Kapan perlu konsultasi

James Kindle-pulih dari skizofrenia

Bila anda pernah di diagnose menderita gangguan jiwa, seperti: skizofrenia, gangguan bipolar, depresi berat, dan lain lain, maka beberapa tanda dan gejala berikut ini perlu diwaspadai. Bila anda mengalami gejala atau mempunyai tanda berikut, segeralh konsultasi ke ahli kesehatan jiwa.

  • Mempunyai perasaan bahwa hidup ini tidak ada artinya lagi atau tidak ada lagi harapan.
  • Mempunyai keinginan untuk bunuh diri atau mengakhiri hidup.
  • Mempunyai perasaan atau pemikiran bahwa anda seseorang yang terkenal di dunia (atau jadi nabi, mendapat tugas khusus dari Tuhan) atau mempunyai kekuatan supranatural (misalnya: dapat menghilang, terbang, berjalan diatas air).
  • Merasa sangat cemas atau gelisah
  • Merasa sangat takut terhadap hal hal biasa (baik yang ada di dalam rumah ataupun di luar rumah) atau takut berada di suatu tempat
  • Sangat takut karena sesuatu bencana/ kecelakaan akan terjadi atau takut terhadap segala sesuatu
  • Sering gemetaran, gelisah, mudah tersinggung atau gampang marah
  • kesulitan mengendalikan perilaku
  • Tidak dapat duduk dengan tenang
  • Melakukan sesuatu secara berulang ulang– sangat sulit menghentikan kegiatan seperti mencuci tangan berulang ulang, menghitung benda berulang ulang, atau mengumpulkan benda yang tidak dibutuhkan
  • Melakukan sesuatu yang aneh atau berbahaya, seperti: memanjat menara tinggi, membawa mobil sangat cepat di jalan raya.
  • Mempercayai sesuatu yang tidak biasa, seperti: radio atau TV yang mengajak bicara kepada anda, jam tembok yang mengambil foto anda, dll.
  • Mengucapkan sesuatu kata kata (kalimat) yang tidak ada artinya secara berulang ulang
  • Mendengar sesuatu di dalam kepala
  • Melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada
  • Merasa bahwa semua orang membenci atau melawan anda atau akan menangkap anda
  • Merasa jiwa terpisah dari badan
  • Merasa kesulitan mengenali apa yang terjadi atau merasa tidak ingat waktu
  • Merasa kemampuannya meningkat atau turun secara tiba tiba atau bertahap, sehingga semakin cepat (lambat) mengambil keputusan, memahami segala sesuatu.
  • Ada dorongan untuk melukai atau menyakiti diri sendiri.

Bila anda mempunyai pengalaman atau gejala seperti diatas, ada baiknya anda segera konsultasi dengan ahli kesehatan jiwa.

Karakteristik orang sakit dan yang pulih dari skizofrenia

Menurut Dr Daniel Fisher, dokter ahli kesehatan jiwa yang dulu pernah sakit skizofrenia, ada beberapa karakteristik yang membedakan antara seseorang yang (masih) menderita gangguan jiwa dan orang yang (bisa) pulih dari gangguan jiwa.

Beberapa perbedaan yang mendasar adalah sebagai berikut:

  1. Penderita skizofrenia (PS): semua keputusan penting dilakukan oleh dokter/ tenaga kesehatan jiwa. Penderita bersifat dependent (tergantung). Penderita Pulih dari skizofrenia (PPS): dengan dukungan orang orang disekitarnya, yang bersangkutan mampu membuat keputusan bagi dirinya sendiri, berani menentukan nasibnya sendiri (self determination).
  2. PS: Dukungan social utamanya didapat dari pemerintah (dinas social dan dinas kesehatan). PPS: dukungan social utamanya didapat dari jaringan keluarga dan kawan.
  3. PS: identitas sosialnya adalah sebagai penderita skizofrenia (penderita gangguan jiwa). PPS: mempunyai identitas social sebagai orang tua, karyawan/ pekerja, murid/ mahasiswa, atau peran social lainnya.
  4. PS: minum obat merupakan suatu keharusan. PPS: obat hanyalah salah satu alat (dari berbagai metode pemulihan yang ada) yang dipilih oleh seseorang untuk mendukung pemulihannya.
  5. PS: adanya emosi yang kuat merupakan salah satu gejala gangguan jiwa yang perlu diobati oleh dokter. Tidak ada proses pembelajaran untuk mengendalikan emosi. PPS: belajar mengendalikan emosi. Seseorang belajar mengekpresikan emosinya dengan benar dalam pergaulan dan dalam pekerjaan.
  6. PS: orang awam dapat mengenali bahwa yang bersangkutan menderita gangguan jiwa. PPS: hanya ahli kesehatan jiwa yang dapat mengenali bahwa yang bersangkutan pernah menderita gangguan jiwa.
  7. PS: percaya diri yang rendah, kurang mempunyai dorongan dari dalam, tidak tahu arah yang dituju di masa depan, menurut saja apa yang diputuskan oleh orang lain (dokter, tenaga kesehatan lain). PPS: mempunyai arah dan makna hidup yang jelas dan kuat yang dikembangkannya melalui interaksi dengan kawan/ saudara.saudara

