Teknik meningkatkan ketahanan jiwa (1)

Ketahanan jiwa adalah suatu kemampuan untuk bisa tetap bertahan ketika menghadapi hal hal yang sulit dan menyakitkan. Ketahanan jiwa merupakan suatu kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi) ketika terjadi tragedi, trauma dan hal hal yang membuat stress lainnya. Ketahanan jiwa sangat penting dalam kehidupan agar kita tidak mengalami gangguan jiwa atau gangguan kepribadian akibat berbagai permasalahan hidup yang dihadapi.

Memperkuat ketahanan jiwa bagi penderita gangguan jiwa akan dapat menghindarkannya dari kekambuhan.

Berikut ini 10 langkah untuk memperkuat ketahanan jiwa yang saya sarikan dari road to resilience (http://www.apa.org/helpcenter/road-resilience.aspx ) dengan beberapa perubahan sesuai dengan pemikiran saya sendiri:

  1. Membangun dan memperkuat jaringan persaudaraan dan pertemanan. Mempunyai hubungan yang baik dan kuat dengan saudara, sahabat dan teman akan berdampak memperkuat ketahanan jiwa. Hidup menyendiri dan terisolasi memudahkan seseorang terkena depresi dan gangguan jiwa lainnya. Ikutlah kelompok pengajian, arisan, kelompok olah raga atau hobi dan kegiatan sosial lainnya. Kebiasaan saling memberi kepada tetangga, anak yatim dan orang yang membutuhkan juga akan memperkuat ketahanan jiwa seseorang.
  2. Hindari melihat krisis sebagai suatu masalah yang tidak dapat diatasi. Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi atau dipecahkan. Sebesar apapaun masalah yang kita hadapi, Allah tetap akan mampu membantu kita mengatasi masalah tersebut. Masalah bisa saja tetap terjadi, namun kita bisa mengubah cara pandang kita terhadap masalah tersebut.
  3. Menerima apa yang sulit kita ubah dan menerima bahwa dalam hidup segala sesuatunya bisa berubah. Banyak hal diluar kendali kita. Dengan menerima hal hal positif maupun negatif yang terjadi diluar kendali, akan membuat kita terhindar dari kegelisahan dan ketakutan yang tidak perlu.
  4. Mempunyai tujuan hidup yang jelas dan mulia serta bertindak untuk mencapai tujuan tersebut. Hidup dengan tujuan dan sasaran yang jelas dan mulia akan membuat daya tahan kejiwaan menjadi kuat. Soekarno (Presiden pertama Indonesia) waktu muda berkali-kali dipenjara oleh Belanda tetapi tetap kuat karena dia mempunyai tujuan yang mulia, yaitu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Bersambung

Sumber bacaan: http://www.apa.org/helpcenter/road-resilience.aspx

Memahami kognisi (pikiran) penderita gangguan jiwa (3)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya.

Penderita gangguan jiwa sering mempunyai pola pikir yang kurang sehat. Pola pikir tersebut muncul secara otomatis sehingga mereka sering tidak menyadari kalau mempunyai pola pikir yang kurang sehat tersebut.

Untuk bisa mengenal adanya pola pikir yang kurang baik tersebut dan kemudian merubahnya, penderita gangguan jiwa perlu membuat catatan tentang berbagai kejadian dan pikiran apa yang muncul di otak mereka. Tabel dibawah ini bisa dipakai sebagai alat untuk mencatat pikiran pikiran tersebut.

Tabel pencatatan pikiran tersebut terdiri dari 7 kolom. Kolom pertama mencatat situasi/ kejadian atau pencetus. Dalam kolom ini perlu ditulis apa yang terjadi, dimana, kapan, dengan siapa, bagaimana. Misalnya: Ketika saya sedang duduk duduk di warung kopi. Di meja sebelah ada 2 perempuan muda yang tidak saya kenal. Salah seorang dari kedua perempuan tersebut menengok ke arah saya. Kemudian keduanya  tertawa.

