Rudi dan Abdul: peserta program pemulihan

Pak Rudi (bukan nama sebenarnya),  umur 45 tahun, berasal dari Magelang. Dia datang ke Tirto Jiwo diantar oleh ibunya. Dia telah lebih dari 15 tahun tahun menderita skizofrenia.

Pak Rudi datang ke Tirto Jiwo karena ingin pulih dari gangguan jiwanya. Dia ingin bisa bekerja dan mendapatkan uang.

Pada waktu datang, gejala yang menonjol pada Pak Rudi adalah anhedonia, yaitu terlihat pasif, apatis, inginnya hanya duduk diam menonton TV. Semangat dan gairah hidupnya sangat rendah. Pak Rudi kadang kadang masih mendengar suara suara. Akhir akhir ini suara yang sering ia dengar adalah suara suara orang mengaji.

Pak Rudi rutin kontrol ke  RSJ Magelang. Namun hari ini obatnya hanya tinggal 3 buah. Kelihatannya, orang tua Pak Rudi tidak punya uang untuk berobat. Oleh karena itu, rencananya, Pak Rudi akan kita bawa ke RSUD Purworejo untuk kontrol dan berobat ke psikiater yang berpraktek di RSUD Purworejo.

Sebenarnya, hingga sekarang, belum ada obat yang manjur untuk mengatasi gejala anhedonia pada penderita skizofrenia. Kalau dari sisi medis, gejala skizofrenia Pak Rudi sudah terkendali. Namun dari sisi pemulihan, Pak Rudi masih harus dibimbing dan dibantu. Tujuan Pak Rudi agar bias bekerja dan mendapatkan penghasilan belum tercapai.

Program untuk Pak Rudi, selain membawanya kontrol ke psikiater, juga akan mulai diberi penugasan, antara lain membantu tukang memperbaiki kawat anti nyamuk dan membantu tukang mengerjakan pembangunan kandang rusa yang hampir selesai. Terapi psikososial, dengan memberinya kepercayaan, harapan dan kegiatan yang berarti diharapkan akan dapat mendorongnya untuk bias pulih dan mencapai cita citanya, yaitu hidup mandiri secara social ekonomi di masyarakat.

Pak Abdul, juga bukan nama sebenarnya, asal Klaten, umur 37 tahun, sudah berkeluarga dengan 1 anak. Dia sudah menderita skizofrenia selama 12 tahuan, yaitu sejak tahun 2002.

Dibandingkan dengan Pak Rudi, keinginan Pak Abdul untuk bisa pulih terlihat lebih besar. Hanya saja, rasa ketakutan dan halusinasi yang dialami oleh Pak Abdul lebih terlihat.

Program bagi Pak Abdul akan diarahkan untuk mengatasi halusinasi dan ketakutan yang dialaminya. Baik Pak Rudi maupun Pak Abdul, dua duanya masih minum obat anti gangguan jiwa dosisi tinggi

Semoga Allah SWT berkenan memudahkan proses pemulihan bagi mereka berdua. aamiin.

 

Tirto Jiwo: sejuk di pikiran dan nyaman di jiwa

Pemandangan dari teras Tirto Jiwo

Tirto Jiwo didirikan agar para penderita gangguan jiwa dapat segera kembali pulih dan bekerja serta hidup di masyarakat.

Silahkan mampir atau berkunjung ke Tirto Jiwo untuk belajar mengatasi suara suara yang mengganggu, menenteramkan hati dan pikiran yang gelisah, atau belajar bersama membuat usaha kecil agar bisa dapat uang tambahan.

 

Kandang rusa dalam tahap penyelesaian

Di Tirto Jiwo ada berbagai hewan peliharaan yang akan membuat jiwa kita tentram, seperti rusa, ayam bekisar, ayam kate, ayam kalkun dan ayam kampung.

Juga tersedia tanah seluas 1800 m2 yang bisa dipakai untuk kegiatan berkebun, seperti menanam cabe atau sayuran lainnya.

Di Tirto Jiwo kita juga bisa belajar bersama membangun usaha, misalnya membuat ayam goreng, dll.