Sumber: http://power2u.org/articles/recovery/characteristics.html

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (7)

Dan Fisher dan Linda Rosenberg

Artikel ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Menurut Dr Dan Fisher dan Laurie Ahern dari National Empowerment Center, ada perbedaan yang sangat nyata antara pelayanan kesehatan biasa (PKB)) dan pelayanan pemulihan PACE:

  1. PKB: Tidak semua orang bisa sakit jiwa. Hanya orang tertentu yang bisa sakit jiwa. PACE: Semua orang bisa terkena gangguan jiwa. Semua orang adalah sama.
  2. PKB: gangguan jiwa disebabkan karena adanya gangguan otak yang menetap. PACE: gangguan jiwa disebabkan karena tekanan jiwa yang berat (severe mental distress) dan hilangnya peranan sosial.
  3. PKB: pemulihan adalah suatu proses seumur hidup. PACE: penderita gangguan jiwa dapat pulih sepenuhnya.
  4. PKB: tujuan dari pelayanan rehabilitasi adalah menjaga agar tidak kambuh (maintenance). PACE: tujuan pelayanan adalah pulih sepenuhnya dari gangguan jiwa.
  5. PKB: pengendalian (kontrol) dengan paksaan oleh tim. Pengendalian dilakukan dari luar yang bersangkutan. PACE: pengendalian diri secara suka rela.
  6. PKB: kecepatan dan lama pemulihan ditentukan oleh tim. PACE: kecepatan dan lama proses pemulihan ditentukan sendiri oleh yang bersangkutan.
  7. PKB: hubungan antara petugas dan penderita adalah hubungan profesional. PACE: hubungan bersifat pertemanan.
  8. PKB: andalan utama bagi pemulihan adalah dengan pemberian obat obatan. PACE: pelayanan utama adalah dukungan psikososial dari orang orang yang percaya bahwa penderita gangguan jiwa bisa pulih sepenuhnya.
  9. PKB: pelayanan pemulihan mengandalkan tenaga profesional. PACE: pelayanan diberikan oleh orang yang pernah mengalami gangguan jiwa yang sudah pulih jiwanya.
  10. PKB: hasilnya adalah penderita gangguan jiwa yang tergantung kepada obat, dokter dan tenaga kesehatan jiwa lainnya. Kurang adanya tanggung jawab. PACE: manajemen diri sendiri (self management), rasa tanggung jawab semakin meningkat.
  11. PKB: pelayanan yang diberikan utamanya berupa pemberian obat anti gangguan jiwa. PACE: berbagai macam pelayanan diberikan sesuai kebutuhan pasien, antara lain: psikoedukasi, latihan memperkuat ketahanan jiwa, kegiatan yang dikelola bersama (peer run).
  12. PKB: obat diberikan seumur hidup. PACE: obat adalah hanya salah satu alat untuk mendukung proses pemulihan.

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (6)

Artikel ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Selama ini, upaya yang dilakukan oleh profesi kedokteran berbeda dari model pemulihan yang dikembangkan oleh para bekas penderita gangguan jiwa.