Kolom kedua berisi catatan tentang perasaan atau emsoi yang muncul. Dalam kolom ini perlu ditulis perasaan atau emosi apa saja yang muncul pada saat itu, berapa intensitasnya (beri nilai dari 0 hingga 100), perubahan apa yang dirasakan pada tubuh. Misalnya: perasaan yang muncul adalah merasa terhina, marah.Rasanya kepala mau meledak. Intensitasnya 80.

Kolom ketiga untuk mencatat pikiran atau gambaran yang muncul secara otomatis sebagai reaksi atas kejadian atau situasi tersebut. Dalam kolom ini perlu ditulis apa yang muncul di pikiran saya saat itu, apa yang mengganggu/ membuat tidak enak, apa arti kejadian tersebut bagi saya, apa reaksi saya saat itu, hal terjelek apa yang bisa terjadi dari kejadian tersebut. Misalnya: Perempuan itu menghina, menganggap saya tidak berharga. Saya ingin berteraik tapi saya coba mengendalikan diri. saya keluar dari warung dan menghisap rokok untuk menenangkan hati. Bila tidak terkendali, saya bisa berteriak dan memaki kedua perempuan tersebut.

Kolom keempat untuk mencatat bukti bukti atau fakta yang mendukung pikiran yang otomatis muncul tersebut. Dalam kolom ini ditulis fakta atau bukti yang mendukung bahwa pikiran yang secara otomatis muncul tersebut adalah 100% benar. Misalnya: kedua perempuan itu tertawa setelah salah seorang menengok kearah saya.

Kolom kelima untuk mencatat bukti bukti atau fakta yang tidak mendukung atau bertentangan dengan pikiran otomatis yang muncul. Dalam kolom ini ditulis fakta atau bukti yang kurang sesuai dengan pikiran otomatis yang muncul. Misalnya: kedua wanita itu tidak mengenal saya, apa yang mereka tertawakan adalah sesuatu hal yang tidak ada kaitannya dengan saya, orang orang lain yang ada di warung kopi tidak ada yang mentertawakan saya, saya tidak berperilaku atau berpakaian aneh.

Kolom keenam untuk mencatat alternatif pikiran atau pandangan yang lebih berimbang. Sebelum menulis di kolom ini kita perlu berhenti sejenak, menarik napas panjang. Dalam kolom ini perlu dituliskan: apa kata orang lain atas kejadian tersebut, apa gambaran besarnya (bigger picture), apakah ada sudut pandang yang berbeda, nasehat apa yang akan saya sampaikan bila ada orang lain mengalami kejadian serupa, apakah reaksi saya masih sepadan dengan kejadian tersebut, apakah kejadian tersebut benar benar sesuatu yang penting dalam jangka panjang. Misalnya: kedua perempuan itu tidak sedang mentertawakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan saya. Nasehat saya kepada teman bila menghadapi kejadian yang serupa adalah agar bisa menguasai diri, acuhkan saja, bila gelisah segera keluar warung dan tarik napas dalam dalam.

Kolom ketujuh untuk mencatat hasil (outcome). Setelah mengembangkan alternatif pikiran, sekarang bagaimana emosi atau perasaan yang muncul (beri nilai 0-100), apa yang dapat aku lakukan yang berbeda dengan yang dulu dilakukan, apa yang dapat membuat diriku lebih efektif, apa yang bisa aku lakukan secara lebih bijaksana, dll.

Dengan sering dan rajin mencatat pikiran pikiran yang muncul dan mencari alternatif pemikiran yang lebih seimbang, maka pelan pelan pola pikir yang kurang sehat akan dapat diubah menjadi pola pikir yang lebih sehat dan seimbang.

