proses pemulihan dan mengurangi kemungkinan kambuh.

Semoga bermanfaat.