Ada beberapa prinsip yang membedakan antara model rehabilitasi gangguan jiwa (model kedokteran – MK) dan model pemberdayaan atau model pemulihan (MP):

  1. MK : kamu sakit jiwa. MP: kamu mengalami emotional distress (stress emosional) yang mempengaruhi kehidupanmu di masyarakat.
  2. MK: gangguan jiwa disebabkan adanya kelainan otak akibat genetik atau ketidak seimbangan kimia otak. MP: Gangguan jiwa disebabkan oleh kombinasi dari kehilangan, trauma dan tidak adanya dukungan.
  3. MK: gangguan jiwa bersifat menetap (tidak bisa sembuh). MP: Gangguan jiwa bisa pulih secara komplit (penuh).
  4. MK: sebaiknya jangan mulai bekerja hingga semua gejala hilang. MP: mulailah bekerja sesegera mungkin karena bekerja akan membantu proses pemulihan.
  5. MK: minum obat selama hidup. MP: minum obat itu bermanfaat untuk mengurangi gejala, dan selama minum obat, lakukan upaya untuk meningkatkan ketahanan jiwa dan mempelajari cara lain mengatasi stress kejiwaan.
  6. MK:  selama hidupmu harus berada dalam perawatan dokter/ psikolog. MP: dukungan dari sesama penderita gangguan jiwa dan dukungan dari teman teman/ saudara akan sangat membantu pemulihan jiwa.
  7. MK: hindari stress/ tekanan hidup. MP: hiduplah seperti biasa, tetap punya mimpi mimpi, serta berani menghadapi tantangan.
  8. MK: kamu adalah penderita gangguan jiwa. MP: kamu adalah manusia seutuhnya.
  9. MK: karena terkena gangguan jiwa, kamu tidak akan bisa menyatakan (mengekspresikan) perasaanmu dan membangun hubungan pertemanan/ persaudaraan/ perkawinan. MP: Kamu mengalami perasaan yang ekstrem sehingga tidak aman (tidak tepat) untuk mengekspresikannya kepada orang lain. Dengan berjalannya waktu kamu akan bisa mengekspresikan emosi dan perasaanmu secara aman/ benar  dan membangun pertemanan/ persaudaraan/ perkawinan.
  10. MK: kamu tidak mempunyai hak ataupun kewajiban terhadap orang lain. MP: kamu mempunyai hak dan kewajiban sama dengan anggota masyarakat lainnya.
  11. MK: kamu lebih berbahaya dibanding anggota masyarakat lainnya. MP: kamu tidak lebih berbahaya dibandingkan anggota masyarakat lainnya.
  12. MK: kamu tidak boleh menikah atau berkeluarga. MP: kamu boleh menikah dan punya anak sesuai dengan perkembangan proses pemulihan.

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (5)

Tulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Dr Dan Fisher dan Laurie Ahern mengembangkan model pemulihan gangguan jiwa, yang disebutnya sebagai PACE. saya akan bahas satu persatu komponen dari PACE tersebut.

Balanced and Connected (seimbang dan terhubung). Ketika masih didalam kandungan, kehidupan janin dalam keadaan seimbang dan terhubung kepada ibunya.

Loss and Trauma (kehilangan dan trauma). Di masa kecil, kita semua pernah merasakan kehilangan dan pengalaman hidup yang menyebabkan trauma. Beberapa orang mengalami pengalaman traumatis dan kehilangan yang sangat berat, seperti: kehilangan orang tua, pelecehan fisik dan seksual, kemiskinan, dan lain lain. Pengalaman tersebut bisa menimbulkan penderitaan emosional (emotional distressed).

Emotional distressed (penderitaan emosional). Penderitaan emsoional tersebut dapat muncul dalam bentuk: ketakutan, kesedihan, rasa kehilangan,dan lain lain. Penderitaan emosional tersebut tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari yang bersangkutan sebagai pelajar/ mahasiswa, orang tua, maupun sebagai karyawan.

Healing emotionally (sembuh secara emosi). Dengan berjalannya waktu, semua penderitaan emosional tersebut menjadi hilang. Namun, pada sebagian orang, proses penyembuhan tersebut tidak berjalan dengan baik sehingga terjadilah severa emotional distress (gangguan emosional berat).