Memahami kognisi (pikiran) penderita gangguan jiwa (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

  1. 3. Pola pikir saringan mental (mental filter). Penderita gangguan jiwa sering mempunyai pola pikir dimana hanya memperhatikan kepada fakta atau hal hal negatif dan mengabaikan kejadian atau fakta positif. Contoh: ulangan matematika saya selalu jelek (padahal dalam kenyataannya, ketika belajar giat, nilai ulangan matematikanya bernilai bagus).
  2. 4. Pola pikir emotional reasoing (berdasar. emosi). Dalam pola pikir ini, emosi atau perasaan dipakai sebagai dasar mengambil kesimpulan. Bila orang tersebut merasa (sedih, gembira, takut, dll), maka apa yang dipikirkannya pastilah benar. Misalnya: saya merasa malu, maka pastilah saya anak yang bodoh.

5. Pola pikir labelling (memberi cap atau label). Memberi label atau cap pada diri sendiri atau orang lain. Biasanya pemberian cap atau label tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya: saya orang yang gagal, saya bodoh, mereka jahat.

6. Pola pikir overgeneralization (generalisasi berlebihan- menyama ratakan). Dalam pola pikir ini, orang tersebut selalu menyamaratakan atau menggeneralisasi secara berlebihan hanya dengan berdasar pada satu (sedikit) fakta. Misalnya: Semua yang terjadi hanya merugikan saya; semua hanya sampah yang tidak ada gunanya.

7. Pola pikir disqualifying the psoitive (menyingkirkan hal hal yang positif). Dalam pola pikir ini, orang tersebut hanya menerima fakta atau kejadian yang negatif dan mengacuhkan atau mengabaikan hal hal yang positif. Misalnya: Saya selalu gagal (padahal dalam kenyataannya dia berhasil ketika memelihara ayam); tidak ada yang menyayangi saya (dia tidak mau mengakui bahwa ada seorang cowok pernah menaksir dirinya).

8. Pola pikir membesar-besarkan (magnifying) atau mengecilkan (minimization). Pola pikir yang membesar-besarkan suatu kejadian yang biasanya akan dapat berakibat buruk atau mengecilkan suatu kejadian yang akan berakibat bik atau positif. Misalnya: saya akan segera mati karena saya sakit perut.

9. Pola pikir harus. Pola pikir ini menetapkan standar yang terlalu tinggi yang harus dilakukan oleh seseorang atau orang lain. Bila “keharusan” tersebut diterapkan pada diri sendiri, maka dia akan merasa gagal, sedangkan bila “keharusan” tersebut diterapkan pada orang lain, maka orang tersebut akan merasa frustasi. Misalnya: saya harus lari 1 jam per hari, tidak perduli hujan atau tidak, tidak peduli badan sedang tidak sehat.

10. Pola pikir personalisasi. Pola pikir yang menyalahkan diri sendiri, meskipun sebenarnya bukan merupakan kesalahannya. Misalnya: saya telah menyebabkan kematian anak saya karena saya menyuruhnya naik Air Asia.

Berlanjut

Memahami kognisi (pikiran) penderita gangguan jiwa (1)

Ketika sedang duduk duduk seorang diri disebuah cafe, Michael Hedrick (penderita schizophrenia paranoid) melihat salah satu dari dua perempuan muda yang duduk di kursi tidak jauh darinya melihat kearah dirinya. Kedua perempuan tersebut kemudian tertawa bersama.

Melihat kejadian tersebut, Michael merasa sakit hati. Dipikirannya, pasti kedua perempuan tersebut mentertawakan dirinya. Rasanya dia ingin berteriak dan melepaskan kekesalan hatinya. Namun, untungnya, Michael dapat mengendalikan dirinya. Dia kemudian berdiri dan keluar dari cafe untuk merokok. Tidak lama kemudian, hatinya menjadi tenang kembali.