Silahkan main, bersilaturahmi, dan menginap di Tirto Jiwo. Silahkan hubungi pak Wibowo Setiaji di 0813-2878-7978

Pulih total dari skizofrenia

Skizofrenia bisa pulih dan kembali hidup produktif di masyarakat.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membantu mereka mengatasi halusinasi yang mereka alami. Halusinasi telah membuat mereka tidak bisa berpikir dengan baik, selalu merasa ketakutan,  sedih, bingung, dan gelisah. Silahkan pelajari cara membantu penderita gangguan jiwa mengatasi halusinasi dengan meng-klik disini

Langkah berikutnya adalah mendukung proses pemulihannya.

Menurut hasil study dari Dr Paris William, psikolog yang meneliti penderita skizofrenia yang telah pulih di Amerika, berikut ini daftar beberapa faktor yang membuat penderita skizofrenia bis pulih:

  1. Tumbuhnya harapan bahwa mereka bisa pulih. Penderita skizofrenia di Indonesia tidak pernah ketemu bekas penderita skizofrenia yang sudah pulih atau diberitahu bahwa penderita skizofrenia bisa pulih dan hidup normal di masyarakat. Akibatnya mereka kehilangan harapan dan hidup apatis. Tanpa adanya harapan bahwa hidup mereka dimasa depan bisa lebih baik dibandingkan keadaan sekarang, maka mereka tidak akam mau berusaha untuk pulih. Dari berbagai peneilitian di Amerika faktor adanya ‘harapan” merupakan kunci utama dalam pemulihan gangguan jiwa. Harapan tersebut bisa muncul karena dorongan orang lain yang dipercayai atau diseganinya atau muncul setelah bertemu dengan penderita gangguan jiwa yang telah pulih.
  2. Mempunyai kegiatan sehari-hari yang berarti yang membuat mereka bergairah. Adanya kegiatan yang berarti, baik yang bisa menghasilkan uang maupun tidak menghasilkan uang, membuat merka bangun dari tidur dengan bergairah. kegiatan yang berarti bisa berupa pekerjaan yang memberikan penghasilan atau kegiatan yang tidak menghasilkan uang (misalnya menjadi ibu rumah tangga, guru mengaji, sukarelawan sosial, dan lain sebagainya).
  3. Mempunyai keluarga atau sahabat yang mendukung.  Adanya keluarga atau sahabat yang mendukung sangat penting bagi proses pemulihan. Perasaan bahwa ada orang lain yang menyayangi atau mengasihi akan membuat mereka secara bertahap kembali hidup produktif di masyarakat.

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (4)

Contoh kasus halusinasi

Maureen (30 tahun) mendengar 3 suara.

Identitas suara: Maureen mengenal 3 suara yang bernama: Ina, Anna dan Johana.

Karakteristik dari suara suara tersebut: Inan berumur 7 tahun yang akan menangis dan berteriak bila Maureen tidak mau mendengarkan apa yang dikatakannya. Anna berumur 19 th dan berpendapat bahwa Maureen adalah orang tak berguna dan secara kasar menjelek-jelekkan atau menghina Maureen. Johanna seumuran dengan Maureen dan selalu melindungi dan menolong Maureen.

Riwayat munculnya suara suara: Ina mulai muncul ketika Maureen berumur 7 tahun ketika dia mulai dilecehkan secara seksual oleh pamannya. Pelecehan seksual berlangsung hingga Maureen berumur 12 tahun. Anna mulai muncul ketika Maureen berumur 19 tahun. Pada umur itu Maureen mulai meminta orang tuanya untuk memperkarakan kelakuan pamannya ke pengadilan. Namun tiba tiba orang tuanya menarik pengaduannya. Johana mulai muncul ketika Maureen mulai mendapat terapi. Johana berusaha melindungi Maureen dari Ina dan Anna.

Isi suara: Ina mengatakan apa yang terjadi ketika Maureen dilecehkan dan akan berteriak bila maureen tidak mau mendengarkan. Anna mengatakan bahwa Maureen lemah, tidak mau melawan dan mempertahankan diri. Anna menghina dan menyuruh Maureen untuk bunuh diri karena Maureen seorang pengecut. Johana memberikan nasehat dan mencarikan cara mengalihkan perhatian dari kedua suara lainnya.

Pencetus: Ina muncul ketika Maureen mengunjungi kedua orang tuanya dan harus menghadapi masalah seksualitas dalam kehidupannya. Anna muncul setiap Maureen tidak berani mengambil sikap atas suatu masalah. Anna juga muncul ketika Maureen berteman dengan pria karena dia tidak ingin Maureen punya teman pria. Johanna muncul bila Anna terlalu menyerang Maureen. Johana takut kalau Maureen menuruti kata kata Anna (menyuruhnya bunuh diri).

