Perumahan dan pekerjaan bagi penderita gangguan jiwa

Latihan membuat kaos

Adanya rumah (tempat tinggal) dan pekerjaan adalah dua kunci penting dalam proses pemulihan gangguan jiwa.

Di Indonesia, belum ada program pendidikan dan pembimbingan bagi keluarga yang salah satu anggota keluarganya terkena gangguan jiwa. Akibatnya, karena hanya mengandalkan minum obat (sering juga penderita tidak patuh minum obat), maka penderita gangguan jiwa menjadi kronis. Akhirnya, setelah bosan merawat, penderita gangguan jiwa tersebut mulai ditinggalkan dan bahkan “dibuang”.

Di Amerika dan Inggris, ada program family therapy yang berlangsung selama 18 bulan. Tujuannya adalah menyiapkan keluarga agar dapat membantu proses pemulihan penderita gangguan jiwa. Selain itu juga ada program “supported employment”, yaitu program untuk membantu penderita gangguan jiwa yang telah mulai pulih untuk dapat bekerja dan mendapat penghasilan yang layak.

Di Tirto Jiwo, kami secara pelan mulai mengarah kesana. Saat ini, sudah ada 2 alumni (1 orang yang jadi motor, 1 orang lagi membantu/ magang) Tirto Jiwo yang berhasil membuka kios HP.

Kami sedang mempersiapkan lahan yang bisa dipakai untuk berkebun, berternak ayam atau burung, sehingga bisa dipakai sebagai latihan kerja. Dengan membuat peternakan ayam, walupun skala kecil, nantinya bisa dipakai untuk menumbuhkan  percaya diri, ketrampilan bergaul, berlatih berdagang dan latihan latihan praktis ketrampilan hidup lainnya.

Dalam hal perumahan, kami sedang mencoba mengembangkan ‘rumah kos” bagi penderita gangguan jiwa yang sudah pulih. Rumah kos tersebut tetap mendapat supervisi dan pembinaan dari Tirto Jiwo sehingga kondisi kejiwaan mereka tetap terpantau dan mendapat dukungan bila membutuhkan.

Kami akan sangat senang bila ada pembaca yang bersedia menjadi sukarelawan atau mitra dalam upaya membantu pemulihan gangguan jiwa. Kami menilai kegiatan tersebut merupakan ladang amal  untuk menggapai ridlo Allah

 

Terapi lingkungan (millieu therapy)

Mas MYT, asal Solo selama belasan tahun menderita skizofrenia dan dikurung diruangan sempit. Badannya lemah, tangannya kaku, punggungnya kesulitan untuk dibawa sujud. Alhamdulillah, tidak sampai 2 minggu tinggal di Tirto Jiwo, Mas MYT sudah ikut sholat berjamaah, jalan jalan pagi keliling kampung bersama rombongan, ikut ikutan memberi makan rusa dan ayam.

Pak D asal Batam, bertahun tahun mengurung diri di kamar. Setiap dibawa berobat dan mondok selalu berusaha lari. Pak D diantar kakaknya ke Tirto Jiwo. Kakaknya ikut menginap selama beberapa hari. Alhamdulillah, dalam waktu tidak sampai seminggu tinggal di Tirto Jiwo, Pak D sudah mau keluar kamar, ikut rombongan jalan pagi keliling kampung.

Ini bukan promosi.

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa dalam lingkungan fisik dan sosial yang mendukung. Kondisi kejiwaan penderita gangguan jiwa kronis bisa membaik.  Kondisi lingkungan fisik yang nyaman tidak berarti harus mewah. Asal bersih dan nyaman, tentram, tidak ribut, itu sudah bisa membuat penderita gangguan jiwa membaik kondisi kesehatan jiwanya.

Yang tidak kalah penting adalah lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial yang ramah, bersahabat, tidak terlalu padat, akan membuat penderita gangguan jiwa membaik kondisi jiwanya.