Severe emotional distress (gangguan emosi berat). Penderita yang mengalami gangguan emosional yang berat akan mengalami gangguan pola pikir dan gangguan perasaan (feeling) yang muncul dalam bentuk: halusinasi (misal: mendengar suara suara yang tidak ada sumbernya), waham (delusi), keinginan untuk bunuh diri, dan lain. Orang dengan gangguan emosi berat tidak akan menjadi gila (menderita gangguan jiwa), selama yang bersangkutan mendapat dukungan sosial, mempunyai sumber daya (misalnya: rumah, uang) dan mempunyai kemampuan mengatasi gangguan emosinya tersebut sehingga meraka tetap berada di tengah keluarga dan masyarakat.

Mengalami gangguan jiwa (mentally ill). Bila seseorang dengan penderitaan emosi berat dan tidak lagi mampu mengatasi penderitaannya, maka yang bersangkutan akan menjadi gila atau dicap sebagai menderita gangguan jiwa. Mereka akan dibawa ke rumah sakit jiwa atau dirawat dirumah.

Recovery from mental illness (pulih dari gangguan jiwa). Penderita akan pulih dari gangguan jiwanya karena adanya kombinasi dari beberapa keadaan yang mendukung pemulihannya, seperti: yang bersangkutan dan orang orang disekitarnya percaya bahwa penderita gangguan jiwa (dirinya) bisa dan akan pulih, belajar untuk mempunyai ketrampilan dalam pemulihan, kembali bergabung dan diterima oleh masyarakat disekitarnya.

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (4)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

3. Recovery skills (pulihnya ketrampilan). Setelah seseorang yakin bahwa dirinya bisa pulih, begitu pula dengan orang orang disekitarnya juga percaya bahwa orang tersebut bisa pulih dari gangguan jiwanya, maka penderita gangguan jiwa mulai dapat mengembalikan ketrampilannya, khususnya ketrampilan berkomunikasi atau berinteraksi sosial. Penderita gangguan jiwa perlu belajar untuk mendapatkan ketrampilan bagaimana mengekspresikan marah, sedih,kecewa, sayang, atau takut. Ketrampilan tersebut diperlukan agar yang bersangkutan bisa bergaul dan berinteraksi dengan sesama secara normal. Ketrampilan yang diperlukan dalam pemulihan, antara lain: ketrampilan menentukan tujuan dan sasaran serta mencapainya, ketrampilan memaafkan diri sendiri, ketrampilan mengendalikan perasaan tidak enak, ketrampilan merawat diri sendiri (olah raga, jalan jalan, bermain musik, melakukan hobi, dll), bertanggung jawab kepada diri sendiri.

4. Recovery Identity (Pulihnya identitas diri ). Penderita yang pulih dari gangguan jiwa tidak lagi hanya merasa sebagai penderita gangguan jiwa, tapi sudah menjadi manusia yang utuh. Identitas diri tersebut antara sebagai karyawan, kepala atau anggota keluarga, murid, dll.

5. Recovery comunity (kembali menjadi bagian masyarakat). Penderita gangguan jiwa yang pulih diterima sebagai bagian dari masyarakat.

Dr Nancy Waxler, pada tahun 1979 melakukan penelitian dengan membandingkan pemulihan dari gangguan jiwa di Sri lanka dengan di Inggris. Dia menemukan bahwa angka pemulihan gangguan jiwa di Sri Lanka ternyata lebih bagus dibandingkan dengan di Inggris. Hal ini disebabkan karena penduduk Sri lanka melihat gangguan jiwa sebagai penyakit yang bersifat sementara dan penderita akan pulih kembali. Ketika masyarakat percaya bahwa penderita gangguan jiwa akan pulih kembali, maka penderita tersebut benar benar kemudian menjadi pulih.

Pada tahun 1940, beberapa petugas kesehatan yang berpikiran maju di RS Jiwa di Vermont, Amerika Serikat mengubah pelayanan kesehatan jiwanya dengan menciptakan lingkungan yang demokratis, saling percaya dan memupuk harapan. Selain itu, mereka juga melatih bekas enderita gangguan jiwa yang telah pulih untuk membantu temannya yang masih sakit. Ternyata, dari hasil penelitian Dr Courtney Harding (1999) para penderita gangguan jiwa yang dirawat di RSJ Vermont mempunyai angka pemulihan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rumah sakit jiwa lainnya.