Dari cerita tadi, kita bisa tahu kalau ada pola pikir yang kurang sehat pada diri Michael. Kemungkinan besar, kedua perempuan muda tersebut tidak mentertawakan diri Michael. Mereka tertawa karena mungkin membicarakan sesuatu yang lucu yang tidak ada hubungannya dengan Michael. Namun Michael sudah mengambil kesimpulan bahwa kedua perempuan tersebut telah mentertawakan dirinya hanya dari satu bukti, yaitu salah satu diantara mereka telah menengok atau melihat ke dirinya sebelum mereka berdua tertawa.

Ada 10 jenis pola pikir yang kurang sehat, yaitu:

  1. Pola pikir lompat ke kesimpulan. Orang dengan pola pikir ini secara otomatis langsung lompat ke kesimpulan tanpa melakukan analisa atau mengumpulkan data pendukung terlebih dahulu. Seperti kisah Michael diatas. Ketika melihat ada dua perempuan tertawa didepannya, Michael segera berkesimpulan bahwa kedua perempuan tersebut mentertawakan dirinya. Dia tidak berusaha mencari informasi mengapa kedua wanita tadi tertawa, apakah benar bahwa mereka mentertawakan dirinya, dll.
  2. Pola pikir hitam putih, atau all or nothing thinking. Menurut pola pikir ini adanya hanya hitam atau putih. Tidak ada abu abu. Contohnya: bila nilai ulangan matematika saya nilainya tidak 9 (bisa diartikan bahwa cerdas), berarti saya goblok. Padahal, bila ulangan matematika dapat nilai 7 sebenarnya tidak bisa disebut sebagai murid goblok. Bisa juga anak tersebut mendapat nilai 7 karena sehari sebelumnya terlalu banyak bermain sehingga tidak sempat belajar. Bila dia belajar, dia akan bisa mendapat nilai 9.

Berlanjut

Memahami paranoia dari pengalaman penderita

Paranoia adalah curiga atau ketidak-percayaan yang berlebihan. Paranoia bisa menyebabkan seseorang menjadi benci, marah, mengamuk atau melakukan pengkhianatan. Paranoia sering menjadi salah satu gejala dari gangguan jiwa berat.

Berikut ini pengalaman Michael Hedrick dengan paranoia yang dideritanya. Tulisan ini saya sarikan dari tulisan karangannya: The Bite of Paranoia yang dimuat di http://blogs.psychcentral.com/two-minds/2015/02/the-bite-of-paranoia/

Bila Michael Hedrick tidak mengaku, tidak ada yang tahu kalau dirinya menderita gangguan jiwa. Hal tersebut dapat terjadi karena dia melatih dirinya selama bertahun tahun agar dapat bergaul. Dia juga melakukan terapi terhadap dirinya sendiri. Michael juga minum obat secara teratur.

Michael dapat berfungsi secara normal, termasuk ketika harus muncul didepan umum. Hanya saja, satu hal yang masih sulit dia kendalikan dengan baik: paranoia.

Ada masa dimana sangat berat rasanya untuk keluar dari rumah. Untuk berani pergi ke toko didekat rumah saja memerlukan upaya pengumpulan keberanian selama berjam-jam.

Pernah ketika sedang duduk duduk minum kopi disebuah coffee shop sambil sibuk memikirkan bisnisnya , ada 2 orang perempuan muda duduk didekat kursi Michael. Salah satu dari perempuan tersebut memandangnya dan kemudian mereka berdua tertawa. Kejadian tersebut mungkin tidak berarti apa apa bagi orang lain, namun bagi Michael kejadian tersebut telah menghancurkan hatinya meskipun dia berusaha dengan keras untuk tidak memperlihatkan hal tersebut. Selama beberapa waktu Michael bengong memandangi komputernya, mengambil napas panjang dan berusaha dengan keras untuk menguasai dirinya.

Mungkin sebenarnya, kedua perempuan tersebut tidak sedang mentertawakan diri Michael, namun kejadian tersebut dapat membuat Michael mengartikannya secara lain, yaitu bahwa kedua perempuan tersebut mentertawakannya. Setelah beberapa saat duduk diam saja, Michael merasa kepalanya mau meledak dan telinga mulai berdenging. Michael kemudian berjalan keluar dan mengambil rokoknya. Merokok merupakan salah satu cara menenangkan emosinya.