Lingkungan fisik dan sosial seperti yang disampaikan diatas bisa diciptakan dirumah masing masing. Penderita gangguan jiwa yang tinggal dirumah sebaiknya tidak dibiarkan melamun seharian. Mereka perlu diajak terlibat dalam kegiatan keluarga dirumah. Keadaan tersebut akan mendukung pemulihan gangguan jiwanya.

Hanya sayangnya, millieu therapy saja tidak cukup. Bila situasi fifik dan lingkungan tidak mendukung, maka penderita akan kembali kambuh. Untuk itu, millieu therapy perlu dilengkapi dengan kegiatan kegiatan untuk memperkuat ketahanan jiwa para penderita gangguan jiwa.

Aku jawab suara suara yang ada di kepalaku

Namaku Dean Smith. Aku mulai mendengar suara suara di kepalaku 15 tahun yang lalu ketika aku berumur 20an tahun.

Ketika pertama kali mendengar suara suara tersebut, aku pikir ada seseorang yang berbicara kepadaku. Kucari kesekeliling flat tempat tinggalku, tetapi tidak ada seorangpun disana. Aku sangat takut. Aku menjadi depresi dan menjadi selalu curiga.

4 hari berikutnya suara suara itu semakin keras. Suara suara itu menghina dan merendahkan diriku. Saat itu, aku ingin pulang dan kembali berkumpul dengan keluargaku. Karena tidak punya uang, aku pulang ke rumah dengan menumpang kendaraan yang lewat atau menghindar dari membayar tiket. Dalam perjalanan, aku merasa bahwa semua orang sedang membicarakan diriku.

Orang tuaku membawaku ke dokter. Mereka memberiku obat anti gangguan jiwa, tapi tidak manjur. Aku tetap mendengar 3 suara, 1 suara yang mentertawakanku seperti suara tukang sihir, 2 suara yang melecehkan dan mengancamku.

Aku mulai menyakiti diriku. Beberapa kali aku masuk rumah sakit jiwa. Disana, aku diajari cara mengalihkan perhatian dari suara suara yang kudengar dengan menyuruhku berolah raga. Namun suara suara itu tetap mengangguku.

Aku ingin sembuh karena itu, aku sering mendatangi seminar tentang pemulihan gangguan jiwa. Pada suatu seminar, seorang pembicara menyampaikan cara baru dalam menghadapi atau mengatasi suara suara yang ada dikepala. Cara baru tersebut dipromosikan oleh Hearing Voice Network, perkumpulan orang orang yang mendengar suara suara. Pembicara tersebut berkata bahwa kita harus berani terus terang menjawab dan tidak berkompromi dengan suara suara tersebut. Bila suara suara tersebut menyuruh kita menyakiti diri sendiri, katakan pada suara tersebut:”Bila ada seseorang berkata kepadaku agar membakar jariku diapi yang panas. Aku akan berkata tidak. Aku tidak mau. Mengapa aku harus menuruti perintahmu. Aku tidak mau menuruti perintahmu”. Pembicara di dalam seminar itu menambahkan. Bila kamu ingin tahu mengapa suara suara itu muncul dan ada disana, maka tanyakanalah kepadanya. Bila engkau ingin mereka pergi, maka katakan pada mereka untuk pergi.

Aku turuti nasehat pembicara dalam seminar tersebut. Aku bilang kepada suara suara tersebut” Aku sedang menonton TV saat ini, aku akan bicara kepadamu nanti”. Ketika mereka bilang bahwa sesuatu yang jelek akan terjadi pada diriku atau keluargaku, aku katakan kepada suara suara tersebut:”Coba katakan, mengapa aku pantas menerima kejadian buruk tersebut. Kamu tidak bisa jawab kan?”.  Kadang aku jawab suara suara itu didalam hati, kadang aku jawab dengan suara keras. Bila aku menjawab dengan suara keras ditempat umum, orang memandangku dengan aneh. Namun aku tidak peduli.