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (3)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

Menurut hasil berbagai riset yang dilakukan oleh National Empowerment Center, terhadap orang orang yang sudah pulih dari gangguan jiwa, ada 5 tema utama dalam pemulihannya, yaitu:

  1. Recovery beliefs (keyakinan bisa pulih). Penderita gangguan jiwa harus yakin bahwa mereka bisa pulih, kembali hidup normal dan bekerja di masarakat. Orang orang disekitarnya juga harus punya keyakinan yang sama, bahwa saudara mereka akan bisa pulih dari gangguan jiwanya. Mereka (orang yang sudah pulih dari gangguan jiwa) tidak pernah menyerah dan yakin bahwa suatu saat mereka akan mencapai suatu keadaan dimana mereka tidak lagi menderita gangguan jiwa. Adanya “harapan” akan masa depan yang lebih baik merupakan salah satu kunci pemulihan gangguan jiwa, karena bila tidak punya harapan, mereka tidak akan mau berusaha. Orang yang bisa pulih dari gangguan jiwa juga kembali mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Kepercayaan diri yang sering hilang karena menderita gangguan jiwa, bisa mereka raih kembali.
  2. Recovery relationships (pulih hubungan sosialnya). Adanya hubungan persaudaraan atau persahabatan yang erat akan membantu proses pemulihan. Beberapa penderita gangguan jiwa pernah menyakiti orang tua, saudara atau sahabatnya. Kembalinya persaudaraan atau persahabatan akan mempercepat proses pemulihan. Beberapa sifat sifat yang diperlukan oleh penderita gangguan jiwa agar membantu pemulihannya adalah: seseorang yang yakin kepada  penderita bahwa dia akan pulih, seseorang yang tidak pernah menyerah (karena dalam proses pemulihan kadang masih terjadi kekambuhan), seseorang dimana penderita merasa aman atau percaya kepada orang tersebut, seseorang yang pernah mengalami kejadian serupa (pernah menderita gangguan jiwa dan sekarang sudah pulih), seseorang yang mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi, seseorang yang membiarkan penderita pulih dengan kecepatan yang berbeda beda antara

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

Laurie Ahern dan Dan Fisher, keduanya bekas penderita gangguan jiwa, menulis buku pedoman pemulihan Personal Assistance and Community Existence (PACE).

PACE disusun berdasarkan beberapa prinsip sebagai berikut:

  • Seseorang bisa pulih sepenuhnya dari gangguan jiwa yang paling berat sekalipun.
  • Seseorang dapat dan sangat memerlukan interaksi/ koneksi emosional dengan orang orang  lain, terutama ketika mengalami stress.
  • Saling percaya (trust) adalah tonggak dari pemulihan
  • Orang orang yang mempercayai (believe) anda, dapat membantu anda dalam proses pemulihan
  • Agar bisa pulih, seseorang harus dapat melaksanakan mimpi mimpinya.
  • Ketidak-percayaan akan mendorong terjadinya pemaksaan dan kontrol yang bisa menghalangi proses pemulihan
  • Sikap bertanggung jawab  dan berani menentukan nasibnya sendiri sangat penting bagi pemulihan
  • Seseorang yang menderita gangguan jiwa harus percaya bahwa dirinya bisa pulih dari gangguan jiwa, begitu pula dengan orang orang yang ada disekitarnya juga harus percaya.
  • Penghormatan dan penghargaan sangat penting dalam pemulihan
  • Semua yang telah kita pelajari tentang pentingnya hubungan/ keterkaitan sosial (social connectedness) berlaku untuk orang normal dan berlaku juga penderita gangguan jiwa.
  • Adanya perasaan aman secara emosional sangat penting agar seseorang dapat mengungkapkan perasaan atau emsoinya, dan hal ini penting bagi pemulihan.
  • Memahami arti dari pengalaman kejiwaan selama mengalami stress akan membantu proses pemulihan.

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (1)

Laurie Ahern pernah menderita sakit jiwa ketika berumur 19 tahun. Saat ini, Laurie bekerja sebagai managing editor beberapa koran dan penulis lepas di Boston Globe dan Associated Press. Dia juga menjabat sebagai associate director Mental Disability Right International serta beberapa jabatan lainnya.

Dan Fisher adalah seorang dokter ahli kesehatan jiwa (psikiater), dan doktor (S3) dalam bidang biokimia. Ketika berumur 25 tahun, dia didiagnosa dengan skizofrenia dan pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa. Kini, Dan Fisher bekerja sebagai direktur National Empowerment Center dan anggota White Hose New Freedom Commission on Mental Health, penasehat  president AS dalam bidang kesehatan jiwa.