Bila sampai Michael tidak dapat menahan emosinya sehingga dia berteriak, maka pandangan dan tindakan orang lain terhadapnya akan jauh berbeda.

Untungnya, Michael dapat mengontrol kejadian kejadian tersebut. Dalam beberapa menit, dia dapat kembali menenangkan dirinya. Dari sisi psikologis, terlihat bahwa Michael mempunyai cara berpikir yang tidak sehat, yaitu cara berpikir yang loncat ke kesimpulan. Baru melihat dua perempuan didepannya tertawa, Michael sudah menyimpulkan bahwa mereka mentertawakan dirinya

Michael Hedrick: pulih dari schizophrenia

Michael Hedrick pernah menderita schizophrenia. Kini dia telah pulih dan menjalani hidupnya sebagai fotografer dan penulis diberbagai majalah dan surat kabar.

Di awal dia menderita schizophrenia, dia merasa ketakutan terhadap gerak tubuh (bahasa tubuh, non verbal) yang dilakukan oleh orang orang yang ada disekelilingnya. Ada orang yang menggaruk kepalanya sendiri, biasa dia artikan bahwa dia harus maju kedepan. Begitu pula, bila ada seseorang yang berkedip didepannya, dia artikan bahwa orang tersebut menyuruhnya melakukan sesuatu.

Kini Michael Hedrick telah bisa mengatasi penyakitnya. Selain minum obat, untuk menjaga agar tidak kambuh, dia menerapkan pola hidup sehat. Setiap hari dia akan tidur awal dan tidur setidaknya 6-7 jam sehari. Menurut pengalamannya, bila dia sampai 2 hari berturut turut tidak dapat tidur dengan baik, gangguan jiwanya akan kambuh.

Michael Hedrick juga tidak lagi pernah minum minuman keras. Begadang dan minum minuman keras menjadi pemicu kekambuhan penyakitnya.

Setelah bangun pagi, dia akan sarapan. Setelah itu, dia akan mulai menulis untuk dipublikasikan di websitenya maupun diberbagai surat kabar atau majalah. Sore hari, dia sibuk dengan pekerjaan rumah, mencuci baju, dan lain lain.

Dengan kegiatan seperti itu, sudah selama bertahun tahun dia dapat mengendalikan hidupnya dan terhindar dari kekambuhan.

Bagi yang ingin mengenalnya lebih lanjut, silahkan kunjungi websitenya di http://thehedrick.com/#about

Teknik mendampingi penderita gangguan jiwa akut (6)

.Tulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika menjalin komunikasi pada penderita gangguan jiwa yang sedang over-reaktif atau sedang meningkat emosinya:

  1. Jangan berdiri atau duduk terlalu dekat. Bila penderita gangguan jiwa sedang naik emosinya, maka kita perlu menjaga jarak fisik dengan yang bersangkutan. Ini diperlukan untuk menjaga diri dari serangan atau untuk mencegah agar si penderita gangguan jiwa tidak merasa terancam. Jangan berdiri sehingga menutupi jalan keluar bagi penderita. Bila tidak ada jalan keluar, penderita akan panik dan dapat melakukan tindakan yang membahayakan orang lain maupun dirinya.
  2. Jangan beradu pandang mata dalam waktu lama. Beradu pandang akan dapat diartikan bahwa orang tersebut menentang si penderita.
  3. Bila penderita berdiri, maka kita sebaiknya juga berdiri dan bila penderita duduk maka kita sebaiknya juga duduk. Dalam kondisi emosi sedang tinggi, sebaiknya posisi kita menyesuaikan dengan posisi si penderita gangguan jiwa. Jangan sentuh tubuh yang bersangkutan.
  4. Jangan berdebat. Tidak ada gunanya berdebat atau beradu argumentasi dengan penderita yang sedng emosi. Sebaiknya tenangkan emosi si penderita dan ajak untuk meredamkan emosinya.
  5. Jauhkan benda benda yang dapat dipakai untuk melukai diri sendiri maupun orang lain.