Sejak saat itu aku sadari bahwa suara suara negatif tersebut merupakan pikiran negatif yang aku punyai terhadap diriku sendiri. Kesadaran tadi membuat hilang rasa takutku kepada suara suara tersebut. Bukannya suara suara itu hanya khayalan, suara suara itu tetap ada dan nyata. Namun mereka tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Aku juga mulai sadar bahwa mereka tidak bisa melakukan apa yang mereka ancamkan.

Kini suara suara yang mengancam dan menghina telah berkurang. Kini muncul suara suara yang positif dan menyenangkan.

Kini aku tahu bahwa suara suara itu tidak menjadi masalah bagiku selama aku tidak takut dan bisa mengendalikan mereka. Kini aku sudah lepas dari minum obat gangguan jiwa. Aku sudah punya tunangan. Aku ajari para perawat bagaimana membantu seseorang yang sering mendengar suara suara yang muncul dikepalanya.

Sumber: dean Smith: I talk back to the voices in my head. The Guardian, saturday 4 April 2009. http://www.theguardian.com/lifeandstyle/2009/apr/04/mental-health-health-and-wellbeing

 

 

Maryadi, pasien ketiga

Maryadi (bukan nama sebenarnya) datang ke Tirto Jiwo diantar oleh adik perempuannya dengan mengendarai mobil Honda Jazz.

Kondisi fisik Maryadi terlihat lemah. Kedua tangannya kaku karena biasa terkurung disuatu ruangan dalam kurun waktu yang cukup lama. Badannya  kurus dan lemah. Tangannya terlihat gemetar ketika memegang sendok makan. Untuk membesarkan hatinya, Maryadi sampai disuap ketika makan tadi pagi.

Kondisi kejiwaannya juga berat. Maryadi terlihat pasif, bicara hanya satu dua kata. Dia hanya mengikuti ketika teman temannya melihat rusa atau memberi makan ayam. Maryadi belum bias terlibat, masih dalam tahap mengikuti dan mengamati kegiatan orang.

Minggu depan Maryadi akan kita bawa ke RSUD Purworejo untuk diperiksakan kondisi fisiknya.

Rudi dan Abdul: peserta program pemulihan

Pak Rudi (bukan nama sebenarnya),  umur 45 tahun, berasal dari Magelang. Dia datang ke Tirto Jiwo diantar oleh ibunya. Dia telah lebih dari 15 tahun tahun menderita skizofrenia.

Pak Rudi datang ke Tirto Jiwo karena ingin pulih dari gangguan jiwanya. Dia ingin bisa bekerja dan mendapatkan uang.

Pada waktu datang, gejala yang menonjol pada Pak Rudi adalah anhedonia, yaitu terlihat pasif, apatis, inginnya hanya duduk diam menonton TV. Semangat dan gairah hidupnya sangat rendah. Pak Rudi kadang kadang masih mendengar suara suara. Akhir akhir ini suara yang sering ia dengar adalah suara suara orang mengaji.

Pak Rudi rutin kontrol ke  RSJ Magelang. Namun hari ini obatnya hanya tinggal 3 buah. Kelihatannya, orang tua Pak Rudi tidak punya uang untuk berobat. Oleh karena itu, rencananya, Pak Rudi akan kita bawa ke RSUD Purworejo untuk kontrol dan berobat ke psikiater yang berpraktek di RSUD Purworejo.

Sebenarnya, hingga sekarang, belum ada obat yang manjur untuk mengatasi gejala anhedonia pada penderita skizofrenia. Kalau dari sisi medis, gejala skizofrenia Pak Rudi sudah terkendali. Namun dari sisi pemulihan, Pak Rudi masih harus dibimbing dan dibantu. Tujuan Pak Rudi agar bias bekerja dan mendapatkan penghasilan belum tercapai.