Riwayat masa kecil: Maureen tumbuh dalam keluarga yang selalu melindunginya. Dia tidak tahu cara mempertahankan diri dan dididik untuk bias mengendalikan marah.

Formulasi (the construct): Ina dan Anna tidak merepresentasikan seseorang tapi mencerminkan emosi dari seseorang yang mengalami pelecehan seksual. Johanna mencerminkan bagian diri Maureen yang menolong dan melindunginya. Maureen setuju bahwa suara suara tadi merujuk atau terkait dengan masalah pelecehan seksual yang pernah dialaminya dimasa lalu.

Dalam terapi, therapist mengajari Maureen untuk mengontrol dan menjadwalkan agar suara suara tadi muncul disiang hari. Terapist juga memfokuskan pada membantu Maureen mengatasi masalah kecemasan dan stress akibat pelecehan seksual.

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (3)

Penyebab utama munculnya suara suara (halusinasi) adalah adanya pengalaman hidup yang melukai hati atau jiwanya yang  tidak dapat diatasinya dan menyebabkan dirinya merasa tidak berdaya.

Halusinasi tersebut bisa muncul pada orang normal dan tidak didiagnosa menderita gangguan jiwa. Halusinasi menjadi masalah bila yang bersangkutan (ybs) tidak mampu mengatasi halusinasi tersebut sehingga mengganggu perilaku dan kehidupan sehari hari serta menjadi penderita gangguan jiwa.

Karena pengalaman mendengar suara suara (halusinasi) adalah pengalaman yang luar biasa dan aneh, biasanya yang bersangkutan (ybs) menjadi malu dan tertekan. Apalagi, di masyarakat kita, sering mengaitkan halusinasi tersebut dengan gangguan jiwa. Akibatnya, jarang orang yang mengkaitkan halusinasi dengan pengalaman hidup yang melukai hatinya.

Biasanya uutan dari munculnya halusinasi adalah sebagai berikut: kejadian yang melukai jiwanya/ hatinya –> menimbulkan emosi dan tekanan jiwa —->berekasi dengan menekan emosi atau mengacaukannya—->gagal mengatasi emosi yang menekan —–> mulai muncul halusinasi.

Pada anak anak proses antara terjadinya kejadian yang traumatis dengan munculnya halusinasi lebih pendek. Biasanya suara suara tersebut bersifat melindungi si-anak. Misalnya: ketika sering anak mengalami pelecehan seksual, maka tidak berapa lama si anak mulai mendengar suara suara yang menyebut bahwa anak tersebut adalah anak yang baik. Kadang kadang suara suara itu menggambarkan karakteristik orang yang melakukan pelecehan sesksual tersebut. Suara tersebut berusaha untuk mengingatkan akan bahaya dari pelecehan sesksual.

Memahami dan mencari makna dari suara suara tersebut biasanya tidak gampang karena memerlukan pendekatan yang simpatik dan analitik.

Dua hal utama yang perlu dikenali: (a) suara suara itu mewakili siapa? apakah suara itu mewakili orang yang melecehkannya secara seksual atau orang yang berusaha melindunginya, (b) masalah apa yang disuarakan atau ingin disampaikan oleh suara suara tadi.

 

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (2)

Dalam mengatasi halusinasi, pendekatan Maastricht berbeda dengan para psikiater yang langsung memberi obat untuk menekan munculnya halusinasi. Dalam pendekatan Maastricht, perlu dipelajari seluk beluk halusinasi tersebut agar bisa ditemukan jalan untuk mengatasinya. Beberapa informasi yang digali dalam pendekatan Maastricht:

  1. Jenis halusinasi. Apakah suara berasal dari dalam kepala atau berasal dari luar kepala, apakah dua-duanya. apakah ada jenis halusinasi lain (visual, peraba, perasa, dll).
  2. Karakteristik suara. apakah mereka punya nama, laki atau perempuan, suara keras (teriak) atau lunak, apakah ada hierarkhi diantara mereka, siapa yang paling menyakitkan kata katanya, suara siapa yang paling penting, apakah suara mereka mengingatkan suara orang yg pernah dikenal
  3. Riwayat suara. Kapan masing masing suara mulai muncul, dalam kondisi sosial psikologis seperti apa, apakah suara mereka berubah (nada maupun isinya). sering jenis suara yang berbeda muncul pertama kali dalam kondisi psikis dan sosial yang berbeda.
  4. Pemicu munculnya suara. Situasi, tempat dan kondisi yang memicu munculnya suara. apakah kemunculan suara didahlui perasaan takut, marah, sedih, kesepian. bagaimana reaksi suara suara tadi terhadap pemicu (misalnya bila pemicunya adalah perasaan marah, apa kata suara tadi terhadap marah tersebut)
  5. Apa yang dikatakan suara suara tadi. Sering orang tidak mau menyampaikan kata per kata apa yg dikatakan suara suara tadi karena malu atau terlalu menyakitkan. Bisa juga karena suara tadi bilang bahwa yang bersangkutan tidak boleh menyampaikannya kepada orang lain. Biasanya bila yang bersangkutan bisa mengontrol suara suara tadi, dia akan lebih mau menyampaikan apa yg dikatakan suara suara tadi kat per kata.
  6. Bagaimana yang bersangkutan (ybs) menjelaskan asal usul suara tersebut. Sering ybs bisa menjelaskan secara spesifik asal usul suara tadi. Misalnya: melalui pengalaman spiritual, suara setan, suara dari tuhan. Sebagian orang tidak bisa menjelaskan secara spesifik. Dalam interview ini tidak boleh didebat penjelasan yang diberikan oleh yang bersangkutan.
  7. Dampak dari adanya suara tadi dalam kehidupan sehari-hari. Disini bisa sangat bervariasi. apakah suara tadi meminta atau memerintah sesuatu, mengancam. Apakah ybs merasa harus menuruti atau percaya kata katanya, apakah nasehat yang mereka sampaikan bermanfaat, apakah suara tadi menghalangi ybs bekerja atau bertemu dengan orang lain, apakah kata-katanya selalu benar.
  8. Hubungan ybs dengan suara tadi. apakah ybs berkomunikasi dengan suara suara tadi, bagaimana posisi suara tadi terhadap ybs, bagaimana caranya sampai bisa terjadi komunikasi, apakah suara suara tadi mau mendengarkan ybs, apakah suara tadi menghormati ybs, apakah suara tadi setuju dengan ybs, dapatkan ybs memerintah suara suara tadi, menyuruhnya pergi, hubungan seperti apa yang diinginkan oleh suara tadi dengan ybs dan apakah ybs setuju.
  9. Strategi mengatasi suara suara. Apa yang dilakukan oleh ybs untuk mengatasi suara suara tadi. secara kognisi (apakah ybs memakai pendekatan pikiran), perilaku dan fisiologis (obat, meditasi, dll).
  10. Riwayat masa kecil. apakah ada riwayat bahwa ybs tidak diinginkan, perasaan tidak aman, dll.
  11. Riwayat pengobatan. riwayat pengobatan dan dukungan yang selama ini diterima.
  12. Jaringan sosial. siapa orang orang dekat ybs, apakah ybs membicarakan soal suara suara tadi kepada mereka, apakah mereka mendukung ybs.

Setelah selesai mengumpulkan data tentang halusinasi melalui wawancara/ anamnesa, maka perlu dibuat ringkasannya. Ringkasan tersebut perlu disampaikan kepada ybs agar bila ada ketidak cocokan bisa segera diperbaiki. Begitu pula, hal hal yang kurang jelas bisa lebih diperjelas. Selain itu, penyampaian ringkasan kepada ybs agar tidak ada penolakan atau penghindaran. Dengan ringkasan itu maka ybs mulai tergerak untuk mencari strategi yang tepat mengatasi halusinasi yang dialaminya.

Sering dengan dilakukannya wawancara tersebut, maka ybs mulai muncul keinginannya untuk pulih dan mengenali hal hal yang menghalangi proses pemulihan. Ybs menjadi sadar hubungannya dengan suara suara tadi, hal hal atau kejadian penting dalam hidupnya, dan strategi yang bisa dikembangkan untuk mengatasi halusinasinya.

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (1)

Ternyata di masyarakat umum, ada sekitar 4% penduduk yang sering mendengar suara suara (halusinasi suara). Sebagian besar dari mereka hidup normal. Sebagian kecil (sekitar sepertiganya) tidak bisa mengatasi halusinasi tersebut, sehingga mengalami stress berat dan akhirnya menderita skizofrenia.