Semoga bermanfaat

Teknik mendampingi penderita gangguan jiwa akut (5)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

Berikut ini beberapa saran dalam mendampingi penderita gangguan jiwa dengan GANGGUAN PIKIRAN. Gejala yang dapat dilihat karena gangguan pikiran ini antara lain: bicara ngelantur, sulit memahami pembicaraan, berpikir lambat, kesulitan mengingat, kesulitan mennekspresikan pikiran , dll.

  1. Dengarkan dan terima.Dengarkan dan terima apa yang disampaikannya dengan sabar. Dengan mendengarkan pembicaraannya dalam waktu agak lama, maka perlahan lahan pendamping akan mulai dapat mengenali tema atau topik, isi pikiran dari si penderita gangguan jiwa. Dengan bersedia mendengarkan akan terjalin koneksi/ hubungan sosial dengan pasien.
  2. Beri nama tema pembicaraan. Bila penderita sering berbicara masalah Tuhan, dosa, surga, neraka maka sebagai pendamping kita bisa menyimpulkan bahwa tema yang ada dalam pikiran penderita adalah soal agama. Kita bisa meminta pendapat dari penderita tentang hal hal yang berkaitan dengan agama.
  3. Minta untuk menuliskan. Bila arah pembicaraan tidak jelas, tidak jelas apa yang mereka inginkan, maka pendamping dapat meminta mereka untuk menuliskannya dalam selembar kertas. Berikan selembar kertas dan alat tulis dan minta mereka untuk menuliskan apa yang diinginkannya. Dengan menuliskan apa yang ada dipikirannya, maka proses berpikir mereka akan lebih tertata karena proses berpikir dapat berjalan dengan lebih pelan.
  4. Ingatkan, kembali ke topik pembicaraan. Bila pasien mengalami blocking (hilang kata kata/ berhenti bicara), maka pendamping dapat mengingatkan apa saja yang baru saja dibicarakan. Bisa juga pendamping atau perawat mengulang dengan pelan apa yang ditanyakan.
  5. Pilih topik sederhana dan gunakan kata kata sederhana. Jangan membicarakan hal hal rumit, pilih topik topik sederhana yang nyata dan terkait dengan kondisi sekarang. Gunakan kata kata yang sederhana, jangan memakai istilah istilah ilmiah yang membingungkan.
  6. Minta penjelasan. Bila kata kata yang keluar dari penderita tidak jelas, pendamping atau perawat dengan cara hati hati dan tidak terlalu memaksa, dapat meminta penjelasan. Hal ini tidak boleh dilakukan bila permintaan penjelasan tersebut akan menyebabkan timbulnya kecemasan atau ketersinggungan.

Berlanjut

Teknik mendampingi penderita gangguan jiwa akut (4)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

Penderita dengan kondisi APATIS

Pada penderita yang sedang dalam kondisi apatis atau menarik diri, maka beberapa hal yang dapat dilakukan:

  1. Duduk diam menemani penderita yang berdiam diri. Pada penderita yang apatis, pendamping atau perawat dapat duduk diam menemani. Disini yang penting dilakukan adalah komunikasi non verbal, komunikasi tanpa bicara. Dengan duduk diam menamni, maka pendamping menyadari bahwa perubahan atau pemulihan tidak akan dapat terjadi dalam waktu dekat.
  2. Bicara satu arah. Pendamping atau perawat dapat mengajak bicara penderita meskipun si penderita diam saja tidak menjawab. Selama mengajak bicara, pendamping atau perawat dapat mengamati apakah ada reaksi kecil (sedikit senyuman atau perubahan wajah/, dll). Adanya sedikit reaksi sudah merupakan langkah menuju kearah pemulihan.
  3. Bersikap kreatif. Pendamping atau perawat perlu bersikap atau bertindak kreatif, misalnya dengan membawakan radio, rekaman musik, dan lain yang akan dapat merangsang penderita sehingga tidak hanyut terus dalam dunianya.