Program untuk Pak Rudi, selain membawanya kontrol ke psikiater, juga akan mulai diberi penugasan, antara lain membantu tukang memperbaiki kawat anti nyamuk dan membantu tukang mengerjakan pembangunan kandang rusa yang hampir selesai. Terapi psikososial, dengan memberinya kepercayaan, harapan dan kegiatan yang berarti diharapkan akan dapat mendorongnya untuk bias pulih dan mencapai cita citanya, yaitu hidup mandiri secara social ekonomi di masyarakat.

Pak Abdul, juga bukan nama sebenarnya, asal Klaten, umur 37 tahun, sudah berkeluarga dengan 1 anak. Dia sudah menderita skizofrenia selama 12 tahuan, yaitu sejak tahun 2002.

Dibandingkan dengan Pak Rudi, keinginan Pak Abdul untuk bisa pulih terlihat lebih besar. Hanya saja, rasa ketakutan dan halusinasi yang dialami oleh Pak Abdul lebih terlihat.

Program bagi Pak Abdul akan diarahkan untuk mengatasi halusinasi dan ketakutan yang dialaminya. Baik Pak Rudi maupun Pak Abdul, dua duanya masih minum obat anti gangguan jiwa dosisi tinggi

Semoga Allah SWT berkenan memudahkan proses pemulihan bagi mereka berdua. aamiin.

 

Tirto Jiwo: sejuk di pikiran dan nyaman di jiwa

Pemandangan dari teras Tirto Jiwo

Tirto Jiwo didirikan agar para penderita gangguan jiwa dapat segera kembali pulih dan bekerja serta hidup di masyarakat.

Silahkan mampir atau berkunjung ke Tirto Jiwo untuk belajar mengatasi suara suara yang mengganggu, menenteramkan hati dan pikiran yang gelisah, atau belajar bersama membuat usaha kecil agar bisa dapat uang tambahan.

 

Kandang rusa dalam tahap penyelesaian

Di Tirto Jiwo ada berbagai hewan peliharaan yang akan membuat jiwa kita tentram, seperti rusa, ayam bekisar, ayam kate, ayam kalkun dan ayam kampung.

Juga tersedia tanah seluas 1800 m2 yang bisa dipakai untuk kegiatan berkebun, seperti menanam cabe atau sayuran lainnya.

Di Tirto Jiwo kita juga bisa belajar bersama membangun usaha, misalnya membuat ayam goreng, dll.

Silahkan main, bersilaturahmi, dan menginap di Tirto Jiwo. Silahkan hubungi pak Wibowo Setiaji di 0813-2878-7978

Pulih total dari skizofrenia

Skizofrenia bisa pulih dan kembali hidup produktif di masyarakat.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membantu mereka mengatasi halusinasi yang mereka alami. Halusinasi telah membuat mereka tidak bisa berpikir dengan baik, selalu merasa ketakutan,  sedih, bingung, dan gelisah. Silahkan pelajari cara membantu penderita gangguan jiwa mengatasi halusinasi dengan meng-klik disini

Langkah berikutnya adalah mendukung proses pemulihannya.

Menurut hasil study dari Dr Paris William, psikolog yang meneliti penderita skizofrenia yang telah pulih di Amerika, berikut ini daftar beberapa faktor yang membuat penderita skizofrenia bis pulih:

  1. Tumbuhnya harapan bahwa mereka bisa pulih. Penderita skizofrenia di Indonesia tidak pernah ketemu bekas penderita skizofrenia yang sudah pulih atau diberitahu bahwa penderita skizofrenia bisa pulih dan hidup normal di masyarakat. Akibatnya mereka kehilangan harapan dan hidup apatis. Tanpa adanya harapan bahwa hidup mereka dimasa depan bisa lebih baik dibandingkan keadaan sekarang, maka mereka tidak akam mau berusaha untuk pulih. Dari berbagai peneilitian di Amerika faktor adanya ‘harapan” merupakan kunci utama dalam pemulihan gangguan jiwa. Harapan tersebut bisa muncul karena dorongan orang lain yang dipercayai atau diseganinya atau muncul setelah bertemu dengan penderita gangguan jiwa yang telah pulih.
  2. Mempunyai kegiatan sehari-hari yang berarti yang membuat mereka bergairah. Adanya kegiatan yang berarti, baik yang bisa menghasilkan uang maupun tidak menghasilkan uang, membuat merka bangun dari tidur dengan bergairah. kegiatan yang berarti bisa berupa pekerjaan yang memberikan penghasilan atau kegiatan yang tidak menghasilkan uang (misalnya menjadi ibu rumah tangga, guru mengaji, sukarelawan sosial, dan lain sebagainya).
  3. Mempunyai keluarga atau sahabat yang mendukung.  Adanya keluarga atau sahabat yang mendukung sangat penting bagi proses pemulihan. Perasaan bahwa ada orang lain yang menyayangi atau mengasihi akan membuat mereka secara bertahap kembali hidup produktif di masyarakat.

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (4)

Contoh kasus halusinasi

Maureen (30 tahun) mendengar 3 suara.

Identitas suara: Maureen mengenal 3 suara yang bernama: Ina, Anna dan Johana.

Karakteristik dari suara suara tersebut: Inan berumur 7 tahun yang akan menangis dan berteriak bila Maureen tidak mau mendengarkan apa yang dikatakannya. Anna berumur 19 th dan berpendapat bahwa Maureen adalah orang tak berguna dan secara kasar menjelek-jelekkan atau menghina Maureen. Johanna seumuran dengan Maureen dan selalu melindungi dan menolong Maureen.

Riwayat munculnya suara suara: Ina mulai muncul ketika Maureen berumur 7 tahun ketika dia mulai dilecehkan secara seksual oleh pamannya. Pelecehan seksual berlangsung hingga Maureen berumur 12 tahun. Anna mulai muncul ketika Maureen berumur 19 tahun. Pada umur itu Maureen mulai meminta orang tuanya untuk memperkarakan kelakuan pamannya ke pengadilan. Namun tiba tiba orang tuanya menarik pengaduannya. Johana mulai muncul ketika Maureen mulai mendapat terapi. Johana berusaha melindungi Maureen dari Ina dan Anna.

Isi suara: Ina mengatakan apa yang terjadi ketika Maureen dilecehkan dan akan berteriak bila maureen tidak mau mendengarkan. Anna mengatakan bahwa Maureen lemah, tidak mau melawan dan mempertahankan diri. Anna menghina dan menyuruh Maureen untuk bunuh diri karena Maureen seorang pengecut. Johana memberikan nasehat dan mencarikan cara mengalihkan perhatian dari kedua suara lainnya.

Pencetus: Ina muncul ketika Maureen mengunjungi kedua orang tuanya dan harus menghadapi masalah seksualitas dalam kehidupannya. Anna muncul setiap Maureen tidak berani mengambil sikap atas suatu masalah. Anna juga muncul ketika Maureen berteman dengan pria karena dia tidak ingin Maureen punya teman pria. Johanna muncul bila Anna terlalu menyerang Maureen. Johana takut kalau Maureen menuruti kata kata Anna (menyuruhnya bunuh diri).

Riwayat masa kecil: Maureen tumbuh dalam keluarga yang selalu melindunginya. Dia tidak tahu cara mempertahankan diri dan dididik untuk bias mengendalikan marah.

Formulasi (the construct): Ina dan Anna tidak merepresentasikan seseorang tapi mencerminkan emosi dari seseorang yang mengalami pelecehan seksual. Johanna mencerminkan bagian diri Maureen yang menolong dan melindunginya. Maureen setuju bahwa suara suara tadi merujuk atau terkait dengan masalah pelecehan seksual yang pernah dialaminya dimasa lalu.