Ada perbedaan yang menyolok antara orang yang mendengar suara suara namun tetap hidup normal dibandingkan dengan orang yang mendengar suara dan kemudian menderita skizofrenia. Menurut Prof Marius Romme (1989) pada orang normal yang mendengar suara suara, ciri ciri mereka (dibandingkan penderita skizofrenia) adalah:

  • lebih percaya diri
  • lebih mempunyai kemampuan membuat batas dengan suara suara tersebut
  • mampu mendengarkan suara suara tersebut secara pilih pilih (selektif)
  • lebih sering berkomunikasi dengan suara suara tersebut (tidak hanya mendengarkan, tapi berkomunikasi)
  • mempunyai kerangka kerja yang bisa menjelaskan (explanatory framework) dari suara suara tadi
  • mempunyai lebih banyak saudara/ teman dan jaringan sosial yang mendukung
  • lebih berani membicarakan suara suara tersebut dengan orang lain.
  • kurang rasa takutnya terhadap suara suara tersebut.

Para pendengar suara (voice hearers- mempunyai halusinasi) kebanyakan mempunyai riwayat masa kecil yang secara psikologis menyakitkan (traumatis). Hanya saja, mereka yang tetap normal meskipun mendengar suara suara, karena mereka bisa mengatasi halusinasi suara suara tersebut.

Di Amerika, karena halusinasi suara dikaitkan dengan penyakit skizofrenia, maka mereka kemudian didiagnosa dengan skizofrenia dengan segala konsekuensinya (harus minum obat, dll).

 

Pendekatan baru dalam mengendalikan halusinasi suara (1)

Menurut penelitian V Beava, J Read dan C Cartwright (2011), diantara masyarakat biasa, ada sekitar 3.1%-19.5% orang yang sering mendengar suara suara (halusinasi suara). Sebagian besar dari mereka tidak menderita gangguan jiwa. Artinya, halusinasi suara juga dialami oleh sebagian orang yang normal. Pada orang normal, mereka mampu mengendalikan halusinasinya. Dilain pihak, pada penderita gangguan jiwa, mereka dikendalikan oleh halusinasinya.

Sekarang ini, pendekatan dokter spesialis jiwa terhadap halusinasi suara adalah dengan memberinya obat anti gangguan jiwa (neuroleptik). Dengan minum obat, halusinasi suara memang berkurang, namun tidak hilang. Masalahnya, obat tersebut juga menekan fungsi otak sehingga orang yang minum obat tersebut menjadi lemah kemampuan berpikirnya, inginnya tidur melulu dan hidup seperti robot.

Dr Rufus  May, seorang psikolog klinis yang pernah menderita skizofrenia, menyarankan cara lain dalam mengatasi masalah halusinasi. Menurutnya, cara terbaik mengatasi halusinasi adalah dengan mengendalikannya. Penderita gangguan jiwa sering berperilaku aneh (tertawa atau bicara sendiri, ketakutan, dll) karena mereka dikendalikan oleh halusinasinya.

Bagaimana cara mengendalikan halusinasi?

1. Mengenal halusinasi.

Langkah pertama untuk mengendalikan halusinasi adalah dengan mengenalinya.

  • apakah suara laki/ perempuan, berapa banyak, apakah hubungan antara satu suara dengan suara lainnya, berapa umur mereka, apa yang mereka katakan, bagaimana cara mereka mengatakannya, apakah mereka punya nama, apakah kamu dapat memberi nama kepada mereka?
  • apakah mereka suka menilai anda? apakah penilaian mereka terkait dengan penampilan, moral, prestasi, kejujuran, hubungan mereka dengan anda? apakah anda dapat belajar sesuatu dari yang mereka katakan? (misalnya: bila mereka mengatakan anda goblog, apakah itu karena anda selama ini jarang belajar)
  • apa hubungan suara tadi dengan anda (misal: bekas pacar, suara setan, dll), sejak kapan munculnya, apakah sekarang masih sering muncul, apakah munculnya suara tersebut terkait dengan kejadian/ peristiwa atau emosi tertentu
  • bagaimana selama ini anda mengatasi halusinasi tersebut?
  • apakah ada kejadian masa lalu yang traumatis
  • apakah suara suara tadi mirip dengan seseorang yang anda kenal

Mencoba menjawab pertanyaan pertanyaan tadi kadang bisa menimbulkan rasa takut. Namun bila kita bisa lebih mengenali suara suara tersebut, maka suara suara tersebut akan tidak lagi terlalu menakutkan dan lebih bisa dikendalikan.