Pada penderita dengan HALUSINASI:

  1. Bersikap toleran. Pendamping atau perawat harus menyadari bahwa halusinasi dapat mengganggu kemampuan pasien berkomunikasi. Oleh karena itu, pendamping atau perawat harus tetap sabar bila jawaban atau kata kata dari penderita gangguan jiwa sering kurang jelas.
  2. Jangan terlalu banyak bicara dan jangan bicara terlalu cepat. Penderita gangguan jiwa dengan halusinasi, sering sulit berkonsentrasi. Untuk itu, tidak boleh mendapat rangsangan atau stimuli yang terlalu banyak atau terlalu cepat.
  3. Panggil namanya. Bila penderita berhenti berkomunikasi karena terganggu oleh halusinasi, maka pendamping atau perawat perlu memanggil namanya untuk mengembalikannya atau menjauhkannya dari gangguan halusinasi.
  4. Bersikap kreatif. Ada berbagai cara untuk menarik perhatian penderita. hal tersebut tergantung kepada keinginan atau kesenangan si penderita. Kadang suara musik bisa menghilangkan atau mengurangi gangguan halusinasi.

Berlanjut

Teknik mendampingi penderita gangguan jiwa akut (3)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan ketika mendampingi penderita gangguan jiwa:

  1. 1. Duduk bersama, berada bersama penderita. Beberapa penderita gangguan jiwa sering hanya duduk diam, tidak bereaksi ketika kita menghampiri mereka. Meskipun kelihatannya tanpa reaksi ketika kita mendekati mereka, penderita gangguan jiwa perlu diberi pemahaman bahwa ada pendamping yang akan bersedia melayani atau mendampingi ketika mereka sedang/ sudah membutuhkan atau sudah siap untuk berinteraksi dengan pendamping.
  2. Memperkenalkan diri dan menjelaskan peranan pendamping. Pendamping perlu memperkenalkan diri (dengan menyebut namanya) dan menjelaskan secara singkat tentang peranan mereka dalam pemulihan gangguan jiwa.
  3. Pembicaraan ringan, tidak formal, berbicara secara normal. Pada awalnya, pembicaraan dengan pasien sebaiknya bersifat tidak formal, topiknya yang ringan ringan dan berbicara secara normal. Bila komunikasi sudah terjalin dengan baik, pembicaraan bisa diarahkan ke arah yang lebih serius, seperti: menanyakan tentang kegelisahan, halusinasi atau gejala gejala yang dihadapi oleh si penderita gangguan jiwa.
  4. Fokus pada si penderita. Topik pembicaraan sebaiknya mengenai si penderita, bukan membicarakan hal hal yang kurang terkait, seperti masalah politik, ekonomi, dll.
  5. Saat ini dan disini. Topik pembicaraan sebaiknya diarahkan pada hal hal yang terkait dengan permasalahan saat ini dan di sini (misalnya tentang tidur, kondisi kamar tidur, dll).
  6. Kegiatan bersama. Kegiatan bersama akan memudahkan terjalinnya komunikasi. Kegiatan bersama bisa dilakukan dengan pendamping atau perawat ikut bergabung dengan kegiatan yang sedang dikerjakan para pasien. Dapat juga dengan pendamping/ perawat memulai sesuatu kegiatan, kemudian perawat mengajak para penderita untuk bergabung melakukan kegiatan bersama.
  7. Humor. Humor dapat menunjukkan bahwa sudah terjalin pertemanan. Dengan humor yang tepat, maka komunikasi akan dapat semakin terjalin dengan baik.

Berlanjut