Kalau pedoman pemulihan gangguan jiwa ditulis oleh seseorang yang belajar tentang kesehatan jiwa, seperti dokter atau psikolog itu hal yang biasa. Bila pedoman pemulihan gangguan jiwa ditulis oleh seseorang yang pernah menderita gangguan jiwa, itu baru luar biasa dan perlu disimak serta dipelajari.

Laurie Ahern dan Dan Fisher sering memberikan ceramah bersama. keduanya kemudian menulis sebuah buku pedoman pemulihan gangguan jiwa Personal Assistance in Community Existence (PACE). Berikut ini beberapa ini sari dari buku tersebut.

Menurut Laurie Ahern dan Dan Fisher, penderita gangguan jiwa bisa pulih, asalkan mereka mendapatkan dukungan dan perlakuan yang tepat. Pendapat mereka berbeda dengan pendapat kebanyakan petugas rumah sakit jiwa dan masyarakat yang menyatakan bahwa gangguan jiwa adalah penyakit seumur hidup yang hanya bisa distabilkan, dirawat dan ditingkatkan kemampuannya, namun tetap menderita sakit jiwa.

Bersambung

Sumber bacaan bisa di download dihttp://nationalempowermentcenter.com/downloads/pace_manual.pdf

15 intervensi terhadap skizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya (5)

Tulisan ini merupakan lanjuta artikel sebelumnya

11. Program self-management (manajemen diri). Penderita yang telah pulih tidak hanya telah berkurang gejala penyakitnya, namun mereka juga sudah lebih baik dalam mengelola kehidupannya sehari-hari. Program manajemen diri bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penderita gangguan jiwa sehingga mereka lebih mampu dalam mengendalikan gejala penyakitnya, mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial yang ada dengan baik, serta mampu hidup di masyarakat dengan lebih baik. Program manajemen diri termasuk pengenalan cara mencegah kekambuhan, meningkatkan ketahanan jiwa, mengelola obat dan mengamati efek samping obat, pelatihan ketrampilan hidup (life skills), dan menyusun rencana pemulihan diri.

12. Pelayanan terapi perilaku dan kognisi (cognitive behavioral therapy). Cognitive Behavior Therapy (CBT) merupakan psikoterapi jangka pendek. Biasanya CBT dilaksanakan oleh psikolog atau profesional yang sudah terlatih, berlangsung selama kurang dari 2 tahun, setiap sesi berlangsung selama 1 jam, pertemuan diadakan setiap seminggu sekali hingga sebulan sekali (biasanya lebih sering diawal program dan kemudian berkurang sesuai denganperkembangan kondisi kejiwaannya), dengan penugasan diantara dua sesi. CBT terbukti mampu mendukung proses pemulihan dan mengurangi kekambuhan.

13. Kampanye anti diskriminasi dan stigma. Penderita gangguan jiwa sering mengalami diskriminasi dan mendapat cap yang jelek (stigma) . Adanya diskriminasi dan stigma menyebabkan proses pemulihan seorang penderita gangguan jiwa menjadi terhambat. Kampanye anti diskriminasi dan stigma akan lebih memudahkan penderita gangguan jiwa untuk berbaur dengan masyarakat.

14. Konsultasi masalah kesejahteraan. Berbagai permasalahan hidup, seperti masalah keuangan, perumahan, transportasi dan lain lain sering memicu timbulnya kambuh. Adanya dukungan berupa konsultasi dan nasehat dalam bidang tempat tinggal, keuangan pribadi dan yang sejenisnya akan sangat membantu penderita gangguan jiwa. Konsultasi di bidang kesejahteraan sosial tersebut akan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita gangguan jiwa dan mencegahnya dari kekambuhan.

15. Anggaran pribadi. Di Inggris dan Amerika, penderita gangguan jiwa mendapat bantuan sosial yang dikelola oleh pihak ketiga. Dana untuk pelayanan kesehatan dan dana bantuan sosial tersebut bukan dikelola langsung oleh si penderita gangguan jiwa. Menurut hasil beberapa penelitian, pemberian kewenangan dalam pengelolaan dana bantuan sosial tersebut akan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita gangguan jiwa.

Semoga bermanfaat