Simulasi schizophrenia

Berikut ini sebuah film yang menggambarkan apa yang didengar dan dilihat oleh seorang penderita skizofrenia.

Ketika dia bangun dan mau minum kopi, dia mulai mendengar suara suara yang menghina dan merendahkan dirinya, seperti mengatakan goblog. Ketika ada telpon (dari istrinya yang mengatakan bahwa akan datang pengantar piza), dia mendengar suara suara agar jangan mengangkat telpon tersebut.

Dia mulai mendengar suara suara yang mengatakan bahwa pizza itu berisi racun.

Ketika dia akan minum obat, dia mendengar suara suara agar jangan minum obat tersebut. Suara suara itu bilang bahwa dia goblog dan kata kata lain yang merendahkannya.

Dia melihat kopi dalam cangkir seperti mendidih.

Ketika siaran TV bicara soal cuaca, dia mendengar suara suara bahwa sesuatu yang jelek akan terjadi. Pada saat itu, ada penjual pizza yang datang, dia mendengar suara suara yang melarangnya membukakan pintu.

Dia melihat pizza itu mengandung racun. Dia juga merasa bahwa penyiar TV berbicara kepadanya.

Ketika melihat keluar, dia melihat seorang lelaki. dia curiga bahwa lelaki itu akan menangkapnya atau membunuhnya dengan memberikan pizza yang beracun.

Ketika istrinya datang, dia mendengar suara suara agar jangan membukakan pintu. Dia merasa bahwa penyiar TV juga mengatakan bahwa semua itu adalah salahnya.

Istrinya mengatakan mengapa dia tidak mau menjawab telponnya. istrinya tahu bahwa dia tidak minum obat. Istrinya membuka korden dan mengatakan bahwa cuaca diluar nyaman dan sebaiknya mereka jalan jalan ke luar rumah.

Ada kemungkinan video simulasi tersebut didahului dengan iklan.

Silahkan menonton dengan meng-klik link berikut: http://www.youtube.com/watch?v=LWYwckFrksg

Bagaimana rasanya menjadi skizofrenia?

Agar bisa membantu penderita gangguan jiwa, khususnya skizofrenia, kita perlu memahami bagaimana rasanya menjadi skizofrenia.

Di you tube ada video yang menggambarkan simulasi apa yang didengar dan dilihat oleh seorang penderita skizofrenia. Sayangnya, video tersebut dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, bagi yang tidak berbahasa Inggris, saya ingin sampaikan hal hal berikut:

1. Video simulasi skizofrenia mungkin didahului dengan iklan. Iklan tersebut sering berganti-ganti sehingga saya tidak bisa menjelaskan apakah ada iklan atau tidak. Tapi saya kira, walau berbahasa Inggris, anda akan bisa membedakan mana iklan dan mana simulasi tentang skizofrenia.

2. Video tersebut menggambarkan seorang laki laki yang menderita skizofrenia yang baru terbangun dari tidurnya. Suara suara yang terdengar mengatakan bahwa dia adalah orang yang tidak berguna dan kata kata lain yang merendahkan dirinya. Suara itu juga berkata bahwa dia tidak pantas hidup disitu. Dia seharusnya dirawat inap di rumah sakit jiwa. Suara juga itu bilang bahwa dia benci kepadanya.

3. Ketika dia mau minum dan tidak jadi, itu terjadi karena dia mendengar seseorang (yang tiba tiba muncul dari komputernya) berkata bahwa di air yang mau dia minum tersebut mengandung racun.

4. Dia melihat ada seseorang di korden. Orang tersebut sedang mencarinya dan akan membawanya ke suatu tempat (mneculiknya). Dia terus mendengar suara suara yang merendahkan dirinya (seperti: kamu tidak bisa kerja apa apa, tidak berguna).

5. Ketika dia melihat foto foto diatas meja, tiba tiba perempuan di foto tersebut berbicara kepadanya dan menyuruhnya pergi dari rumah itu. Laki laki di foto itu berkata supaya dia bunuh diri. Dia juga menyuruhnya pergi dari rumah itu.

Untuk melihat videonya, silahkan klik link berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=UMzD-sn94Ak