Dalam terapi, therapist mengajari Maureen untuk mengontrol dan menjadwalkan agar suara suara tadi muncul disiang hari. Terapist juga memfokuskan pada membantu Maureen mengatasi masalah kecemasan dan stress akibat pelecehan seksual.

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (3)

Penyebab utama munculnya suara suara (halusinasi) adalah adanya pengalaman hidup yang melukai hati atau jiwanya yang  tidak dapat diatasinya dan menyebabkan dirinya merasa tidak berdaya.

Halusinasi tersebut bisa muncul pada orang normal dan tidak didiagnosa menderita gangguan jiwa. Halusinasi menjadi masalah bila yang bersangkutan (ybs) tidak mampu mengatasi halusinasi tersebut sehingga mengganggu perilaku dan kehidupan sehari hari serta menjadi penderita gangguan jiwa.

Karena pengalaman mendengar suara suara (halusinasi) adalah pengalaman yang luar biasa dan aneh, biasanya yang bersangkutan (ybs) menjadi malu dan tertekan. Apalagi, di masyarakat kita, sering mengaitkan halusinasi tersebut dengan gangguan jiwa. Akibatnya, jarang orang yang mengkaitkan halusinasi dengan pengalaman hidup yang melukai hatinya.

Biasanya uutan dari munculnya halusinasi adalah sebagai berikut: kejadian yang melukai jiwanya/ hatinya –> menimbulkan emosi dan tekanan jiwa —->berekasi dengan menekan emosi atau mengacaukannya—->gagal mengatasi emosi yang menekan —–> mulai muncul halusinasi.

Pada anak anak proses antara terjadinya kejadian yang traumatis dengan munculnya halusinasi lebih pendek. Biasanya suara suara tersebut bersifat melindungi si-anak. Misalnya: ketika sering anak mengalami pelecehan seksual, maka tidak berapa lama si anak mulai mendengar suara suara yang menyebut bahwa anak tersebut adalah anak yang baik. Kadang kadang suara suara itu menggambarkan karakteristik orang yang melakukan pelecehan sesksual tersebut. Suara tersebut berusaha untuk mengingatkan akan bahaya dari pelecehan sesksual.

Memahami dan mencari makna dari suara suara tersebut biasanya tidak gampang karena memerlukan pendekatan yang simpatik dan analitik.

Dua hal utama yang perlu dikenali: (a) suara suara itu mewakili siapa? apakah suara itu mewakili orang yang melecehkannya secara seksual atau orang yang berusaha melindunginya, (b) masalah apa yang disuarakan atau ingin disampaikan oleh suara suara tadi.

 

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (2)

Dalam mengatasi halusinasi, pendekatan Maastricht berbeda dengan para psikiater yang langsung memberi obat untuk menekan munculnya halusinasi. Dalam pendekatan Maastricht, perlu dipelajari seluk beluk halusinasi tersebut agar bisa ditemukan jalan untuk mengatasinya. Beberapa informasi yang digali dalam pendekatan Maastricht:

  1. Jenis halusinasi. Apakah suara berasal dari dalam kepala atau berasal dari luar kepala, apakah dua-duanya. apakah ada jenis halusinasi lain (visual, peraba, perasa, dll).
  2. Karakteristik suara. apakah mereka punya nama, laki atau perempuan, suara keras (teriak) atau lunak, apakah ada hierarkhi diantara mereka, siapa yang paling menyakitkan kata katanya, suara siapa yang paling penting, apakah suara mereka mengingatkan suara orang yg pernah dikenal
  3. Riwayat suara. Kapan masing masing suara mulai muncul, dalam kondisi sosial psikologis seperti apa, apakah suara mereka berubah (nada maupun isinya). sering jenis suara yang berbeda muncul pertama kali dalam kondisi psikis dan sosial yang berbeda.
  4. Pemicu munculnya suara. Situasi, tempat dan kondisi yang memicu munculnya suara. apakah kemunculan suara didahlui perasaan takut, marah, sedih, kesepian. bagaimana reaksi suara suara tadi terhadap pemicu (misalnya bila pemicunya adalah perasaan marah, apa kata suara tadi terhadap marah tersebut)
  5. Apa yang dikatakan suara suara tadi. Sering orang tidak mau menyampaikan kata per kata apa yg dikatakan suara suara tadi karena malu atau terlalu menyakitkan. Bisa juga karena suara tadi bilang bahwa yang bersangkutan tidak boleh menyampaikannya kepada orang lain. Biasanya bila yang bersangkutan bisa mengontrol suara suara tadi, dia akan lebih mau menyampaikan apa yg dikatakan suara suara tadi kat per kata.
  6. Bagaimana yang bersangkutan (ybs) menjelaskan asal usul suara tersebut. Sering ybs bisa menjelaskan secara spesifik asal usul suara tadi. Misalnya: melalui pengalaman spiritual, suara setan, suara dari tuhan. Sebagian orang tidak bisa menjelaskan secara spesifik. Dalam interview ini tidak boleh didebat penjelasan yang diberikan oleh yang bersangkutan.
  7. Dampak dari adanya suara tadi dalam kehidupan sehari-hari. Disini bisa sangat bervariasi. apakah suara tadi meminta atau memerintah sesuatu, mengancam. Apakah ybs merasa harus menuruti atau percaya kata katanya, apakah nasehat yang mereka sampaikan bermanfaat, apakah suara tadi menghalangi ybs bekerja atau bertemu dengan orang lain, apakah kata-katanya selalu benar.
  8. Hubungan ybs dengan suara tadi. apakah ybs berkomunikasi dengan suara suara tadi, bagaimana posisi suara tadi terhadap ybs, bagaimana caranya sampai bisa terjadi komunikasi, apakah suara suara tadi mau mendengarkan ybs, apakah suara tadi menghormati ybs, apakah suara tadi setuju dengan ybs, dapatkan ybs memerintah suara suara tadi, menyuruhnya pergi, hubungan seperti apa yang diinginkan oleh suara tadi dengan ybs dan apakah ybs setuju.
  9. Strategi mengatasi suara suara. Apa yang dilakukan oleh ybs untuk mengatasi suara suara tadi. secara kognisi (apakah ybs memakai pendekatan pikiran), perilaku dan fisiologis (obat, meditasi, dll).
  10. Riwayat masa kecil. apakah ada riwayat bahwa ybs tidak diinginkan, perasaan tidak aman, dll.
  11. Riwayat pengobatan. riwayat pengobatan dan dukungan yang selama ini diterima.
  12. Jaringan sosial. siapa orang orang dekat ybs, apakah ybs membicarakan soal suara suara tadi kepada mereka, apakah mereka mendukung ybs.

Setelah selesai mengumpulkan data tentang halusinasi melalui wawancara/ anamnesa, maka perlu dibuat ringkasannya. Ringkasan tersebut perlu disampaikan kepada ybs agar bila ada ketidak cocokan bisa segera diperbaiki. Begitu pula, hal hal yang kurang jelas bisa lebih diperjelas. Selain itu, penyampaian ringkasan kepada ybs agar tidak ada penolakan atau penghindaran. Dengan ringkasan itu maka ybs mulai tergerak untuk mencari strategi yang tepat mengatasi halusinasi yang dialaminya.

Sering dengan dilakukannya wawancara tersebut, maka ybs mulai muncul keinginannya untuk pulih dan mengenali hal hal yang menghalangi proses pemulihan. Ybs menjadi sadar hubungannya dengan suara suara tadi, hal hal atau kejadian penting dalam hidupnya, dan strategi yang bisa dikembangkan untuk mengatasi halusinasinya.